
Aiden masih di dalam mobil yang melaju ke arah kantornya. Pria itu menatap ke arah jendela mobilnya melihat hiruk pikuk kendaraan di ibukota.
"Tu.. Tu.. "
"Plak"
"Tuan, hasil laboratorium sudah di kirimkan,"ucap Roni setelah pundaknya di tepuk Aiden.
"Kirim kan padaku!"pinta Aiden.
Tanpa mengatakan apapun, melalui Gmail Roni langsung mengirimkan hasil laboratorium tentang obat yang di berikan oleh praktisi pijat refleksi yang di rekomendasikan oleh Brisa kemarin.
"Hemm.. Ternyata benar prediksi kita. Mereka sengaja membuat aku lumpuh, setelah itu mereka datang menjadi pahlawan memberikan obat untuk aku. Aku yakin, niat mereka benar-benar ingin menikahkan Brisa dengan ku. Tapi, kenapa harus dengan cara seperti ini?"ujar Aiden menghela napas kasar.
"Sa.. Sa.. "
"Plak"
"Saya curiga Tuan Lano takut perusahaannya bangkrut karena saya dengar adik Tuan Lano ingin menarik semua sahamnya dari perusahaan Tuan Lano,"ucap Roni cepat setelah pundaknya di tepuk oleh Aiden.
"Ohh.. ternyata begitu. Kamu sudah mendapatkan informasi baru rupanya. Ternyata mereka ingin menikahkan aku dengan Brisa untuk menyelamatkan perusahaan mereka.Tapi, kenapa tiba-tiba adik Tuan Lano ingin menarik semua sahamnya dari perusahaan Tuan Lano?"tanya Aiden semakin penasaran.
"Ka.. Ka.."
"Plak"
"Karena Tuan Lano ketahuan berselingkuh dengan istri adiknya itu,"jelas Roni setelah pundaknya di tepuk Aiden.
"Wahh.. Benar-benar skandal. Ternyata papa Brisa orang yang seperti itu. Tapi, mengingat sudah beberapa bulan aku mengalami kecelakaan itu, berarti niat untuk menarik saham itu sudah lama, 'kan? Lalu, kenapa sampai sekarang adiknya belum menarik semua sahamnya itu?"
"Ka.. Ka.."
"Plak"
"Karena mereka masih harus menyelesaikan satu proyek yang bisa membawa kerugian besar bagi mereka jika mereka menghentikannya secara mendadak,"sahut Roni lagi-lagi harus di tepuk pundaknya dulu baru bisa lancar berbicara.
"Begitu rupanya. Oh, ya? Apa istri ku sudah kembali ke kantor? Dan apa bule itu tidak berbuat macam-macam pada istriku?"tanya Aiden yang teringat akan istrinya.
"Su.."
"Plak"
"Sudah Tuan tapi nyonya terlihat sangat kesal dan marah saat keluar dari restoran itu,"sahut Roni tanpa titik dan koma setelah di tepuk pundaknya.
"Apa yang di katakan bule itu hingga membuat istri ku marah? Segera selesaikan masalah Brisa ini! Aku ingin segera mengumumkan pernikahan ku dengan Yuniar,"ujar Aiden menghela napas kasar.
"Ba.. Ba.. Baik Tuan,"sahut Roni.
Aiden menatap ke arah jendela mobilnya,"Semakin hari istri ku itu semakin cantik. Banyak pria yang tertarik padanya. Jika aku tidak segera mempublikasikan hubungan kami, akan semakin banyak pria yang akan mendekat dan mengejar istri ku,"gumam Aiden dalam hati menghela napas kasar.
*
__ADS_1
Di sisi lain, Yuniar berjalan menuju meja kerja Melda. Sesuai pesan Melda, Yuniar masuk ke ruangan suaminya seraya membawa dokumen dari atas meja Melda.
"Huff.. Apa yang dikatakan Bu Melda memang benar. Sudah banyak masalah yang aku hadapi karena status hubungan kami yang di rahasiakan. Tapi, aku mau gimana lagi? Sedangkan hubby hanya mengatakan akan mempublikasikan hubungan kami saat waktunya sudah tepat. Entah kapan waktu yang tepat itu. Apa harus menunggu monyet lebaran, baru di umumkan?"
