
Yuniar yang merasa di panggil pun menoleh ke arah Brisa. Sedangkan Aiden mengernyitkan keningnya menatap Brisa.
"Apa yang diinginkan Brisa dari Yuniar?"gumam Aiden dalam hati.
"Ada apa nona?"tanya Yuniar setelah membalikkan tubuhnya menghadap Brisa. Suara gadis itu terdengar datar, bahkan terlihat malas meladeni Brisa.
"Kamu anak magang bukan? Buatkan minuman untuk ku!"titah Brisa yang langsung tidak suka saat melihat wajah Yuniar. Wajah cantik natural penuh pesona Yuniar lah penyebabnya,"Gadis ini kecantikannya tidak mencolok, terlihat sederhana, dan alami, tapi mempesona. Apa yang dilakukannya dengan Aiden di sini tadi? Aiden agak lama menyuruh aku masuk. Jangan-jangan, mereka sedang melakukan sesuatu. Aiden, 'kan, seorang Casanova. Dia pasti suka dengan gadis secantik ini,"gumam Brisa dalam hati mengamati Yuniar.
Yuniar tersenyum tipis yang terlihat aneh. Gadis itu menutup lemari tempat penyimpanan berkas dan dokumen, lalu berjalan menghampiri Brisa. Tangan Brisa terlihat terkepal saat melihat tanda merah keunguan di leher Yuniar.
"Apa mereka benar-benar baru saja bercumbuu di ruangan ini? Karena itulah Aiden agak lama menyuruh aku masuk? Sial! Aku tidak boleh membiarkan gadis ini dekat dengan Aiden,"gumam Brisa dalam hati berprasangka.
"Saya magang di sini bukan sebagai office girl. Jadi, maaf! Membuat minuman bukanlah tugas saya,"ucap Yuniar menatap Brisa tanpa rasa takut sama sekali.
Aiden mengernyitkan keningnya menipiskan bibirnya memperhatikan ekspresi wajah istrinya,"Gadis ini! Dia bisa lembut dan penurut seperti kucing imut, lucu dan manis yang menggemaskan. Tapi juga bisa menjadi keras kepala dan tegas, bahkan memberontak dan galak seperti kucing liar. Bisa pasif dan bisa agresif,"
"Dan semua sikapnya itu benar-benar membuat aku jungkir balik hingga akhirnya mati gaya. Aku benar-benar jatuh cinta dan tergila-gila di buatnya,"gumam Aiden yang benar-benar mati gaya karena istrinya. Tapi, bukankah hal itu sah-sah saja?
"Cih! Kamu itu hanya pemagang di perusahaan ini. Beraninya berkata seperti itu! Tidak semua orang beruntung bisa magang di perusahaan ini. Seharusnya kamu bersyukur bisa magang di perusahaan besar seperti ini. Turuti apapun perintah atasan mu! Jangan membangkang! Nilai magang kamu tergantung pada atasan mu,"ujar Brisa penuh arogansi.
Yuniar tersenyum mendengar kata-kata Brisa itu. Yuniar sama sekali tidak takut pada Brisa. Karena dirinya adalah istri dari pemilik perusahaan itu. Sedangkan Aiden semakin penasaran ingin melihat bagaimana reaksi Yuniar selanjutnya.
"Saya tahu. Saya hanya pemagang di sini. Dan saya pasti akan menuruti semua perintah atasan saya yang menurut saya sesuai dengan kegiatan magang saya di perusahaan ini,"sahut Yuniar tersenyum manis.
"Nah, kalau sudah sadar, cepat buatkan minuman untuk ku!"sahut Brisa dengan gaya angkuhnya.
__ADS_1
"Maaf, seperti anda tidak mengerti dan tidak paham dengan apa yang saya sampaikan tadi. Saya ulangi sekali lagi. Saya mengatakan, bahwa saya pasti akan menuruti semua perintah atasan saya yang menurut saya sesuai dengan kegiatan magang saya di perusahaan ini. Dan menurut saya, membuat minuman untuk anda itu tidak sesuai dengan kegiatan magang saya. Apalagi, anda bukan atasan saya yang berhak memerintah saya. Anda bersikap arogan seolah-olah anda adalah Nyonya dari pemilik perusahaan ini,"ucap Yuniar tegas.
"Kau!"geram Brisa dengan tatapan yang terkepal.
Yuniar tidak menghiraukan Brisa yang terlihat geram padanya, gadis itu beralih menatap Aiden,"Bukankah begitu Tuan Aiden? Klien anda ini bertingkah layaknya dia adalah istri anda. Apakah itu pantas? Anda sebagai atasan saya harus memihak pada saya, bukan? Jika anda tidak memihak pada saya, anda akan menyesal setelah anda pulang ke rumah nanti,"ucap Yuniar dengan bibir yang tersenyum, tapi tatapan matanya begitu tajam, seolah sedang mengintimidasi Aiden.
"Gadis ini! Apa maksud ekspresi wajahnya itu? Apa gadis ini sedang mengancam aku? Saat aku pulang ke rumah nanti aku akan menyesal jika tidak berpihak padanya? Dasar kucing liar?"gumam Aiden dalam hati merasa gemas pada istrinya itu.
"Awas saja, jika hubby berani berpihak pada perempuan tidak tahu malu ini. Aku tidak akan mau tidur dengan hubby. Dan jangan harap hubby bisa menyentuh dan mencium aku seperti biasanya!"itulah ancaman yang ingin di sampaikan Yuniar pada Aiden melalui tatapan matanya yang tajam itu.
"Apa maksud kamu! Kamu mengancam Aiden?! Dasar tidak tahu diri! Den, kenapa kamu memperkerjakan orang seperti dia?! Lebih baik kamu memecat dia sekarang juga!"pinta Brisa yang terlihat semakin tidak suka pada Yuniar.
