
Yuniar tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Melda. Sungguh geli rasanya saat orang lain membicarakan suaminya sendiri dengan dirinya. Entah bagaimana reaksi Melda jika tahu bahwa yang sedang di bicarakannya itu bukan hanya majikannya, tapi juga suami dari wanita yang sedang di ajaknya bicara.
"Suami saya juga tampan, kok, Bu. Saya tidak akan pernah tergoda dengan pria lain,"sahut Yuniar tersenyum tipis menahan tawa.
"Oh, ya? Tampan mana sama Tuan Aiden?"tanya Melda antusias. Wanita itu benar-benar kemaks tingkat dewa.
"Sama tampannya, Bu,"sahut Yuniar dalam hatinya berkata,"Gimana nggak sama? Orang nya aja sama,"
Ingin rasanya Yuniar tertawa. Tapi mati-matian ditahan. Tidak ingin hubungan antara dirinya dan Aiden terbongkar. Yuniar takut Aiden marah, jika rahasia itu terbongkar karena dirinya.
"Serius? Sama tampannya dengan Tuan Aiden? Boleh, dong, saya melihat foto suami kamu?"tanya Melda semakin kepo.
"Sayang sekali, saya baru mengganti handphone saya. Jadi, di handphone saya ini belum ada foto suami saya, Bu,"sahut Yuniar beralasan.
Kebetulan Yuniar memang baru membeli handphone, karena handphone nya yang lama sudah rusak. Jadi, alasan Yuniar saat ini sangat tepat.
"Aku bahkan tidak memiliki foto satupun bersama hubby,"gumam Yuniar dalam hati tersenyum getir. Yuniar baru menyadari bahwa tidak satupun dirinya memiliki foto bersama Aiden.
"Di akun sosial media kamu pasti ada foto kamu bersama suami kamu, 'kan? Masa nggak ada?"tanya Melda yang masih belum menyerah ingin melihat foto suami Yuniar.
"Saya tidak suka memasang foto suami saya di sosial media, Bu. Takut ada yang naksir. Kalau di guna-guna secara online, 'kan, saya juga yang repot,"canda Yuniar terkekeh kecil.
"Aihh.. Ada-ada saja kamu ini, Yun. Ya, walaupun tidak bisa di pungkiri, di era modern yang serba canggih ini, perdukunan masih marak terjadi. Apalagi kalau lagi musim nyaleg ( nyalon jadi legislatif). Sepertinya kalau musim nyaleg, mending alih profesi jadi dukun dadakan aja, ya? Biar dapat banyak cuan, tanpa memeras otak dan tenaga,"ujar Melda tertawa geli sendiri membayangkan dirinya jadi dukun dadakan, gadungan.
"Ibu ada-ada saja,"sahut Yuniar ikut tertawa.
"Padahal saya sangat penasaran, loh, Yun, sama tampang suami kamu itu,"ujar Melda kembali ke topik pembicaraan,"Pulang nanti kamu foto bareng sama suami kamu, gih, Yun! Terus tunjukkan sama saya. Biar hilang rasa penasaran saya, Yun,"rayu Melda yang benar-benar penasaran dengan wajah suami Yuniar.
"Iya,"sahut Yuniar agar Melda tidak lagi mendesak Yuniar. Dalam hati Yuniar berkata,"Bagaimana aku bisa menunjukkan foto kami, jika kami sepakat merahasiakan pernikahan kami? Bahkan hubby mengancam seluruh penghuni rumah, agar mereka tidak membocorkan rahasia pernikahan kami. Hubby sepertinya benar-benar tidak ingin pernikahan kami di ketahui oleh publik,"gumam Yuniar dalam hati.
"Haishh.. Rasanya sudah tidak sabar menunggu besok. Saya benar-benar penasaran dengan wajah suami kamu, Yun,"ujar Melda membuyarkan lamuna Yuniar.
