
Setelah urusannya selesai, Melda pun kembali ke lantai di mana meja kerjanya berada. Namun, wanita paruh baya itu mengernyitkan keningnya saat tidak melihat Yuniar di meja kerjanya.
"Kemana Yuniar? Kok, tidak ada di di meja kerjanya? Seharusnya, 'kan, sudah selesai menyusun dokumen-dokumen itu ke lemari Tuan Aiden? Ini, pekerjaan yang aku berikan juga belum tersentuh sama sekali. Masih di atas mejanya dengan posisi sama seperti saat aku letakkannya. Apa Yuniar masih berada di ruangan Tuan Aiden? Coba aku lihat dulu, deh,"gumam Melda lalu berjalan menuju ruangan Aiden.
"Ceklek"
Melda membuka pintu ruangan Aiden dengan pelan, hingga suara pintu yang terbuka itu tidak terlalu terdengar. Wanita paruh baya itu tidak tahu, jika Aiden sudah kembali dan saat ini sedang berada di dalam ruangan itu. Sehingga wanita itu tidak mengetuk pintu lagi saat akan masuk ke dalam ruangan atasannya itu.
"Astagaa!"ucap Melda yang rasanya tidak percaya dengan apa yang sedang dilihat nya.
Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu membulatkan matanya dan menutup mulutnya sendiri yang menganga saat melihat apa yang dilakukan Aiden dan Yuniar di dalam ruangan itu. Melda terlihat sangat syok melihat sepasang anak manusia yang saat ini berada di atas kursi itu dengan posisi Yuniar di pangkuan Aiden itu.
Bagaimana tidak syok? Melda melihat Aiden sedang menyusu pada Yuniar dan Yuniar juga terlihat menikmatinya. Sedangkan selama ini Melda beranggapan bahwa Yuniar adalah wanita baik-baik. Tapi nyatanya rekan kerja barunya yang masih muda dan mengaku sudah bersuami itu malah ada affair dengan atasan mereka. Ada rasa kecewa yang sangat besar di hati Melda melihat pemandangan di depan matanya itu. Melda merasa telah salah menilai Yuniar selama ini. Melda merasa kecewa pada Yuniar.
Melda yang sempat syok itu langsung membalikkan tubuhnya hendak keluar dari ruangan itu setelah menemukan kembali kesadarannya. Sedangkan Aiden dan Yuniar yang sedang asyik memadu kasih pun terkejut saat mendengar suara Melda.
"Tunggu! Jangan keluar! Tutup pintunya dan tetaplah diam menghadap pintu!"titah Aiden yang sempat terkejut mendengar suara Melda sehingga menghentikan aktivitasnya yang sedang meminta bekal pada istrinya itu.
Tanpa mengatakan apapun, Melda langsung menutup pintu ruangan itu dan tetap berdiri di depan pintu, menghadap ke arah pintu itu sesuai perintah Aiden.
"Matilah aku! Apa yang akan dilakukan Tuan Aiden padaku? Mimpi apaa.. aku semalam hingga harus melihat pemandangan seperti tadi,"gumam Melda dalam hati.
Sedangkan Yuniar yang juga terkejut dan sempat tertegun itu pun bergegas menutup dadanya dan hendak turun dari pangkuan Aiden.
"Mau kemana, baby?"tanya Aiden yang langsung memeluk erat tubuh Yuniar tidak mengizinkan Yuniar turun dari pangkuannya.
"By.."panggil Yuniar lirih.
"Diam di sini!"titah Aiden seraya menyingkirkan tangan Yuniar yang memegangi kemejanya sendiri. Aiden memasukkan kembali dua benda yang tadi di nikmati nya ke dalam wadahnya, lalu mengancingkan kemeja Yuniar yang tadi di bukanya. Yuniar hanya diam menurut pada Aiden.
__ADS_1
"Astagaa.. Tuan Aiden memanggil Yuniar dengan panggilan 'baby'? Punya hubungan apa sebenarnya mereka berdua itu?"gumam Melda dalam hati masih bergeming di tempatnya berdiri.
"Bu Melda, kemari lah!"pinta Aiden setelah selesai mengancingkan kemeja Yuniar. Pria itu merapikan rambut Yuniar yang masih ada di atas pangkuannya, tanpa menatap Melda.
Sedangkan Yuniar hanya menunduk menghadap ke arah Aiden dengan tangan yang memegang erat jas yang di pakai suaminya itu. Yuniar sama sekali tidak berani menatap Melda karena merasa sangat malu dengan kejadian tadi.
"Setelah Bu Melda melihat kami sedang bermesraan, apa yang akan dilakukan hubby pada Bu Melda?"gumam Yuniar dalam hati.
Melda hanya melihat sekilas apa yang di lakukan Aiden pada Yuniar sambil mendekat ke arah sepasang suami-isteri itu.
"Haishh.. Tuan Aiden malah menunjukkan kemesraan nya dengan Yuniar di depan ku,"gumam Melda yang melihat Aiden merapikan rambut Yuniar.
"Silahkan duduk!"pinta Aiden dengan sebelah tangan yang masih memeluk Yuniar.