"Si bule itu, sebenarnya aku merasa risih dan takut padanya. Feeling ku mengatakan bahwa bule itu bukan orang yang baik. Aku harus berhati-hati pada bule itu,"gumam Yuniar sambil menyusun dokumen ke dalam lemari. Gadis itu hanya bisa menghela napas berkali-kali.
"Ceklek"
Suara pintu yang di buka dari luar membuat Yuniar menoleh ke arah pintu. Yuniar tersenyum manis saat melihat Roni membuka pintu dan mendorong kursi roda Aiden masuk ke.dalam ruangan itu. Rasa kesal Yuniar pada Austin pun hilang saat melihat wajah tampan suaminya.
Melihat Yuniar berada di dalam ruangan itu, Roni pun keluar dari ruangan itu.
"Baby, kamu di sini?"tanya Aiden setelah Roni keluar dan menutup pintu ruangan itu.
"Hum. Bu Melda meminta ku untuk menyusun beberapa dokumen ke dalam lemari,"sahut Yuniar seraya menutup pintu lemari, karena telah selesai menyusun dokumen yang di bawanya tadi ke dalam lemari.
"Kemari lah!"pinta Aiden seraya mengulurkan tangannya pada Yuniar.
"Bu Melda bilang, hubby masih akan kembali sekitar satu jam lagi. Kok, hubby kembali lebih cepat?"tanya Yuniar seraya menghampiri Aiden.
"Hum. Aku tidak jadi pergi. Klien kita membatalkan janji temu karena tiba-tiba anaknya masuk rumah sakit,"jelas Aiden seraya menarik pinggang Yuniar yang sudah ada di dekatnya. Seperti biasanya, Aiden mendudukkan Yuniar di atas pangkuannya.
"Ohh.. Begitu. Pantas saja hubby kembali lebih awal,"ujar Yuniar menatap Aiden.
"Bagaimana makan siangnya tadi? Bule itu tidak berbuat macam-macam padamu, 'kan? Dia tidak menyentuh kamu, 'kan?"tanya Aiden seraya mengelus pipi Yuniar.
"Tidak. Dia tidak menyentuh aku. Tapi, kenapa hubby bertanya seperti itu?"
"Kenapa? Hubby cemburu?"tanya Yuniar seraya mengernyitkan keningnya.
"Tentu saja aku cemburu, baby. Istri ku di dekati pria lain. Bagaimana aku tidak cemburu?"sahut Aiden terlihat kesal.
"Jika hubby cemburu, kenapa menyuruh aku makan siang dengan dia?"tanya Yuniar dengan wajah cemberut. Yuniar merasa kesal karena Aiden mengizinkan Austin mengajaknya makan siang.
"Aku tidak ingin dia curiga dengan hubungan kita, baby. Dia telah menyelidiki kamu dan mengawasi rumah kita,"ujar Aiden yang mengetahui apa saja yang telah dilakukan Austin.
"Benarkah?"tanya Yuniar yang terlihat terkejut.
"Hum. Kamu tidak tertarik padanya, 'kan?"tanya Aiden memicingkan sebelah matanya.
"Hubby jangan khawatir. Aku tidak suka dengan produk luar negeri. Aku lebih suka produk lokal,"sahut Yuniar tersenyum tipis.
"Benarkah?"tanya Aiden mengernyitkan keningnya.
"Tentu saja benar,"sahut Yuniar tersenyum lembut.
"Istriku memang bijaksana, karena lebih suka produk dalam negeri,"ujar Aiden terkekeh kecil.
"Ishh.. Hubby,"Yuniar mencubit lengan Aiden.
"Kamu sangat imut sekali jika seperti ini. Kamu benar-benar kucing imut yang menggemaskan,"ujar Aiden seraya mencubit dagu Yuniar,"Baby, sepulang kerja nanti, aku akan keluar kota,"ucap Aiden nampak tidak bersemangat.
__ADS_1
"Ke luar kota? Berapa lama hubby akan keluar kota?"tanya Yuniar yang juga jadi tidak bersemangat.
