Casanova Mati Gaya

Casanova Mati Gaya
39. Berat Hati


__ADS_3

Pagi menjelang. Seperti biasanya, Yuniar bangun pagi-pagi dan bergegas membersihkan diri. Setelah selesai, Yuniar bergegas ke kamar Aiden untuk membantu suaminya itu membersihkan diri. Yuniar mengetuk pintu kamar suaminya beberapa kali, tapi pria itu tidak kunjung menyahut. Akhirnya gadis itu memutuskan untuk masuk.


Yuniar melihat paper bag yang cukup besar di atas meja sofa, beberapa berkas yang tidak tersusun rapi dan juga laptop di atas meja itu. Gadis itu merapikan kamar suaminya. Termasuk menyusun berkas-berkas di atas meja sofa dengan rapi.


Yuniar beralih menatap Aiden yang masih terlelap. Perlahan gadis itu mendekati ranjang tempat suaminya itu berbaring. Wajah pria yang sedang tidur itu tetap terlihat tampan di mata Yuniar walaupun rambutnya agak sedikit acak-acakan.


"Dia tetap terlihat tampan meskipun sedang tidur. Aku memang tidak pantas bersanding dengannya, apalagi jika dia sudah sembuh. Dia terlalu sempurna bagiku. Wajar saja jika dia tidak mau menikah dengan aku yang tidak sebanding dan jauh berbeda kasta dari dia,"gumam Yuniar dalam hati tersenyum kecut.


Yuniar selalu minder, alias rendah diri jika mengingat status sosial di antara dirinya dan Aiden yang jauh berbeda.


Yuniar melirik jam digital yang ada di atas nakas. Waktu sudah menunjukkan pukul enam lewat tiga puluh menit. Biasanya Aiden sudah bangun, namun pagi ini pria itu masih terlelap dalam mimpinya. Bahkan Aiden tidak mendengar saat Yuniar mengetuk pintu. Yuniar duduk di tepi ranjang tempat suami berbaring.


"Tuan, bangunlah!"panggil Yuniar seraya mengusap lengan Aiden lembut untuk membangunkan pria yang sudah menjadi suaminya itu.


Merasakan usapan lembut Yuniar di lengannya dan juga mendengar suara lembut gadis itu, perlahan Aiden pun membuka matanya. Pria itu tersenyum tipis karena saat membuka mata, retinanya menangkap bayangan wajah istrinya yang cantik dan tersenyum lembut padanya.


"Dia membangunkan aku? Rasanya senang sekali saat aku membuka mata dan pertama kali yang aku lihat adalah wajah cantiknya dan senyuman lembutnya,"gumam Aiden dalam hati.


"Apa Tuan ingin membersihkan diri sekarang?"tanya Yuniar masih dengan senyuman lembut di bibirnya.


"Hum,"sahut Aiden setelah melirik jam digital di atas nakas,"Semalam aku tidur terlalu larut karena harus menyelesaikan pekerjaan ku. Aku tidur begitu lelap, hingga Yuniar sampai harus membangunkan aku. Tapi, jika aku tidak bangun kesiangan, aku tidak akan bisa menatap wajah Yuniar yang cantik saat aku baru membuka mata,"gumam Aiden dalam hati merasa senang.


Yuniar membantu Aiden membersihkan diri. Beberapa menit kemudian Yuniar sudah selesai membantu suaminya membersihkan diri dan juga sudah memakaikan baju beserta aksesorisnya seperti dasi dan arloji. Rambut suaminya pun sudah di sisirnya dengan rapi. Yuniar mendorong kursi roda Aiden di depan meja sofa, membantu suaminya memasukkan berkas-berkas yang akan di bawanya.


"Berkas yang bersampul biru dan merah itu masukkan ke dalam brankas, Yun,"pinta Aiden.


"Baik,"sahut Yuniar.


Aiden memberitahu tempat dan password brankasnya pada Yuniar. Yuniar memasukkan dua berkas itu ke brankas sesuai permintaan Aiden.

__ADS_1


"Paper bag itu untuk kamu,"ucap Aiden menunjuk pada paper bag yang ada di atas meja sofa.


"Terimakasih,"ucap Yuniar tersenyum manis. Yuniar merasa sangat senang karena tidak menyangka jika paper bag di atas meja sofa itu adalah untuk dirinya.


"Akkhh"


Yuniar memekik karena terkejut saat Aiden tiba-tiba menarik pinggangnya. Yuniar pun terjatuh di pangkuan Aiden.


"Hanya terimakasih?"tanya Aiden menatap Yuniar lekat. Pria itu menelan salivanya kasar saat pandangan matanya beralih pada bibir istrinya itu.


Yuniar tersenyum lembut mendengar pertanyaan suaminya, apalagi saat melihat ke arah mana tatapan suaminya tertuju. Tangan kanan gadis itu terangkat untuk memegang rahang suaminya.


"Kalau Tuan masih kurang dengan ucapan terimakasih secara lisan. Saya akan memberikan tanda sebagai ungkapan terimakasih saya,"ucap Yuniar seraya mendekatkan wajahnya ke arah Aiden.


