Casanova Mati Gaya

Casanova Mati Gaya
44. Salah Bicara


__ADS_3

Yuniar menghirup udara dengan serakah. Gadis itu menatap suaminya yang juga sedang menatapnya lekat. Sudah beberapa kali suaminya itu mencium bibirnya. Tapi baru kali ini pria di depannya itu mencium bibir nya dengan agresif seperti barusan dan sukses membuat Yuniar yang tergolong baru mengenal ciuman dan masih amatiran itu kewalahan.


"Apa semenjak aku pergi kamu memakai pakaian seperti ini dan merias wajahmu seperti saat ini?"tanya Aiden dengan tatapan tajam dan kilat kecemburuan di matanya. Aiden benar-benar tidak suka melihat pria lain menatap istrinya yang masih muda itu seperti tadi.


"Ti.. Tidak. Baru hari ini saya berpenampilan seperti ini,"sahut Yuniar tergagap dan langsung menundukkan wajahnya. Tidak berani menatap mata suaminya yang menatapnya tajam dengan jarak yang sangat dekat seperti saat ini.


"Tuan Aiden tidak pernah terlihat sangat kesal seperti saat ini. Dia benar-benar marah melihat aku berpenampilan seperti saat ini,"gumam Yuniar dalam hati. Gadis itu memilin jemari tangannya sendiri. Yuniar merasa takut melihat tatapan tajam dan aura kemarahan yang terpancar di wajah suaminya itu.


Aiden menghela napas panjang melihat Yuniar yang ketakutan karena dirinya itu. Tangan pria itu terangkat, memegang dagu Yuniar dengan jari telunjuknya dan jari jempolnya. Mengangkat dagu istrinya itu hingga gadis itu menatap dirinya dengan tatapan takut.


"Dengar! Aku tidak ingin kamu berpenampilan seperti ini di luar sana. Aku tidak menyukainya. Aku adalah suamimu. Aku berhak mengatur hidup mu, 'kan?"tanya Aiden lebih lembut.


Pria itu berusaha menyembunyikan dan meredakan amarah serta kekesalan nya karena rasa cemburunya. Tidak ingin istrinya ketakutan karena dirinya.


"I.. Iya. Saya mengerti,"sahut Yuniar lirih, memutuskan tatapan matanya pada suaminya.


Aiden memeluk tubuh Yuniar yang masih berada di atas pangkuannya dengan hangat. Memberikan rasa nyaman pada Yuniar agar rasa takut gadis itu pada dirinya hilang. Pria itu menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Yuniar. Aiden menghirup aroma segar dari tubuh Yuniar. Aroma sabun mandi, shampo dan kondisioner rambut yang di pakai Yuniar begitu menenangkan perasaan Aiden.


Tubuh Yuniar meremang merasakan hembusan hangat napas suaminya yang menyapu kulit lehernya.


"Apa kamu begitu senang karena aku tinggalkan selama satu bulan? Tubuh mu terlihat lebih berisi setelah aku tinggalkan,"gumam Aiden seraya mengendus leher istrinya. Saat melihat dan memeluk Yuniar, Aiden merasa tubuh istrinya itu lebih berisi dari sebelumnya. Tapi Aiden menyukainya.


Mata pria itu melirik dua buah gundukkan di dada istrinya itu. Dengan posisi wajahnya saat ini, Aiden bisa melihat belahan dada istrinya itu. Pria itu menelan salivanya kasar melihat pemandangan yang begitu menggoda di depan mata itu.


Sedangkan Yuniar, tadinya gadis itu merasa takut pada Aiden, kemudian berangsur merasa nyaman dengan pelukan hangat Aiden. Bahkan tubuh gadis itu sempat meremang karena hembusan napas suaminya di lehernya. Namun mendengar suaminya mengatakan tubuhnya lebih berisi, tanduk gadis itupun langsung keluar.


"Maksud Tuan, saya gemuk?"tanya Yuniar seraya mendorong dada Aiden dengan wajah yang terlihat bersungut-sungut.


"Haishh.. Aku salah bicara. Aku lupa jika perempuan paling benci dengan kata-kata yang berhubungan dengan berat badan,"gumam Aiden dalam hati merasa menyesal karena telah mengatakan tubuh Yuniar lebih berisi. Walaupun kenyataannya memang demikian.


Aiden mengeratkan pelukannya di pinggang Yuniar saat gadis itu hendak turun dari pangkuannya.


"Lepaskan saya! Saya ini gemuk, tubuh saya berat. Tidak baik membebankan beban berat di paha anda,"ujar Yuniar masih dengan wajah yang bersungut-sungut berusaha melepaskan tangan Aiden yang melingkar di pinggangnya.

__ADS_1


"Aku tidak mengatakan kamu gemuk. Aku hanya mengatakan tubuh mu lebih berisi,"ujar Aiden seraya kembali mendekatkan wajahnya ke ceruk leher Yuniar.


"Sama saja,"ketus Yuniar terlihat kesal. Gadis itu kembali mendorong dada Aiden dan berusaha turun dari pangkuan suaminya itu.


"Kamu menolak di sentuh suamimu?"tanya Aiden menatap Yuniar yang seketika berhenti memberontak dari pelukan Aiden.


Kata-kata Aiden benar-benar membuat Yuniar tidak berkutik. Karena sebagai suaminya, Aiden memang berhak menyentuh dirinya. Gadis itu tertunduk meredam kekesalannya.


