Casanova Mati Gaya

Casanova Mati Gaya
72. Biarkan Saja


__ADS_3

Yuniar meninggalkan meeting room dengan perasaan tidak rela. Yuniar ingin tahu apa yang di lakukan Brisa dengan suaminya di dalam meeting room itu.


"Huff.. kenapa aku jadi seperti ini? Bukankah di dalam sana ada Roni? Perempuan itu tidak akan berani berbuat macam-macam,"gumam Yuniar dalam hati, mencoba berpikir positif untuk menenangkan dirinya sendiri.


"Nona, boleh saya tahu siapa nama Nona?"suara bariton yang menggunakan bahas inggris itu membuat Yuniar yang berjalan di samping Melda terkejut.


Yuniar pun menghentikan langkahnya, dan menatap pria bule yang sekarang berdiri di depannya. Melda pun ikut menghentikan langkahnya dan menatap bule yang tidak lain adalah Austin, klien mereka.


"Ah, nama saya Yuniar,"sahut Yuniar sopan.


"Bisa kita makan siang bersama?"tanya Austin penuh harap.


"Maaf, saya sedang diet. Jadi, saya tidak makan siang,"tolak Yuniar secara halus,"Aku tidak ingin hubby marah karena melihat aku makan siang dengan pria lain,"gumam Yuniar dalam hati.


"Oh, sayang sekali. Kalau begitu, bagaimana jika kita makan malam bersama?"tanya Austin yang tidak mau menyerah.


"Maaf, saya terbiasa makan malam bersama suami saya di rumah,"ucap Yuniar seraya pura-pura menggaruk lehernya hingga Austin melihat tanda di leher Yuniar.


"Oh, sayang sekali,"ujar Austin nampak kecewa mendengar jawaban Yuniar sekaligus melihat tanda merah di leher Yuniar.


"Maaf, saya permisi,"pamit Yuniar. Melda pun sedikit menunduk pada Austin, kemudian menyusul Yuniar.


Austin tersenyum melihat Yuniar yang jelas-jelas menghindarinya dan seperti menjaga batasan dengan dirinya.


Setelah tiba di meja kerja mereka, Melda yang kepo pun langsung bertanya pada Yuniar,"Yun, kamu beneran diet?"


"Enggak, Bu. Saya hanya menolak ajakan orang itu,"sahut Yuniar jujur.


"Sepertinya, dia naksir sama kamu, Yun,"ujar Melda yang bisa melihat tatapan Austin pada Yuniar.


"Saya sudah bersuami, Bu. Jadi, saya harus menjaga jarak dengan pria lain,"sahut Yuniar jujur adanya.


"Iya, kamu benar. Tapi, kamu memang cantik, Yun. Jadi, wajar jika banyak mata pria yang melirik,"ujar Melda sesuai isi hatinya.


"Banyak yang lebih cantik dari saya, Bu. Adik Tuan Aiden sangat cantik,"sahut Yuniar.


"Eh, kamu tahu Tuan Aiden punya adik?"tanya Melda kepo.


"Tahu, Bu. Dia orangnya baik. Begitu pula dengan suaminya,"ujar Yuniar yang tahu bagaimana kisah hidup kakaknya dan Aurora yang pernah berkecimpung di dunia malam, menjadi kupu-kupu malam.


Yuniar tahu jika rumah dan usaha yang dimiliki kakaknya adalah hasil pemberian Rayyan. Jika kakaknya tidak mengenal suami-isteri itu, dirinya dan keluarganya tidak akan pernah menginjakkan kaki di kota ini dan tidak akan pernah merasakan hidup berkecukupan seperti saat ini.

__ADS_1


"Aih.. ternyata kamu mengenal mereka. Saya hanya melihat adik Tuan Aiden beberapa kali saat dia mengunjungi Tuan Aiden. Anaknya juga sangat tampan dan menggemaskan,"ujar Melda yang memang pernah melihat Aurora beberapa kali saat mengunjungi Aiden di kantor itu.


*


Saat makan siang tiba, Yuniar pun makan siang bersama Melda di kantin. Banyak pasang mata yang melihat ke arah Yuniar. Apalagi kalau bukan karena kecantikan Yuniar di tambah tanda merah keunguan yang di buat Aiden di leher Yuniar. Namun Yuniar seolah tidak peduli pada tanda di lehernya yang menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitarnya.


"Yun, kamu tidak malu dengan tanda di leher kamu itu? Banyak yang melihat tanda di leher kamu itu, Yun,"bisik Melda yang duduk di sebelah Yuniar.


"Mau bagaimana lagi, Bu. Suami saya akan marah jika saya menutupi tanda yang di buatnya ini,"sahut Yuniar dengan ekspresi tidak berdaya mulai menyantap makan siangnya.


"Ini, 'kan, di kantor, Yun. Suami kamu tidak akan tahu jika kamu menutupi tanda itu,"ujar Melda yang jadi kasihan melihat Yuniar jadi pusat perhatian di kantin itu. Melda tidak tahu jika suami Yuniar juga bekerja di tempat yang sama dengan tempat mereka bekerja.


"Biarkan saja, Bu. Biar sekalian pada tahu kalau saya sudah bersuami,"sahut Yuniar tersenyum tipis bersikap biasa saja,"Bagaimana hubby tidak akan tahu, jika kami bekerja di satu kantor yang sama dan meja kerjaku berada di depan ruangannya? Tadi pagi dia melirik aku pasti ingin memastikan jika aku tidak menutupi tanda yang di buatnya tadi pagi,"gumam Yuniar dalam hati.


