
Setelah selesai sarapan, sepasang suami-isteri itu pun berangkat ke kantor dengan kendaraan mereka masing-masing.
Aiden memakai mobil, sedangkan Yuniar memakai motor matic pemberian kakaknya. Dengan menggunakan motor membuat Yuniar lebih mudah menembus kemacetan lalu lintas. Menyelip di antara mobil-mobil bukan merupakan hal yang sulit lagi bagi Yuniar. Yuniar sudah lama berkendara menggunakan motor di jalanan ibukota, sehingga sudah fasih dalam berkendara.
Yuniar sudah lebih dulu sampai di kantor dari pada Aiden. Setelah memarkirkan kendaraan nya, Yuniar pun melangkah masuk ke perusahaan milik suaminya itu.
Sepanjang melangkah menuju meja kerjanya, banyak yang menyapa Yuniar. Yuniar hanya tersenyum dan mengangguk kecil saat mendapatkan sapaan dari orang-orang yang tidak dikenalnya. Yuniar baru menjadi pemagang di kantor suaminya, sehingga belum mengenal banyak orang. Entah dari mana orang-orang itu tahu nama Yuniar. Padahal Yuniar belum berkenalan dengan mereka.
Tidak lama kemudian, Yuniar pun tiba di meja kerjanya. Gadis itu sudah bersiap-siap untuk memulai aktivitasnya hari ini.
"Pagi, Yun!"sapa Melda yang baru saja tiba. Senyuman lebar terukir di bibir wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan energik itu.
"Pagi, Bu!"jawab Yuniar dengan senyuman manis.
"Gimana? Gimana? Kamu sudah mengambil foto bersama suami kamu belum?"tanya Melda yang sama sekali tidak lupa dengan hal kemarin yang membuatnya merasa penasaran.
"Aihh.. emak-emak kepo ini. Kenapa tidak lupa dengan pembicaraan kemarin, sih?!"gerutu Yuniar dalam hati, memaksakan diri untuk tersenyum.
"Suami saya kemarin pulang larut malam, Bu. Bahkan saya tidak tahu saat suami saya pulang. Saat saya bangun, saya sudah berada di dalam dekapan suami saya. Pagi-pagi juga harus bersiap pergi ke kantor. Jadi tidak sempat mau ber-selfie ria,"jawab Yuniar separuh jujur dan separuh bohong.
Jujur karena memang Aiden semalam pulang larut malam dan dirinya memang tidak tahu saat Aiden pulang. Bohong karena nyatanya Yuniar masih sempat ber-selfie ria saat dirinya bangun tadi pagi. Memotret dirinya dan suaminya yang masih terlelap. Foto yang membuat Yuniar ingin selalu melihatnya. Karena foto itu menunjukkan wajah tampan dan tubuh bagian atas suaminya yang terlihat menggoda. Sebab, Aiden tidur dengan bertelanjang dada. Hingga dada bidang dan perut rata berotot pria itu terekspos sempurna.
Bukankah begitu? Memadukan antara kebenaran dan kebohongan menjadi satu akan membuat kebohongan menjadi masuk akal.
"Aihh.. sayang sekali! Padahal saya sudah sangat kepo, loh Yun. Sampai-sampai terbawa mimpi,"ujar Melda dengan ekspresi kecewa. Wanita paruh baya itu menghela napas panjang saat melihat tanda merah keunguan di leher Yuniar yang terlihat jelas,"Dasar pengantin baru! Selfie nggak sempat, tapi, latihan ganda sempat. Tanda merah keunguan itu pasti baru di buat tadi pagi,"gumam Melda dalam hati.
Yuniar menghela napas panjang melihat Melda yang nampak kecewa. Gadis itu memutar otak, bagaimana caranya agar terbebaskan dari rasa kepo wanita paruh baya itu.
"Sebenarnya, saya menikah secara diam-diam tanpa di ketahui oleh orang tua saya,"ujar Yuniar yang benar adanya.
"What?! Serius?"tanya Melda yang nampak terkejut,"Kenapa? Apa alasannya hingga kamu nekat menikah tanpa di ketahui oleh orang tua kamu? Apa cinta kalian tidak di restui?"tanya Melda semakin kepo tingkat tinggi.