Namun tanpa di sangka Yuniar, pria itu langsung menyambar bibirnya. Bibir yang sedari tadi membuat Aiden tergoda. Yuniar sempat terkejut dengan aksi suaminya itu, namun akhirnya gadis itu membalas ciuman suaminya.


Setelah beberapa lama berciuman, dengan perasaan tidak rela Aiden mengakhiri ciumannya. Tangan pria itu terangkat untuk mengusap bibir Yuniar yang basah karena ciuman mereka tadi dengan ibu jarinya. Menatap lekat wajah polos tanpa make-up itu tanpa rasa bosan.


"Kamu harus ingat, bahwa kamu sudah bersuami. Jadi, jangan tebar pesona di depan para pria!"ujar Aiden memperingati Yuniar.


"Saya tahu,"sahut Yuniar tersenyum tipis.


"Soal Saminten, aku belum bisa menyelesaikan masalah itu sekarang. Kita akan membicarakannya setelah aku pulang,"


"Iya,"sahut Yuniar masih dengan senyuman di bibirnya.


Yuniar turun dari pangkuan Aiden, lalu merapikan pakaian pria itu yang sedikit berantakan karena memangku dirinya tadi.


Yuniar mengantar Aiden sampai Aiden masuk ke dalam mobil. Gadis itu melambaikan tangannya saat mobil suaminya mulai melaju meninggalkan rumah itu.

__ADS_1


Aiden menatap sendu Yuniar yang melambaikan tangan padanya. Berat rasanya meninggalkan istrinya itu dalam waktu yang agak lama.


"Kenapa aku merasa sangat berat meninggalkan gadis itu? Ingin rasanya aku membawa gadis itu bersama ku. Aku sudah terbiasa dengan kehadirannya di sisiku. Gadis itu benar-benar membuat hatiku menjadi galau,"gumam Aiden dalam hati membuang napas kasar.


Sebelumnya Aiden tidak pernah merasakan perasaan seperti yang saat ini dirasakannya. Kehadiran Yuniar benar-benar telah mengisi hati Aiden yang selama ini kosong. Dan hanya gadis itulah yang bisa membuat hati Aiden galau karena cinta.


Roni hanya diam seraya melirik ekspresi sendu majikannya itu dari kaca dasbor dalam mobil. Terlihat jelas jika majikannya itu enggan untuk meninggalkan istrinya.


"Nyonya melayani Tuan dengan baik. Tuan pasti tidak rela meninggalkan nyonya dalam waktu yang agak lama dan Tuan pasti akan sangat merindukan nyonya,"gumam Roni dalam hati hanya bisa menghela napas panjang.


Setelah mobil Aiden tidak terlihat lagi, Yuniar pun bergegas masuk ke dalam rumah. Yuniar sangat penasaran dengan isi paper bag yang diberikan oleh suaminya tadi. Karena saat Yuniar membereskan kamar suaminya tadi, Yuniar tidak berani mengintip isi paper bag itu. Walaupun Yuniar sangat penasaran dengan isi paper bag itu.


Setelah kembali ke dalam kamarnya, dengan tidak sabar Yuniar melihat isi paper bag yang diberikan oleh Aiden tadi. Paper bag itu adalah hadiah pertama yang diberikan oleh Aiden pada Yuniar semenjak mereka menikah. Jadi Yuniar sangat excited untuk melihatnya. Gadis itu terlihat sangat senang saat melihat paper bag itu berisi skincare dan juga peralatan makeup yang semuanya lengkap. Dan dari brand nya, Yuniar tahu jika skincare dan peralatan make-up itu pasti mahal.


"Aku tidak menyangka tuan Aiden memberiku hadiah seperti ini. Aku belum pernah memiliki skincare dan peralatan make-up seperti ini,"gumam Yuniar dengan hati yang merasa sangat senang.


Pagi itu setelah Aiden berangkat, Yuniar memutuskan untuk pulang ke rumah kakaknya. Rumah yang di tempati keluarganya saat ini sejak mereka pindah ke kota ini.


Yuniar merasa lebih nyaman jika tinggal bersama keluarganya selama Aiden pergi. Apalagi jika mengingat Saminten, Yuniar menjadi malas tinggal di rumah suaminya itu.


"Saat Tuan Aiden pulang nanti, dadaku harus sudah lebih besar. Bentuk tubuhnya harus lebih seksi dan kulit ku harus lebih lembut dan glowing. Aku ingin membuat Tuan Aiden terkejut dengan perubahan ku. Aku juga harus lebih tekun belajar ilmu pijat refleksi,"gumam Yuniar penuh tekad dan semangat.


Selama Aiden pergi, Yuniar ingin memanfaatkan waktunya sebaik mungkin. Belajar dengan giat dan sungguh-sungguh, berolah raga secara rutin, dan juga berencana lebih lama bersama Dikra untuk mempelajari ilmu pijat refleksi dari Dikra.


...🌸❤️🌸...


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2