
Di sebuah rumah sakit di luar negeri, Aiden baru saja keluar dari ruangan seorang dokter neurologi yang merupakan teman Fina. Pria itu merasa lega. Setelah satu bulan berobat, akhirnya ada kemajuan pada kakinya. Walaupun belum sembuh secara total, tapi Aiden sudah berangsur membaik dan sudah bisa belajar berjalan beberapa langkah.
Aiden di diagnosis mengalami lumpuh sementara. Karena itu, kaki Aiden bisa di sembuhkan dengan obat-obatan dan fisioterapi. Aiden tidak perlu melakukan operasi.
Aiden juga sudah mengetahui siapa dalang di balik dokter neurologi yang menangani kakinya yang lumpuh dan sengaja memberikan botulinum toxin pada dirinya. Racun yang sengaja diberikan dengan dosis tertentu untuk memperlambat kesembuhan kaki Aiden.
Roni terus mendorong kursi roda Aiden keluar dari rumah sakit itu. Setelah sampai di parkiran, Roni membantu Aiden masuk ke dalam mobil. Aiden berencana untuk pulang hari ini setelah satu bulan meninggalkan istrinya yang masih muda dan senang menggoda itu.
Tak lama kemudian mobil itupun melaju meninggalkan rumah sakit itu menuju bandara.
"Tu. Tu.."
"Plak"
"Tuan apa tuan akan segera menyingkirkan orang yang sengaja memberikan racun pada anda itu?"tanya Roni cepat setelah pundaknya di tepuk Aiden.
"Putrinya memang sudah lama mengejar-ngejar aku. Terakhir kali aku bertemu dengan dia saat dia akan kuliah ke luar negeri. Kalau menurut perhitungan ku, seharusnya gadis itu memang sudah lulus kuliah. Saat aku pulang nanti, dia pasti akan menemui aku. Untuk sementara waktu, biarkan saja mereka melakukan rencana mereka. Aku ingin melihat bagaimana mereka menyusun rencana dan berakting di depan ku,"ujar Aiden tersenyum miring.
"Ba.. Ba.. Baik, Tu.. Tuan,"sahut Roni.
"Huff.. Sudah satu bulan aku tidak bertemu dengan gadis itu. Apa dia merindukan aku? Ah, tidak. Biasanya seorang wanita akan menghubungi duluan, jika mereka memang mencintai seorang pria. Tapi gadis itu tidak menghubungi aku sama sekali. Walau sekedar nge-chat pun tidak. Apa sedikitpun gadis itu tidak punya perasaan suka padaku?"
"Tapi aku merasa beruntung karena waktu itu dia bersikeras untuk menikah dengan aku dan aku akhirnya menyerah untuk menikahi dia. Jika aku bersikeras untuk menolak menikah dengan dia, aku akan menyesal seumur hidupku. Dulu aku menolaknya karena kemungkinan kakiku sembuh kecil. Tapi kenyataannya kakiku hanya lumpuh sementara. Jadi aku tidak perlu minder lagi pada dia,"
"Sekarang dia adalah istri ku. Milikku. Aku tidak akan pernah melepaskan dia selamanya. Akan aku meresmikan pernikahan kami saat kakiku sudah sembuh total. Aku tidak akan memberitahu tentang kesembuhan kaki ku sebelum pernikahan kami sah di mata hukum. Aku takut dia tidak ingin lagi berada di sisiku, jika mengetahui kakiku sudah sembuh,"gumam Aiden dalam hati.
Semenjak mengetahui kakinya hanya lumpuh sementara, kepercayaan diri Aiden pun kembali. Dan semangatnya untuk menaklukkan hati Yuniar pun kembali seperti dulu. Apalagi sekarang Yuniar adalah istri sah nya. Walaupun baru sah di mata agama, tapi Aiden bisa melakukan apa saja pada istrinya yang masih muda itu.
