
Brisa meringis kesakitan saat Yuniar mendorong tubuh Brisa dengan kuat hingga gadis itu jatuh tersungkur di lantai.
Tentu saja Yuniar dan Brisa menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di sekitar tempat itu. Termasuk Melda yang berada paling dekat dengan dua orang itu.
"Astagaa.. Apa yang terjadi di dalam sana tadi? Kenapa Yuniar terlihat sangat marah? Dan itu.. Kenapa kancing kemeja si Brisa itu bisa sampai lepas semua seperti itu? Mana rambut acak-acakan dan muka ada cap lima jarinya lagi. Apa si Brisa ini kepergok Yuniar merayu Tuan Aiden?"gumam Melda dalam hati bertanya-tanya, menatap keadaan Brisa yang mengenaskan.
"Apa yang terjadi? Kenapa pemagang itu berani menyeret nona Brisa keluar dari ruangan Tuan Aiden seperti itu?"
"Apa mereka sedang memperebutkan Tuan Aiden?"
"Iya, ya. Pemagang itu, 'kan, sering keluar masuk ke ruangan Tuan Aiden. Mungkin saja dia suka sama Tuan Aiden,"
"Astagaa.. Lihat pakaian nona Brisa itu! Sudah pendek, ketat, terbuka lagi,"
"Wahh.. Ada pemandangan gratis. Jangan di lewatkan, bro!"
"Ini benar-benar pemandangan yang langka,"
Bisik-bisik para karyawan dan karyawati yang melihat Brisa dan Yuniar.
"Apa yang terjadi?"suara seorang wanita itu mengalihkan pandangan semua orang pada wanita yang baru saja datang itu.
"Nyonya Aurora?"gumam Yuniar yang terkejut melihat kedatangan Aurora.
Hari ini Aurora pergi ke kantor Aiden untuk melihat keadaan kakak kandung nya itu. Wanita cantik itu menggendong putra pertamanya yang tampan dan menggemaskan. Namun Aurora terkejut saat tiba-tiba melihat pintu ruangan kakaknya terbuka dan melihat seorang wanita didorong keluar hingga jatuh ke lantai.
"Apa nyonya Aurora sudah tahu jika Yuniar adalah istri kakaknya?"gumam Melda dalam hati.
Sedangkan Aiden yang berada di dalam ruangan mengernyitkan keningnya mendengar suara adiknya ada di luar ruangannya.
"Aurora ke sini? Sepertinya aku tidak perlu keluar. Biar para wanita itu saja yang menyelesaikan masalah Brisa,"gumam Aiden, lalu melanjutkan pekerjaannya tanpa berniat melihat apa yang terjadi di luar ruangan nya.
Sedangkan Brisa masih terduduk di lantai meringis menahan sakit, karena jambakkan, tamparan dan juga tendangan Yuniar tadi. Gadis itu menutup kemejanya yang seluruh kancingnya sudah terbuka.
"Ada apa? Apa yang terjadi?"tanya Aurora lagi menatap orang di sekitarnya.
"Nyonya, perempuan ini menggoda Tuan Aiden di dalam ruangannya. Lihatlah! Dia memakai pakaian yang sangat minim. Apa niat seorang perempuan memakai pakaian yang begitu minim, lalu masuk ke ruangan seorang pria, jika tidak berniat untuk menggoda pria itu? Dan nyonya bisa melihat pakaiannya. Dia bahkan membuka pakaiannya sendiri di depan Tuan Aiden. Saya yang melihatnya sendiri dengan mata dan kepala saya sendiri,"jelas Yuniar dengan suara tegas.
"Benar apa yang dikatakan oleh pemagang yang bernama Yuniar itu. Memakai pakaian seminim itu di depan seorang pria yang berada di dalam sebuah ruangan, apa lagi niatnya kalau bukan ingin menggoda pria,"
__ADS_1
"Apa pantas memakai pakaian seperti itu ke kantor?"
"Dia mau ke kantor, atau mau ke klub malam untuk menjual diri?"
"Wanita baik-baik tidak akan memakai pakaian seperti itu,"
Itulah kasak-kusuk karyawan yang ada di tempat itu. Mereka memandang rendah pada Brisa.
"Huhh.. "Aurora membuang napas kasar. Kamu yang duduk di lantai! Keluar dari perusahaan ini! Aku tidak mengizinkan kamu menginjakkan kakimu di perusahaan ini lagi!"cetus Aurora menatap kesal pada Brisa.
"Siapa kamu berani mengusir aku dari sini? Dan kenapa kalian percaya saja dengan kata-kata gadis ini?"ucap Brisa seraya menunjuk Yuniar,"Lagipula, terserah kami mau melakukan apa. Aku dan Aiden melakukannya atas dasar suka sama suka. Tidak ada urusannya dengan kalian semua,"ketus Brisa seraya bangkit dari lantai.
"Aku tidak berbohong! Aku melihat sendiri dia menggoda Tuan Aiden!"bantah Yuniar.
"Haish.. Aku percaya pada Yuniar, karena aku sudah lama mengenalnya. Aku tidak peduli kamu melakukannya atas dasar suka sama suka atau tidak. Tapi, aku tidak menyukai kamu. Pergi kamu dari sini!"ketus Aurora dengan putranya yang masih terlelap dalam gendongannya.
"Hei! Dari tadi kamu mengusir aku dari sini. Punya hak apa kamu disini? Aku adalah klien Aiden. Aiden harus membayar denda jika memutuskan hubungan kerjasama secara sepihak dengan perusahaan kami,"ketus Brisa dengan angkuhnya.
