
Pak Wanto yang sedari tadi hanya diam menjadi tidak tenang. Cucunya berdebat dengan perawat majikannya dan di tuduh telah melakukan penganiayaan.
"Aku harap Saminten benar-benar tidak melakukan seperti apa yang di tuduhkan oleh Nona Yuniar. Aku akan merasa sangat malu dan tidak enak hati pada Tuan Aiden, jika cucuku sampai melakukan itu semua,"ujar Pak Wanto menghela napas beberapa kali dengan perasaan yang tidak menentu.
Jemari tangan Roni bergerak cepat di keyboard komputer yang ada di depannya. Matanya fokus pada layar komputer itu.
"Aku yakin ada orang yang sudah menghapus rekaman cctv itu. Ada rentang waktu yang tidak ada rekamannya. Khusus dari jam tiga sampai aku dan Tuan Aiden pulang, seperti yang di katakan oleh nyonya Yuniar. Berani sekali orang itu menghapus rekaman cctv di rumah Tuan Aiden,"
"Aku sangat yakin jika gadis yang bernama Saminten itu ada hubungannya dengan rekaman yang di hapus ini. Aku sangat percaya jika nyonya Yuniar bukan orang yang reseh dan suka mengusik orang lain. Justru Saminten inilah yang selalu cari muka di depan Tuan Aiden. Jangan panggil aku Roni jika aku tidak bisa mengembalikan rekaman cctv yang di hapus ini,"gumam Roni dalam hati dengan mata yang fokus pada layar komputer dan jemari yang terus bergerak lincah di atas keyboard komputer.
"Aku sudah mengantisipasi segalanya. Kamu tidak akan mendapatkan bukti apapun yang bisa menunjukkan aku menganiaya kamu. Aku sudah menyuruh pengawas ruangan kontrol cctv untuk menghapus semua rekaman itu,"gumam Saminten dalam hati bersorak senang.
Aiden juga nampak fokus menatap layar komputer yang sedang di utak-atik Roni itu.
"Hati kecil ku mengatakan jika Yuniar tidak berbohong. Entah karena aku menyukai Yuniar sejak awal hingga tidak rela dan tidak terima jika dia melakukan hal buruk. Atau karena memang hatiku yakin bahwa dia bukan tipe orang yang suka berbohong,"gumam Aiden dengan mata yang fokus melihat layar komputer di depan Roni. Begitu pula dengan Yuniar yang terlihat tegang menatap layar komputer di depan Roni.
"Apa Tuan Aiden akan tetap percaya padaku, walaupun tidak ada bukti rekaman cctv itu? Bagaimana jika Tuan Aiden lebih percaya pada Saminten dari pada padaku? Tidak mudah bagiku untuk membujuk Tuan Aiden agar mau menikah dengan ku. Jika aku tidak bisa membuktikan kata-kata ku, aku takut Tuan Aiden akan memiliki alasan untuk menyingkirkan aku dari sisinya,"
"Padahal aku sedang berusaha keras untuk memperindah bentuk tubuhnya dan belajar ilmu pijat refleksi demi Tuan Aiden. Jika Tuan Aiden sudah sembuh, aku rela jika harus pergi dari sisinya. Namun sebelum Tuan Aiden sembuh, aku akan berusaha tetap berada di sisinya untuk merawatnya. Apakah semua usahaku yang baru aku rintis akan sia-sia begitu saja karena gadis licik ini?"gumam Yuniar dalam hati merasa khawatir akan tersingkir dari sisi Aiden karena masalah yang terjadi saat ini.
"Bagaimanapun kalian berusaha, kalian tidak akan mendapatkan bukti apapun, karena rekaman itu sudah dihapus. Semoga saja dengan masalah ini Tuan Aiden memecat jalangg itu. Dengan begitu, aku bisa menggantikan dia menjadi perawat Tuan Aiden. Aku akan lebih bebas mendekati Tuan Aiden, jika jalangg itu tidak ada,"gumam Saminten penuh harap.
"Tak"
Roni menghentikan jemari tangannya yang bergerak di atas keyboard dengan senyuman yang lebih mirip dengan seringai.
"Tu.. Tu..."
__ADS_1
"Plak"
"Tuan saya sudah berhasil memulihkan rekaman yang sudah di hapus,"ucap Roni cepat setelah pundaknya di tepuk Aiden.
"Wahh.. Tuan Roni hebat sekali. Tuan bisa memulihkan rekaman cctv yang sudah di hapus,"celetuk penjaga ruangan kontrol cctv itu.
Saminten yang mendengar perkataan Roni pun membulatkan matanya. Nampak jelas ekspresi terkejut dan ketakutan di wajah gadis itu.
"Tidak! Ini tidak mungkin. Penjaga ruangan kontrol cctv yang satunya itu sudah menghapus rekaman itu, aku melihatnya sendiri. Tenang! Tenang! Aku harus tenang. Aku harus melihat dulu rekaman yang berhasil di pulihkan Tuan Roni. Siapa tahu bukan rekaman itu yang di maksud. Karena aku yakin rekaman itu sudah di hapus. Orang itu bilang tidak mungkin lagi bisa melihat rekaman yang sudah di hapus itu,"gumam Saminten dalam hati berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Semua orang yang ada di dalam ruangan itu nampak fokus menatap rekaman cctv yang sudah di pulihkan Roni dan mulai di putar.