Aiden meraih rambut Yuniar yang halus dan tebal. Mencium aroma wangi dari rambut istrinya itu. Jemari pria itu kemudian menyelipkan anak rambut Yuniar di telinga Yuniar yang masih menundukkan kepalanya dengan wajah yang di tekuk.


Aiden membelai pipi Yuniar yang halus, kemudian jari jempolnya mengusap bibir Yuniar yang beberapa saat lalu di ciumnya.


"Beri aku ciuman!"pinta Aiden masih mengusap bibir Yuniar.


Yuniar diam tidak merespon permintaan suaminya. Gadis itu masih menunduk dengan wajah yang ditekuk.


"Kamu tidak mau menuruti permintaan suamimu?"tanya Aiden menatap Yuniar yang masih tidak mau menatapnya itu.


Namun, mau tak mau Yuniar pun mengangkat wajahnya, lalu mengecup bibir Aiden. Namun saat Yuniar ingin menjauhkan wajahnya dari Aiden, pria itu menahan tengkuk Yuniar dan langsung memagut bibir istrinya itu.


Pada awalnya Yuniar tidak ingin membalas ciuman Aiden itu. Tapi, lama kelamaan Yuniar terhanyut dengan ciuman Aiden yang memang lihai dalam berciuman itu dan tanpa sadar gadis itu membalas ciuman Aiden.


Sepasang suami-isteri itu memejamkan mata mereka saling memagut dan menyesap. Aiden benar-benar merindukan bibir ranum istrinya itu.


Setelah puas menikmati bibir istrinya, akhirnya Aiden melepaskan pagutannya. Pria itu tersenyum tipis seraya mengusap bibir Yuniar yang basah dengan ibu jarinya. Namun istrinya itu masih terlihat kesal karena kata-katanya tadi.


Bukan Casanova namanya jika tidak pandai merayu wanita. Aiden yang melihat istrinya masih kesal itupun melancarkan rayuan mautnya.


"Hanya satu bulan aku meninggalkan mu, tapi kamu... Wajahmu terlihat semakin cantik saja,"puji Aiden seraya membelai lembut wajah Yuniar, yang semakin halus dan glowing,"Rambut mu juga semakin indah, dan halus,"puji Aiden meraih rambut Yuniar dan mencium aroma wangi dari rambut gadis itu.


Tentu saja pujian dan perlakuan Aiden yang lembut itu membuat hati Yuniar senang. Wanita mana yang tidak merasa senang jika di puji oleh suaminya sendiri? Tapi, sayangnya para pria hanya memuji saat ingin memikat hati wanita saja. Setelah menjadi istrinya, para pria pun enggan memuji istrinya sendiri, apalagi kembali menyatakan cinta.


"Kulitmu semakin halus,"puji Aiden seraya mengelus lengan Yuniar,"Apa kamu memakai skincare yang aku berikan?"tanya Aiden dengan jemari tangan yang terus bergerak mengelus lengan Yuniar, namun mata pria itu melirik dua gundukan yang membuatnya menelan salivanya kasar.

__ADS_1


"Hum,"sahut Yuniar seraya memalingkan wajahnya, tersenyum malu-malu karena merasa senang mendapatkan pujian dari suaminya.


"Aku akan membelinya lagi untuk mu,"ucap Aiden kemudian mengendus leher Yuniar yang putih mulus itu.


"Entah mengapa aku begitu menyukai aroma tubuh gadis ini. Aroma tubuhnya terasa menenangkan,"gumam Aiden dalam hati.


Aiden mengecupi leher Yuniar dengan lembut. Membuat tubuh Yuniar terasa meremang. Gadis itu memejamkan matanya dengan kedua tangan yang meremas gaunnya merasakan setiap kecupan suaminya di lehernya seperti sengatan listrik yang membuat aliran darahnya mengalir deras. Detak jantung Yuniar pun berdetak kencang tidak beraturan.


Aiden memeluk erat tubuh Yuniar dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanan pria itu bergerilya mengusap lembut lengan, punggung dan leher Yuniar.


"Ughh.."lenguuh Yuniar saat Aiden menyesap lehernya. Tubuh Yuniar semakin meremang dengan degup jantung yang semakin berdetak kencang dan aliran darah yang terasa mengalir deras. Sedangkan Aiden pun hasraatnya semakin naik saat mendengar suara lenguuhan istrinya.


Sekian lama tidak memenuhi kebutuhan biologisnya, dan saat ini sedang bersama orang yang di cintainya. Apalagi orang itu halal untuk dirinya. Tentu saja hal ini membuat Aiden kesulitan untuk mengendalikan dirinya.


Perlahan tangan Aiden mengelus gundukan daging di dada istrinya yang sedari tadi menggodanya.


"Ughh.."Yuniar kembali melenguuh saat tangan nakal suaminya meremas pelan salah satu benda kenyal miliknya. Gadis itu memegang erat kemeja yang membalut tubuh suaminya di bagian dada.


"Tok! Tok! Tok!"


"Tu.. Tu.. Tuan,"suara gagap Roni terdengar setelah suara ketukan pintu terdengar.


...🌟"Cemburu itu perlu, sebagai bukti rasa cinta mu. Tapi cemburu yang terlalu, hanya membuktikan ketidak percayaan dirimu."🌟...


...🌟"Cemburu yang berlebihan adalah nama lain dari ketamakan."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❀️🌸...


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2