
Melda yang kembali ke meja kerjanya hanya bisa menghela napas berkali-kali mengingat kejadian tadi. Kejadian yang benar-benar membuat Melda syok.
"Pantas saja Yuniar mengatakan kalau suaminya sama tampannya dengan Tuan Aiden dan tidak mau menunjukkan foto suaminya padaku. Ternyata aku hampir setiap hari melihat suaminya, bahkan sudah mengenalnya selama bertahun-tahun. Lucu sekali,"gumam Melda dalam hati yang menertawakan dirinya sendiri.
"Pantas saja setiap Yuniar masuk ke dalam ruangan Tuan Aiden, pasti lama nggak keluar-keluar. Mungkin mereka sedang bermesraan seperti tadi di dalam sana,"duga Melda yang masih bergumam di dalam hati. Dan dugaan Melda memang benar adanya.
"Dan pantas saja Yuniar nampak mengeluarkan aura kebencian dan permusuhan yang menyengat pada Brisa. Bahkan secara halus mengatakan bahwa Brisa adalah seorang pelakor. Haish.. Kanapa selama ini aku tidak peka. Aku hanya curiga kenapa Tuan Roni yang memasukkan seorang pemagang yang di tempatkan untuk membantu aku,"
"Haish.. Aku benar-benar terperdaya karena kecerdasan Yuniar. Aku mengira karena kecerdasannya itulah Tuan Roni memasukkan Yuniar ke perusahaan ini. Ternyata oh ternyata, dia adalah istri bos ku,"gumam Melda di dalam hati hanya bisa menghela napas berkali-kali dan menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.
Beberapa menit kemudian, Yuniar pun keluar dari ruangan Aiden. Gadis itu duduk di kursi kerjanya dan nampak canggung pada Melda sekaligus malu karena Melda tanpa sengaja melihat kejadian tadi.
"Emm.. Bu saya.."Yuniar nampak bingung harus berkata apa pada Melda.
"Nyonya tidak usah canggung seperti itu. Saya mengerti, kok. Walaupun saya tidak tahu apa alasan kalian menyembunyikan hal itu, tapi saya tidak akan menilai dan memandang negatif atas keputusan kalian. Saya tahu, semua orang pasti memiliki alasan atas apa yang di lakukan. Namun, seperti yang saya katakan di lobby tadi, akan lebih baik jika kalian sesegera mungkin mempublikasikan hubungan kalian. Tuan sangat beruntung menikah dengan gadis secantik dan secerdas nyonya. Maaf, jika tadi saya sempat berpikir buruk tentang anda,"ucap Melda pelan menggunakan bahasa formal seratus persen pada Yuniar, bahkan memanggil Yuniar dengan panggilan 'nyonya'.
"Bu, jangan seperti ini. Ibu jangan bicara terlalu formal seperti ini pada saya. Bicara dan panggil saya seperti biasanya saja. Jika ibu berbicara dan memanggil saya seperti ini, orang lain akan merasa curiga pada saya,"pinta Yuniar serius dengan nada pelan.
"Baiklah. Saya menurut saja. Ini suatu kehormatan bagi saya. Bisa memanggil majikan dengan nama tanpa embel-embel apapun,"sahut Melda yang akhirnya terkekeh kecil, sengaja mencairkan suasana canggung di antara mereka.
"Ah, ibu malah bercanda,"sahut Yuniar tersenyum tipis.
"Saya benar-benar merasa tertipu,"ujar Melda menghela napas panjang.
"Kenapa?"tanya Yuniar mengernyitkan keningnya menatap Melda.
"Tertipu dengan akting kalian. Haish.. Saya benar-benar tidak menyangka sama sekali,"ujar Melda, kemudian berbisik pada Yuniar,"Bagaimana caranya kamu menaklukkan Tuan Aiden? Kamu sampai bisa menikah dengan seorang Casanova yang sepertinya tidak memiliki niat untuk berumah tangga. Kamu benar-benar hebat,"tanya sekaligus puji Melda.
"Ah, tidak ada, kok, Bu. Kami saling mencintai seiring berjalannya waktu,"sahut Yuniar yang memang mencintai Aiden secara perlahan-lahan.
__ADS_1
"Pantas saja kamu tidak mau menutupi kiss mark di leher kamu. Ternyata, suami kamu dekat dengan kamu dan pasti selalu mengawasi kamu,"ujar Melda tersenyum tipis seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. Sedangkan Yuniar hanya bisa menyengir bodoh.
*
Brisa berjalan masuk ke dalam ruangan papanya. Gadis itu membawa beberapa berkas di tangannya.
"Pa, ini berkas-berkas yang papa minta,"ujar Brisa seraya meletakkan berkas yang di bawanya di atas meja kerja papanya.
"Hum. Sa, apa kamu sudah bicara dengan dokter itu?"tanya Lano menghentikan aktivitasnya memeriksa file di laptopnya.