Terlihat jelas rekaman saat pertama kali Yuniar menginjakkan kaki di rumah Aiden. Saat Yuniar berangkat kuliah dan saat Yuniar di hadang Saminten. Walaupun cctv itu hanya merekam gambar, namun terlihat jelas gestur tubuh dan raut wajah Saminten yang galak pada Yuniar.
Semua orang terkejut melihat rekaman bagaimana Saminten memukuli Yuniar dengan brutal, membabii-buta, bahkan mendorong Yuniar dengan kasar hingga Yuniar terjatuh dan dahi Yuniar membentur lantai.
"Astagaa.. Saminten... Apa yang telah dilakukan anak itu? Kenapa anak itu begitu kejam menganiaya nona Yuniar? Saminten benar-benar membuat aku merasa malu,"gumam Pak Wanto dalam hati hanya bisa menghela napas berkali-kali.
"Jika saja gadis ini bukan cucu Pak Wanto, sudah aku laporkan gadis ini ke polisi karena berani berbuat kasar menganiaya orang lain di rumah ku. Dan sialnya orang itu adalah istri ku. Aku benar-benar suami yang tidak becus menjaga istri ku sendiri,"gumam Aiden dalam hati.
Aiden merasa sangat bersalah melihat rekaman cctv yang berhasil di pulihkan Roni. Aiden masih ingat bagaimana saat itu dahi Yuniar berdarah dan tangannya penuh memar. Tapi waktu itu Aiden malah enggan untuk bertanya.
"Syukurlah. Akhirnya rekaman itu bisa di pulihkan dan akhirnya kebenaran pun terbukti. Aku tidak perlu khawatir lagi. Tuan Aiden tidak akan memiliki alasan untuk mengusir aku dari sisinya,"gumam Yuniar dalam hati merasa sangat lega.
"Dugaan ku benar. Nyonya Yuniar tidak mungkin berbohong,"gumam Roni dalam hati yang juga merasa lega.
"Sekarang sudah terbukti, 'kan, siapa yang berbohong?"ujar Yuniar memecahkan keheningan.
__ADS_1
"Brukk"
Tiba-tiba Saminten berlutut di depan Aiden. Tatapan mata semua orang pun tertuju pada gadis itu.
"Tuan, maafkan saya! Saya tidak berniat melakukan semua itu. Waktu itu. Saya terbawa emosi karena nona Yuniar menghina dan mengumpat saya dengan kata-kata kasar. Saya hanya manusia biasa yang tidak bisa menahan emosi mendengar kata-kata kasar nona Yuniar pada saya. Maafkan saya, Tuan,"ucap Saminten kembali mengarang kebohongan.
Yuniar membulatkan matanya mendengar perkataan Saminten yang masih berkilah mengarang cerita dan malah memfitnah dirinya.
"Apa?! Sudah jelas-jelas kamu yang memukuli aku. Kenapa kamu membuat alibi dan memfitnah aku?"ujar Yuniar tidak terima.
Saminten langsung memutar otak untuk menyangkal perkataan Yuniar.
"Dalam rekaman cctv itu tidak ada suaranya. Hanya ada gambarnya. Jadi kalian semua tidak bisa mendengar apa yang di katakan oleh nona Yuniar pada saya. Kata-kata Nona Yuniar benar-benar menyakiti hati saya. Mengumpat, menghina dan mengatai saya dengan nama binatang. Bagaimana saya tidak emosi, Tuan?"ujar Saminten dengan berderai air mata seolah-olah benar-benar korban dalam kejadian itu.
Mendengar perkataan Saminten, Yuniar benar-benar bertambah geram pada Saminten. Ingin rasanya Yuniar memukul, menjambak dan menampar mulut Saminten berkali-kali karena telah membuat kebohongan dan memutar balikkan fakta.
"Walaupun semua orang tidak bisa mendengar suara dari rekaman cctv itu, tapi semua orang pasti bisa membaca gestur tubuh dan mimik wajah saya dan Saminten. Kalian bisa menilai siapa kira-kira yang bersalah dalam hal ini. Tuan harus mencari tahu siapa orang yang telah menghapus rekaman cctv ini dan apa tujuannya,"ujar Yuniar yang tidak ingin Aiden berpikir buruk tentang dirinya.
Roni mengernyitkan keningnya mendengar perkataan Yuniar.
"Apa yang dikatakan oleh nyonya Yuniar memang benar. Walaupun dalam rekaman itu tidak terdengar suara nyonya Yuniar dan Saminten. Tapi dari gestur tubuh mereka berdua, aku lebih percaya pada Nyonya Yuniar dari pada sama Saminten,"gumam Roni dalam hati.
"Tuan, saya benar-benar hanya emosi karena nona Yuniar menghina dan mengumpat saya dengan kasar. Tuan harus bersikap adil pada saya,"pinta Saminten bersimpuh memegang kaki Aiden.
...🌸❤️🌸...
.
__ADS_1
To be continued