Setelah melihat Yuniar, insting Brisa mengatakan, bahwa Yuniar bukan gadis sembarangan dan bisa menjadi penghalang bagi dirinya untuk mendekati Aiden. Gadis di depannya itu bukan gadis yang sangat cantik, tapi kecantikan gadis itu sangat mempesona, memanjakan mata dan tidak membuat orang yang melihatnya menjadi bosan. Dan tentu saja hal itu membuat Brisa takut kalau Aiden akan terpikat oleh gadis di depannya itu.
"Tuan CEO yang terhormat, bukankah tidak baik jika orang luar ikut campur dalam keputusan yang harus anda ambil dalam menentukan siapa yang harus anda pekerjakan dan siapa yang harus anda pecat?"tanya Yuniar penuh senyuman tapi lagi-lagi tatapan matanya begitu tajam pada Aiden.
"Brisa, apa yang dikatakan Yuniar memang benar. Kamu tidak bisa menyuruh dia untuk melakukan sesuatu yang bukan menjadi tugasnya. Apalagi kamu bukan atasannya. Dan benar apa yang di katakan oleh Yuniar, kamu tidak berhak ikut campur dalam keputusan yang aku ambil. Karena kamu hanya klienku,"ujar Aiden dengan suara tegas.
"Melihat kepribadian nya selama ini, gadis ini akan menjadi pemberontak, jika aku mengambil keputusan atau melakukan sesuatu yang salah menyangkut dirinya. Walaupun dia memberontak secara halus, seperti saat aku memaksa dia untuk tidur bersamaku. Tapi itu tidak akan baik bagi hubungan kami. Entah apa yang akan dilakukannya jika dia sudah memberontak dan bersikap keras kepala,"gumam Aiden dalam hati yang sedikit banyak sudah mengetahui sifat istrinya setelah sekian lama mereka bersama.
"Kamu benar-benar berpihak pada dia?"tanya Brisa terlihat kecewa mendengar keputusan Aiden,"Tidak bisa! Gadis ini harus aku singkirkan. Gadis ini bisa menjadi ancaman dan penghalang bagi diriku untuk mendekati Aiden. Aku takut Aiden tergoda oleh pesona gadis ini,"gumam Brisa dalam hati.
"Tentu saja, karena apa yang dia katakan adalah benar,"sahut Aiden tanpa keraguan, dalam hati berkata,"Selain itu, aku tidak ingin kucing yang kadang manis, imut, dan menggemaskan ini berubah menjadi kucing liar yang galak dan pemberontak. Itu akan sangat merugikan aku,"gumam Aiden dalam hati.
"Jangan bilang kamu suka pada dia!"ucap Brisa kemudian menatap ke arah Yuniar tajam,"Kamu pasti sudah menggoda Aiden, 'kan? Kamu memanfaatkan kecantikan kamu untuk menggoda atasanmu! Sebaiknya kamu tidak melakukan itu, karena Aiden tidak akan pernah serius padamu. Dia hanya akan menjadikan kamu sebagai mainannya di atas ranjang dan setelah bosan akan di campakkan,"ujar Brisa yang tidak menyaring kata-katanya di depan Aiden. Mungkin otak Brisa sedikit eror karena merasa terancam dengan keberadaan Yuniar.
__ADS_1
"Astagaa.. Bagaimana gadis ini bisa berkata-kata tanpa filter seperti itu di depan ku?"gumam Aiden dalam hati melihat Brisa dengan tatapan tidak percaya.
Yuniar terkekeh kecil mendengar kata-kata Brisa, membuat Aiden kembali mengernyitkan keningnya.
"Lihat ini!"ucap Yuniar seraya menunjuk pada tanda merah keunguan di lehernya sendiri yang di buat oleh Aiden tadi pagi,"Suami saya sengaja membuat ini sebagai stempel bahwa saya sudah ada yang punya. Dia bahkan melarang keras saya untuk menutupi tanda yang di buatnya ini. Emm.. Apa kata anda tadi? Saya menggoda Tuan Aiden? Anda benar sekali. Saya memang suka menggoda. Tapi sayangnya saya hanya suka menggoda suami saya saja. Saya tidak suka dan tidak berminat untuk menggoda pria, selain suami saya. Tidak seperti anda yang ingin menggoda pria yang sudah beristri,"ucap Yuniar yang terdengar ambigu di telinga Brisa.
"Apa maksud kamu? Aku? Menggoda pria yang sudah beristri? Jangan sembarangan bicara!"sergah Brisa menatap tajam pada Yuniar.
"Tuan, jika tidak ada lagi yang harus saya kerjakan di sini, saya permisi! Saya tidak ingin waktu saya terbuang sia-sia. Masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan. Saya malas berdebat dengan perempuan penggoda. Unfaedah banget! Permisi!"pamit Yuniar tidak menghiraukan perkataan Brisa.
"Hum,"sahut Aiden menatap Yuniar menipiskan bibirnya,"Kucing ku ini benar-benar menggemaskan,"gumam Aiden yang rasanya ingin menarik Yuniar ke atas pangkuannya dan menciumi istrinya itu, karena merasa gemas dengan sikap istrinya itu.
"Tunggu! Apa kata kamu tadi?! Hei! Jangan pergi! Aku belum selesai bicara padamu!"teriak Brisa saat Yuniar hendak melangkah keluar dari ruangan itu.
Brisa benar-benar merasa kesal pada Yuniar yang berani menjawab dan menentang semua perkataannya. Bahkan berani mengabaikan dirinya.
...π"Lisan, perhatian, kelakuan dan perlakuan seseorang pada orang lain merupakan cerminan kualitas dirinya."π...
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
.
To be continued
__ADS_1