__ADS_1
Padahal Melda hampir setiap hari melihat tampang suami Yuniar. Yaitu majikannya yang sudah di kenalnya selama bertahun-tahun. Sayangnya, majikannya itu merahasiakan pernikahannya dengan Yuniar. Jadi, selain penghuni rumah Aiden, tidak ada yang tahu, jika Yuniar adalah istri Aiden.
"Huff.. Mati Gaya aku dengan ke kepoan Bu Melda yang stadium akhir tingkat dewa ini,"gumam Yuniar dalam hati.
"Ngomong-ngomong suami kamu orangnya gimana, Yun?"tanya Melda yang masih saja kepo. Hari ini Melda benar-benar lebih santai dalam bekerja karena adanya Yuniar, hingga wanita paruh baya itu punya banyak waktu untuk ngepoin Yuniar.
"Gimana, ya?"sahut Yuniar seraya memutar-mutar pena yang ada di tangannya sambil membayangkan seperti apa suaminya,"Selain tampan, hubby juga manis, romantis, lembut, royal dan juga perhatian. Ya, walaupun suka modus dan kadang suka tidak peka,"ujar Yuniar tertawa kecil.
"Waahh.. Suami kamu idaman banget, Yun. Mana manggilnya hubby lagi. So sweet banget, deh!"ujar Melda dengan senyuman di bibirnya.
Semua yang di katakan Yuniar memang benar adanya. Tidak ada yang menyangkal ketampanan Aiden yang penuh pesona. Sikap Aiden begitu manis, lembut, romantis dan perhatian. Membuat Yuniar terjerat pesona sang mantan Casanova itu.
Soal royal, setelah tahu kakinya akan sembuh, Aiden memberikan semua keperluan Yuniar tanpa kecuali. Dari pakaian, skincare, perhiasan dan juga black card yang di berikan Aiden pada Yuniar.
Apalagi setelah pulang dari berobat baru-baru ini. Pakaian Yuniar yang ada di walk in closet sudah seperti toko pakaian. Bahkan segala aksesoris untuk wanita telah tersedia lengkap di walk in closet. Dari sepatu, tas, perhiasan, jam tangan dan segala aksesoris untuk Yuniar sudah di sediakan Aiden tanpa kurang satu pun.
Sayangnya, Yuniar tidak bisa memakai semua yang di belikan oleh Aiden, apalagi jika di depan keluarganya. Hal itu karena pernikahan mereka yang masih di rahasiakan. Keluarga Yuniar akan curiga jika Yuniar memakai barang-barang mewah yang di berikan oleh Aiden.
Tapi perlu di garis bawahi, sikap Aiden akan menjadi sangat jutek dan kata-katanya akan setajam silet jika sedang marah. Seperti ketika Yuniar memaksa untuk menikah dengan Aiden waktu itu. Ya, namanya manusia pasti memiliki kekurangan dan kelebihan, bukan? Karena sekali lagi, yang Maha sempurna adalah Tuhan pencipta alam semesta beserta isinya. Selain itu, yang sempurna dan perfek itu hanya judul lagu.
Yuniar hanya tersenyum mendengar kata-kata Melda.
"Bu Melda benar. Seiring berjalannya waktu, aku perlahan-lahan jatuh cinta pada hubby. Tapi, apakah hubby benar-benar mencintai ku? Sikap manisnya itu, bukan tidak mungkin, 'kan, jika dia juga bersikap sama pada wanita lain seperti dia bersikap padaku? Karena dia adalah seorang Casanova. Apalagi, sampai saat ini hubby masih menyembunyikan pernikahan kami. Hanya mempublikasikan hubungan kami pada orang rumah saja. Itupun karena hubby ingin aku tidur bersamanya,"
"Apa hubby benar-benar akan menjadikan aku istri sah nya? Sedangkan sampai saat ini, masih ada perjanjian pra nikah di antara kami yang tidak pernah di bahas hubby. Jika hubby benar-benar serius ingin menjadikan aku istri sahnya, seharusnya hubby memusnahkan surat perjanjian itu?"
