Casanova Mati Gaya

Casanova Mati Gaya
48. Dilema


__ADS_3

Saminten membuang napas kasar mendengar pertanyaan kakeknya.


"Kita bisa melihat rekaman cctv. Dia berlama-lama di kamar Tuan Aiden dan membawa banyak paper bag dari kamar Tuan Aiden. Bahkan di lehernya ada beberapa tanda merah,"ucap Saminten semakin berapi-api.


"Ohh.. Begitu? Kalau begitu, katakan semua yang kamu katakan pada kakek tadi pada Tuan Aiden, agar dia di usir Tuan Aiden dari rumah ini,"sahut Pak Wanto datar.


"Apa kakek bodoh?! Mana mungkin aku mengatakan semua itu pada Tuan Aiden,"ujar Saminten yang menjadi kesal pada kakeknya.


"Kamu yang bodoh! Apa kamu tidak bisa melihat perlakuan istimewa Tuan Aiden pada Nona Yuniar? Apapun yang mereka lakukan di rumah ini, itu adalah urusan mereka. Kita di sini hanya pelayan. Selama Tuan Aiden memperlakukan kita dengan baik dan memberikan hak kita, kita tidak bisa protes,"


"Berhentilah mengurusi kehidupan majikan kita! Lakukan saja tugasmu di sini sebagai pelayan. Jika kamu tidak suka, kamu boleh berhenti menjadi pelayan. Carilah pekerjaan lain!"ujar Pak Wanto kesal, kemudian keluar meninggalkan Saminten sendirian di kamarnya.


"Akkhh! Dasar Yuniar sialan! Kenapa dia harus datang ke rumah ini! Seharusnya waktu itu aku menghajarnya habis-habisan dan menyeretnya keluar dari rumah ini hingga dia tidak berani kembali ke rumah ini lagi,"pekik Saminten yang merasa sangat kesal, marah dan frustasi.


Pak Wanto menghela napas dalam dan memijit pelipisnya sendiri setelah keluar dari kamarnya.


"Anak itu benar-benar sulit di atur. Dia selalu saja mencari gara-gara dengan Nona Yuniar. Tadi sore, aku tidak sengaja mendengar Roni seperti ingin memanggil Nona Yuniar dengan panggilan Nyonya. Dan Roni juga terlihat sangat menghormati Nona Yuniar. Perasaan ku mengatakan, mereka sudah menikah. Mata tua ku ini melihat gerak-gerik dan interaksi mereka berdua layaknya pasangan suami-isteri. Tapi, entah apa alasannya mereka menyembunyikan pernikahan mereka. Yang pasti, aku melihat cinta di mata Tuan Aiden saat menatap Nona Yuniar,"gumam Pak Wanto dalam hati.


Setelah makan malam siap, Yuniar pun pergi ke kamar suaminya. Yuniar mengetuk pintu kamar suaminya itu, lalu masuk ke dalam kamar tanpa menunggu sahutan dari suaminya. Karena suaminya sudah mengatakan bahwa dirinya tidak perlu minta izin untuk masuk ke dalam kamar itu.


Yuniar melihat Aiden yang sedang memangku laptopnya di sebelah ranjangnya. Pria itu menoleh ke arah Yuniar sebentar seraya melempar senyum, kemudian kembali fokus pada layar laptopnya.


"Emm.. By, makan malam sudah siap,"ucap Yuniar yang masih kaku memanggil suaminya dengan panggilan baru.


"Hum, tunggu dulu, ya! Tinggal sebentar lagi selesai,"sahut Aiden dengan jemari tangan yang bergerak cepat di keyboard laptopnya dan mata yang fokus pada layar laptopnya.


Yuniar duduk diam di tepi ranjang melihat apa yang di kerjakan oleh suaminya. Tidak sampai lima menit, Aiden pun akhirnya menyelesaikan pekerjaannya.


"Emm.. By, aku.."


"Katakan saja apa yang ingin kamu katakan, tidak perlu ragu,"ucap Aiden yang melihat Yuniar ragu-ragu.


"Soal Saminten. Dia selalu mencari gara-gara dengan aku,"ucap Yuniar dengan wajah tertunduk.

__ADS_1


Sebenarnya Yuniar tidak ingin mengadu pada suaminya, tapi Yuniar benar-benar merasa kesal pada Saminten yang setiap bicara selalu membuat Yuniar emosi.


Seandainya saja pernikahan mereka tidak di sembunyikan seperti ini, dan semua orang tahu status Yuniar, Saminten tidak akan berani berbuat ulah pada Yuniar.


Dan seandainya Yuniar mendengar para pelayan di rumah itu sering menggosipkan hubungannya dengan Aiden yang terlihat tidak biasa, Yuniar pasti akan merasa tidak nyaman tinggal di rumah itu. Namun, semenjak cctv di rumah itu bisa merekam gambar dan suara, tidak ada lagi pelayan yang berani bergosip sembarangan.


Aiden meraih jemari tangan Yuniar, kemudian berkata,"Aku akan menyelesaikan masalah ini. Ayo, kita makan!"ajak Aiden dengan seulas senyum.


Yuniar tersenyum tipis dan mengangguk kecil, lalu membantu Aiden meletakkan laptopnya di atas nakas. Gadis itu mendorong kursi roda Aiden menuju ruangan makan.


Aiden sudah menyelidiki masalah di antara Yuniar dan Saminten lebih detail. Dan Aiden memang berniat untuk menyelesaikan masalah itu malam ini.


