
Aiden sangat marah mendengar apa yang di katakan oleh Yuniar. Tidak menyangka jika Saminten berani berkata-kata sarkas dan merendahkan Yuniar seperti itu. Lagi dan lagi Aiden merasa bersalah pada Yuniar. Merasa tidak becus menjadi suami, karena tidak bisa melindungi istrinya sendiri dengan baik. Bahkan di dalam rumahnya sendiri.
"Brugh"
Saminten langsung duduk bersimpuh di tempatnya dengan tubuh yang gemetar. Aura wajah Aiden saat ini benar-benar menyeramkan. Bahkan semua pelayan yang berkumpul di tempat itu juga terlihat ketakutan mendengar suara Aiden yang menggelegar dengan wajah penuh amarah. Saminten benar-benar merasa takut, jika Aiden sampai mengusir dirinya dari rumah itu.
"Hubby.."panggil Yuniar lembut dengan tangan kiri memegang pundak Aiden dan tangan kanannya mengelus dada Aiden agar pria itu tenang. Walaupun sebenarnya Yuniar sendiri juga sangat terkejut dengan reaksi Aiden.
Mendapat perlakuan lembut dari Yuniar seperti itu, Aiden pun memejamkan matanya, mengatur napas dan emosinya.
"I.. Itu bohong, Tuan. Sa.. Saya tidak pernah berkata demikian. Saya tau, nona Yuniar benci pada saya karena saya telah memukuli nya. Tapi, saya tidak pernah berkata seperti itu, Tuan. Saya bersumpah,"ucap Saminten masih saja beralibi dan bersumpah palsu.
"Kamu benar-benar pintar bermain kata dan memutar balikkan fakta. Seumur hidup, baru kali ini aku bertemu dengan orang seperti kamu,"ujar Yuniar yang benar-benar kesal karena Saminten masih juga beralibi, bahkan mengatakan dirinya berbohong.
"Tuan, apa yang di katakan oleh nyonya Yuniar itu benar. Saminten memang suka menggosipkan Nyonya Yuniar seperti itu,"ucap seorang pelayan yang benci pada Saminten yang selalu bersikap angkuh dan sombong pada semua orang.
"Itu benar Tuan. Saminten yang menyebarkan gosip jika Nyonya Yuniar tidur di kamar Tuan dan mengatakan semua hal buruk tentang nyonya pada kami. Dia memang mengatai nyonya adalah wanita jalangg dan wanita murahan,"
"Benar, Tuan. Saminten juga suka berbuat angkuh dan semena-mena pada kami. Dia bertingkah seperti nyonya di rumah ini,"
"Saminten juga suka berkata-kata kasar pada kami, Tuan. Sedangkan Nyonya Yuniar, selama Nyonya Yuniar tinggal di sini, nyonya tidak pernah sombong, selalu ramah pada semua orang, dan memperlakukan kami layaknya teman. Berbeda dengan Saminten yang suka menggosipkan orang lain, suka berkata-kata kasar, merendahkan orang lain, dan menganggap kami ini adalah bawahannya. Lagaknya sudah seperti nyonya rumah, Tuan,"
Akhirnya para pelayan itu mengatakan unek-unek mereka selama ini. Dan hal itu pun sukses membuat Aiden yang sedikit tenang oleh perlakuan Yuniar tadi, jadi kembali marah.
"Saminteeennn!"geram Aiden menahan emosi.
"Sial! Mereka malah ikut menyerang aku. Aku harus bagaimana ini?"gumam Saminten dengan wajah yang semakin pucat pasi seolah tidak di aliri darah.
"Aku tidak menyangka jika Pak Wanto yang baik dan bijak bisa memiliki cucu seperti kamu. Pak Wanto, aku masih menoleransi cucu bapak karena mengingat jasa-jasa bapak pada keluarga kami. Tapi, cucu bapak ini sudah sangat keterlaluan. Berkata-kata sarkas pada istri ku dan pada semua orang. Memukuli istri ku, menggosipkan istri ku, bahkan sampai membayar pengawas cctv untuk menghapus rekaman. Kira-kira, apa yang harus saya lakukan pada cucu bapak ini?"tanya Aiden dengan suara berat menahan amarah.
