Casanova Mati Gaya

Casanova Mati Gaya
82. Mengamuk


__ADS_3

Yuniar segera mencari tempat untuk bersembunyi saat office girl yang diikutinya itu berhenti berjalan.


"Saya sudah membeli obat perangsangg nya nona. Apa harus saya berikan sekarang?"tanya suara office girl yang di ikuti Yuniar itu dengan suara pelan. Sepertinya office girl itu sedang bicara melalui sambungan telepon.


Yuniar membulatkan matanya mendengar apa yang dikatakan oleh office girl itu.


"Siapa yang akan di berikan obat perangsangg oleh office girl itu? Dan siapa yang menyuruh office girl itu? Aku tidak boleh membiarkan office girl itu menjebak orang yang ada di perusahaan ini,"gumam Yuniar dalam hati penuh tekad.


"Baik, nona. Saya akan melakukannya sekarang,"ucap office girl itu kemudian kembali menoleh ke semua arah untuk memastikan tidak ada yang mendengar percakapannya melalui sambungan telepon tadi.


Sedangkan Yuniar masih diam di tempat persembunyiannya. Melihat office girl itu pergi, Yuniar pun kembali mengikuti office girl itu secara diam-diam. Memakai flat shoes membuat Yuniar bisa meminimalisir suara dari langkah kakinya. Sehingga office girl itu tidak menyadari, jika Yuniar mengikutinya.


Yuniar mengintip office girl yang saat ini sedang membuat minuman itu. Office girl itu membuat jus buah, lalu memasukkan obat ke dalamnya.


"Siapa yang ingin di jebak office girl itu?"gumam Yuniar yang terus mengikuti office girl itu dari jauh,"Itu.. Apakah office girl itu ingin ke ruangan hubby? Jadi, yang ingin di jebak itu hubby? Berani sekali! Siapa yang menyuruh office girl itu?"gumam Yuniar yang melihat office girl itu mengetuk pintu ruangan Aiden. Yuniar bergegas menghampiri Melda untuk memberikan berkas yang sudah di fotocopy nya.


"Yun, tolong kamu antarkan berkas-berkas ini ke ruangan Tuan Aiden, ya. Ini adalah proposal kerjasama yang di minta Tuan Aiden,"ujar Melda saat melihat Yuniar sudah kembali, seraya menyerahkan beberapa berkas pada Yuniar.


"Baik, Bu. Emm.. Bu, jika ada berkas-berkas yang perlu segera di tandatangani, lebih baik di serahkan sekarang, karena Tuan akan pergi ke luar kota sore ini dan belum pasti kapan akan kembali,"ujar Yuniar memberitahu Melda seraya melirik pintu ruangan suaminya. Yuniar ingin melihat secara jelas wajah office girl yang diikutinya tadi.


"Benarkah?"tanya Melda yang memang belum tahu jika Aiden akan pergi ke luar kota.


"Iya, tadi Tuan berkata seperti itu,"sahut Yuniar serius.


"Untung saja kamu beritahu. Memang ada beberapa berkas yang harus segera di tandatangani, Tuan. Aku akan menyiapkan nya agar tidak menghambat pekerjaan bagian divisi,"ujar Melda segera mencari bekas yang di maksudnya.


Yuniar menatap office girl yang baru saja keluar dari ruangan suaminya. Yuniar berusaha mengingat wajah office girl itu, karena tadi Yuniar mengikuti office girl itu diam-diam, jadi tidak terlalu jelas melihat wajah office girl itu.


"Yun, kenapa kamu diam di situ? Apa yang sedang kamu lihat?"tanya Melda yang merasa heran karena Yuniar belum mengantarkan berkas yang diberikannya tadi ke ruangan Aiden dan melihat ke satu arah.


"Ah, tidak ada, Bu,"sahut Yuniar sedikit terkejut.


