
Yuniar tidak menanggapi pertanyaan Dikra. Gadis itu menatap ke semua arah depan wajah yang terlihat gusar.
"Yun! Ada apa?.Apa yang sedang kamu cari?"tanya Dikra lagi yang masih penasaran karena pertanyaan belum terjawab juga.
"Ah, tidak apa. Kita bahas soal pijat refleksi nya lain kali saja, ya? Aku harus pulang sekarang,"ucap Yuniar langsung pergi meninggalkan Dikra tanpa menunggu jawaban dari Dikra.
"Ada apa dengan Yuniar?"gumam Dikra terlihat bingung menatap Yuniar yang semakin menjauh.
"Kenapa aku merasa ada hubby di sekitar sini? Apa ini hanya perasaan ku saja karena aku sudah sangat rindu pada hubby?"gumam Yuniar dalam hati.
Yuniar terus melangkah meninggalkan Dikra dengan perasaan yang tidak menentu. Entah mengapa Yuniar merasakan kehadiran Aiden di tempat itu. Walaupun di dalam logikanya mengatakan, tidak mungkin ada Aiden di sekitar tempat itu. Tapi hatinya benar-benar merasakan kehadiran suaminya itu.
"Sraakk.."
Yuniar menghentikan langkah kakinya saat tanpa sengaja kakinya menginjak sesuatu yang sepertinya berbalut plastik. Karena sedari tadi mata Yuniar sibuk berpendar mencari sosok suaminya, hingga tidak memperhatikan langkah kakinya dan menginjak sesuatu.
Yuniar menunduk dan melihat apa yang sudah terinjak oleh kakinya. Yuniar mengambil buket bunga yang sudah terinjak oleh kakinya itu. Buket bunga mawar putih dan mawar pink yang terlihat indah walaupun ada beberapa kuntum yang rusak karena sempat terinjak oleh kakinya.
"Siapa yang menjatuhkan bunga seindah ini di jalan seperti ini?"gumam Yuniar menghirup aroma wangi dari bunga itu.
Melihat bunga itu, Yuniar jadi teringat akan obrolannya bersama Aiden melalui video call dua hari yang lalu.
"Baby, kamu suka bunga apa? Bunga asli loh, ya! Bukan bunga yang mahal,"ujar Aiden kemudian terkekeh kecil.
"Hubby bisa aja. Bunga asli memang mahal, By. Tapi, aku rasa tidak ada yang mahal bagi hubby,"ujar Yuniar tertawa renyah sambil bersandar di dashboard ranjang menatap wajah Aiden dari layar handphonenya.
"Ada yang mahal banget, baby,"sahut Aiden yang juga bersandar di headboard ranjang.
"Oh, ya? Bunga apa yang bagi hubby mahal?"
"Bunga dari uang,"sahut Aiden tersenyum manis menatap Yuniar dari layar handphonenya.
"Nggak boleh, By. Setiap orang dilarang merusak, memotong, menghancurkan, dan/atau mengubah uang dengan maksud merendahkan kehormatan uang sebagai simbol negara,"sahut Yuniar dengan ekspresi serius.
Aiden terkekeh mendengar apa yang di katakan oleh istrinya itu,"Baby, bukan membuat bunga memakai uang dengan cara di lipat atau di potong, apalagi dihancurkan,"
"Lalu? Kalau nggak di lipat, mau di jadikan buket bunga seperti yang jadi trend kemarin-kemarin?"
__ADS_1
"Bukan, baby. Bunga yang mahal itu adalah bungalow, yaitu bangunan penginapan yang bentuknya seperti rumah. Biasanya dibangun di daerah wisata alam dan jauh dari pusat kota yang bising. Misalnya, di pinggir pantai, tengah hutan, atau tepi danau,"jelas Aiden tersenyum tipis.
"Ishh..hubby! Kanapa nggak sekalian bunga Bank aja,"sahut Yuniar dengan suara manja dan wajah yang terlihat bersungut-sungut.
"Ishh menggemaskan sekali, sih! Kalau bunga bank, semua orang juga suka, baby. Jadi, kamu suka bunga apa?"tanya Aiden kembali pada topik pembicaraan.
"Aku suka bunga mawar putih dan bunga mawar pink,"sahut Yuniar tersenyum tipis.
"Kenapa kamu suka bunga mawar putih dan pink?"
"Karena mawar putih melambangkan ketulusan, kesucian, keagungan, dan kemurnian dari sebuah cinta sejati. Sedangkan mawar pink adalah lambang ucapan rasa syukur, berkah, kelembutan dan kebahagiaan,"sahut Yuniar tersenyum lembut.
"Okey. Jika aku pulang nanti, akan aku bawakan buket bunga mawar putih dan pink untuk istriku tersayang,"ucap Aiden penuh senyuman.
Itulah obrolan antara Yuniar dan Aiden dua hari yang lalu dan masih terekam jelas di memori Yuniar.
"Yun, bunga dari siapa itu?"tanya Dikra yang ternyata menyusul Yuniar.
Sapaan Dikra itu tentu saja membuat Yuniar yang terhanyut dalam lamunannya menjadi terkejut.
"Ah, aku pulang dulu, ya, Dik,"sahut Yuniar tanpa menjawab pertanyaan Dikra.
Sedangkan Dikra semakin bingung melihat sikap Yuniar yang tidak seperti biasanya itu,"Ada apa dengan Yuniar? Tiba-tiba dia seperti kehilangan seseorang?"gumam Dikra menatap Yuniar yang semakin menjauh.
Sedangkan Aiden sudah sampai di dalam mobil nya,"Jalan, Pak! Kita pulang!"titah Aiden seraya melepaskan kacamata dan masker yang dipakainya.