Aiden mengambil handphonenya dan mulai menghubungi istrinya. Setelah satu bulan berpisah, tentu saja pria itu merasa sangat rindu pada istrinya. Pria itu enggan menghubungi Yuniar lebih dulu dan menunggu gadis itu menghubungi dirinya. Namun nyatanya gadis itu tidak menghubungi dirinya sama sekali. Hal itu membuat Aiden merasa Yuniar benar-benar tidak mencintai dirinya sama sekali.
Aiden menghela napas panjang karena panggilan telepon nya tidak kunjung di angkat juga.
Sedangkan di sisi lain, Dikra nampak mengernyitkan keningnya melihat ekspresi wajah Yuniar yang terlihat bahagia dan tidak sabar mengambil handphonenya.
"Siapa yang sedang menghubungi Yuniar? Kenapa Yuniar nampak bahagia sekali? Sepertinya dia sudah tahu siapa orang yang sedang menghubungi dia saat ini,"gumam Dikra dalam hati penuh tanda tanya menatap Yuniar.
"Halo!"sapa Yuniar dengan suara lembut penuh senyuman. Entah mengapa Yuniar merasa sangat senang saat suaminya menghubungi dirinya.
__ADS_1
Suara lembut Yuniar yang menyapa indera pendengaran Aiden pun membuat pria yang sudah menjadi mantan Casanova itu tersenyum.
Dikra tersenyum kecut mendengar suara lembut Yuniar menyapa orang yang sedang menghubunginya. Senyuman bahagia terlihat jelas di wajah gadis yang sudah mencuri hatinya itu.
"Kamu ada di mana?"tanya Aiden masih dengan senyuman di wajahnya.
Roni nampak mengernyitkan keningnya mendengar suara lembut Aiden yang sedang menelpon seseorang. Bahkan Roni melihat senyuman di bibir majikannya dari kaca dasbor mobil.
"Siapa yang sedang di hubungi Tuan? Tuan terlihat sangat senang,"gumam Roni dalam hati.
"Di kampus,"jawab Yuniar merasa senang di hubungi suaminya setelah satu bulan pria itu pergi tanpa kabar berita.
"Aku akan pulang sore ini. Kamu bisa pulang ke rumah, 'kan, sore ini?"tanya Aiden yang rasanya sudah tidak sabar bertemu dengan istrinya.
"Iya,"sahut Yuniar penuh senyuman.
"Okey, aku tutup dulu, ya? Aku sudah tiba di bandara,"ujar Aiden yang memang sudah tiba di bandara dan bersiap keluar dari dalam mobilnya.
"Iya. Hati-hati!"ucap Yuniar tersenyum cerah kemudian menutup teleponnya.
Wajah sepasang suami-isteri yang berada di tempat berbeda dan berjauhan itu sama-sama terlihat cerah setelah berbicara melalui sambungan telepon. Walaupun pembicaraan mereka sangat singkat, entah mengapa keduanya merasa bahagia mendengar suara pasangan mereka.
"Dik, aku pulang duluan, ya! Suamiku sudah akan pulang sore ini,"ujar Yuniar seraya memasukkan handphone dan juga bukunya ke dalam tasnya.
"Okey. Hati-hati di jalan,"ucap Dikra tersenyum lembut.
"Okey. Bye!"ucap Yuniar bergegas meninggalkan tempat itu terlihat terburu-buru.
"Jadi, yang menghubungi dia tadi adalah suaminya? Pantas saja dia terlihat sangat bahagia. Sebulan yang lalu, 'kan, dia bilang suaminya pergi ke luar negeri. Sekarang dia mengatakan suaminya pulang sore ini. Dan dia terlihat sangat bahagia. Seharusnya aku sadar. Aku dan Yuniar seperti senja dan fajar. Tidak mungkin akan bersatu,"gumam Dikra tersenyum kecut. Pemuda itu terlihat menghela napas panjang.
