
Yuniar menatap Aiden dengan tatapan gamang. Di satu sisi, Yuniar merasa sangat bahagia karena Aiden ingin mengumumkan status pernikahan mereka pada semua orang di rumah itu.
Walaupun hanya sebatas orang-orang di rumah itu, Yuniar sudah merasa sangat bersyukur. Setidaknya, tidak akan ada lagi yang memandang rendah dirinya yang sudah beberapa malam tidur di kamar Aiden. Apalagi Saminten yang seringkali berkata-kata sarkas pada dirinya.
Di sisi lain, Yuniar merasa, seolah-olah secara halus dirinya ingin di akui Aiden sebagai istrinya.
"Aku.. Aku tidak bermaksud meminta hal itu dari hubby. Aku tahu posisi ku. Aku tidak pantas menjadi nyonya di rumah ini. Aku hanya gadis biasa yang tidak layak bersanding dengan hubby. Aku gadis yang tidak tahu diri karena telah memaksa hubby untuk menikahi aku,"ucap Yuniar kembali menunduk dengan mata yang berkaca-kaca.
Dengan perkataannya barusan, Yuniar benar-benar merasa bahwa secara tidak langsung dirinya telah memaksa Aiden untuk mengakui pernikahan mereka di depan publik. Mengumumkan statusnya sebagai istri Aiden.
Mendengar kata-kata Yuniar, Aiden menghela napas panjang. Sejujurnya Aiden merasa kecelakaan yang menimpa mereka waktu itu membawa berkah bagi dirinya. Sebab, karena kecelakaan itulah Yuniar mau, bahkan memaksa untuk menikah dengan dirinya. Padahal, sebelumnya Yuniar selalu menghindari dirinya.
"Aku tidak merasa kamu meminta ku untuk mengumumkan pernikahan kita. Pantas atau tidaknya kamu menjadi pendamping hidup ku dan nyonya di rumah ini, hanya aku yang berhak menentukannya,"tanggap Aiden.
"Aku hanya gadis biasa dari desa yang tidak punya apa-apa, By. Bahkan hidup kami sekeluarga di biayai oleh kakak angkat ku. Tanpa kakak, kami hanyalah orang miskin yang hanya memiliki gubuk reyot untuk berteduh. Bahkan, bisa makan sehari sekalipun sudah sangat bersyukur. Aku tidak pantas bersanding dengan pria kaya, tampan dan mapan seperti hubby,"lanjut Yuniar yang merasa rendah diri.
Perbedaan status sosial di antara Yuniar dan Aiden sangat jauh. Bisa di bilang sebagai si kaya dan si miskin. Sangat timpang, alias berbeda jauh. Namun, saat Yuniar bersikeras untuk menikah dengan Aiden karena ingin bertanggung jawab dan ingin merawat Aiden sampai sembuh, Yuniar sama sekali tidak ingat akan perbedaan status sosial yang membentang diantara mereka berdua.
Aiden, meletakkan laptopnya di atas nakas, lalu menggenggam jemari tangan Yuniar dengan lembut.
"Aku tidak peduli siapa dan bagaimana kamu di mata orang lain. Aku hanya peduli tentang siapa kamu di hati ku. Aku tidak pernah menilai orang dari status sosialnya. Aku menilai orang dari hati nya. Dari tingkah laku dan budi pekertinya,"
"Seorang manusia tidak serta merta menjadi mulia karena kekayaannya, jabatannya, ataupun keelokan paras rupa nya. Jadi, kamu jangan merasa rendah diri hanya karena kalian bukan orang yang mampu. Cukup rendah hati saja. Harta benda adalah ujian semata. Titipan dari-Nya. Sewaktu-waktu bisa di ambil-Nya,"
"Maaf! Aku terlalu egois dan tidak peka. Sebagai seorang suami, aku kurang memperhatikan kamu. Aku hanya memikirkan dan mempedulikan diriku sendiri tanpa peduli dan memikirkan perasaan mu. Aku tidak memperhatikan reaksi orang-orang di sekitarku. Aku bahkan tidak tahu saat kamu di aniaya oleh pelayan ku. Aku benar-benar suami yang buruk,"ujar Aiden menghela napas panjang.
