Casanova Mati Gaya

Casanova Mati Gaya
45. Untung Saja


__ADS_3

Sepasang suami-isteri yang mulai terhanyut dalam suasana yang mulai memanas itupun menghentikan aktivitas mereka dan menatap ke satu arah, yaitu pintu kamar itu.


"Sa.. Saya akan membukakan pintunya,"ujar Yuniar tergagap seraya mengatur degup jantungnya yang tidak teratur karena ulah suami barusan.


Aiden membiarkan Yuniar turun dari pangkuannya, membuang napas kasar seraya mengusap wajahnya.


"Aku ingin sekali menerkam nya. Mencabik-cabik dia hingga tidak bersisa. Tapi, aku harus sabar menunggu sampai kakiku sembuh. Aku tidak akan puas mencabik-cabik dia dengan keadaan ku yang seperti ini. Lagipula, aku tidak yakin dia bisa memimpin permainan,"gumam Aiden dalam hati menghela napas panjang.


Aiden sangat yakin jika istrinya masih perawan. Tidak akan seru rasanya, jika membuka segel dalam keadaan kakinya yang belum sembuh seperti saat ini. Memalukan rasanya, jika harus membuka segel dengan posisi WOT (Women On Top), alias istrinya yang berada di atas memegang kendali permainan. Harga dirinya sebagai seorang pria dan mantan Casanova akan jatuh dan hancur berkeping-keping.


Lagipula, Aiden tahu jika posisi WOT itu tidak bagus bagi kesehatan suami. Secara medis, posisi WOT berisiko mengalami dampak buruk seperti cairan yang berisi benih milik suami sulit keluar secara keseluruhan.


Cairan berisi benih yang tersisa di dalam alat reproduksi bisa membusuk dan membahayakan kesehatan suami. Mungkin juga cairan dari alat reproduksi istri mengalir ke lubang senjata suami yang bisa menyebabkan penyakit kuning.


Selain itu, Aiden yakin istrinya tidak akan sanggup memegang kendali permainan karena Aiden sangat yakin, jika istrinya belum pernah melakukannya. Dan mungkin istrinya akan merasa sangat kesakitan, jika harus melakukannya dengan cara seperti itu. Karena semua pertimbangan itulah, Aiden masih menahan diri untuk tidak menerkam dan mencabik-cabik istrinya yang semakin hari semakin terlihat cantik dan menggoda itu.


Untung saja Roni datang dan mengetuk pintu kamarnya di waktu yang tepat, hingga Aiden tidak jadi khilaf. Walaupun ular kobra nya jadi terbangun karena aksinya tadi.


Sedangkan Yuniar, setelah turun dari pangkuan suaminya, gadis itu merapikan pakaiannya. Gadis itu masih mengatur detak jantungnya yang belum juga stabil.


"Astagaa.. jantung ku seperti dari di kejar induk ayam yang anaknya di ganggu. Tuan Aiden menyentuh dadaku. Apa dia bisa merasakan jika dadaku lebih besar dari sebelumnya?"gumam Yuniar dalam hati.


Wajah gadis itu terlihat bersemu merah dan tubuhnya terasa meremang karena mengigat ciuman dan setiap sentuhan suaminya di tubuhnya. Pengalaman itu hanya pernah dirasakan Yuniar bersama suaminya. Dan anehnya, Yuniar selalu menyukai setiap sentuhan tangan dan bibir suaminya di tubuhnya.


Sensasi jantung yang berdegup kencang tidak beraturan, tubuh yang teras meremang, darah yang mengalir deras dan nikmatnya saat bibir mereka saling bertemu. Menciptakan pergulatan bibir dan lidah yang membuat candu.


Perlahan gadis itu berjalan menuju pintu dan membuka pintu kamar suaminya. Roni terlihat berdiri di depan pintu kamar itu dengan membawa banyak paper bag dan sebuah kotak di tangannya. Koper besar nampak berada di sebelah pemuda itu.


Roni mengernyitkan keningnya saat melihat wajah Yuniar yang memerah. Tanpa sengaja Roni melihat leher Yuniar yang terdapat beberapa kiss mark. Tanda yang baru saja di buat Aiden.


Walaupun penasaran dengan kiss mark di leher Yuniar, Roni tidak berani menatap nyonyanya itu lebih lama. Karena saat Aiden turun dari mobil tadi, Roni melihat raut wajah majikannya itu berubah menjadi datar saat melihat beberapa orang pelayan yang menatap nyonyanya dengan tatapan kagum.

__ADS_1


Namun sesaat kemudian wajah Roni tiba-tiba menjadi pias. Sepertinya Roni baru menyadari sesuatu.


"Nyo.. Nyon..."


"Masuklah!"ucap Aiden dari dalam kamar, karena tidak sabar menunggu Roni bicara.


Mendengar titah suaminya, Yuniar pun menyingkir dari pintu, memberi jalan pada Roni untuk masuk.