Yuniar kembali menghela napas panjang, membuat Melda tidak sabar mendengar jawaban Yuniar.
"Saya sudah berjanji pada ibu dan kakak saya untuk tidak berpacaran sebelum saya bisa lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan yang bagus. Tapi, karena terjadi suatu hal yang tidak kami duga dan tidak kami inginkan, akhirnya saya dan suami saya memutuskan untuk menikah secara diam-diam. Suami saya berjanji akan melamar saya pada orang tua saya dan akan meresmikan dan mempublikasikan hubungan kami di saat yang tepat,"ujar Yuniar yang memang benar adanya.
"Maaf jika saya lancang. Apa.. Apa kalian MBA?"tanya Melda hati-hati, karena takut menyinggung perasaan Yuniar. Lagipula, pertanyaan itu menurut Melda terlalu pribadi. Tapi, jiwa kepo Melda benar-benar meronta-ronta jika belum menanyakannya. Di jawab syukur, tidak di jawab, ya, nasib.
Yuniar mengernyitkan keningnya melihat Melda yang nampak tidak enak hati menanyakan tentang gelar.
__ADS_1
"Suami saya memang MBA. Tapi, kalau saya, ibu tahu sendiri jika saya masih magang, yang artinya saya masih kuliah,"sahut Yuniar tersenyum tipis.
"Ah, bukan MBA yang kepanjangan dari Master of Business Administration yang saya maksud, Yun. Tapi MBA yang di plesetkan menjadi Married By Accident. Alias sudah anu-anu sebelum menikah. Atau yang lebih parahnya sudah bunting sebelum menikah. Maaf, kalau saya lancang bertanya yang seperti itu,"jelas Melda tersenyum bodoh, terlihat tidak enak hati.
"Ah, saya kira ibu menanyakan tentang gelar yang sebenarnya. Ternyata yang di plesetkan. Pantas saja ibu terlihat ragu-ragu dan tidak enak hati untuk menanyakannya,"sahut Yuniar terkekeh kecil.
"Jadi.. apa karena alasan itu kalian menikah?"tanya Melda yang rasa kepo nya belum terpenuhi.
"Bukan, Bu. Kami memiliki alasan lain yang tidak bisa kami ceritakan pada orang lain. Tapi, yang jelas, saya masih perawan saat menikah dengan suami saya,"sahut Yuniar jujur adanya. Dalam hati gadis itu berkata,"Bahkan sampai saat ini aku masih perawan. Walaupun Hubby sudah melihat seluruh tubuh ku. Tapi, kami belum pernah melakukan hubungan suami-istri,"lanjut Yuniar dalam hati.
"Ohh.. Begitu, ya?"sahut Bu Melda yang terlihat sedikit kecewa karena dari kata-kata Yuniar, tersirat jika Yuniar tidak ingin mengekspos tentang dirinya dan suaminya.
Pembicaraan kedua wanita beda usia itu terhenti saat jam kerja mereka sudah di mulai. Kebetulan juga Roni yang mendorong kursi roda Aiden lewat di depan mereka.
"Pagi, Tuan,"sapa kedua wanita itu menunduk hormat pada Aiden.
"Pagi!"sahut Aiden melirik sekilas ke arah istrinya.
"Yun, tadi kamu di lirik Tuan Aiden,"bisik Melda setelah Aiden masuk ke dalam ruangannya.
"Wajar saja, Bu. Saya, 'kan, pemagang baru,"sahut Yuniar.
"Ah, iya. Saya lupa,"sahut Yuniar ikut terkekeh kecil.
"Saya bawa alas bedak. Jika kamu mau, kamu boleh memakainya untuk menutupi tanda di leher mu itu,"tawar Melda.
"Terimakasih, Bu. Tapi suami saya sudah berpesan agar saya tidak menutupi nya,"sahut Yuniar jujur.
"Aihh.. Ternyata suami kamu posesif, ya?"sahut Melda, dan Yuniar hanya tersenyum.
Tak lama kemudian Roni keluar dari ruangan Aiden dan berbicara dengan Bu Melda menggunakan bahasa isyarat. Yuniar menatap kagum gerakan bahasa isyarat Roni yang sangat cepat menurut Yuniar.