"Sudah, pa. Pemeriksaan terakhir sesuai prediksi. Tapi, orang yang memijat Aiden kemarin sangat yakin, jika Aiden sehat dan normal. Sangat berbeda dengan pemeriksaan dokter neurologi yang mengatakan bahwa keadaan Aiden akan sedikit membaik jika meminum obat yang kita berikan kemarin,"sahut Brisa seraya duduk di kursi yang ada di depan meja kerja papanya. Hingga sekarang ayah dan anak itu duduk berhadapan disekat oleh meja kerja Lano.
"Tapi, papa sudah mengawasi Aiden dan dia tidak berobat ke manapun selain di dokter itu. Tidak mungkin dia bisa sembuh tanpa menjalani pengobatan apapun di tempat lain,"sahut Lano yang sangat yakin jika Aiden tidak lepas dari pengawasannya.
Namun nyatanya Aiden bergerak tanpa diketahui oleh Lano. Lano bahkan tidak tahu jika Aiden berobat ke luar negeri. Lano lupa, jika Aiden jauh lebih kaya dari dirinya. Bukan hal sulit bagi Aiden untuk mengatur semuanya agar pergerakannya tidak di ketahui oleh orang lain, terutama Lano.
"Kalau begitu, kita tes saja,"ucap Lano terlihat serius.
"Di tes? Bagaimana caranya?"tanya Brisa nampak mengernyitkan keningnya.
"Beri dia obat perangsang. Jika memang dia sehat dan normal seperti yang dikatakan oleh ahli pijat refleksi itu, pasti libidonya (gairaah s3ksu∆l ) akan naik,"
"Maksud papa... Papa ingin aku tidur dengan dia?"tanya Brisa mengernyitkan keningnya.
"Kenapa? Kamu tidak mau? Atau kamu sedang datang bulan?"tanya Lano dengan ekspresi serius.
"Bukan. Tentu saja aku bersedia tidur dengan dia. Aku juga tidak sedang datang bulan. Bahkan aku sekarang sedang dalam masa subur,"sahut Brisa jujur.
"Bagus. Kalau dia benar-benar sehat dan kamu bisa tidur dengan dia, akan ada kemungkinan kamu akan mengandung anaknya. Dan itu akan sangat menguntungkan kita. Perusahaan kita tidak akan bangkrut jika Om kamu menarik semua sahamnya,"ujar Lano menghela napas panjang.
__ADS_1
"Lagian, papa kenapa juga berselingkuh dengan adik ipar papa sendiri? Seperti tidak ada perempuan lain saja di luar sana. Papa bisa mencari wanita lain yang lebih cantik dan lebih muda dari perempuan itu di luar sana. Kenapa harus berselingkuh dengan dia? Papa membuat semuanya jadi kacau,"keluh Brisa dengan wajah yang terlihat kesal.
"Tidak usah membahas soal itu lagi! Semua sudah terjadi, tidak mungkin memutar waktu kembali,"ketus Lano.
"Pokoknya, aku tidak setuju jika papa menikah dengan perempuan itu,"ujar Brisa terlihat tidak suka.
"Sudah papa bilang tidak usah membahas hal itu lagi. Sekarang, pergilah dan atur cara untuk membuktikan Aiden sudah sehat atau belum,"ketus Lano.
Tanpa berkata apapun, Brisa keluar dari ruangan papanya. Brisa benar-benar tidak suka jika papanya sampai menikah dengan istri Om nya itu.
*
Yuniar dan Melda kembali sibuk dengan berkas dan laptop di atas meja kerja mereka masing-masing. Kedua wanita beda usia itu nampak cocok. Sama-sama cantik, pintar dan pekerja keras. Dengan keberadaan Yuniar yang membantu dirinya, Melda jadi lebih cepat selesai mengerjakan semua pekerjaannya. Bahkan wanita itu jadi punya banyak waktu untuk memeriksa ulang pekerjaannya.
Melda juga bersikap seperti biasanya pada Yuniar, sesuai permintaan Yuniar. Walaupun Melda merasa sedikit tidak enak hati mengingat Yuniar adalah istri bosnya. Namun, mau tidak mau Melda juga harus berakting tidak mengetahui apa-apa dan semuanya berjalan seperti biasanya.
"Bu, apa berkas yang ini mau di foto copy?"tanya Yuniar menunjukkan sebuah berkas pada Melda.
"Ah, iya. Tolong kamu fotocopy tiga rangkap, ya, Yun!"pinta Melda setelah melihat berkas yang di tunjukan Yuniar.
"Baik, Bu,"sahut Yuniar kemudian pergi untuk memfotokopi berkas itu.
Tidak berapa lama kemudian, Yuniar pun sudah selesai memfotokopi berkas tadi. Yuniar yang memakai flat shoes ( sepatu datar yang tidak ada hak nya) itu tiba-tiba bersembunyi saat melihat gerak gerik seorang office girl yang nampak mencurigakan. Office girl itu nampak menoleh ke segala arah. Diam-diam Yuniar mengikuti office girl yang membuat dirinya curiga itu.
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
__ADS_1