"Tidak. Hubby tidak salah. Sebelum menikah dengan hubby dan menandatangani surat perjanjian pra nikah itu, seharusnya aku sudah mengerti dengan risiko yang harus aku hadapi. Akulah yang memaksa hubby menikah dengan ku,"sahut Yuniar masih dengan wajah yang tertunduk.
"Sudah, jangan membicarakan tentang hal itu lagi. Sementara waktu, aku hanya akan mengumumkan tentang pernikahan kita pada seisi rumah ini. Aku janji, saat waktunya sudah tepat, aku akan melamar kamu secara resmi pada orang tuamu. Menikahi kamu secara hukum dan mengadakan resepsi pernikahan kita,"ucap Aiden tegas tanpa keraguan.
Setelah kakinya benar-benar sembuh. Aiden berencana meminta maaf pada orang tua Yuniar karena menikahi Yuniar tanpa sepengetahuan dan izin, apalagi restu orang tua Yuniar. Sekaligus melamar Yuniar, walaupun sudah terlambat. Aiden ingin menikahi Yuniar secara hukum agar status Yuniar sah menjadi istrinya baik secara hukum maupun agama.
"Hubby.."Yuniar menatap Aiden dengan tatapan tidak percaya mendengar apa yang dikatakan oleh Aiden.
__ADS_1
Yuniar tidak menyangka jika Aiden berniat menikahi dirinya secara hukum dan mengumumkan pernikahan mereka pada publik. Sedikitpun Yuniar tidak berani berharap tentang hal itu. Karena Yuniar masih ingat dengan jelas isi surat perjanjian pra nikah mereka.
"Iya. Aku ingin semua orang tahu tentang pernikahan kita. Kenapa? Apa kamu tidak senang jika aku mengakui mu sebagai istri ku di depan publik? Apa kamu malu karena memiliki suami yang jauh lebih tua dari mu? Takut di bilang menikah dengan om-om?"tanya Aiden menyelidik.
"Bu.. Bukan. Tentu saja tidak. Wajah hubby masih terlihat muda, kok,"sahut Yuniar tersenyum tipis.
Ada kebahagiaan tersendiri di hati Yuniar saat mendengar janji Aiden yang ingin menikahi dirinya secara hukum dan mengumumkan status hubungan mereka pada publik.
Itulah manusia. Sangat mudah termakan oleh janji-janji yang belum tentu pasti. Sangat mudah membuat janji yang belum tentu bisa di tepati. Atau mungkin, memang janji yang benar-benar tidak ingin di tepati. Seperti kampanye para calon legislatif. Setelah terpilih, lupa janji, lupa diri. Atau lebih tepatnya, "PURA-PURA LUPA".
Saat masa kampanye, para calon legislatif ( caleg) rajin mengumpulkan orang. Rajin mendatangi rumah-rumah pemilih.Tapi begitu terpilih menjadi anggota legislatif, banyak politisi yang lupa atau sengaja melupakan janji yang pernah mereka sampaikan.
Karena dalam masa kampanye caleg maupun capres benarnya tidak menyampaikan janji-janji, melainkan menyampaikan visi, misi, program kerja dan citra diri mereka dengan tujuan agar menarik pemilih untuk memilihnya. Atau lebih tepatnya "janji politik". Dan hal itu di salah kaprah kan oleh masyarakat sebagai janji yang harus di tepati. Jika setelah terpilih dikemudian hari tidak melaksanakan ‘janji politik’ atau dalam hal ini adalah visi, misi dan program yang pernah disampaikan pada masa kampanye Pemilu, maka tidak ada aturan yang mengatur bahwa hal tersebut dapat digugat.
Janji politik (visi, misi, dan program) yang disampaikan pada masa kampanye tidak dapat dikatakan sebagai janji dalam konteks hukum perdata sehingga jika tidak dilaksanakan juga tidak dapat digugat. Karena ‘janji politik’ hanya dilakukan oleh caleg atau capres yang berjanji pada masa kampanye, pemilih juga tidak mengikatkan diri untuk melakukan suatu prestasi dari ‘janji politik’ tersebut.
