
Pak Wanto mengumpulkan semua pelayan yang ada di rumah itu di ruang tengah yang luas. Termasuk Roni. Semua orang nampak penasaran dan bertanya-tanya, ada hal apa gerangan hingga mereka semua di kumpulkan di ruangan tengah itu. Apalagi, terakhir kali mereka di kumpulkan di ruangan tengah itu karena masalah Saminten yang ketahuan menganiaya Yuniar dan membayar penjaga ruang kontrol cctv untuk menghapus rekaman cctv.
Sebagian dari para pelayan itu merasa ketakutan karena merasa telah menggosipkan Yuniar yang terlalu dekat dengan Aiden. Bahkan gosip baru yang sedang hot hotnya adalah gosip tentang Yuniar yang tidur di kamar Aiden. Dan siapa lagi si biang kerok yang sangat hobi membeberkan keburukan orang lain, kalau bukan orang yang memiliki sifat iri dan dengki. Dan orang itu tidak lain dan tidak bukan adalah Saminten.
Pak Wanto sendiri merasa was-was saat Aiden meminta dirinya mengumpulkan semua orang yang ada di rumah itu.
"Aku harap, Saminten tidak berbuat ulah lagi. Jika kali ini dia berbuat ulah lagi, Tuan Aiden benar-benar akan mengusir dia dari rumah ini. Dan aku tidak akan bisa berbuat apa-apa,"gumam Pak Wanto dalam hati.
"Sudah berkumpul semua?"tanya Aiden menatap semua orang. Sedangkan Yuniar nampak berdiri di samping Aiden.
"Sudah, Tuan,"sahut Pak Wanto.
"Apa sebenarnya yang ingin di umumkan Tuan Aiden?"gumam Roni dalam hati.
"Baiklah. Aku sengaja mengumpulkan kalian semua untuk memberitahu sesuatu,"ucap Aiden men-jeda kata-katanya membuat semua orang semakin penasaran,"Aku tidak ingin ada salah paham lagi di rumah ini, karena itu, aku ingin memberitahu kalian semua tentang hal ini. Kalian semua pasti bertanya-tanya, kenapa aku memberi hak istimewa pada Yuniar di rumah ini?"
"Aku tidak mewajibkan Yuniar memakai seragam perawat ataupun memakai seragam pelayan seperti kalian. Aku menyuruh kalian menaati perintahnya dan tidak boleh melarang dia melakukan apapun. Aku juga memberikan Yuniar kamar di rumah utama, bahkan bersebelahan dengan kamar ku. Tidak seperti kalian yang di berikan kamar di rumah belakang,"
"Aku melakukan semua itu, karena Yuniar memang istimewa di hati ku. Karena sebenarnya, Yuniar adalah istri ku. Aku sudah menikah dengan Yuniar sebelum Yuniar menginjakkan kakinya di rumah ini. Jika kalian masih ingin bekerja di rumah ini, hormati istri ku dan jangan membicarakan hal buruk apapun tentang istri ku,".
"Satu lagi, aku ingin kalian semua merahasiakan hal ini dari orang lain. Hanya orang yang ada di rumah ini saja yang boleh tahu tentang hal ini. Jika ada yang berani membocorkan tentang hal ini pada orang di luar rumah ini, walaupun itu adalah pasangan ataupun keluarga kalian sendiri, aku pastikan, aku akan memecat orang itu dan membuat keluarganya kesulitan untuk mencari makan walaupun hanya sesuap nasi,"
"Tentang kenapa aku merahasiakan pernikahan ku dengan Yuniar, kalian tidak perlu tahu dan jangan pernah mencari tahu. Jangan sampai ada orang yang membicarakan tentang hal ini lagi di rumah ini, apalagi di luar rumah ini. Karena jika sampai ketahuan olehku, aku pastikan kalian akan menyesal karena tidak bisa menjaga mulut kalian. Itu saja yang perlu aku sampaikan. Apa ada pertanyaan?"tanya Aiden menatap semua orang yang ada di tempat itu.
Semua orang di ruangan itu malah terdiam dan terpaku di tempatnya masing-masing. Mereka sangat terkejut dengan apa yang telah di sampaikan oleh Aiden. Sekaligus penasaran kenapa Aiden merahasiakan pernikahannya.
Pak Wanto menghela napas panjang mendengar pengumuman dari Aiden,"Ternyata benar, nona Yuniar adalah istri Tuan Aiden. Entah apa alasan Tuan Aiden menyembunyikan kenyataan ini. Pantas saja Tuan Aiden mengistimewakan nona Yuniar,"gumam Pak Wanto dalam hati.
Sedangkan Bik Sari nampak tersenyum, walaupun tadi sempat terkejut.
"Astagaa.. ! Pantas saja nona Yuniar sangat dekat dengan Tuan Aiden. Ternyata mereka adalah sepasang suami-isteri. Tapi aku malah merasa senang mendengar kabar ini. Karena, Nona Yuniar adalah gadis yang baik,"gumam Bik Sari yang sejak awal memang yang paling dekat dengan Yuniar dibandingkan dengan pelayan lain.
Roni tersenyum lega mendengar pengumuman Aiden itu,"Syukurlah. Tuan mau mengakui nyonya Yuniar sebagai istrinya, walaupun hanya di rumah ini. Setidaknya, Nyonya Yuniar tidak akan di gosipkan yang macam-macam oleh para pelayan karena terlalu dekat dengan Tuan Aiden,"gumam Roni dalam hati.
