
Pagi menjelang. Aiden dan Yuniar pun bersiap ke kantor dengan kendaraan mereka masing-masing.
"Hemm.. Tinggal dalam satu rumah yang sama? Tapi berangkat ke kantor dengan kendaraan masing-masing? Ada hubungan apa di antara mereka berdua?"gumam seorang pria yang tidak lain adalah Austin.
Austin ternyata menyelidiki siapa Yuniar. Karena semenjak pertama kali melihat Yuniar, Austin langsung tertarik pada Yuniar. Apalagi Yuniar nampak tidak tertarik pada dirinya dan terkesan membangun benteng yang tinggi di antara mereka. Hal itu semakin menarik hati Austin. Dan di sinilah Austin berada saat ini. Di dalam mobil taksi yang terparkir tidak jauh dari rumah Aiden.
"Menurut informasi yang saya dapatkan, alamat rumah gadis yang bernama Yuniar itu tidak di sini, Tuan. Tapi, dia sudah tinggal di rumah ini beberapa bulan. Dia bekerja sebagai perawat Tuan Aiden. Dan yang seperti Tuan ketahui, gadis itu sekarang sedang magang di perusahaan Tuan Aiden,"jelas pria suruhan Austin yang berpura-pura menjadi supir taksi agar bisa masuk ke kompleks perumahan itu dengan mudah.
"Perawat Tuan Aiden? Bukankah Tuan Aiden itu seorang Casanova? Aku rasa, dia pasti juga tertarik pada gadis itu. Walaupun tidak tergolong sangat cantik, tapi kecantikan gadis ini mempesona dan tidak membuat orang yang memandangnya merasa bosan. Gadis ini benar-benar berbeda. Baru juga berkenalan dengan ku, dia langsung menolak aku mentah-mentah. Mengatakan sudah bersuami dengan menunjukkan kiss mark di lehernya? Menarik sekali. Baru kali ini aku di perlakukan seperti ini oleh seorang wanita,"ujar Austin dengan salah satu sudut bibirnya yang tertarik ke atas menatap motor Yuniar yang melaju di depan mobil Aiden.
"Apa menurut kamu mereka memiliki hubungan spesial?"tanya Austin seraya mengetuk-ngetuk kursi tempatnya duduk dengan mata yang menatap ke arah rumah Aiden.
"Tidak ada informasi apapun tentang hubungan mereka selain perawat dan pasien, Tuan. Tapi, yang jelas status gadis itu masih lajang,"
Austin tersenyum miring. Selama ini tidak ada satu wanita pun yang menolak di dekatinya. Hal itu karena Austin memang berwajah tampan dan juga mapan. Namun, tampan dan cantik itu relatif bukan? Sedangkan jika jelek itu mutlak. KATA ORANG seperti itu. Namun, baik cantik, tampan maupun jelek, semua pasti memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing, bukan? Karena Tuhan menciptakan manusia lebih istimewa dari makhluk lainnya, dan memberikan kelebihan dan juga kekurangan pada mereka masing-masing.
"Selidiki lebih lanjut lagi tentang gadis itu! Aku menyukai gadis itu. Aku menginginkan dia,"gumam Austin tersenyum penuh misteri.
***
Hari beranjak siang. Austin nampak berjalan menuju ruangan Aiden. Salah satu sudut bibir pria itu tertarik ke atas saat melihat Yuniar berjalan masuk ke dalam ruangan Aiden.
"Permisi, saya ingin bertemu dengan Tuan Aiden,"ucap Austin menggunakan bahasa inggris saat sudah berdiri di depan meja Melda.
"Oh, iya. Silahkan, Tuan!"ucap Melda Melda sopan yang juga menggunakan bahasa inggris.
"Terimakasih,"ucap Austin kemudian mengetuk pintu ruangan Aiden.
"Masuk!"sahut Aiden dari dalam ruangannya.
Austin yang lumayan mengerti bahasa Indonesia, tapi tidak bisa berbicara menggunakan bahasa Indonesia itu pun masuk ke dalam ruangan Aiden.
"Oh, Tuan Austin. Silahkan duduk!"ucap Aiden ramah.
__ADS_1
"Terimakasih. Oh, nona Yuniar ada di sini juga?"sapa Austin tersenyum manis menatap Yuniar.
Yuniar hanya mengangguk kecil tanpa mengatakan apapun. Gadis itu kembali memisahkan dan menyusun berkas yang sudah di tanda tangani Aiden.
Aiden jadi tidak suka melihat Austin yang menatap Yuniar dengan tatapan yang terlihat suka itu.
"Bisa kita mulai pembicaraan kita!"ucap Aiden tersenyum tipis pada Austin. Senyuman yang di paksakan untuk menyembunyikan perasaan kesalnya. Selain itu, Aiden juga berusaha bersikap profesional.
"Oh, tentu saja. Tapi sebelumnya, boleh saya meminta sesuatu pada Tuan?"tanya Austin tersenyum tipis pada Aiden.
"Apa itu? Coba anda katakan!"pinta Aiden terlihat serius.
"Begini, saya ingin nona Yuniar ini menemani saya makan siang. Karena saya ingin mencoba kuliner di negeri ini. Saya rasa, nona Yuniar bisa membantu saya menjelaskan tentang kuliner yang akan saya nikmati nanti. Saya rasa, Tuan Aiden tidak akan merasa keberatan, bukan?"tanya Austin masih dengan senyuman di bibirnya.
Yuniar terlihat tidak senang mendengar permintaan Austin itu.