Melda duduk tertunduk di hadapan Aiden yang memangku Yuniar. Sedangkan Yuniar juga masih menunduk menghadap suaminya. Antara Melda dan sepasang suami-isteri itu duduk hanya bersekat meja kerja Aiden.
"Ibu pasti terkejut melihat apa yang terjadi barusan,"ucap Aiden memulai pembicaraan. Pria itu nampak menghela napas panjang.
"Saya tahu, walaupun ibu suka kepo pada orang lain, tapi ibu bukan tipikal orang yang suka bergosip. Jadi, saya mohon agar ibu merahasiakan apa yang ibu lihat barusan. Dan ibu jangan menilai rendah pada Yuniar karena apa yang ibu lihat barusan. Sebab, Yuniar adalah istri saya,"ujar Aiden yang lagi-lagi menghela napas panjang.
"A.. Apa? Yuniar adalah istri Tuan Aiden? Aku tidak salah dengar, 'kan?"gumam Melda dalam hati yang langsung mengangkat wajahnya menatap Aiden dengan tatapan tidak percaya.
"Hubby mengakui aku sebagai istrinya di depan Bu Melda?"gumam Yuniar dalam hati menatap Aiden dengan perasaan haru karena merasa senang. Jika Aiden mengakui dirinya sebagai istrinya pada Melda, maka Yuniar tidak perlu merasa takut Melda memandang rendah dirinya karena kejadian barusan.
"Bu Melda tidak salah dengar. Yuniar adalah istri saya,"ujar Aiden yang mengerti arti tatapan mata wanita paruh baya di depannya itu,"Walaupun kami belum mempublikasikan hubungan kami, tapi Yuniar adalah istri saya yang sah di mata agama. Saya tidak perlu mengatakan apa alasan kami menyembunyikan pernikahan kami ini pada ibu. Bila waktunya sudah tepat nanti, kami pasti mempublikasikan pernikahan kami dan menggelar resepsi pernikahan. Kami pasti mengundang ibu. Apa ibu bisa menyimpan rahasia ini?"tanya Aiden setelah bicara panjang lebar.
"Iya. Saya mengerti. Tuan tidak perlu khawatir. Saya akan merahasiakan hal ini pada siapapun,"ucap Melda dengan ekspresi serius menatap Aiden.
"Terimakasih. Saya harap ibu bisa di percaya dan bisa menjaga rahasia ini baik-baik. Karena saya tidak suka dengan seorang pengkhianat,"ujar Aiden dengan ekspresi serius.
__ADS_1
"Tuan bisa mempercayai saya. Tuan sudah mengenal saya cukup lama. Jadi, Tuan pasti tahu bagaimana saya,"ucap Melda meyakinkan Aiden bahwa dirinya bisa di percaya.
"Baiklah. Kalau begitu, ibu bisa melanjutkan pekerjaan ibu,"ucap Aiden yang kali ini tersenyum tipis.
Aiden memang sangat percaya pada Melda, karena Aiden sudah mengenal Melda selama bertahun-tahun dan sudah tahu seperti apa loyalitas wanita paruh baya itu pada dirinya dan perusahaannya.
"Baik. Saya permisi!"pamit Melda sedikit menunduk pada Aiden, kemudian keluar dari ruangan itu dan menutup pintu ruangan itu dengan rapat.
Aiden kembali menghela napas panjang kemudian menatap Yuniar.
"Baby, kenapa kamu menunduk seperti itu? Kamu adalah istri seorang CEO, tidak pantas menunduk seperti itu,"ujar Aiden seraya mengangkat wajah Yuniar dengan memegang dagu istrinya itu menggunakan jari telunjuk dan ibu jarinya.
"Aku malu sekali karena kepergok oleh Bu Melda, By,"sahut Yuniar menghela napas yang terasa berat.
"Tidak perlu malu baby! Kita adalah sepasang suami-isteri. Wajar saja jika kita memadu cinta. Sekarang Bu Melda sudah tahu, jika kamu adalah istri CEO di perusahaan ini. Jadi, kamu tidak perlu malu lagi padanya.Kita lanjutkan yang tadi, baby,"ucap Aiden hendak kembali mencium Yuniar.
"Hubby.. Cukup! Aku tidak mau ada yang memergoki kita lagi,"ujar Yuniar seraya mendorong dada Aiden yang ingin menciumnya lagi, lalu menghela napas kasar.
"Tidak akan ada lagi yang memergoki kita baby. Come on baby! Aku masih ingin menciummu,"pinta Aiden seraya menyingkirkan tangan Yuniar dari dadanya.
Yuniar akhirnya membiarkan Aiden kembali mencium bibir nya. Karena, walaupun di tolak pun, Aiden tidak akan menyerah untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.
...π"Ada rahasia yang tidak terungkap selamanya, ada pula rahasia yang terungkap oleh waktu, tanpa bisa kita mencegahnya."...
..."Terkadang, rahasia membuat hati menjadi was-was dan tidak bahagia.'π...
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
__ADS_1
.
To be continued