Casanova Mati Gaya

Casanova Mati Gaya
46. Menghindar


__ADS_3

"Hum. Terimaka.."


"Cup"


Yuniar tidak bisa lagi melanjutkan kata-katanya ketika dengan cepat Aiden mengecup bibirnya lembut. Aiden benar-benar sulit mengendalikan diri saat berdekatan dengan istrinya itu. Tapi Aiden juga selalu reflek menarik istrinya itu ke pangkuannya.


Aiden mengecup, menyesap bibir atas dan bawah Yuniar bergantian. Pria itu memeluk pinggang Yuniar erat dan memegang tengkuk Yuniar untuk memperdalam ciumannya. Secara naluriah, Yuniar yang menikmati sentuhan bibir suaminya itu pun membalasnya.


Aiden melepaskan pagutannya saat Yuniar hampir kehabisan napas. Pria itu sedikit menarik bibir bawah Yuniar saat akan melepaskan pagutannya. Seolah tidak rela dan belum puas menikmati bibir istrinya itu.


Aiden memegang dagu Yuniar menggunakan jari telunjuk dan ibu jarinya.


"Bukankah sudah kukatakan? Aku adalah suamimu. Tidak perlu terlalu sering mengucapkan terimakasih,"ucap Aiden seraya mengusap lembut bibir Yuniar dengan ibu jarinya.


"Hum,"sahut Yuniar tersenyum lembut.


"Aku capek sekali setelah menempuh perjalanan jauh. Maukah kamu memijit bahuku. Waktu itu kamu memijit bahuku dan rasanya sangat nyaman,"ujar Aiden menatap lembut manik mata istrinya. Sedangkan tangan pria itu meraih jemari tangan Yuniar. Aiden mengusap lembut punggung tangan istrinya dengan ibu jarinya.


"Iya,"sahut Yuniar beranjak turun dari pangkuan suaminya dengan senyuman yang menghiasi bibirnya. Aiden sendiri yang minta di pijit, tentu saja Yuniar merasa sangat senang,"Apa Tuan ingin di pijat sambil berbaring?"tanya Yuniar yang ingin memijat seluruh tubuh Aiden.


"Boleh juga. Tapi jangan memaksakan diri. Jika capek, berhentilah,"ucap Aiden yang tidak ingin Yuniar kecapekan karena memijat dirinya.


"Iya. Apa Tuan alergi terhadap jenis minyak tertentu?"tanya Yuniar memastikan agar suaminya tidak mengalami ruam dan gatal karena minyak yang akan di pakainya untuk memijat.


"Tidak. Aku hanya mudah mual jika mencium bau obat,"sahut Aiden.


Yuniar pergi ke kamarnya sebentar untuk mengambil minyak yang akan di pakainya untuk memijat Aiden. Dan tak lama kemudian gadis itu sudah kembali.


Yuniar menyanggul asal rambutnya yang panjang. Membuat lehernya yang jenjang dan putih mulus terekspos sempurna. Kiss mark yang di buat Aiden pun terlihat jelas. Penampilan Yuniar itu semakin menggoda di mata Aiden. Ingin rasanya Aiden kembali melukis di leher putih mulus itu. Menambah lukisan yang tadi sudah dibuatnya.


"Huff.. Apa aku sudah terkena mantra? Guna-guna? Kenapa semakin di lihat gadis ini semakin cantik saja. Bagaimana pun penampilannya, dia tetap saja terlihat cantik dan menarik di mataku,"gumam Aiden dalam hati merasa mati gaya dengan pesona istrinya sendiri.


Yuniar melepaskan pakaian Aiden dan hanya menyisakan celana boxer Aiden saja. Sudah satu bulan Yuniar tidak melihat perut suaminya yang bagaikan roti sobek itu. Gadis itu menelan salivanya kasar menatap tubuh suaminya.


"Aku ingin sekali menyentuhnya lagi. Menyenangkan sekali rasanya saat menyentuh tubuh Tuan Aiden yang berotot ini. Ingin sekali aku menggigitnya,"gumam Yuniar dalam hati yang sangat senang sekaligus gemas melihat tubuh suaminya yang berotot itu. Tanpa sadar gadis itu menggigit bibirnya sendiri saat membayangkan menggigit tubuh suaminya itu.

__ADS_1


"Akhh!"


"Apa yang sedang kamu pikirkan?"tanya Aiden yang tiba-tiba menarik Yuniar, hingga gadis itu terduduk di atas pangkuannya. Tangan gadis itu menempel tepat di dada bidang Aiden yang berotot.


"Ti.. Tidak ada,"ucap Yuniar tergagap dengan wajah yang memerah karena terpergok sedang mengagumi tubuh suaminya. Ingin rasanya Yuniar menggerakkan tangannya untuk meraba dada bidang dan perut sixpack suaminya itu.


"Tapi..."Aiden men-jeda kata-katanya. Pria itu mendekatkan bibirnya di telinga Yuniar, lalu berbisik,"Dari ekspresi wajah mu, kamu sepertinya sedang memikirkan sesuatu yang...."


"Aku akan memijat Tuan,"ucap Yuniar cepat memotong kata-kata Aiden seraya turun dari pangkuan Aiden,"Aku bisa memegang tubuhnya saat memijatnya nanti,"gumam Yuniar dalam hati, benar-benar ingin menyentuh tubuh suaminya.


Saat Aiden acuh, Yuniar malah berani menggoda Aiden. Tapi, saat Aiden menggoda dirinya seperti ini, Yuniar malah jadi tersipu malu.


Aiden mengulum senyum melihat wajah istrinya yang semakin memerah itu.