"Aku tahu, cinta itu nggak harus selalu memiliki, saat melihat kamu tersenyum bahagia, harusnya hatiku juga ikut bahagia. Namun, entah mengapa, masih ada sedikit sakit yang terasa. Aku hanya bisa memperhatikanmu diam-diam, dan mencintaimu secara rahasia,"
"Aku tahu, terkadang kita harus merelakan suatu hal bukan karena menyerah, tapi mengerti bahwa ada hal yang tidak bisa dipaksakan. Aku seharusnya paham, kita dipertemukan hanya untuk menjadi teman, bukan untuk menjadi pasangan,"gumam Dikra dengan mata sendu menatap punggung Yuniar yang semakin menjauh pergi.
Yuniar bergegas pulang dan setelah sampai di rumah, Yuniar langsung mengemasi barang-barangnya yang akan di bawa ke rumah Aiden.
"Yun, kamu mau kemana?"tanya ibu Yuniar saat melihat Yuniar buru-buru mengemasi barang-barangnya.
__ADS_1
"Tuan sudah kembali, Bu. Aku harus segera kembali bekerja,"sahut Yuniar sambil mengemasi barang-barangnya.
"Oh, begitu. Apa perlu ibu bantu untuk berkemas?"tawar ibu Yuniar.
"Nggak usah, Bu. Nggak banyak, kok, yang perlu aku kemasi,"sahut Yuniar tersenyum pada ibunya.
Setelah selesai mengemasi barang-barangnya, Yuniar pun berpamitan pada ibu nenek dan adik-adiknya. Gadis itu melajukan motornya dengan tas ransel di punggungnya.
Setelah beberapa menit berkendara, akhirnya Yuniar pun tiba di komplek perumahan yang sudah satu bulan ini di tinggalkan nya
"Non, sudah lama nggak ke sini?"tanya security penjaga portal di komplek perumahan itu.
"Iya, Pak,"sahut Yuniar tersenyum tipis.
"Tambah cantik aja si non,"puji security itu jujur adanya seraya membuka portal agar Yuniar bisa lewat.
"Bapak bisa saja,"sahut Yuniar kembali tersenyum tipis,"Mari, Pak!"pamit Yuniar kembali melajukan motornya.
"Hati-hati, non!"ucap security paruh baya itu.
Sedangkan Yuniar hanya tersenyum menanggapi perkataan security itu. Gadis itu sudah tidak sabar ingin segera sampai di rumah suaminya.
Saminten mengernyitkan keningnya saat melihat Yuniar memarkirkan motornya di garasi. Gadis itu menelisik penampilan Yuniar yang sudah satu bulan ini tidak di lihatnya.
"Kenapa setelah satu bulan pergi gadis ini kembali lagi ke sini? Aku kira dia tidak akan kembali lagi ke sini. Apa yang di lakukan gadis itu selama satu bulan ini? Kenapa wajahnya menjadi semakin cantik?"gumam Saminten dalam hati dengan tatapan iri karena melihat perubahan Yuniar yang semakin cantik.
Yuniar bergegas masuk ke dalam kamarnya dan menyusun semua barang-barang yang di bawanya. Setelah selesai, gadis itu bergegas ke kamar suaminya dan membersihkan kamar suaminya. Setelah itu, gadis itu kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri. Yuniar tidak ingin tubuhnya bau keringat saat bertemu dengan suaminya nanti.
"Aku rasa, dadaku sudah cukup besar. Jika aku besarkan lagi, akan terlalu menonjol dan akan menjadi pusat perhatian saat aku keluar rumah. Apalagi saat di kampus. Aku rasa, segini sudah cukup,"gumam Yuniar yang berdiri di depan cermin sambil melihat dadanya sendiri.
...π"Tidak semua harapan dan impian bisa didapatkan dan tidak semua cinta bisa terbalaskan."π...
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
.
__ADS_1
To be continued