"Siapa aku?"tanya Aurora balik seraya tersenyum dingin,"Aku adalah pemilik setengah dari perusahaan ini. Aku adalah adik pemilik perusahaan ini. Soal denda, lebih baik aku membayar denda dari pada bekerja sama dengan orang seperti kamu! Perempuan tidak tahu malu! Penggoda! Ulat bulu! Pergi ke kantor sudah seperti mau menjual diri,"cetus Aurora dengan tatapan merendahkan,"Sekali-kali tidak apa-apa 'kan, menyombongkan diri,"gumam Aurora dalam hati.
Brisa terkejut mendengar pengakuan Aurora,"Dia adik Aiden yang sudah lama menghilang itu?"gumam Brisa dalam hati.
"Kenapa masih diam di situ? Cepat pergi dari sini!"ketus Aurora seraya mengelus punggung putranya yang masih terlelap. Bayi itu tidak terganggu sama sekali dengan perdebatan itu,"Oh, masih tidak mau pergi? Kalian berdua! Seret perempuan ini keluar!"titah Aurora pada dua orang karyawan, karena tidak melihat security di tempat itu. Sedangkan Nala, bodyguard Aurora di suruh Aurora menunggu di bawah.
"Aku bisa pergi sendiri!"bentak Brisa seraya mengibaskan tangan dua orang karyawan yang baru saja menyentuhnya,"Akan aku balas penghinaan ini!"geram Brisa dengan rasa kesal dan sakit di tubuhnya.
"Coba saja kalau berani!"tantang Aurora tersenyum sinis.
"Dugh"
"Akkh! Perempuan sialan!"pekik Brisa memegangi kakinya saat Aurora menendang tulang keringnya.
"Plak"
"Plak"
"Plak"
"Kau..!"geram Brisa karena Aurora malah menampar dirinya.
__ADS_1
"Kamu pantas mendapatkan tamparan, karena mulut kamu itu tidak sopan! Berani sekali kamu mengumpat aku,"ketus Aurora dengan tatapan sinis.
"Sudah, kita seret saja perempuan gatal ini!"ucap salah seorang karyawan.
Brisa kembali menepis tangan kedua orang itu, lalu pergi dengan sejuta rasa kesal, marah dan sakit di tubuhnya.
"Aku pasti akan membalasnya,"geram Brisa seraya pergi.
Aurora membuang napas kasar melihat Brisa yang berjalan pergi.
"Yun, kita masuk dulu!"ajak Aurora seraya menarik tangan Yuniar.
Tanpa mengetuk pintu, Aurora masuk ke dalam ruangan kakaknya. Aiden menatap adiknya yang masuk bersama istrinya itu.
"Zayn masih tidur setelah kalian ribut seperti tadi?"tanya Aiden mengernyitkan keningnya menatap keponakan nya yang masih terlelap dalam gendongan adiknya.
"Zayn tidak akan terganggu dengan suara seperti tadi,"sahut Aurora seraya duduk di sofa yang ada di dalam ruangan itu,"Aku bercinta dengan Rayyan hampir setiap malam saja Zayn tidak terganggu,"lanjut Aurora dalam hati.
"Apa nyonya ingin saya buatkan minuman?"tanya Yuniar sopan.
Aiden hanya bisa menghela napas yang terasa berat mendengar istrinya memanggil 'nyonya' pada adiknya. Semua itu karena dirinya menyembunyikan status pernikahan mereka.
"Tidak perlu, Yun. Sebenarnya apa yang terjadi? Apa kakakku mulai merayu wanita lagi di kantornya ini?"tanya Aurora menyelidik.
"Ra, pikiran kamu negatif sekali pada kakakmu sendiri,"keluh Aiden.
"Bagaimana aku tidak berpikiran negatif? Kakak adalah seorang Casanova. Wajar bukan, jika aku berprasangka kakak bermesraan dengan seorang wanita di ruangan kerja kakak ini?"tanya Aurora santai.
"Aku tidak pernah dan tidak akan melakukan hal seperti itu di kantor ku, Ra,"tampik Aiden,"Kecuali dengan Yuniar,"lanjut Aiden dalam hati.
"Apanya yang tidak akan dan tidak pernah melakukan hal seperti itu di kantor? Hampir setiap kali aku masuk ke ruangan ini hubby selalu melakukannya,"gerutu Yuniar dalam hati.
"Aku lebih percaya pada Yuniar dari pada sama kakak. Yun, bagaimana cerita sebenarnya?"tanya Aurora yang masih belum mendapatkan jawaban dari Yuniar.
"Saya tadi mengikuti seorang office girl karena gerak-gerik nya mencurigakan. Saya melihat office girl itu memasukkan sesuatu ke dalam jus buah yang di buat untuk Tuan Aiden. Sebelumnya, saya juga melihat dia berbicara melalui sambungan telepon. Dia mengatakan bahwa dia sudah membeli obat perangsangg, lalu bertanya pada orang yang di teleponnya, apa akan diberikan sekarang? Dan sepertinya orang yang di telponnya itu mengatakan iya, makanya dia membuat jus buah dan memasukkan obat ke dalamnya, lalu mengantarkan jus buah itu ke ruangan Tuan Aiden,"ujar Yuniar memberitahu apa yang sudah di ketahui nya tadi.
"Kenapa kamu tidak memberi tahu padaku tentang hal itu?"tanya Aiden yang sempat terkejut mendengar pengakuan Yuniar.
"Saya hanya penasaran dengan orang yang memiliki rencana ini. Dan saya yakin orang itu adalah perempuan tadi. Karena dia datang ke sini menggunakan pakaian seksi, bahkan membuka kemejanya dan nekat duduk di pangkuan Tuan Aiden,"jelas Yuniar yang sebenarnya masih merasa kesal pada Brisa.
__ADS_1
...🌸❤️🌸...
To be continued