__ADS_1
Sedangkan Saminten nampak syok. Saminten tidak pernah menduga bahwa Yuniar adalah istri Aiden. Gadis itu berdiri dengan tangan yang terkepal dan kepala yang tertunduk dan raut wajah yang sulit di artikan.
"Sial! Kenapa bisa Tuan Aiden sudah menikah dengan gadis itu? Pantas saja dia sangat berani padaku dan menempel terus pada Tuan Aiden. Tapi, apa alasan Tuan Aiden menyembunyikan pernikahan mereka? Mencurigakan sekali,"gumam Saminten dalam hati.
Sedangkan pelayan yang lain, ada yang merasa bersalah karena terhasut oleh kata-kata Saminten, sehingga memandang rendah pada Yuniar. Ada pula yang biasa saja karena tidak suka bergosip dan mengurusi urusan orang lain, apalagi urusan majikan mereka. Ada pula yang senang, karena selama berinteraksi dengan Yuniar, Yuniar selalu baik dan menghormati orang lain serta tidak sombong, walaupun nyatanya Yuniar adalah Nyonya di rumah itu.
"Saminten!"panggil Yuniar setelah beberapa saat semuanya terdiam dan ruangan itu menjadi hening. Aiden pun mengernyitkan keningnya mendengar Yuniar memanggil Saminten.
"Mampus lah Saminten,"gumam seorang pelayan lirih.
"Selama ini dia suka sekali mencari gara-gara dengan Nyonya Yuniar dan menjelek-jelekkan Nyonya Yuniar. Untung saja aku tidak ikut-ikutan,"sahut yang lain dengan suara kecil.
"Ada apa, baby?"tanya Aiden menengadah menatap Yuniar.
"Aku ingin mengatakan sesuatu pada Saminten, By,"sahut Yuniar tersenyum lembut menatap Aiden.
Sontak saja para penghuni rumah itu kembali terkejut mendengar panggilan sayang diantara sepasang suami-isteri yang baru mereka dengar itu.
"So sweet,"
"Romantis nya,"
Gumam para pelayan itu lirih.
"Haish.. Kemarin menolak mentah-mentah Nyonya Yuniar. Sekarang sudah manggil pakai kata sayang. Dan si Saminten ini, apalagi ulahnya kali ini?"gumam Roni dalam hati.
"Mampus! Apa dia ingin balas dendam atas perbuatanku?"gumam Saminten yang wajahnya tiba-tiba menjadi pucat.
Pak Wanto pun jadi ketar-ketir saat Yuniar memanggil nama cucu nya yang sering dipergokinya suka membuat masalah dengan Yuniar.
"Apa yang diinginkan nyonya,"gumam Pak Wanto dalam hati. Hati pria tua itu benar-benar merasa tidak tenang.
"Katakanlah, baby,"ujar Aiden seraya memegang tangan Yuniar lembut.
__ADS_1
"Saminten! Tolong jaga mulut kamu baik-baik! Kata-kata kamu selalu sarkas padaku. Aku yakin, tidak hanya padaku saja kamu berkata-kata sarkas di rumah ini,"ujar Yuniar yang masih kesal pada Saminten yang selama ini selalu berkata-kata sarkas dan merendahkan dirinya.
"Sam, jawab!"tegur Pak Wanto yang jadi geram pada cucunya.
"Iya,"sahut Saminten mengepalkan kedua tangannya masih dengan kepala yang tertunduk, tidak mau memanggil Nona, apalagi Nyonya pada Yuniar. Masih tidak mau menerima kenyataan bahwa Yuniar adalah istri Aiden.
"Memangnya dia berkata apa padamu, baby?"tanya Aiden pada Yuniar.
"Dia mengatakan bahwa aku adalah wanita jalangg! Wanita murahan! Aku berlama-lama di kamar hubby untuk membuka pahaku di depan hubby agar hubby memberiku banyak hadiah,"ujar Yuniar yang memang benar adanya. Yuniar terlihat sangat kesal mengingat semua perkataan Saminten itu.
"Sial! Dia mengadukan hal itu pada Tuan di depan semua orang. Bisa-bisa, aku di tendang dari rumah ini,"gumam Saminten dalam hati dengan wajah pucat pasi.
"Beraninya kamu mengatakan semua itu pada istri ku!"Suara Aiden menggelegar di ruangan itu membuat semua orang yang ada di ruangan itu terkejut. Bahkan mata pria itu berkilat tajam menatap Saminten.
...πππ...
..."Lidah yang kecil dan ringan bisa mengangkat ataupun menjatuhkan derajat manusia."...
..."Bukan wajah kotor, tetapi lidah yang kotor lah yang menyakiti hati,"...
..."Kombinasi kebahagiaan adalah pikiran yang terbuka dan mulut yang tertutup,"...
..."Seburuk-buruknya manusia adalah yang tidak tahu kesalahan nya. Sejelek-jeleknya manusia adalah yang tidak bisa berkaca tentang diri dan asalnya. Sebodoh-bodohnya manusia adalah yang tidak bisa menjaga lisannya."...
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
Mungkin para reader geram dengan karakter Saminten ini. Sayangnya, karakter ini benar-benar ada. Dan jangan tanya gimana perasaan ku setiap bertemu dengan orang ini.πππ
.
To be continued
__ADS_1