
Pagi menjelang dan Yuniar pun terbangun. Gadis itu menggeliat dalam dekapan hangat suaminya. Perlahan Yuniar membuka matanya, menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retina matanya. Senyuman lembut terukir di wajah gadis itu saat mendongakkan kepalanya dan menatap wajah suaminya yang masih terlelap. Tetap terlihat tampan walaupun rambutnya sedikit acak-acakan.
"Aku tidak tahu, jam berapa hubby pulang. Bahkan aku tidak sadar jika hubby tidur memeluk aku seperti biasanya,"gumam Yuniar dalam hati.
Namun sesaat kemudian Yuniar teringat pembicaraan nya dengan Melda, wanita paruh baya sekretaris suaminya yang super duper kepo. Entah mengapa suaminya memperkerjakan sekretaris yang sudah berusia paruh baya seperti Melda. Tapi, memang wanita paruh baya itu masih terlihat cantik, energik, tubuh langsing dan cara kerjanya juga cepat.
Yuniar teringat jika wanita paruh baya itu sangat penasaran dengan wajah suaminya dan ingin melihat fotonya bersama suaminya. Sedangkan Yuniar sama sekali tidak memiliki foto bersama suaminya.
"Apa aku diam-diam saja, ya, mengambil gambar kami berdua sekarang? Aku tidak berani meminta hubby berfoto bersama ku,"gumam Yuniar dalam hati.
Yuniar menebarkan pandangannya mencari keberadaan handphonenya. Tidak berani bergerak terlalu banyak, karena takut membuat Aiden terbangun. Dan ternyata handphonenya ada di dekat bantalnya karena semalam Yuniar membaca artikel sampai tertidur.
Perlahan Yuniar mengambil handphonenya dan mengatur agar handphonenya tidak mengeluarkan suara saat di pakai memotret nanti.
Yuniar mengambil beberapa gambar bersama Aiden dengan senyuman di bibirnya. Saat Aiden bergerak, Yuniar segera menghentikan aktivitasnya dan meletakkan handphonenya.
"Baby, kamu sudah bangun?"tanya Aiden dengan suara serak khas bangun tidur. Aiden mengelus pipi Yuniar dengan lembut.
"Hum. Jam berapa hubby pulang semalam?"tanya Yuniar mendongakkan kepalanya menatap Aiden.
"Aku pulang sekitar pukul sebelas malam. Kenapa? Apa kamu merindukan aku?"tanya Aiden dengan senyuman manis di bibirnya.
"Eh, hubby!"pekik Yuniar saat tiba-tiba Aiden menarik tubuhnya hingga posisi Yuniar saat ini berada di atas tubuh Aiden berhadapan dengan Aiden. Pria itu memeluk tubuh Yuniar erat. Sedangkan kedua lengan Yuniar bertumpu pada dada Aiden.
"Aku suka, rambut kamu halus dan wangi baby,"ucap Aiden dengan sebelah tangan memeluk Yuniar, sedangkan satunya lagi merapikan rambut Yuniar yang menutupi wajahnya yang berada di bawah Yuniar.
"By, aku mau turun,"pinta Yuniar yang takut dan was-was kalau sampai ada yang mengganjal di pahanya.
"Morning kiss dulu, baby,"pinta Aiden.
"Nggak mau. Aku belum berkumur, apalagi gosok gigi,"ucap Yuniar seraya menutup mulutnya sendiri.
"Harus mau baby. Aku juga belum berkumur sama gosok gigi. Come on baby! Please!"pinta Aiden seraya mencoba menarik tangan Yuniar agar gadis itu tidak lagi menutup mulutnya.
"No! Aku akan cium hubby kalau aku sudah mandi,"sahut Yuniar masih bersikeras tidak mau mencium Aiden.
"Huff.. Kamu pelit sekali baby. Aku tidak pernah pelit padamu. Kenapa kamu pelit sekali padaku?"keluh Aiden menghela napas kasar. Namun tatapan mata pria itu tiba-tiba tertuju pada dada istrinya.
"Baby, kalau tidak boleh cium, aku mau minum susu saja,"ujar Aiden dengan mata yang fokus pada dada Yuniar.
__ADS_1
"Hubby mesum!"pekik Yuniar langsung melepaskan diri dari pelukan Aiden dan turun dari atas tubuh Aiden. Dengan cepat gadis itu berlari ke kamar mandi.
Aiden pun tertawa melihat tingkah istrinya yang menggemaskan di matanya itu.
"Dasar! Tingkahnya bikin aku merasa semakin gemas saja. Haish.. Kapan dia selesai datang bulan? Aku sudah tidak sabar, untuk menerkam dan mencabik-cabik gadis itu,"gumam Aiden menatap Yuniar yang menghilang di balik pintu kamar mandi seraya menghembuskan napas kasar.
***
Aiden baru saja selesai membersihkan diri. Seperti biasa, Yuniar membantu Aiden memakai pakaiannya setelah Aiden memakai celana boxer-nya.
"Baby, mana morning kiss ku?"tagih Aiden yang masih belum mendapatkan ciuman dari Yuniar.
"Hubby masih ingat saja,"sahut Yuniar yang sedang mengancingkan kemeja Aiden.
"Janji adalah hutang baby,"ujar Aiden yang entah mengapa merasa masih ada yang kurang jika belum mencium bibir istrinya itu.
Yuniar yang baru saja selesai mengancingkan kemeja Aiden itupun menghela napas panjang.
"Apa tidak bisa jika libur sehari saja?"tanya Yuniar seraya duduk di pangkuan Aiden dan mengalungkan tangannya di leher Aiden.