"Baik, Tuan,"sahut Melda setelah Roni selesai bicara menggunakan bahasa isyarat, dan Roni pun sedikit menunduk pada Yuniar, lalu berlalu pergi.
"Yun, kamu ikut saya ke meeting room, ya? Saya jelaskan apa saja yang harus kamu lakukan,"ujar Melda seraya mengambil beberapa berkas di mejanya.
"Baik, Bu,"sahut Yuniar antusias.
Melda menjelaskan pada Yuniar, apa saja yang harus di kerjakan Yuniar saat berada di meeting room bersamanya nanti.
__ADS_1
Tak beberapa lama kemudian, Melda dan Yuniar pun mengikuti Aiden yang kursi rodanya di dorong oleh Roni ke meeting room.
"Halo, Tuan Aiden! Lama tidak bertemu,"sapa seorang pria bule ramah menggunakan bahasa inggris seraya mengulurkan tangannya pada Aiden.
"Baik, Tuan Austin. Mari, kita mulai saja meeting nya!"sahut Aiden dengan bahasa inggris menjabat tangan pria itu.
Pria bule itu melirik Yuniar yang ada di belakang Aiden dan Roni.
"Gadis ini kecantikannya sangat mempesona. Tidak membosankan jika di pandang,"gumam pria bule itu dalam hati.
"Den, apa kabar?"sapa Brisa dengan senyuman manisnya.
"Baik,"sahut Aiden datar.
Yuniar menatap tidak suka ke arah Brisa. Masih teringat jelas di benak Yuniar, apa saja yang di bicarakan Brisa dengan Aiden kemarin. Bagaimana gadis itu begitu ingin bersama Aiden.
Meeting pun akhirnya di mulai. Sesekali Aiden melirik istrinya, sedangkan Yuniar sesekali melirik Brisa. Brisa sendiri sesekali melirik Aiden, sedangkan Austin sesekali melirik Yuniar.
Setelah meeting selesai, Brisa nampak mendekati Aiden. Sedangkan Yuniar terpaksa keluar dari ruangan itu mengikuti Melda. Walaupun sebenarnya Yuniar ingin tahu apa yang akan di lakukan oleh Brisa.
"Den, bagaimana jika kita malam ini makan malam bersama? Hitung-hitung sebagai perayaan atas permulaan kerjasama kita,"tawar Brisa penuh harap.
"Maaf! Aku sudah ada janji dengan seseorang,"ucap Aiden dengan nada datar,"Roni, antar aku ke ruangan ku!"pinta Aiden.
"Tunggu! Den, aku mengenal orang yang ahli dalam pijat refleksi. Dia bisa menyembuhkan orang yang sudah di vonis dokter lumpuh permanen. Jika kamu tertarik, aku akan mengantarmu pada orang itu,"ujar Brisa seraya menahan kursi roda Aiden.
"Jika kamu ingin membantu ku, katakan saja padaku, di mana orang itu tinggal. Aku akan datang sendiri ke sana,"sahut Aiden masih dengan ekspresi datarnya.
"Dia tidak mau mengobati sembarangan orang, Den. Jika kamu yang datang ke sana sendiri, dia tidak akan mau menerima kedatangan kamu, apalagi mengobati kamu,"ujar Brisa dengan wajah serius.
Aiden tersenyum tipis mendengar kata-kata Brisa,"Okey, aku akan pergi bersama kamu. Kamu atur saja waktunya,"ujar Aiden, lalu memberi isyarat agar Roni kembali mendorong kursi rodanya,"Kita lihat, permainan seperti apa yang ingin kalian mainkan,"gumam Aiden dalam hati.
"Okey. Nanti aku kabari,"sahut Brisa tersenyum senang menatap Aiden keluar bersama Roni yang mendorong kursi rodanya.
"Akhirnya... Aku bisa mulai menjalankan rencana papa. Setelah dia sembuh nanti, dia akan merasa berhutang budi padaku,"gumam Brisa terlihat senang.
...🌸❤️🌸...
.
__ADS_1
To be continued