Seperti biasanya, Yuniar melayani Aiden dengan telaten. Sedangkan Saminten terlihat semakin benci pada Yuniar. Melihat Yuniar yang semakin cantik dan mendapatkan banyak hadiah dari Aiden setelah satu bulan Aiden pergi membuat rasa iri dalam hatinya semakin menjadi.


Setelah makan malam selesai, Aiden meminta Pak Wanto untuk mengumpulkan semua penghuni rumah di ruangan tengah. Roni pun juga ada di ruangan itu.


"Sebelumnya, lewat Pak Wanto aku sudah memberitahu kalian semua. Kalian harus memanggil Yuniar dengan panggilan Nona. Yuniar boleh melakukan apapun di rumah ini dan berhak meminta kalian melakukan apapun,"


"Kedua, Saminten telah berani membayar penjaga ruangan kontrol cctv untuk menghapus rekaman cctv. Ini tindakan yang melanggar aturan di rumah ini. Dan ke tiga, dari semua rekaman cctv yang sudah aku lihat, Saminten lah yang selalu menghampiri Yuniar dengan ekspresi wajah tidak suka,"


"Karena Saminten adalah cucu Pak Wanto yang sudah banyak berjasa pada keluarga ku, kali ini aku memaafkan Saminten. Dengan syarat, jangan pernah mendekati Yuniar lagi. Jika aku melihat kamu mendekat Yuniar, apapun yang terjadi di antara kalian berdua, maka aku akan menyalahkan kamu dan tidak akan segan untuk mengusir kamu keluar dari rumah ini. Apa kamu mengerti?"tanya Aiden pada Saminten tegas.


"Iya, Tuan,"sahut Saminten dengan kepala tertunduk. Kedua tangan gadis itu terkepal erat menahan amarah.


"Syukurlah, jika Tuan Aiden memutuskan seperti itu. Karena semenjak cctv dapat merekam suara, Saminten tetap berkata-kata sarkas pada ku dengan cara berbisik,"gumam Yuniar dalam hati merasa lega.


"Perempuan itu pasti sudah menghasut Tuan Aiden, hingga Tuan Aiden membuat keputusan seperti ini,"gumam Saminten dalam hati dengan segunung kebenciannya pada Yuniar.


Hati gadis itu sudah di cemari racun yang namanya iri, dengki dan benci. Sehingga hanya ada perasaan benci di hatinya setiap melihat Yuniar.


Setelah Aiden membuat keputusan, Yuniar mendorong kursi roda Aiden ke ruang kerja Aiden. Yuniar kembali ke kamarnya untuk mengambil laptop dan buku-bukunya. Di ruangan kerja Aiden itu, Aiden mengerjakan pekerjaan kantornya, sedangkan Yuniar belajar dan mengerjakan tugas kuliahnya.


Aiden tersenyum tipis melihat Yuniar menguap beberapa kali. Pria itu lalu menutup laptopnya.

__ADS_1


"Baby, antar aku ke kamar! Biarkan saja laptop dan buku-buku kamu di sini,"pinta Aiden lembut.


"Hum,"sahut Yuniar yang sempat terkejut sekaligus tersipu karena penggilan Aiden tadi.


Yuniar bergegas merapikan barang-barangnya, lalu mendorong kursi roda Aiden ke kamar Aiden.


"Aku ingin menggosok gigi ku sebelum tidur. Kamu juga bisa sekalian menggosok gigi bersama ku. Ada sikat gigi baru di kamar mandi,"ujar Aiden.


"Iya,"sahut Yuniar menurut.


Setelah selesai menggosok gigi, Yuniar mendorong kursi roda Aiden ke arah ranjangnya. Yuniar membantu Aiden naik ke atas ranjang. Aiden melepaskan kancing piyamanya.


"Kenapa Tuan membuka kancing baju Tuan?"tanya Yuniar yang kembali memakai bahasa formal pada Aiden. Belum konsisten memanggil By, bila sedang berdua dengan Aiden.


"Sebenarnya aku jarang memakai baju saat tidur. Aku merasa lebih nyaman jika tidur tanpa memakai baju,"sahut Aiden menghela napas berat mendengar Yuniar kembali memanggilnya 'Tuan' dan memakai kata 'saya'.


Yuniar akhirnya membantu Aiden melepaskan bajunya. Dan lagi-lagi dada bidang berotot dan perut bak susunan roti sobek itu terlihat.


"Aku masih rindu padamu. Malam ini, tidurlah di sini bersama ku!"pinta Aiden seraya memegang tangan Yuniar yang hendak bangkit dari duduknya.


Yuniar terdiam mendengar permintaan suaminya itu.


"Tidur bersama Tuan Aiden di sini? Bagaimana jika para pelayan tahu? Mereka akan berpikir macam-macam tentang aku karena tidak mengetahui hubungan ku yang sebenarnya dengan Tuan Aiden. Mereka akan menganggap aku wanita tidak benar yang menjual diri pada Tuan Aiden,"gumam Yuniar dalam hati merasa dilema.


Di satu sisi Yuniar takut jika ada pelayan yang melihat dirinya tidur di kamar Aiden. Tapi di sisi lain, Yuniar sadar jika seharusnya dirinya memang tidur bersama suaminya.


"Kenapa? Kamu tidak mau tidur dengan ku?"tanya Aiden yang melihat Yuniar terdiam.


...🌸❤️🌸...


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2