"Apa aku datang di waktu yang tidak tepat? Matilah aku. Sepertinya Tuan sedang melepas rindu dengan nyonya. Tapi.. ini, 'kan, masih sore. Apa mereka sudah tidak sabar lagi menunggu sampai nanti malam? Apakah rindu mereka sudah tidak bisa di tahan lagi? Huff.. Kata Dilan, rindu itu berat. Memangnya sampai berapa kilo, sih, beratnya? Aduh, bagaimana jika Tuan marah padaku karena merasa terganggu dengan kedatangan ku?"gumam Roni dalam hati jadi tidak tenang.


"Letakkan paper bag dan kotak itu di atas meja,"pinta Aiden pada Roni.


Tanpa berkata apapun, Roni pun bergegas meletakkan paper bag dan kotak yang di bawanya di atas meja sofa sesuai titah majikannya. Pemuda itu melirik ekspresi wajah majikannya. Dan sepertinya majikannya tidak marah padanya.


Lalu, Roni memasukkan koper Aiden ke walk in closet. Setelah itu, Roni menunduk hormat pada Aiden dan Yuniar, lalu bergegas keluar dari kamar itu.


Setelah keluar dari kamar Aiden, Roni nampak menghela napas lega. Pemuda itu tidak lupa menutup pintu kamar majikannya itu.


Yuniar mengernyitkan keningnya menatap paper bag yang ada di atas meja sofa. Gadis itu menghampiri suaminya yang mengarahkan kursi rodanya ke arah meja sofa, lalu mendorongnya hingga di depan meja sofa.


"Aku membeli ini semua untuk kamu. Lihatlah! Apa ada yang tidak kamu sukai?"ujar Aiden seraya menarik lembut tangan Yuniar yang ada di belakang kursi rodanya. Aiden mengarahkan Yuniar untuk melihat isi paper bag di atas meja sofa itu.


"Terimakasih,"ucap Yuniar tersenyum lembut.


Yuniar membuka salah satu paper bag dan mengeluarkan isinya. Isi paper bag itu adalah baju dengan model longgar dan sopan, tapi terlihat modis dan menarik. Aiden meminta Yuniar membuka semua paper bag itu untuk melihat isinya.


"Apa kamu suka?"tanya Aiden yang merasa senang saat melihat Yuniar terlihat menyukai semua pakaian yang dibelikannya.


"Hum. Terimakasih,"ucap Yuniar tulus. Yuniar tidak menyangka jika Aiden akan membelikan pakaian untuk dirinya. Dan bukan cuma satu atau dua stel.


"Oh, ya. Aku sudah mentransfer uang belanja mu,"

__ADS_1


"Terimakasih,"ucap Yuniar lagi.,"Sudah diberikan hadiah sebanyak ini masih dapat uang belanja. Ah, menyenangkan sekali,"gumam Yuniar dalam hati.


"Berhentilah mengucapkan terimakasih. Aku adalah suamimu. Kamu tidak perlu mengucapkan terimakasih terus menerus. Kemarin lah! Dan bawa kotak itu ke mari!"pinta Aiden mengulurkan tangannya pada Yuniar.


Yuniar mengambil kotak yang di maksud suaminya, lalu mendekati suaminya. Setelah jarak Yuniar dekat dengan Aiden, pria itu menarik lembut pinggang Yuniar dan memangku gadis itu.


"Eh, tumben Tuan Aiden menarik aku ke pangkuannya dengan lembut,"gumam Yuniar dalam hati merasa senang.


Aiden melingkarkan tangan kirinya di pinggang Yuniar. Pria itu memeluk Yuniar seraya membuka kotak yang di letakkan di pangkuan Yuniar dengan kedua tangannya.


Terlihat sangat romantis dan tentu saja membuat Yuniar senang. Seorang Casanova memang pintar menyenangkan hati wanita bukan? Karena Casanova adalah pecinta seribu wanita dengan sejuta pesona dan rayuan mautnya.


Kalung yang terbuat dari emas putih terlihat di dalam kotak itu. Di lengkapi liontin dengan batu permata berwarna putih berbentuk hati yang nampak bersinar. Perhiasan dengan bentuk sederhana dan tidak terlalu besar, tapi terlihat elegan.


Aiden menyibakkan rambut panjang Yuniar ke samping, lalu memakaikan kalung itu di leher Yuniar. Gadis itu nampak tersipu malu sekaligus senang dengan perlakuan suaminya yang menurutnya romantis itu.


"Astagaa.. Tuan Aiden so sweet banget, sih!"gumam Yuniar dalam hati dengan pipi yang memerah dan hati yang berbunga-bunga.


Aiden merapikan rambut Yuniar dan mengelusnya lembut,"Cantik,"puji Aiden tulus dari dalam hatinya dengan senyuman yang merekah.


Yuniar menatap lekat wajah suaminya yang semakin terlihat tampan saat tersenyum. Senyuman yang sangat menawan, hingga banyak kaum hawa yang terpesona.


"Kamu suka?"tanya Aiden dengan suara lembut.


"Hum. Terimaka.."


...🌸❤️🌸...


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2