"Saya serahkan semua keputusan pada Tuan. Apapun keputusan yang Tuan ambil, pasti yang terbaik untuk semua. Walaupun Saminten adalah cucu saya, tapi kedudukannya di rumah ini sama dengan pelayan yang lain. Jika anda mengistimewakan Saminten karena dia adalah cucu saya, itu tidak akan adil bagi pelayan yang lain. Dan hal itu juga tidak akan membuat Saminten jera. Dia akan terus berbuat ulah tanpa memikirkan perasaan orang lain,"ujar Pak Wanto bijak.
Pak Wanto tidak ingin membela Saminten, walaupun Saminten adalah cucu satu-satunya. Keluarga Pak Wanto satu-satunya. Karena sesungguhnya, Pak Wanto sendiri sudah kehabisan akal untuk mendidik dan menasehati Saminten yang selalu membangkang, dan tidak kunjung sadar akan sifat buruknya itu.
"Apa?! Kakek tidak membelaku?! Dasar tua bangka sialan! Benar-benar tidak bisa di harapkan, apalagi diandalkan. Sekarang aku harus bagaimana? Jika Tuan Aiden mengusir aku, aku harus tinggal dengan siapa?"gerutu Saminten dalam hati merasa bingung dan khawatir.
__ADS_1
"Baik. Mengingat jasa Pak Wanto terhadap keluargaku, aku tidak mengusir Saminten dari dalam rumah ini. Tapi, Saminten tidak boleh lagi masuk ke rumah utama. Pekerjaannya setiap hari adalah membersihkan kamar seluruh pelayanan di rumah ini. Jika dia tidak mengerjakan pekerjaannya dengan baik, kalian semua harus melaporkannya padaku. Jika dia berkata sarkas pada kalian, atau bergosip, kalian juga boleh melapor padaku. Tapi, kali juga tidak boleh bersikap semena-mena pada Saminten. Jika kalian bersikap seperti itu, aku juga akan menghukum kalian"ujar Aiden memutuskan.
"Baik, Tuan,"sahut seluruh pelayan itu antusias.
"Apa?! Membersihkan semua kamar pelayan di rumah ini? Pelayan di rumah ini sangat banyak. Argh! Sial! Sial sekali,"umpat Saminten dalam hati benar-benar merasa kesal, tapi juga tidak bisa berbuat apa-apa.
Saminten sudah sangat sering menghina dan merendahkan para pelayan di rumah itu. Saminten merasa berhak mengatur mereka semua, karena dirinya adalah cucu kepala pelayan di rumah itu yang sangat di hormati semua orang di rumah itu, termasuk Aiden. Sebab itulah, para pelayan itu tidak berani menentang Saminten.
Para pelayan di rumah itu merasa puas dengan hukuman yang diberikan oleh Aiden pada Saminten.
"Aku bersyukur karena Tuan Aiden masih berbaik hati tidak mengusir Saminten dari rumah ini. Semoga dengan hukuman ini, Saminten bisa sadar dan bisa menjadi lebih baik,"gumam Pak Wanto merasa lega karena Saminten tidak di usir dari rumah itu.
Aiden hanya menghela napas panjang setelah memberikan hukuman pada Saminten. Ada perasaan marah pada Saminten yang ternyata telah menindas istrinya secara fisik dan mental. Ada pula rasa marah pada dirinya sendiri yang tidak bisa menjaga dan melindungi istrinya di rumahnya sendiri.
Aiden tidak memecat dan mengusir Saminten dari rumah itu bukan tanpa alasan. Alasan pertama adalah karena Saminten adalah cucu Pak Wanto. Alasan ke dua adalah karena Saminten adalah yatim piatu dan tidak memiliki sanak saudara lain selain Pak Wanto. Alasan ke tiga, mengingat mulut Saminten yang hobi bergosip, Aiden takut Saminten berkoar-koar di luar sana tentang hubungannya dengan Yuniar yang belum ingin di eksposnya ke publik. Ke empat, Aiden takut Saminten berbuat nekat di luar sana untuk melukai Yuniar. Dengan semua pertimbangan itulah, Aiden tidak memecat dan mengusir Saminten dari rumah itu.