"Pria ini! Sudah aku katakan aku sudah punya suami. Kenapa masih saja berusaha mendekati aku? Walaupun aku belum menikah sekalipun, aku juga tidak mau didekati bule ini. Aku hanya suka yang lokal, tidak berselera dengan orang luar yang kulitnya terlalu putih. Hubby lebih menggoda dari pada dia. Apalagi jika sudah bertelanjang dada. Ughh.. Dada bidangnya yang berotot dan perutnya yang bagaikan roti sobek itu.. Aku sangat menyukainya,"gumam Yuniar dalam hati yang pikirannya malah jadi traveling karena mengingat bentuk tubuh suaminya yang bahkan setiap hari di sentuhnya.
Aiden mengepalkan kedua tangannya yang berada di atas pahanya, saat mendengar permintaan Austin. Aiden bisa melihat dan merasakan, jika Austin menyukai istrinya dan berusaha mendekati istrinya.
"Di restoran Nusantara yang tidak jauh dari kantor ini. Saya sangat penasaran, apa saja makanan yang tersedia di sana dan terbuat dari apa saja bahan makanannya. Saya rasa, nona Yuniar akan menjadi guide (pemandu) yang baik untuk memperkenalkan kuliner di negeri ini. Apa permintaan saya terlalu berlebihan?"tanya Austin masih dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.
"Ah, jika anda ingin mencoba kuliner di negeri ini, saya juga bisa menemani anda,"tawar Aiden yang tidak ingin Yuniar pergi bersama Austin.
"Ah, tidak perlu. Saya bisa mengerti keadaan Tuan yang kurang leluasa karena kondisi kaki Tuan. Saya tidak ingin menyusahkan anda. Izinkan saya makan siang bersama karyawan anda ini,"pinta Austin lagi.
"Baiklah,"sahut Aiden tersenyum tipis dalam hati merasa tidak rela,"Jika saja aku sudah berhasil mengungkap semua rencana jahat Brisa dan papanya, aku pasti akan mempublikasikan hubungan ku dan Yuniar. Agar tidak ada lagi pria manapun yang berusaha mendekati Yuniar,"gumam Aiden dalam hati.
*
Austin mengajak Yuniar untuk naik ke dalam mobilnya. Pria itu bahkan membukakan pintu mobil untuk Yuniar.
"Senang sekali, akhirnya saya akan makan siang dengan nona Yuniar yang cantik ini,"ujar Austin yang duduk di sebelah Yuniar.
__ADS_1
"Seharusnya anda mencari orang lain untuk menemani anda makan siang. Anda bisa mencari karyawan yang masih singel. Banyak karyawan di kantor Tuan Aiden yang masih singel. Mereka pasti sangat senang jika Tuan mengajak mereka makan siang bersama. Kenapa Tuan harus memilih saya yang sudah bersuami?"tanya Yuniar yang duduk menempel di pintu mobil dengan suara datar. Pertanyaan yang lebih terdengar seperti protes.
"Memangnya, apa bedanya dengan nona? Nona juga masih singel, bukan!"sahut Austin tersenyum tipis.
"Sudah saya katakan! Saya sudah menikah. Saya sudah bersuami. Jadi, saya bukan wanita singel,"ujar Yuniar yang benar adanya.
"Nona mengatakan hal itu hanya untuk menghindari saya. Nona berbohong. Jelas-jelas status anda masih singel. Kenapa nona mengatakan bahwa nona sudah menikah?"tanya Austin seraya tersenyum. Austin tidak percaya pada Yuniar.
"Saya tidak berbohong. Saya memang benar-benar sudah menikah,"sahut Yuniar dengan nada bicara serius.
"Jika nona sudah menikah, nona tidak akan tinggal di rumah Tuan Aiden untuk menjadi perawat Tuan Aiden. Dan jika nona sudah menikah, kenapa tidak memakai cincin pernikahan?"tanya Austin yang tetap tidak percaya jika Yuniar sudah menikah.
Yuniar terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Austin. Yuniar tidak menyangka jika pria itu tahu jika dirinya tinggal di rumah Aiden dan menjadi perawat Aiden.
"Suami saya juga tinggal di rumah itu. Wajar bukan, jika saya tinggal di rumah itu? Apalagi saya menjadi perawat Tuan Aiden,"sahut Yuniar yang sempat terkejut karena Austin mengetahui tentang dirinya yang tinggal di rumah Aiden.
"Benarkah? Saya tidak percaya. Setahu saya, sampai saat ini status nona masih singel,"
"Terserah anda mau percaya atau tidak. Saya tidak bisa memaksa anda untuk percaya pada saya,"sahut Yuniar kesal.
"Nona semakin cantik jika sedang marah,"goda Austin penuh senyuman.
"Dasar tidak waras!"gumam Yuniar lirih menggunakan bahasa Indonesia. Yuniar memalingkan wajahnya ke arah kaca mobil.
"Saya menjadi tidak waras karena nona,"sahut Austin tetap menggunakan bahasa inggris, kemudian terkekeh kecil.
Yuniar membulatkan matanya saat menyadari Austin mengerti dengan apa yang dikatakan nya.
"Sial! Bule ini mengerti perkataan ku,"gerutu Yuniar dalam hati masih tetap menatap ke arah kaca mobil.
"Saya ingin nona menjadi wanita saya,"ucap Austin yang lagi-lagi membuat Yuniar terkejut.
...🌸❤️🌸...
__ADS_1
.
To be continued