Casanova Mati Gaya

Casanova Mati Gaya
27. Aroma Kecemburuan


__ADS_3

Yuniar menghela napas panjang mendengar perkataan Saminten. Gadis yang selalu berusaha mencari muka di depan suaminya. Jelas-jelas bibit pelakor yang harus di bumi hanguskan sebelum nantinya semakin berkembang dan menjadi orang ke tiga didalam rumah tangganya yang belum seumur jagung, dan masih sulit untuk dipertahankan ini.


Yuniar tersenyum menatap Saminten yang menampilkan wajah angkuh dan sombong itu. Mulai hari ini Yuniar tidak akan membiarkan gadis ini menindas dirinya lagi.


"Memangnya kenapa, jika aku ada di sini? Aku berhak masuk ke ruangan manapun di rumah ini, terutama di kamar Tuan Aiden,"sahut Yuniar dengan senyuman penuh percaya diri. Hati gadis itu masih terasa berbunga-bunga karena telah berhasil menggoda suaminya. Dan tidak ingin kebahagiaan itu hilang karena gadis yang tidak tahu diri itu.


"Bagus, non! Nona harus melawan gadis tidak tahu diri ini,"gumam Bik Sari dalam hati mendukung Yuniar sepenuhnya. Bahkan wanita paruh baya itu siap berduel dengan Saminten jika Saminten berani menyakiti Yuniar.


"Cih! Kamu di sini hanya perawat Tuan Aiden. Jadi, jangan berlagak seperti nyonya di rumah ini!"ujar Saminten memperingati. Tidak sadar diri dengan kelakuannya sendiri yang hanya cucu seorang kepala pelayan, tapi berlagak seperti nyonya rumah di rumah majikannya.


"Dasar tidak tahu diri! Bukankah kamu sendiri yang berlagak seperti Nyonya di rumah ini? Malah mengatai orang lain,"sinis Bik Sari semakin merasa kesal pada Saminten.


"Apa kamu bilang?"tanya Saminten dengan wajah yang terlihat geram pada Bik Sari.


"Apa yang dikatakan Bik Sari memang benar. Lagak kamu itu seperti nyonya di rumah ini. Padahal hanya pelayan. Urus saja urusan kamu sendiri! Jangan mengurusi urusanku! Apa kamu tidak ingat? Atau perlu aku ingatkan lagi? Tuan Aiden telah memberitahu semua yang ada di rumah ini, bahwa tidak ada yang boleh melarang aku mengerjakan apapun di rumah. Aku berhak memerintahkan semua pelayan yang ada di rumah ini mengerjakan apapun yang aku inginkan. Termasuk kamu,"ujar Yuniar seraya menunjuk ke arah Saminten dengan suara tegas dan kata-kata menohok.


"Bagus, non! Nona tidak boleh kalah dari gadis yang sok berkuasa itu,"ujar Bik Sari dalam hati merasa senang.


"Cih! Hanya orang bodoh yang mau diperintah oleh kamu. Orang yang baru beberapa hari di rumah ini. Dan aku bukan orang bodoh. Kamu bisa memerintah semua orang yang ada di rumah ini, tapi tidak dengan aku,"sahut Saminten masih keras kepala dan angkuh.


"Haissh.. Susah kalau ngomong dengan orang berotak udang seperti kamu,"ujar Yuniar membuang napas kasar, kemudian melanjutkan pekerjaannya.


"Kau! Berani sekali menghinaku!"ujar Saminten dengan wajah yang terlihat geram.


"Aku tidak menyebut namamu. Tapi, kalau kamu memang merasa, mana bisa aku mencegahnya,"sahut Yuniar santai tanpa menatap Saminten, tetap melanjutkan aktivitasnya.


"Kau.!"geram Saminten hendak mendekati Yuniar dan siap untuk menyerang Yuniar.


"Jangan macam-macam dengan nona Yuniar! Aku akan mengadukan kamu pada Tuan Aiden, jika kamu berani menyentuh nona Yuniar! Apa kamu tidak melihat cctv di ruangan ini?"ancam Bik Sari yang benar-benar sudah merasa jengah dengan sikap Saminten yang sombong, angkuh dan arogan itu.

__ADS_1


Mendengar perkataan Bik Sari, Saminten pun menatap langit-langit ruangan itu dan melihat beberapa kamera cctv yang terpasang di ruangan itu. Saminten pun mengurungkan niatnya untuk menyerang Yuniar. Tidak ingin Aiden mengetahui perbuatannya menganiaya Yuniar. Dengan hati yang dongkol, gadis itu meninggalkan dapur.


"Sial! Aku lupa kalau ini adalah rumah orang kaya. Apa di depan pintu utama juga ada cctv-nya? Bisa gawat jika ada cctv di depan pintu utama. Perbuatan ku yang memukuli gadis sialan itu akan ketahuan. Tidak! Tidak! Aku tidak perlu takut. Sampai sekarang tidak ada yang mengungkit soal kejadian itu. Berarti aku aman. Kalaupun kejadian itu di ungkit, aku akan mencari alasan yang masuk akal agar aku tidak di tegur Tuan Aiden,"gumam Saminten dalam hati.


Tak lama setelah Yuniar selesai membantu Bik Sari dan seorang pelayan menyajikan makanan di atas meja makan, Aiden pun masuk ke ruangan makan itu bersama Roni.


Pria itu memasang wajah datar menyembunyikan pikirannya yang kusut karena kebutuhan biologisnya yang tidak terpenuhi. Dan semua itu gara-gara istrinya yang keras kepala dan juga karena egonya yang tingginya mengalahkan tingginya gunung Jayawijaya yang ada di Papua.