Aiden terlihat senang saat Yuniar berinisiatif duduk di pangkuannya tanpa di pintanya. Kedua tangan pria itupun langsung memeluk tubuh Yuniar.
Aiden merasa semakin bersemangat jika sudah menikmati bibir istrinya itu. Mood nya jadi bagus jika sudah mendapatkan ciuman dari istri kecilnya yang semakin hari semakin cantik dan seksi itu.
Yuniar membalas setiap kecupan, lumatann, dan sesapan Aiden di bibirnya. Saling membelit dengan lidah dan saling bertukar saliva. Menikmati ciuman yang membuat mereka semakin merasa candu.
Setelah beberapa lama, akhirnya Yuniar mendorong dada Aiden. Dengan perasaan tidak rela, Aiden melepaskan pagutannya di bibir Yuniar.
"Sudah, By. Kita akan kesiangan ke kantor, jika hubby terlalu lama mencium aku,"ujar Yuniar seraya mengambil dasi yang ada di dekatnya, lalu memasang dasi Aiden dengan posisi dirinya masih berasa di atas pangkuan Aiden.
"Jangan tebar pesona di kantor, baby!"ucap Aiden memperingati.
"Aku di sana mau magang, By. Bukan mau tebar pesona. Lagipula, aku sudah bilang pada Bu Melda, kalau aku sudah punya suami. Tidak akan ada yang mau mendekati aku. Apalagi kalau melihat stempel yang hubby buat di kantor kemarin,"ujar Yuniar yang memang benar adanya.
"Kalau begitu, akan aku buat lebih banyak lagi, agar tidak ada yang berani mendekati kamu,"ujar Aiden seraya mendekatkan bibirnya ke arah leher Yuniar.
"Jangan, By! Aku takut aku lupa menutupi nya saat aku pulang ke rumah. Ibu akan curiga padaku. Hubby boleh membuatnya di tempat lain yang tidak terlihat. Jangan di leher!"pinta Yuniar seraya turun dari pangkuan Aiden dan bersiap memakaikan jas Aiden.
Aiden terlihat kecewa karena tidak di izinkan melukis di leher istrinya. Yuniar menghela napas berat melihat ekspresi suaminya itu.
__ADS_1
"Okey. Hubby boleh membuat nya, di depan yang bisa di lihat semua orang. Tapi, satu saja. Agar aku tidak repot dan tidak lupa untuk menutupi nya saat aku pulang ke rumah,"sahut Yuniar memilih mengalah.
"Eh, hubby!"pekik Yuniar saat tiba-tiba Aiden meraih pinggang nya dan mendudukkan dirinya di atas pangkuan Aiden.
Tanpa menunggu lama, Aiden langsung menyesap leher Yuniar di bagian depan yang bahkan sulit jika di tutupi dengan rambut. Hanya bisa di tutup dengan syal. Pria itu membuat tanda dengan warna merah keunguan yang begitu jelas.
"Jangan menutupinya dengan apapun! Atau aku akan memenuhi lehermu dengan lukisanku!"ancam Aiden yang tidak ingin istrinya di lirik orang.
"Iya. Aku akan membiarkan nya seperti ini,"sahut Yuniar lagi-lagi hanya bisa menghela napas.
"Greb"
Yuniar menangkap tangan Aiden yang terangkat ke arah dadanya. Yuniar bisa menebak apa yang akan dilakukan oleh suaminya itu saat melihat tatapan pria itu tertuju pada dadanya.
"Aku tidak ingin terlambat datang ke kantor. Jadi, aku harus segera bersiap-siap,"ujar Yuniar kemudian mengecup pipi dan bibir Aiden, lalu turun dari pangkuan Aiden. Tidak ingin Aiden merasa kecewa karena dirinya menolak keinginan suaminya itu.
Aiden hanya bisa menghela napas karena tidak bisa menikmati dada istrinya. Tapi, rasa kecewanya agak terobati dengan ciuman yang di berikan Yuniar di pipi dan di bibirnya.
"Jangan berdandan terlalu cantik, baby! Aku tidak suka,"ujar Aiden jujur adanya. Aiden sudah bisa menduga, akan banyak pasang mata yang melihat istrinya. Namun, tidak mungkin Aiden melarang istrinya keluar rumah, apalagi mengurung istrinya di rumah.
"Iya. Lagian, aku mau bekerja, By. Bukan mau kondangnya,"sahut Yuniar yang sedang memakai pakaian di belakang Aiden.
"Bu Melda kepoin kamu, nggak?"tanya Aiden yang sudah hafal dengan sifat Melda.
"Hum. Aku sampai bingung harus menjawab apa. Ujung-ujungnya, aku pilih kabur. Biasanya sekretaris di sebuah perusahaan itu cantik dan masih muda. Kenapa hubby memilih Bu Melda yang sudah paruh baya?"tanya Yuniar yang penasaran.
"Karena dia sudah bekerja padaku sejak lama dan cara kerjanya juga bagus dan cepat. Selain itu, hanya dia yang bisa berkomunikasi dengan Roni dengan cepat,"
"Berkomunikasi dengan Tuan Roni secara cepat?"tanya Yuniar mengernyitkan keningnya seraya menyisir rambutnya.
"Iya. Roni orang yang cerdas, walaupun gagap. Roni memakai bahasa isyarat agar bisa berkomunikasi dengan cepat. Dan hanya Bu Melda yang bisa dengan cepat memahaminya,"
"Ohh.. Begitu rupanya,"sahut Yuniar yang baru tahu alasan Aiden memperkejakan Roni dan Melda.
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
__ADS_1