Melda hanya bisa menghela napas panjang mendengar jawaban Yuniar. Tidak bisa berkata-kata lagi. Akhirnya mulai menyantap makanannya.


"Bu, kok, banyak orang yang tahu nama saya, ya? Dari mana mereka tahu, ya, Bu?"tanya Yuniar yang dari tadi pagi sudah penasaran, tapi lupa menanyakan tentang hal itu pada Melda.


"Ohhh, itu. Kemarin banyak yang menanyakan nama kamu pada saya. Bahkan ada beberapa dari mereka yang minta saya untuk menjomblangi mereka dengan kamu. Tapi, begitu saya bilang kamu sudah menikah, mereka langsung kecewa. Mereka kalah cepat dengan suami kamu,"jelas Melda tertawa kecil.


"Pantesan banyak yang tahu nama saya,"sahut Yuniar tersenyum tipis.


*


"Yun, tolong kamu berikan berkas-berkas ini pada Tuan Aiden, ya! Saya masih ada pekerjaan yang harus saya selesaikan,"ujar Melda seraya menyerahkan setumpuk berkas di meja Yuniar.


"Baik, Bu,"sahut Yuniar kemudian melakukan apa yang di minta Melda.


Yuniar mengetuk pintu ruangan Aiden dan segera masuk setelah Aiden mengizinkan dirinya masuk.


Aiden tersenyum lebar saat melihat yang masuk ke dalam ruangannya adalah Yuniar.


"By, ini berkas-berkas dari Bu Melda,"ujar Yuniar seraya meletakkan berkas-berkas itu di atas meja Aiden.


"Kemari lah, baby!"pinta Aiden seraya mengulurkan tangannya pada Yuniar.


"By, aku harus segera kembali ke meja kerja ku,"tolak Yuniar secara halus. Yuniar bisa memprediksi apa yang akan dilakukan oleh suaminya.


"Sebentar saja baby. Aku rindu sekali padamu,"ujar Aiden memasang wajah memelas.


Yuniar hanya bisa menghela napas panjang menatap suaminya. Entah mengapa tidak tega melihat wajah suaminya yang memelas itu. Yuniar berjalan ke arah suaminya dan pria itu pun langsung menarik tubuh Yuniar dan mendudukkannya di atas pangkuannya.

__ADS_1


"Aku sudah rindu padamu,"ucap Aiden seraya memeluk Yuniar kemudian mengecup bibir Yuniar beberapa kali. Yuniar pun membalas setiap kecupan suaminya itu.


"Sudah,"ucap Yuniar yang memegang kedua pundak suaminya itu.


"Sebentar lagi, baby,"ujar Aiden seraya menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Yuniar.


"By, jangan membuat tanda lagi! Jika hubby membuat tanda lagi, semua orang akan curiga padaku,"ujar Yuniar seraya mendorong dada Aiden karena bibir pria itu mulai menjelajah di leher Yuniar.


Aiden menghela napas kasar menatap Yuniar, kemudian mendekatkan bibirnya ke bibir Yuniar. Aiden memagut bibir istrinya itu dan Yuniar pun membalas setiap pagutan suaminya itu. Selain karena tidak ingin suaminya kecewa jika dirinya bersikap pasif, Yuniar juga memang menyukai ciuman suaminya itu.


Perasaan berdebar dan aliran darah yang mengalir deras setiap bibir mereka bertemu. Perasaan nyaman dan candu menikmati setiap sentuhan bibir suaminya yang membuat dirinya merasa melayang karena terbuai ciuman yang memabukkan itu. Sungguh indah. Yuniar tidak menyangka jika berciuman bisa seindah itu hingga sulit bagi dirinya untuk menolak ciuman suaminya itu.


Aiden melepaskan pagutannya saat Yuniar mulai kesulitan mengatur napasnya. Pria itu menatap Yuniar dengan penuh cinta. Tangan pria itu mulai terangkat untuk menyentuh dada Yuniar.


"Tok! Tok! Tok!"


Suara ketukan di pintu itu membuat Yuniar langsung melompat turun dari pangkuan suaminya dan merapikan pakaian serta rambutnya. Sedangkan Aiden juga langsung merapikan pakaiannya.


"Masukkan dokumen ini ke dalam lemari baby!"pinta Aiden setelah melihat Yuniar sudah rapi. Tidak ingin orang lain merasa curiga dengan aktivitas yang mereka lakukan di dalam ruangan itu.


"Hum,"sahut Yuniar.


"Masuk!"ucap Aiden pada orang yang mengetuk pintu ruangannya.


"Den, bagaimana jika kita pergi sehabis kamu pulang kerja?"tanya orang yang baru saja masuk yang tidak lain adalah Brisa.


"Terserah kamu saja,"sahut Aiden datar.


"Dia lagi. Mau pergi kemana hubby dengan perempuan tidak tahu malu itu?"gumam Yuniar setelah melirik siapa yang datang.


Brisa yang menyadari ada orang lain di dalam ruangan itu pun menatap ke arah Yuniar yang sedang menyusun berkas di lemari kaca di ruangan itu. Sayangnya Brisa hanya bisa melihat Yuniar dari belakang.


"Siapa perempuan berambut panjang ini? Rambutnya indah sekali,"gumam Brisa dalam hati.


"Hei, kamu yang sedang menyusun dokumen!"ucap Brisa menatap Yuniar.


...🌸❤️🌸...


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2