
Aiden membuang napas kasar mendengar dan melihat kenyataan yang terjadi di depan matanya itu. Dalam hati Aiden sangat percaya bahwa Yuniar tidak mungkin melakukan hal buruk dan juga percaya dengan apa yang di lihatnya di rekaman cctv, bahwa Saminten lah yang bersalah karena telah menganiaya Yuniar.
Namun alibi Saminten yang mengatakan bahwa Yuniar berkata-kata kasar dan mengumpat Saminten hingga Saminten menjadi emosi itu membuat Aiden merasa tidak adil jika memutuskan Saminten bersalah.
"Saat ini aku belum bisa mengambil keputusan apapun,"ucap Aiden kemudian menatap Roni,"Roni, selidiki siapa orang yang telah menghapus rekaman cctv itu. Dan suruh orang untuk mengganti seluruh cctv di rumah ini dengan cctv yang bisa merekam suara dan gambar dengan jelas agar kelak tidak terjadi masalah seperti saat ini lagi,"titah Aiden dengan suara tegas.
"Ba.. Ba..baik, Tu.. Tuan,"sahut Roni.
"Siapapun nanti yang terbukti bersalah, aku pasti akan memberikan hukuman pada orang itu,"ujar Aiden memutuskan.
Yuniar menghela napas panjang mendengar keputusan Aiden,"Jika bukan karena kaki Tuan Aiden lumpuh karena aku, aku pasti sudah meninggalkan rumah ini. Aku merasa hidup ku tidak tenang dan penuh sandiwara semenjak berada di rumah ini. Si bekasam ini selalu saja berbuat ulah dan membuat aku merasa kesal,"gumam Yuniar dalam hati membuang napas kasar.
"Untung saja aku bisa membuat alasan, mengarang cerita hingga Tuan Aiden kesulitan untuk membuat keputusan menentukan siapa yang bersalah di antara aku dan gadis sialan itu. Aku yakin, jika Tuan Aiden tidak akan bisa memutuskan siapa yang bersalah di antara kami berdua,"gumam Saminten dalam hati.
"Yun, antar aku ke kamar ku!"pinta Aiden.
"Baik, Tuan,"sahut Yuniar bergegas mendorong kursi roda Aiden keluar dari ruangan itu menuju kamar Aiden.
Roni melirik sekilas wajah Saminten, kemudian keluar dari ruangan itu.
"Aku yakin Tuan Aiden pasti percaya pada nyonya Yuniar. Tapi merasa tidak adil jika menyalahkan Saminten karena alibi Saminten tadi,"gumam Roni dalam hati.
"Ikut kakek,"ujar Pak Wanto menarik tangan Saminten ke kamarnya.
"Apaan, sih, kek! Jangan menarik aku seperti ini! Aku bukan kambing yang bisa kakek tarik-tarik,"gerutu Saminten yang merasa kesal karena di tarik oleh kakeknya.
"Huff.. Ada-ada saja. Walaupun belum ada bukti yang kuat siapa yang salah dan siapa yang benar. Tapi hati kecilku lebih berpihak pada Nona Yuniar. Dia gadis yang baik, ramah dan tidak sombong. Berbanding terbalik dengan si Saminten itu. Hanya cucu seorang kepala pelayan saja sombong, sok berkuasa dan sok berlagak seperti Nyonya rumah. Tapi, siapa yang sudah berani menghapus rekaman cctv ini, ya?"gumam penjaga ruang kontrol cctv itu setelah semua orang pergi dari ruangan itu.
Setelah masuk ke kamarnya bersama Saminten, Pak Wanto langsung mengunci pintu kamarnya. Pria tua itu menatap Saminten yang merupakan cucu dan keluarga satu-satunya yang dimilikinya itu.
__ADS_1
"Katakan pada kakek apa yang sebenarnya terjadi pada hari itu!"titah Pak Wanto menatap Saminten penuh intimidasi.
"Aku sudah mengatakan apa yang terjadi di ruangan kontrol cctv tadi. Jadi, kakek jangan bertanya lagi. Tidak ada siaran ulang,"sahut Saminten terlihat malas meladeni kakeknya.
"Kakek harap kamu tidak berbohong. Karena jika kamu berbohong, kesalahanmu akan sangat fatal. Dari sisi manapun, perbuatan kamu memukuli nona Yuniar tetaplah salah. Kakek tidak akan membela kamu, apalagi melindungi kamu jika kamu di hukum Tuan Aiden,"
"Sebaiknya kamu jangan mencari gara-gara dengan nona Yuniar. Kakek bisa melihat jika Tuan Aiden memperlakukan nona Yuniar lebih istimewa dari orang lain. Tidak baik bagi kamu jika berseteru dengan nona Yuniar. Kamu harus tahu! Tuan Aiden itu bukan orang sembarangan. Jika kamu menyinggungnya, itu tidak akan baik untuk kamu,"ujar Pak Wanto memperingati cucunya.
"Kakek tidak perlu mengkhawatirkan aku. Tidak usah ceramah panjang lebar. Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Dari pada kakek ceramah yang unfaedah dan membuat telinga ku panas, lebih baik kakek memberiku uang. Aku butuh uang untuk membeli skincare dan juga peralatan makeup,"ujar Saminten tanpa dosa.