"Baik, Tuan,"sahut supir itu seraya melirik ekspresi wajah kecewa Aiden dari kaca dasbor dalam mobil sambil mulai melajukan mobilnya,"Bukankah tadi Tuan ingin menjemput nyonya? Kenapa sekarang Tuan kembali tanpa nyonya? Apa kami terlambat datang menjemput nyonya?"gumam supir pribadi Aiden dalam hati bertanya-tanya.
Sementara itu, Yuniar terus berjalan menuju parkiran,"Aku ingin pulang ke rumah hubby,"gumam Yuniar dalam hati berjalan sambil menatap buket bunga yang di pegangnya. Bunga yang beberapa kelopaknya terlepas karena terinjak olehnya.
Gadis itu melajukan motornya menuju rumah suaminya. Entah mengapa hatinya merasa tidak tenang dan gelisah. Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, akhirnya Yuniar sampai juga di rumah suaminya.
"Nyonya sudah pulang?"tanya Bik Sari menyambut kedatangan Yuniar.
"Iya, Bik. Tolong masukkan bunga ini ke dalam vas, ya, Bik!"pinta Yuniar seraya menyerahkan buket bunga yang di bawanya pada Bik Sari.
"Baik, Nyonya. Oh, ya, Nyonya, Tuan juga baru pulang sekitar lima menit yang lalu,"sahut Bik Sari.
__ADS_1
"Suamiku sudah pulang?"tanya Yuniar terlihat terkejut sekaligus senang mendengar suaminya sudah pulang. Senyuman lebar tersemat di bibir gadis itu.
"Iya, Nyonya,"sahut Bik Sari tersenyum tipis.
"Terimakasih, Bik,"ucap Yuniar bergegas pergi ke kamar suaminya yang juga sudah menjadi kamarnya . Hati gadis itu sangat senang saat mengetahui suaminya sudah pulang.
Sedangkan Bik Sari hanya tersenyum tipis seraya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan melihat antusiasme Yuniar saat mendengar suaminya sudah pulang.
"Ceklek"
Yuniar membuka pintu kamar itu dan melihat Aiden sedang duduk di atas kursi rodanya seraya memangku laptop. Aiden hanya tersenyum tipis dan menatap Yuniar sekilas, kemudian kembali menatap layar laptopnya.
Ya. Aiden memilih pura-pura kakinya belum sembuh, karena takut Yuniar akan meninggalkan dirinya. Karena Yuniar selalu berkata, bahwa selama kaki Aiden lumpuh, maka Yuniar akan tetap di sisi Aiden. Lalu bagaimana jika kaki Aiden sembuh? Karena itulah, Aiden memilih menyembunyikan kesembuhan kakinya. Masih berharap Yuniar bisa mencintai dirinya.
Sampai sekarang, Aiden merasa tidak terima karena berasumsi bahwa istrinya telah mencintai pria lain dan mengkhianati dirinya. Namun perasaan memiliki karena Yuniar adalah istrinya dan perasaan cintanya pada Yuniar membuat Aiden tidak bisa melepaskan Yuniar, walaupun hatinya sakit setelah melihat kejadian tadi. Kejadian yang sebenarnya tidak seperti yang di duga oleh Aiden.
Karena nyatanya, Yuniar tidak pernah mengkhianati Aiden. Semenjak Aiden mengumumkan bahwa dirinya adalah istri Aiden, Yuniar perlahan menyadari jika seiring berjalannya waktu, dirinya telah jatuh hati pada Aiden. Apalagi selama satu bulan ini berpisah dengan Aiden, Yuniar merasakan bagaimana rasanya merindukan pria itu.
"Hubby! Kenapa hubby tidak mengabari aku jika hubby akan pulang hari ini?"protes Yuniar seraya menutup pintu kamar itu, lalu berjalan menghampiri Aiden.
"Aku takut menganggu kebahagiaan mu. Jadi, aku memilih untuk tidak mengabari kamu,"sahut Aiden tersenyum kecut tanpa menatap Yuniar,"Kehadiran ku pasti menganggu kebahagiaan mu dengan pria itu, bukan? Aku cemburu melihat kebahagiaan mu dengan orang lain,"lanjut Aiden dalam hati.
"Hubby ini bicara apa, sih! Hubby kemarin, 'kan, sudah berjanji akan mengabari aku, jika hubby akan pulang. Tapi, kenapa malah pulang tanpa mengabari aku?"keluh Yuniar seraya meletakkan tasnya, merasa kata-kata Aiden terdengar aneh.
"Aku tidak ingin kamu buru-buru pulang jika tahu aku hari ini pulang,"sahut Aiden yang sebenarnya tidak fokus dengan apa yang saat ini sedang dikerjakannya.
Ingatan tentang Yuniar yang terlihat seperti sedang berciuman dengan pria lain membuat hati Aiden gusar dan tidak tenang.
"Hubby kenapa? Apa hubby tidak enak badan, atau kecapekan? Pikiran hubby seperti tidak tenang,"tanya Yuniar seraya berjalan mendekati Aiden. Gadis itu mengamati ekspresi wajah suaminya itu.
"Itu hanya perasaan kamu saja,"sahut Aiden tersenyum tipis, mencoba menutupi perasaannya,"Pikiranku tidak tenang karena kamu,"lanjut Aiden dalam hati.
...π"Sedikit cemburu bisa menjadi hal baik yang bisa mengingatkan kita untuk menghargai apa yang kita miliki. Namun, terlalu cemburu, akan menghancurkan apa yang telah kita miliki,"π...
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
__ADS_1
.
To be continued