Gadis itu membantu Aiden untuk berbaring di atas ranjang. Yuniar memijat Aiden menggunakan metode pijat refleksi sesuai yang di pelajari nya dari Dikra dan dari buku yang di copy nya dari Dikra.


"Kamu memijat ku dengan metode pijat refleksi?"tanya Aiden yang merasa familiar dengan cara Yuniar memijat dirinya dua kali ini.


"Iya. Apa Tuan sering di pijat dengan metode pijat refleksi?"tanya Yuniar seraya memijat titik-titik saraf di kaki Aiden.


"Hum. Pernah beberapa kali,"sahut Aiden yang memang pernah beberapa kali pergi ke ahli pijat refleksi.


Yuniar membantu Aiden bersandar di dashboard ranjang sesuai keinginan Aiden.


"Yun, apakah kamu mencintai aku?"tanya Aiden membuat Yuniar yang masih duduk di tepi ranjang dan baru saja selesai meletakkan bantal di dashboard ranjang agar Aiden bisa bersandar dengan nyaman itu terdiam. Gadis itu tertunduk tanpa berani menatap Aiden. Mata gadis itu bergerak liar tidak menentu.


"Yun!"panggil Aiden karena Yuniar tidak menjawab pertanyaannya. Jujur Aiden ingin mendengar Yuniar mengatakan mencintai dirinya, atau minimal mengatakan menyukai dirinya.


Suara dering handphone Yuniar membuat Yuniar tersentak sekaligus membuat Yuniar merasa terselamatkan dari pertanyaan Aiden.


"Em, Tuan, ibu saya menelpon,"ucap Yuniar setelah melihat siapa yang menghubungi dirinya.


"Angkatlah!"ucap Aiden membuang napas kasar karena belum mendapatkan jawaban dari Yuniar.


Yuniar menerima panggilan dari ibunya seraya berjalan ke arah sofa.

__ADS_1


"Iya, ada apa, Bu?"tanya Yuniar lembut.


"Yun, ada paket atas nama kamu,"ujar ibu Yuniar melalui sambungan telepon.


"Oh, iya, Bu. Itu untuk tugas kuliah aku. Besok akan aku ambil,"sahut Yuniar.


"Ya, sudah. Kalau begitu ibu tutup dulu, ya, telpon nya,"


"Iya, Bu,"sahut Yuniar dan panggilan telepon pun diakhiri.


"Em, Tuan. Sebaiknya Tuan mandi sebentar lagi. Saya akan merapikan pakaian Tuan dulu,"ujar Yuniar kemudian melangkah menuju kamar mandi untuk mencuci tangannya tanpa menunggu jawaban dari Aiden.


Aiden menghela napas panjang menatap Yuniar yang akhirnya menghilang di balik pintu kamar mandi.


"Huff, dia bahkan sengaja menghindar dari pertanyaan ku. Apa benar-benar tidak ada rasa cinta atau rasa suka sedikitpun di hatinya untuk ku?"gumam Aiden lirih.


Yuniar menghela napas lega setelah masuk ke dalam kamar mandi. Gadis itu menatap bayangan wajahnya di cermin yang ada di depannya.


"Mencintai? Aku menikah dengan Tuan Aiden karena merasa berhutang budi, merasa bersalah dan berniat bertanggung jawab karena telah membuat kaki Tuan Aiden lumpuh. Tapi, jika aku berkata jujur seperti itu, aku takut Tuan Aiden kembali bersikap dingin padaku seperti awal-awal kami menikah,"gumam Yuniar yang tertanam tujuan di hatinya menikah dengan Aiden untuk merawat Aiden karena balas budi rasa bersalah dan rasa tanggung jawab.


Namun, apakah benar Yuniar tidak mencintai atau menyukai Aiden sedikit pun? Apakah semua yang dilakukan Yuniar benar-benar karena ingin balas budi, merasa bersalah dan ingin merawat Aiden karena merasa harus bertanggung jawab atas kaki Aiden yang lumpuh karena dirinya?


Lalu, bagaimana dengan dirinya yang melayani Aiden layaknya seorang istri? Rela di cium dan di jamah tubuhnya oleh Aiden. Bahkan menikmati setiap ciuman, dan sentuhan dari Aiden. Apakah semua itu bukan karena Yuniar menyukai Aiden dan sedikit demi sedikit mencintai Aiden?


Yuniar sama sekali tidak memikirkan hal itu. Yang ada di hatinya hanya ingin merawat Aiden sepenuh hati dan melayani Aiden sebaik mungkin. Tidak menyadari jika hatinya selalu berbunga-bunga dengan perlakuan manis Aiden padanya. Merasa sangat bahagia dengan apapun yang diberikan oleh Aiden untuk dirinya.


Mengagumi semua yang ada pada diri pria itu dan selalu merasa nyaman saat bersama pria yang sudah berstatus sebagai suaminya itu. Membalas ciuman pria itu tanpa paksaan dan bahkan sangat menikmatinya. Apa semua itu namanya bukan cinta?


Setelah selesai mencuci tangannya, Yuniar keluar dari dalam kamar mandi dan berjalan ke arah walk in closet. Yuniar berniat mengeluarkan pakaian Aiden dari dalam koper yang di bawa masuk oleh Roni tadi.


Aiden yang masih duduk bersandar di headboard ranjang seraya memegang handphonenya hanya melirik Yuniar yang melewati ranjang tempatnya duduk. Pria itu kembali membaca pesan yang masuk di handphonenya. Sesekali pria itu menghela napas panjang.


"Apa dia benar-benar tidak tidak memiliki perasaan suka sedikitpun padaku?"gumam Aiden lirih.


...🌸❤️🌸...

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2