Saminten harus membayar mahal untuk menyogok salah seorang penjaga ruang kontrol cctv agar menghapus rekaman saat dirinya memukuli Yuniar. Tapi, nyatanya usahanya itu sia-sia, karena Roni bisa memulihkan rekaman yang sudah di hapus itu.
"Kemarin kakek sudah memberikan uang cukup banyak padamu. Kakek tidak akan memberikannya lagi, kecuali minggu depan,"sahut Pak Wanto yang tidak ingin memberikan uang berlebihan pada cucunya.
"Dasar pelit! Apa kakek akan membawa uang kakek masuk ke dalam kuburan?"ketus Saminten seraya berjalan menuju pintu.
Saminten menutup pintu kamar kakeknya dengan kuat. Gadis itu keluar dari kamar kakeknya dengan wajah yang bersungut-sungut.
"Astagaa.. Anak ini benar-benar susah di nasehati. Harus bagaimana lagi aku mendidik anak itu agar menjadi anak yang baik,"gumam Pak Wanto yang sempat terkejut karena suara pintu yang di tutup dengan kuat.
Pria tua itu hanya bisa mengelus dada melihat tingkah laku cucunya. Sudah sering Pak Wanto menasehati cucunya itu. Tapi tetap tidak di dengarkan oleh cucunya itu.
Di sisi lain, Yuniar mendorong kursi roda Aiden dengan perasaan gamang. Berkali-kali gadis itu menghela napas panjang.
"Apa Tuan ingin membersihkan diri sekarang?"tanya Yuniar berusaha tersenyum walaupun hatinya merasa tidak tenang karena kejadian tadi.
"Hum,"sahut Aiden yang juga merasa terganggu dengan masalah tadi.
Mengetahui istrinya di aniaya pelayan di rumahnya sendiri membuat Aiden merasa benar-benar terpukul. Aiden menyesal karena waktu itu enggan menanyakan tentang tangan Yuniar yang terlihat memar dan kebiruan.
__ADS_1
Yuniar mengulurkan tangannya untuk melepaskan kancing kemeja yang dipakai Aiden. Walaupun ada senyuman tipis di bibir gadis itu, namun senyuman itu terlihat dipaksakan.
"Greb"
Yuniar menatap Aiden penuh tanda tanya karena tangannya yang hendak melepaskan kancing kemeja Aiden tiba-tiba di pegang Aiden.
"Kenapa kamu tidak mengatakan padaku jika kamu di pukuli oleh Saminten?"tanya Aiden menatap manik mata Yuniar lekat.
Yuniar sempat terkejut mendengar pertanyaan Aiden. Namun sesaat kemudian gadis itu tersenyum lembut dan melanjutkan kegiatannya melepaskan kancing kemeja Aiden. Aiden pun melepaskan pegangannya di tangan Yuniar.
"Hari itu adalah hari pertama saya tinggal di rumah ini. Mana mungkin saya mengadu pada Tuan tentang apa yang saya alami. Saya rasa, waktu itu Tuan juga bisa melihat tangan dan dahi saya. Tapi Tuan tidak bertanya pada saya, kenapa tangan saya memar dan kenapa dahi saya berdarah. Tuan hanya menyuruh saya mengganti perban di dahi saya karena Tuan tidak suka melihatnya,"ujar Yuniar tersenyum masam dengan jemari yang terus bergerak melepaskan kancing kemeja Aiden.
Dada Aiden terasa sesak mendengar setiap kata yang diucapkan Yuniar. Pria itu menghela napas yang terasa berat. Aiden semakin merasa bersalah pada Yuniar. Walaupun pernikahan mereka hanya sah di mata agama, namun bagaimana pun Yuniar adalah istrinya, tanggung jawabnya. Aiden merasa menjadi suami yang tidak becus menjaga istrinya sendiri.
"Maaf! Seharusnya semua itu tidak terjadi padamu,"ucap Aiden penuh penyesalan.
Yuniar menghentikan gerakan tangannya yang ingin melepaskan kemeja Aiden yang kancingnya sudah terlepas semua. Gadis itu menatap suaminya lalu tersenyum tipis.
"Tidak apa. Bukankah saya yang bersikeras untuk menikah dengan Tuan? Dan saya juga hanya istri siri anda. Saya sudah cukup merasa bersyukur karena anda mau menikahi gadis miskin dari desa seperti saya. Gadis yang tidak sepadan dan tidak layak bersanding dengan tu.. Akhh!"Yuniar tidak melanjutkan kata-katanya saat tiba-tiba Aiden menarik pinggangnya hingga gadis itu terduduk di pangkuan Aiden.
Aiden menatap lekat manik mata Yuniar yang berada di atas pangkuannya. Yuniar pun terdiam menatap Aiden.
"Seandainya kakiku tidak bisa sembuh selamanya, apakah kamu akan tetap berada di sisiku?"tanya Aiden menatap lekat manik mata Yuniar yang jernih.
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
__ADS_1