"Pak Wanto, besok, tolong pindahkan semua barang-barang istri ku ke kamar ku,"pinta Aiden.
"Baik, Tuan,"sahut Pak Wanto.
"Baik, Tuan,"sahut para pelayan itu yang akhirnya membubarkan diri.
"Baby, kita ke kamar!"ajak Aiden menatap Yuniar.
"Iya,"sahut Yuniar tersenyum lembut. Yuniar merasa senang karena tidak akan lagi melihat Saminten di rumah utama.
Yuniar mendorong kursi roda Aiden ke kamar. Menutup pintu kamar itu dan mendorong kursi roda Aiden ke arah ranjang.
"Mulai malam ini, kamu tidak punya alasan lagi untuk menolak tidur bersama ku,"ucap Aiden menengadah menatap Yuniar seraya memegang tangan Yuniar yang masih berada di belakang kursi rodanya.
Yuniar tersenyum lembut, kemudian berjalan ke arah depan dan berdiri di depan Aiden.
"Aku masih punya alasan, By. Aku.. Aku sedang datang bulan. Bagaimana kalau nanti tembus,"ujar Yuniar seraya tersenyum.
"Jika tembus, tinggal ganti sprei nya, mudah, 'kan?"sahut Aiden enteng.
__ADS_1
"Bagaimana jika kena tubuh hubby?"
"Tinggal mandi juga bersih. Kamu tidak punya alasan lagi untuk menolak tidur bersama ku,"ujar Aiden merasa menang.
"Akhh.. By!"pekik Yuniar saat tiba-tiba Aiden menarik pinggang Yuniar dan mendudukkan Yuniar di pangkuannya.
"Hubby mau apa?"tanya Yuniar yang was-was melihat tatapan mata Aiden.
"Mau kamu,"bisik Aiden di telinga Yuniar.
"By.. Aku.."
Yuniar tidak melanjutkan kata-katanya saat Aiden menempelkan jari telunjuknya di bibir Yuniar.
Aiden merapikan anak rambut Yuniar dan mengelus pipi Yuniar yang terasa lembut dan kenyal. Aiden mengeratkan pelukannya hingga Yuniar tidak bisa bergerak. Perlahan pria itu memiringkan kepalanya dan dengan lembut mencium bibir Yuniar.
Yuniar tidak bisa menolak ciuman Aiden. Tidak mau Aiden tersinggung karena penolakannya. Lama-lama Yuniar pun terhanyut oleh ciuman Aiden dan perlahan memejamkan matanya, bahkan tanpa sadar membalas ciuman Aiden, menikmati setiap sentuhan bibir dan lidah Aiden. Tangan Yuniar melingkar di leher Aiden, sedangkan tangan kiri Aiden memegangi tengkuk Yuniar dan tangan kiri Aiden mulai merambat menyentuh tubuh Yuniar.
Suhu tubuh sepasang suami-isteri itu semakin meningkat, detak jantung keduanya pun semakin berdetak kencang tidak beraturan. Pagutan bibir mereka semakin intens dan menggebu.
Jemari Aiden terus bergerak di tubuh Yuniar mengantarkan rasa geli yang membuat tubuh Yuniar meremang. Jemari Aiden terus bergerak dari paha terus merambat hingga akhirnya jemari nakal sang mantan Casanova itu sampai juga di dada.
Namun tiba-tiba Yuniar membulatkan matanya dan langsung mendorong dada Aiden. Pagutan bibir mereka pun terlepas. Yuniar diam kaku tidak berani bergerak sama sekali.
"Kenapa?"tanya Aiden yang bingung melihat reaksi Yuniar.
"By.. Itu.. Yang.. Yang aku duduki.."
...π"Setiap kata yang keluar dari lisanmu adalah tolok ukur orang lain menilai dirimu."π...
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
.
__ADS_1
To be continued