Casanova Mati Gaya

Casanova Mati Gaya
74. Mengancam


__ADS_3

Setelah Yuniar keluar dari ruangannya, Aiden menghela napas kasar menatap Brisa yang terlihat sangat kesal.


"Jika tidak ada lagi yang di bicarakan, kamu boleh keluar dari ruangan ku. Aku masih banyak pekerjaan,"ujar Aiden yang malas melihat Brisa.


"Den, kenapa kamu tidak memberhentikan pemagang itu?"tanya Brisa tidak mengindahkan perkataan Aiden.


"Bukankah tadi sudah aku katakan? Itu adalah urusan ku. Benar kata Yuniar, kamu bersikap seperti nyonya di perusahaan ku ini. Padahal kita tidak memiliki hubungan apa-apa selain sebagai rekan bisnis. Jadi, sebaiknya kamu bersikap sebagai rekan bisnis. Jangan bersikap berlebihan hingga mencampuri urusan dalam perusahaan ku!"ujar Aiden datar.


"Den, aku benar-benar mencintaimu. Aku ingin menjadi pendamping hidup mu. Aku tidak peduli kamu cacat atau tidak, aku ingin menikah dengan mu,"ujar Brisa dengan wajah memelas.


"Maaf! Aku tidak bisa. Aku sudah mencintai orang lain,"sahut Aiden jujur adanya.


"Tidak mungkin! Kamu bohong, 'kan?"Brisa tidak percaya jika Aiden mencintai seseorang.


"Terserah kamu mau percaya atau tidak. Sekarang pergilah! Atau aku akan mengurungkan untuk pergi dengan kamu,"ancam Aiden.


Brisa haya bisa membuang napas kasar mendengar perkataan Aiden,"Baiklah, aku pergi. Aku tunggu kamu di bawah setelah kamu pulang kerja,"pamit Brisa yang terpaksa mengalah karena tidak ingin Aiden membatalkan janji mereka untuk pergi nanti sore.


Begitu Brisa membalikkan tubuhnya, Aiden langsung menghubungi Yuniar. Aiden tidak ingin Yuniar salah paham padanya, karena tadi Yuniar telah mendengar bahwa dirinya janjian mau pergi dengan Brisa setelah pulang kerja.


"Halo, By?"sahut Yuniar dengan suara agak pelan dan dengan nada lembut, tepat di saat Brisa keluar dari ruangan Aiden.


Melihat Yuniar menerima panggilan telepon dan menyebut kata 'Hubby', Melda pun mengernyitkan keningnya melirik ke arah Yuniar. Jiwa kepo wanita paruh baya itu pun langsung online. Brisa yang baru saja menutup pintu ruangan Aiden pun nampak kepo mendengar Yuniar memanggil seseorang dengan panggilan 'Hubby' melalui sambungan telepon.


"Baby, aku nanti setelah pulang kerja akan pergi dengan Brisa. Dia mengatakan padaku akan membawa ku pada orang yang bisa menyembuhkan kaki orang yang lumpuh. Jadi, aku akan pulang terlambat. Tidak apa-apa, 'kan, jika aku pergi?"tanya Aiden dari sambungan telepon.


"Hum. Tapi ingat! Hubby jangan macam-macam! Jika aku mencium bau parfum wanita lain di tubuh atau baju hubby, maka jangan harap malam ini hubby bisa tidur dengan ku, apalagi memeluk dan mencium ku!"ancam Yuniar serius.

__ADS_1


"Iya..iya.. Tidak akan,"sahut Aiden dari sambungan telepon.


"Lebay!"cibir Brisa kemudian melihat handphonenya karena ada notifikasi pesan masuk.


"Sirik!"balas Yuniar seraya menutup speaker bagian bawah handphonenya agar Aiden tidak mendengar apa yang di katakan nya pada Brisa.


Melda semakin mengernyitkan keningnya melihat interaksi Yuniar dan Brisa,"Kenapa aku merasa ada aura permusuhan di antara mereka, ya? Apa yang terjadi di dalam ruangan Tuan Aiden tadi? Apa di dalam sana tadi mereka berantem?"gumam Melda dalam hati penuh tanda tanya. Jiwa kepo wanita paruh baya itu kembali meronta-ronta.


"Ya sudah, aku tutup, ya, By?"ucap Yuniar yang merasa tidak enak hati menerima panggilan yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan, di saat jam kerja. Walaupun yang sedang menelpon adalah suaminya sendiri, pemilik dari tempatnya bekerja saat ini. Yuniar hanya ingin bersikap profesional.


"Hum,"sahut Aiden tersenyum tipis.


"Cieee.. Cieee.. Yang dari di telpon hubby. Pakai mengancam hubby segala,"goda Melda.


"Gimana, ya, Bu? Pelakor sekarang bertingkah seperti istri sah. Bertingkah seperti Nyonya, padahal bukan siapa-siapa,"sahut Yuniar sedikit menguatkan suaranya, melirik Brisa yang masih berdiri tidak jauh dari pintu ruangan Aiden. Gadis itu sepertinya sedang membalas pesan.


Brisa mengernyitkan keningnya mendengar setiap kalimat yang di ucapkan Yuniar.