"Belum pasti. Tapi, aku akan secepatnya kembali. Aku akan sangat merindukan kamu,"ucap Aiden seraya merapikan anak rambut Yuniar.
"Hubby tidak keluar kota bersama Brisa, 'kan?"tanya Yuniar ragu.
"Tidak baby. Ini tidak ada hubungannya dengan Brisa. Aku hanya meninjau perusahaan cabang di luar kota saja. Ada proyek besar yang sedang di jalankan di sana. Aku hanya memastikan semuanya baik-baik saja. Jika tidak di audit dari sekarang, takutnya nanti ada kesalahan. Kesalahan kecil bisa berdampak besar dan akan merugikan banyak pihak, dan bukan cuma aku,"
"Jika perusahaan merugi terlalu besar, maka karyawan juga akan merasakan imbasnya. Akan ada PHK jika perusahaan merugi terlalu besar. Dan aku tidak ingin hal itu terjadi. Karyawan mendapatkan penghasilan dari bekerja di perusahaan kita, dan kita juga mendapatkan penghasilan dari kerja keras mereka. Simbiosis mutualisme, alias kerja sama yang saling menguntungkan. Mana mungkin aku tidak memikirkan nasib mereka"jelas Aiden.
"Iya, aku mengerti,"sahut Yuniar tersenyum tipis.
"Apa tidak ada bekal untuk ku?"tanya Aiden memeluk erat tubuh Yuniar hingga wajah mereka sangat dekat.
"Bekal apa?"tanya Yuniar seraya melingkarkan tangan kirinya di leher Aiden, sedangkan tangan kanannya memegang rahang Aiden dengan senyuman tipis di bibirnya.
"Give me a hot kiss! (Berikan aku ciuman panas)!"pinta Aiden penuh harap.
"By, ini di kantor,"ujar Yuniar memperingati.
"Tidak akan ada yang berani masuk ke dalam ruangan ku tanpa izin dari ku, baby. Please! Give me a hot kiss!"rengek Aiden dengan suara manja.
"Ha..ha..ha.. hubby lucu sekali jika seperti ini,"ujar Yuniar yang melihat wajah suaminya yang di buat memelas.
"Come on baby! (Ayolah sayang!)"pinta Aiden yang tidak mau menyerah.
Yuniar tersenyum, lalu mulai mencium bibir Aiden. Namun tentu saja Aiden tidak akan mau jika ciuman itu cuma sebentar. Pria itu membalas ciuman Yuniar dengan lembut, tapi agresif.
"B.. By, jangan membuat tanda di sana,"ujar Yuniar dengan suara terbata karena Aiden sedang memainkan bibir dan lidahnya di lehernya.
Aiden tidak menjawab. Pria itu memilih menurunkan ciumannya di tulang selangka Yuniar dengan jemari tangan yang aktif bergerak.
"By.."panggil Yuniar lirih saat Aiden menenggelamkan wajahnya di dadanya.
Entah kapan pria itu membuka kancing kemeja Yuniar. Yuniar sampai tidak menyadarinya, karena terbuai oleh setiap sentuhan yang diberikan oleh Aiden. Bahkan pria itu sudah mengeluarkan dua buah benda favoritnya dan mulai memainkan dan menikmatinya seperti bayi yang sedang kehausan.
Yuniar mendongakkan kepalanya, memejamkan matanya dan menggigit bibirnya sendiri agar tidak mengeluarkan suara yang bisa membuat suaminya semakin agresif. Gadis itu hanya bisa menjambak rambut suaminya itu, merasakan jantungnya berdegup kencang, aliran darahnya terasa mengalir deras, tubuhnya meremang dan suhu tubuhnya yang semakin panas. Suaminya itu benar-benar membuat hasraatnya naik.
"Ceklek"
Suara pintu yang yang dibuka dari luar dengan pelan tidak terdengar oleh sepasang suami-isteri yang sedang asyik memadu cinta itu.
"Astagaa!"
...🌸❤️🌸...
Sajennya yang banyak, dong! Biar aku double up malam ini. Ramaikan kolom komentar.
.
To be continued
__ADS_1