Yuniar masuk ke dalam ruangan Aiden setelah mengetuk pintu dan di izinkan masuk. Yuniar meletakkan berkas yang di bawanya. Aiden menatap sekilas pada Yuniar, kemudian tersenyum tipis saat melihat orang yang masuk ke dalam ruangannya adalah Yuniar.


"Baby, kebetulan kamu datang. Tolong katakan pada Bu Melda untuk menyerahkan berkas-berkas yang perlu segera aku tandatangani,"ujar Aiden menatap Yuniar sebentar lalu kembali fokus pada layar laptopnya.


"Sudah, By. Sekarang Bu Melda sedang menyiapkan berkas yang hubby mau,"sahut Yuniar menatap jus buah yang ada di atas meja suaminya.


"Good! ( Bagus! ). Nanti kalau kamu keluar, kamu bawa berkas-berkas yang ini pada Roni, ya!"pinta Aiden menunjuk pada setumpuk berkas.


"Ah, iya, By. Em.. By, jus ini.. Ada rambutnya. Aku buang saja, ya, By,"ujar Yuniar yang sengaja memasukkan rambutnya sendiri ke dalam jus itu tanpa di ketahui Aiden.


Yuniar belum ingin mengatakan apa yang sudah diketahuinya pada Aiden. Yuniar ingin tahu, siapa orang yang ingin menjebak suaminya itu.

__ADS_1


"Benarkah? Ceroboh sekali office girl tadi,"keluh Aiden.


"Ini, hubby lihat sendiri!"ucap Yuniar memegang gelas jus itu menggunakan tisu dan memperlihatkannya pada Aiden.


"Iya, kamu benar. Ya sudah, kamu buang aja, baby,"pinta Aiden setelah melihat ke dalam gelas jus itu.


"Hum,"sahut Yuniar.


Yuniar membawa jus itu menuju toilet di ruangan pribadi suaminya. Gadis itu tidak membuang semua jus buah itu. Menyisakan seperempat gelas, kemudian membawanya kembali ke atas meja suaminya.


"By, aku ke toilet dulu, ya!"pamit Yuniar yang ingin bersembunyi di dalam ruangan pribadi Aiden untuk mengintip siapa yang akan datang menghampiri suaminya.


"Kenapa tadi tidak sekalian, baby?"tanya Aiden dengan mata yang fokus pada layar laptopnya.


"Tiba-tiba kerasa, By,"sahut Yuniar bergegas kembali ke ruangan pribadi Aiden dan sengaja tidak menutup rapat pintu ruangan itu agar dirinya bisa mengintip ke luar ruangan.


Yuniar menunggu di dalam ruangan itu beberapa menit hingga pintu ruangan Aiden di ketuk dari luar. Yuniar sangat geram saat melihat orang yang masuk ke dalam ruangan suaminya adalah Brisa.


"Si ulat bulu ini. Pasti dia yang telah merencanakan semuanya. Lihatlah, dia berpakaian seksi sekali. Apa maksudnya berpakaian seperti itu, jika bukan sengaja ingin menggoda hubby?"gumam Yuniar dengan aura yang terlihat suram.


Brisa saat ini memakai rok mini yang panjangnya hanya sejengkal dari pangkal pahaa. Memakai kemeja yang terlihat ketat dengan tiga kancing bagian atas yang terbuka, sehingga belahan dadanya terlihat. Bahkan dua buah benda kembar milik Brisa itu nampak mengintip dari balik kemeja itu.


"Den, aku membawa berkas yang perlu kamu lihat,"ujar Brisa seraya melirik gelas jus yang isinya tinggal seperempatnya,"Bagus! Dia sudah banyak meminum jus itu. Sekarang tinggal melihat, dia sudah sembuh atau belum,"gumam Brisa dalam hati.


"Ini!"ucap Brisa seraya duduk di meja Aiden, tepat di sebelah laptop Aiden seraya mengulurkan berkas yang dibawanya.