"Iya, sih. Pelakor zaman sekarang memang meresahkan. Mereka nekat melakukan apapun demi merebut suami orang. Sedangkan kita tahu sendiri, pria itu imannya setipis kulit bawang. Mudah tergoda pada kenikmatan di bawah pusar yang sesaat saja. Makanya, kita sebagai istri jangan membuat celah dalam hubungan kita dan suami kita. Senangkan suami kita dan buat suami kita nyaman saat bersama kita. Dengan begitu, suami kita tidak akan melirik wanita lain. Tapi, kalau sudah di senangkan dan di buat nyaman masih juga melirik yang lain, itu, sih, dasar suaminya saja yang tipikal suami pecinta seribu wanita, alias lelaki buaya,"tanggap Melda panjang lebar.


Sedangkan Brisa memilih pergi dari tempat itu setelah membaca pesan yang masuk di handphonenya.


"Ngomongin soal buaya, kenapa buaya sering dikonotasikan dengan laki-laki yang sering bergonta-ganti pasangan dan tidak setia, ya, Bu? Padahal, buaya adalah binatang yang sangat setia pada pasangannya. Buaya hanya memiliki satu pasangan dalam seumur hidupnya, atau dikenal dengan sebutan monogami,"


"Bahkan ketika buaya betina mati, maka buaya jantan tidak akan pernah mencari pasangan lagi. Mereka lebih memilih menghabiskan sisa hidupnya sendirian. Lalu, bagaimana ceritanya laki-laki yang tidak setia dan suka bergonta-ganti pasangan di sebut buaya?"tanya Yuniar yang memang tidak mengerti.


"Ohh, itu. Hal itu dikarenakan cerita yang sudah sangat lama. Sekitar tahun 1871, ada sebuah kisah tentang buaya yang menghilang dari tambak di Songanyit, Jember, Jawa Timur. Setelah hilang selama tiga bulan, buaya itu justru ditemukan sedang bersama buaya betina. Dari sanalah istilah buaya darat mencuat. Karena menemukan seekor buaya yang tidak setia,"

__ADS_1


"Istilah buaya itupun akhirnya merajalela ke penjuru bangsa. Buaya yang aslinya adalah hewan yang paling setia seperti yang kamu katakan tadi, jadi dikonotasikan dengan buaya darat yang suka bergonta-ganti pasangan,"jelas Melda yang memang lebih tua dari Yuniar.


"Ohh.. Begitu rupanya. Ternyata hanya karena ada satu buaya yang tidak setia, akhirnya buaya di konotasikan sebagai lelaki hidung belang yang suka bergonta-ganti pasangan,"sahut Yuniar yang baru mengetahui tentang kisah itu.


"Ya, begitulah. Karena nila setitik, rusaklah susu sebelanga. Itulah peribahasa yang menggambarkan bahwa kesalahan sekecil apapun itu akan punya dampak luas pada citra seseorang/organisasi secara keseluruhan. Kenapa bisa rusak susu sebelanga? Karena susu itu putih dan warna apapun yang masuk akan merubah warna keseluruhan,"jelas Melda.


"Iya, juga, ya, Bu. Sama seperti Kepercayaan. Kepercayaan itu seperti selembar kertas, sekali diremas maka tidak akan bisa kembali sempurna lagi. Kepercayaan juga seperti cermin, sekali rusak sulit diperbaiki. Jika di perbaiki pun, tidak akan memantulkan bayangan yang sempurna lagi,"


"Benar. Dibutuhkan banyak kebenaran untuk mendapatkan kepercayaan, tetapi satu kebohongan bisa menghancurkan kepercayaan. Butuh waktu bertahun-tahun untuk membangun kepercayaan, cukup beberapa detik untuk menghancurkan, dan selamanya belum tentu bisa diperbaiki,"


"Iya. Ibu benar,"sahut Yuniar yang juga setuju dengan pendapat Melda.


"By the way, kenapa kamu dan nona Brisa seperti mengeluarkan aura permusuhan. Apa yang terjadi di dalam ruangan Aiden tadi?"tanya Melda yang mulai online lagi kepo nya.


"Saya kesal pada dia. Dia memanggil saya 'hei' dengan nada merendahkan. Lalu dia menyuruh saya membuat minuman. Saya menolak membuatkan minuman untuk dia, karena itu bukan tugas saya. Tapi dia malah meminta Tuan Aiden untuk memecat saya. Bahkan dia menuduh saya menggoda Tuan Aiden. Saya membela diri dan mengatakan, jika saya hanya akan menggoda suami saya. Tidak berminat menggoda pria yang bukan suami saya. Saya kesal pada dia. Dia bertingkah seperti Nyonya di perusahaan ini,"jelas Yuniar jujur adanya.


"Tapi, kamu tidak dimarahi atau di pecat Tuan Aiden, 'kan?"


"Tidak. Karena yang saya katakan memang benar,"


"Syukurlah. Saya sudah terlanjur cocok bekerja sama kamu. Saya tidak rela kalau kamu di pecat gara-gara perempuan itu. Dari dulu, dia memang mengejar-ngejar Tuan Aiden. Lalu berhenti karena dia kuliah ke luar negeri. Setelah kembali, rupanya dia ingin mengejar Tuan Aiden lagi,"sahut Melda.


...🌸❤️🌸...


Notebook:


Konotasi adalah kata yang mempunyai makna lain di baliknya atau sesuatu makna yang berkaitan dengan sebuah kata. Memiliki makna tambahan, yang melampaui arti harfiah yang tercantum dalam kamus.

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2