
"Deg"
Jantung Yuniar terasa berhenti berdetak dan mata gadis itu membulat mendengar permintaan pria yang sudah menjadi suaminya itu.
"Apa?! Membuka pakaian ku di depan Tuan Aiden? Aku belum pernah menunjukkan tubuh ku pada siapapun. Dan sekarang Tuan Aiden memintaku membuka pakaian ku di depannya?"gumam Yuniar dalam hati.
"Aku yakin gadis ini tidak akan mau membuka pakaiannya di depan ku. Karena dia adalah gadis polos. Gadis baik-baik. Dia pasti akan merasa sangat malu, jika menuruti permintaan ku ini"gumam Aiden yang merasa sangat yakin bahwa Yuniar tidak akan mau melakukan permintaannya itu.
Entah muncul dari mana ide konyol Aiden itu. Ide yang membuat Yuniar sangat terkejut dan diam terpaku di tempatnya. Seumur hidup, mungkin hanya kedua orang tuanya dan saudara-saudaranya saja yang pernah melihat tubuh Yuniar. Itupun saat Yuniar masih kecil.
Semenjak kelas satu SD, Yuniar tidak lagi memperlihatkan tubuhnya pada siapapun, termasuk kepada kedua orang tuanya. Karena Yuniar sudah bisa mandiri, bisa mengurus dirinya sendiri. Namun, sekarang Aiden memintanya untuk melepaskan pakaiannya di depan Aiden. Hal itu benar-benar membuat gadis yang masih perawan ting-ting itu tidak bisa berkata-kata dan diam terpaku.
"Kenapa diam? Permintaan ku ini mudah bukan? Kamu tidak sanggup? Ataukah permintaan ku sebagai seorang suami berlebihan, jika aku ingin melihat tubuh istriku sendiri?"tanya Aiden tersenyum miring menatap Yuniar yang masih terdiam.
Saat ini Aiden benar-benar sudah seperti pria cabull yang ingin melihat seorang gadis menanggalkan pakaiannya di depan matanya.
Yuniar menundukkan kepalanya dengan kedua tangan yang terkepal. Permintaan Aiden sebagai seorang suami memang tidak berlebihan. Karena sebagai seorang suami, tentu saja tidak ada larangan bagi Aiden untuk melihat tubuh istrinya sendiri. Bahkan wajar, jika seorang suami ingin melihat tubuh istrinya sendiri. Tapi, akan menjadi tidak wajar jika seorang suami ingin melihat tubuh istri orang lain.
Namun Yuniar gadis yang masih polos dan suci, tentu saja akan merasa sangat malu jika harus menanggalkan satu persatu pakaiannya di depan seorang pria. Walaupun pria itu adalah suaminya sendiri. Karena belum pernah sekalipun Yuniar melakukan hal itu di depan pria manapun. Apalagi Yuniar belum terlalu mengenal Aiden.
"Kenapa? Kamu tidak sanggup?"tanya Aiden tersenyum meremehkan, kemudian menghela napas panjang,"Sudah ku duga. Kamu tidak akan sanggup melakukan apa yang aku pinta. Kamu pasti sudah mendengar, jika aku adalah seorang Casanova. Apa kamu akan tetap bertahan dengan orang seperti aku, hemm?"
__ADS_1
"Lebih baik, kamu meminta cerai dari ku, dari pada kamu sakit hati harus berbagi cinta dengan wanita lain suatu saat nanti. Apalagi, aku tidak menikahi kamu secara hukum. Namun, walaupun aku tidak menikahi kamu secara hukum, aku tetap berhak meminta hak ku sebagai seorang suami padamu. Karena aku suamimu yang sah secara agama,"
"Apa kamu yakin, kamu akan tetap bertahan menjadi istri ku? Bagaimana jika kamu hamil nanti? Apa kamu tidak berpikir bagaimana status anakmu nanti? Dia tidak akan memiliki hak apapun atas harta benda yang aku miliki. Dan anakmu akan di panggil sebagai anak haram karena tidak terdaftar secara hukum sebagai anakku,"ujar Aiden yang ingin Yuniar meminta cerai darinya. Menyerah untuk bertahan di sisinya.
Mendengar semua perkataan Aiden, tanpa sadar Yuniar menitikkan air mata. Gadis itu masih menundukkan wajahnya dengan kedua tangan terkepal erat. Sangat sakit, tapi tidak berdarah. Itulah yang dirasakan Yuniar saat mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Aiden. Yuniar mengusap air matanya, kemudian menatap Aiden dengan matanya yang jernih, namun berkabut air mata.