Begitu pun cinta, jika kita termakan rayuan, janji-janji manisnya yang akhirnya mematahkan hati kita, tidak akan ada pengadilan yang dapat menerima aduan, apalagi memberikan keadilan untuk kita.
***
"Ini sup apa, Bik?"tanya Yuniar Yuniar yang mengernyitkan keningnya saat ingin mengambilnya sub dari dalam mangkok.
"Itu sup ayam cemani, Non,"jawab Bik Sari tersendiri tipis.
"Ayam cemani? Dagingnya juga berwarna hitam? Aku pikir cuma bulu dan kulitnya saja yang berwarna hitam,"ujar Yuniar tersenyum bodoh.
"Bukan hanya dagingnya yang berwarna hitam, non. Tapi tulang, jaringan, dan organ seperti hati juga memiliki warna hitam,"sahut Pak Wanto.
"Pak Wanto benar,"sahut Aiden,"Tapi darahnya tetap berwarna merah karena hemoglobin, meski agak gelap. Ayam cemani memiliki kadar protein yang tinggi dengan kadar lemak dan kolesterol yang sangat rendah. Mengonsumsi daging ayam cemani pun terbukti dapat mempercepat proses penyembuhan penyakit. Oleh karena itulah, banyak orang yang sering menyalahartikan khasiatnya dan mengaitkannya dengan mitos serta mistis,"jelas Aiden.
"Apa rasanya enak?"tanya Yuniar menatap Aiden ragu.
"Ini ayam asli Indonesia. Rasanya juga enak seperti ayam kampung, kok. Makanlah!"ucap Aiden seraya mengambil alih mangkok yang di pegang Yuniar.
__ADS_1
Aiden menuangkan sup itu di piring Yuniar membuat semua mata menatapnya.
Pak Wanto mengernyitkan keningnya melihat Aiden menuangkan sup di piring Yuniar,"Semakin hari, mereka semakin dekat dan terlihat seperti sepasang suami-isteri,"gumam Pak Wanto yang selalu memperhatikan sepasang anak manusia itu.
Bik Sari memicingkan sebelah matanya menatap kedekatan antara Yuniar dan Aiden,"Sebenarnya, apa hubungan Nona Yuniar dengan Tuan Aiden? Untuk ukuran perawat dan tuannya, mereka terlalu akrab. Walaupun nona Yuniar masih kerabat nyonya Aurora dari pihak suaminya. Tapi ini terlalu dekat,"gumam Bik Sari dalam hati.
Pelayan muda yang berdiri di sebelah Bik Sari pun terlihat curiga pada hubungan Aiden dan Yuniar.
"Apa benar kata Saminten? Non Yuniar setiap malam tidur di kamar Tuan Aiden? Cantik, sih cantik. Tapi, kalau akhlaknya minim buat apa? Tuan Aiden itu pria yang tampan dan mapan. Kenapa harus menyukai wanita murahan seperti gadis itu,"gumam pelayan muda itu dalam hati.
Sedangkan Saminten semakin benci menatap Yuniar saat melihat Aiden mengambilkan sup untuk Yuniar.
"Wanita murahan ini! Dia benar-benar pintar menggoda pria. Entah sudah berapa kali wanita penghibur ini membuka pahanya untuk para pria di luar sana. Bahkan, Tuan Aiden pun takluk padanya. Ingin sekali aku menjambak rambutnya dan mencakar wajah nya itu,"gumam Saminten dalam hati yang sudah di penuhi iri dan dengki.
"Pak, tolong kumpul kan seluruh penghuni di rumah ini. Aku ingin mengumumkan sesuatu,"pinta Aiden setelah selesai makan malam
...🌟🌟🌟...
..."Saat tidak di tepati, janji yang indah akan menjadi sumpah serapah."...
..."Lebih baik dilakukan dari pada hanya dijanjikan."...
..."Seribu janji pun tidak akan berarti, jika tidak ada tindakan pasti,"...
..."Lebih baik saling mendoakan dari pada saling menjanjikan."...
..."Manisnya janji tanpa bukti nyata, hanya akan menggores hati meninggalkan luka."...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
__ADS_1
To be continued