"Hei! Kenapa jadi melamun?"tanya Melda membuat Yuniar tersentak dari lamunannya,"Wajah kamu, kok, jadi sendu gitu, Yun? Apa baru sehari bekerja sudah rindu pada hubby?"tanya Melda meledek.
"Ah, ibu ada-ada saja,"sahut Yuniar, kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya.
***
__ADS_1
Malam sudah larut, jam digital di atas nakas sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Yuniar masih setia menunggu Aiden pulang. Tapi pria itu tak kunjung pulang juga.
"Sudah malam begini, hubby belum pulang juga, ya?"gumam Yuniar yang sebenarnya sudah mengantuk. Sudah beberapa kali Yuniar menguap. Mata gadis itu juga nampak sudah memerah.
Yuniar kembali membaca artikel di handphonenya, hingga akhirnya gadis itu tertidur. Saat jam digital di atas nakas itu menunjukkan pukul sebelas malam, pintu kamar itupun terbuka.
Aiden menghela napas kasar melihat istrinya yang sudah terlelap. Pria itu bangkit dari kursi rodanya dan membawa kursi rodanya ke kamar mandi. Aiden tidak ingin Yuniar mendadak bangun dan memergoki dirinya bisa berjalan.
Setelah membersihkan diri, Aiden keluar dari kamar mandi menggunakan kursi roda. Seperti biasanya, pria itu hanya menggunakan celana pendek tanpa baju atasan. Sehingga otot-otot dada dan perutnya terekspos sempurna. Pria itu naik ke atas ranjang, lalu mengecup bibir Yuniar beberapa saat.
"Malam ini aku pulang larut karena negosiasi yang agak alot dengan klien. Aku jadi tidak punya waktu untuk bermesraan dengan istri ku,"gumam Aiden dalam hati.
Aiden merapikan anak rambut Yuniar dan menatap wajah cantik alami istrinya itu. Senyuman manis pun tersungging di bibir pria itu. Beberapa saat kemudian, mata pria itu tertuju pada dada Yuniar yang masih terlelap itu.
"Aku ingin melihatnya,"gumam Aiden dengan jemari tangan yang mulai bergerak melepaskan satu persatu kancing piyama istrinya.
Setelah berhasil melepaskan kancing piyama Yuniar, Aiden pun menyibak piyama yang di pakai Yuniar. Dua benda besar montok dan putih itupun terlihat, dengan bercak merah keunguan yang bertebaran mewarnai dua benda kembar itu. Dan tentu saja hal itu adalah ulah Aiden.
Aiden menelan salivanya kasar. Tangan pria itu terangkat untuk menyentuh dua benda yang selalu menggoda di matanya itu.
"Emhh.."gumam Yuniar dengan mata yang terpejam karena merasakan sentuhan dan remasan lembut di bagian dadanya yang sensitif.
"Akhh! Shiitt! Gadis ini benar-benar membuat aku gila. Mati gaya! Jika saja gadis ini sudah tidak datang bulan lagi, akan aku terkam dan aku cabik-cabik gadis ini hingga tidak tersisa. Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Setelah dia selesai datang bulan, aku tidak akan menahan diri lagi untuk menerkamnya,"gumam Aiden lirih, kemudian mengancingkan kembali piyamanya Yuniar.
Aiden mendekap erat tubuh Yuniar yang tidur dengan lelap untuk meredakan hasratnya yang mulai terpancing karena ulahnya sendiri.
"Hubby.."gumam Yuniar dengan mata yang tertutup. Gadis itu merasakan dekapan suaminya dan reflek memeluk Aiden dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya seperti biasanya.
"Aku mencintaimu. Sangat, teramat mencintaimu,"gumam Aiden mengecup puncak kepala Yuniar penuh cinta.
...🌸❤️🌸...
__ADS_1
.
To be continued