"Dasar ulat bulu tidak tahu malu!"geram Yuniar pelan dengan tangan kiri yang terkepal dan tangan kanan yang mencengkram erat handle pintu. Gadis itu masih menahan diri untuk keluar dari ruangan itu.


"Kenapa kamu duduk di sini? Ini meja kerjaku! Bukan tempat duduk. Dan lagi, apa maksud kamu berpakaian seperti itu di depanku? Kamu ingin menggoda ku? Ingin memamerkan paha dan dada kamu padaku. Kamu pikir aku akan tertarik melihat tubuh mu itu?"ujar Aiden dengan tatapan meremehkan.


"Benarkah? Yakin tidak tertarik?"tanya Brisa seraya membuka lagi satu kancing kemejanya, hingga warna braa yang di kenakan nya terlihat.


"Paha istri ku lebih indah dari pada paha kamu dan dadanya lebih besar dari dada kamu,"sahut Aiden yang jujur adanya.


"Aku tidak yakin, jika kamu tidak tergoda padaku,"ujar Brisa yang sempat mengernyitkan keningnya mendengar Aiden menyebut kata istri. Tapi gadis itu nampak mengabaikannya dan tanpa berpikir panjang langsung menjatuhkan dirinya di atas pangkuan Aiden.


"Apa yang kamu lakukan?!"bentak Aiden seraya mendorong tubuh Brisa dari pangkuannya.


"Dasar ulat bulu! Wanita murahan!"teriak Yuniar yang sudah tidak tahan lagi melihat Brisa menggoda suaminya, apalagi saat melihat Brisa duduk di pangkuan suaminya.


Brisa nampak terkejut mendengar teriakan itu, begitupun Aiden yang baru teringat jika istrinya berada di dalam toilet pribadinya.


"Kenapa gadis ini muncul dari ruangan pribadi Aiden?"gumam Brisa dalam hati merasa heran.

__ADS_1


"Mampus! Aku lupa jika Yuniar berada di dalam ruangan pribadi ku,"gumam Aiden dalam hati.


"Akhh! Apa yang kamu lakukan?!"pekik Brisa saat tiba-tiba Yuniar langsung menarik rambutnya saat Aiden baru saja mendorong tubuhnya.


"Plak"


"Plak"


"Plak"


"Kau! Berani sekali!"geram Brisa karena setelah Yuniar melepaskan jambakkan tangannya di rambut Brisa, gadis itu langsung menampar Brisa beberapa kali.


"Plak"


"Plak"


"Plak"


Brisa yang tidak terima di tampar Yuniar pun ingin membalas menampar Yuniar. Namun dengan cekatan Yuniar menangkap tangan Brisa dan malah kembali menampar Brisa.


"Dugh"


"Akhhh! Sakit?"pekik Brisa saat Yuniar menendang tulang keringnya dengan kuat hingga Brisa meringis kesakitan memegangi kakinya.


Aiden hanya bisa membuang napas kasar seraya memijit pelipisnya melihat istrinya yang sudah seperti harimau betina yang sedang mengamuk itu.


"Dasar ulat bulu, perempuan murahan!"geram Yuniar.


"Akkhh! Lepaskan! Sakit!Dasar gadis gila! Den! Tolong aku! Gadis ini sudah tidak waras!"teriak Brisa yang di jambak rambutnya dan di seret Yuniar keluar dari ruangan itu.


Aiden tidak mengatakan apapun. Pria itu hanya menghela napas berkali-kali melihat apa yang terjadi.


"Brakk!"


"Akkhh! Sakit!"


Yuniar yang emosi mendorong tubuh Brisa dengan kuat hingga gadis itu jatuh tersungkur di lantai. Membuat semua orang yang ada di sekitar tempat itu terkejut, termasuk Melda.


"Apa yang terjadi?"suara seorang wanita itu mengalihkan pandangan semua orang pada wanita yang baru saja datang itu.


...🌸❤️🌸...


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2