Lalu siapa yang menjadi korban dari keras kepala sepasang suami-isteri itu? Tentu saja si cobra yang tidak tahu apa-apa menjadi korbannya.


Yuniar bergegas menghampiri suaminya saat pria itu sudah berada di depan meja makan. Saminten pun tidak mau kalah. Dengan cepat gadis itu menghampiri Aiden dan lebih dulu mengambil piring Aiden. Dan hal itupun membuat Yuniar merasa geram.


"Gadis ini semakin lama semakin ngelunjak, ya! Tapi aku sebagai istri Tuan Aiden tidak boleh kalah. Apalagi nyonya Aurora sudah memberikan lampu hijau mendukung aku melawan ulat bulu ini"gumam Yuniar dalam hati.


Yuniar duduk di sebelah Aiden, kemudian dengan sengaja meletakkan sebelah tangannya di paha Aiden. Dan tentu saja hal itu membuat Aiden terkejut. Namun Aiden masih bisa mengelola ekspresi wajahnya, sehingga dengan cepat wajah pria yang tadinya terkejut itu kembali datar.


"Tuan, bukankah seharusnya hanya saya yang boleh melayani Tuan?"tanya Yuniar kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Aiden,"Hanya istri Tuan, 'kan, yang boleh melayani semua keperluan tuan?"bisik Yuniar dengan suara manja dan penuh senyuman seraya mengelus paha Aiden hingga ke pangkalnya. Bahkan hembusan napas gadis itu terasa hangat di leher Aiden.


"Gadis ini! Kenapa tiba-tiba dia menjadi berani seperti ini? Semakin lama dia semakin berani menggoda aku. Apa selama ini aku salah menilai dia? Begitu pintar kah dia menyembunyikan sifat aslinya ini? Dia benar-benar membuat aku tersiksa. Aku benar-benar di buatnya mati gaya,"gumam Aiden dalam hati mencoba untuk tetap waras dan menahan hasraatnya yang selalu saja terpancing jika berdekatan dengan istrinya itu. Apalagi jika di goda seperti saat ini.


"Apa nyonya merasa cemburu pada Saminten?"gumam Roni dalam hati.


Mendengar perkataan Yuniar, Saminten melirik tajam pada Yuniar. Saminten semakin menahan rasa geramnya saat melihat Yuniar berbisik pada Aiden.


"Dasar jalangg! Murahan! Berani-beraninya dia menggoda Tuan Aiden secara terang- terangan di depan semua orang,"gumam Saminten dalam hati.


Sedangkan Bik Sari sangat terkejut saat tanpa sengaja melihat tangan Yuniar yang mengelus paha majikannya. Apalagi saat Yuniar berbisik di telinga Aiden dengan penuh senyuman.


"Apa kamu tidak mendengar apa yang dikatakan Yuniar? Hanya dia yang boleh melayani aku,"ucap Aiden datar, tidak ingin tangan Yuniar yang berada di atas pahanya semakin nakal.

__ADS_1


Aiden merasa enggan menyingkirkan tangan istrinya itu dari atas pahanya. Walaupun tangan nakal istrinya itu membuat kobra nya bereaksi, namun sensasi yang terasa lain dari pada yang lain saat istrinya menyentuh dirinya itu membuat Aiden enggan menepis tangan istrinya itu.


Sudah banyak wanita yang telah menyentuh tubuhnya. Tapi perasaan hangat yang membuat tubuhnya meremang dan kobranya bereaksi itu hanya dimilikinya saat istrinya lah menyentuh nya.


Perkataan Aiden membuat Saminten menghentikan apa yang dikerjakannya. Gadis itu benar-benar menahan emosinya yang hampir meledak karena tingkah Yuniar pagi ini sejak di dapur tadi.


"Sam! Kamu dengar, 'kan, apa kata Tuan?"tegur Pak Wanto.


"Iya,"sahut Saminten segera meletakkan piring Aiden yang baru saja diisi dengan nasi.


"Bik Sari, tolong ganti piring Tuan Aiden! Tolong ambilkan piring baru!"pinta Yuniar yang tidak ingin mengambil piring yang sudah di pegang Saminten.


"Baik, non!"sahut Bik Sari bergegas pergi ke dapur.


"Aku benar-benar mencium aroma kecemburuan yang sangat pekat,"gumam Roni dalam hati mengulum senyum.


"Apa dia cemburu pada Saminten, hingga tidak mau menyentuh piringku yang sudah di sentuh Saminten?"gumam Aiden seraya melirik ekspresi istrinya.


"A.. Apa sebenarnya hubungan nona Yuniar dengan Tuan Aiden? Kenapa aku merasa hubungan di antara mereka bukan sekedar hubungan di antara perawat dan majikan? Nona Yuniar bebas keluar masuk ke dalam kamar Tuan Aiden. Bahkan hak istimewa yang diberikan Tuan Aiden di rumah ini pada nona Yuniar seperti memberikan hak kepada seorang istri. Tidak mungkin nona Yuniar adalah seorang wanita jalangg. Aku yakin itu. Aku merasa... Nona Yuniar adalah istri Tuan Aiden,"gumam Bik Sari dalam hati.


Sedangkan Pak Wanto nampak mengernyitkan keningnya menatap Yuniar.


"Awal bertemu gadis ini, aku merasa dia adalah gadis yang polos. Tapi, kenapa hari ini dia terlihat begitu berbeda? Dia seperti bukan gadis yang pertama kali aku temui. Lalu, kenapa Tuan Aiden memberikan hak istimewa pada gadis ini? Apakah karena gadis ini adalah kerabat Tuan Rayyan?"gumam Pak Wanto dalam hati.


Pria tua itu juga merasakan ada hubungan lebih dari sekedar perawat dan majikan diantara Aiden dan Yuniar.


...🌸❤️🌸...


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2