"Saat anda sudah sembuh, dan anda tidak menginginkan saya lagi, saya akan pergi dari sisi anda. Kalaupun anda menikah lagi di saat saya masih menjadi istri anda, saya akan menerimanya. Namun, kalau anda berpikir, saya menikah dengan anda karena harta anda, anda salah. Karena saya bukan gadis yang seperti itu. Sekarang, jika anda ingin meminta hak anda sebagai seorang suami, maka akan saya berikan,"
"Anda tidak perlu khawatir, saya tidak akan menuntut anda untuk memberikan apapun pada saya, seandainya saya memiliki keturunan dari anda. Jika anda meragukan kata-kata saya ini, anda bisa membuat perjanjian mengenai hal itu. Hitam di atas putih. Saya pasti akan menandatangani nya. Dan anda tidak perlu mengkhawatirkan status anak saya nanti. Saya yakin, akan ada pria yang mau menikah dengan saya dan mau menjadi ayah dari anak saya,"ucap Yuniar tenang dan tegas.
Yuniar merasa wajahnya lumayan cantik. Di kampusnya pun banyak mahasiswa yang berusaha mendekati dirinya. Jadi, Yuniar yakin, pasti ada pria tulus yang mau menikahi dirinya, walaupun dirinya seorang singel parent.
"Apa?! Dia tetap teguh dengan pendiriannya setelah aku mengatakan kata-kata yang begitu menyakitkan hati? Dan apa dia bilang tadi? Jika, dia mengandung anakku, dia ingin mencarikan ayah untuk anakku? Mana bisa seperti itu? Mana mungkin aku membiarkan darah daging ku memanggil ayah pada pria lain. Astagaa..! Bagaimana bisa ada gadis yang begitu keras kepala seperti gadis ini? Aku benar-benar mati gaya dibuat gadis ini,"gumam Aiden dalam hati. Tidak habis pikir dengan keras kepalanya Yuniar.
Susah payah Aiden menelan salivanya yang terasa menjadi batu dan mengganjal di tenggorokannya. Logikanya melarangnya untuk melihat ke arah Yuniar. Tapi sayangnya, logikanya tidak sinkron dengan hati dan tubuhnya. Karena hati dan matanya tidak mau berpaling melihat pemandangan di depan matanya yang semakin lama semakin membuat hatinya di dera rasa penasaran.
Yuniar menunduk dengan wajah memerah karena malu. Dadanya berdetak bagaikan genderang perang, karena ini adalah pertama kalinya dirinya membuka pakaian di depan seseorang. Apalagi seseorang itu adalah seorang pria. Walaupun pria itu adalah suaminya sendiri, bukan suami orang lain. Namun, tetap saja Yuniar merasa malu tak terkira. Jika saja muat, ingin rasanya Yuniar masuk ke lubang semut untuk bersembunyi karena saking malunya.
Namun, Yuniar sadar sesadar sadarnya, bahwa menolak keinginan suami itu berdosa. Karena itu, Yuniar tetap melepaskan pakaiannya sesuai keinginan suaminya. Walaupun Yuniar tidak bisa lagi mendeskripsikan rasa malunya karena harus memperlihatkan tubuhnya pada seorang pria untuk pertama kalinya.
"Puk"
__ADS_1
Baju piyama Yuniar bagian atas yang semua kancingnya sudah terlepas itupun di loloskan Yuniar dari tubuhnya, hingga baju itu teronggok di lantai.
Tubuh yang terlihat sangat seksi dengan kulit berwarna putih bersih yang masih dibalut tank top itu pun terlihat. Ada dua gundukan yang lumayan besar terlihat begitu menggoda di balik tank top ketat itu. Entah besar karena penutupnya menggunakan busa yang tebal, ataukah memang aslinya kedua gundukan kembar itu lumayan besar. Entahlah. Aiden belum bisa memastikannya.
"Sial! Aku bisa khilaf, jika terus-menerus seperti ini. Selama ini dia selalu memakai pakaian yang longgar, tebal dan tertutup. Aku tidak menyangka jika bentuk tubuhnya lebih indah dari yang aku bayangkan,"gumam Aiden dalam hati dengan mata yang tidak bisa beralih dari tubuh Yuniar.
Yuniar menarik tank top nya dari bawah ke atas. Hingga sekarang tubuh bagian atas Yuniar yang hanya berbalut kain berbentuk kacamata berwarna hitam yang kontras dengan kulit Yuniar yang berwarna putih bersih itu pun semakin terlihat jelas. Bentuk dua buah benda yang lumayan menonjol itu nampak semakin menggoda di mata Aiden. Apalagi belahan dada itu terlihat sangat jelas di mata Aiden.
...πππ...
..."Cinta adalah api. Tetapi, apakah api itu akan menghangatkan perapian, ataukah membakar rumah, tidak akan ada yang tahu."...
..."Hawa nafsuu itu seperti api, jika tidak pandai mengendalikannya, maka akan membakar pemiliknya."...
..."Seperti api yang di nyalakan untuk musuh, sering kali membakar diri sendiri."...
..."Jangan pernah menyalakan api yang tidak bisa kamu padamkan."...
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
__ADS_1
.
To be continued