Casanova Mati Gaya

Casanova Mati Gaya
66. Sudah Terlanjur


__ADS_3

Aiden yang sudah bangkit dari duduknya itu pun terkejut saat mendengar suara orang bersin dari dalam ruangan pribadi nya. Pria itu bergegas duduk kembali di kursi rodanya.


"Siapa yang berada di ruangan pribadi ku? Dan suara tadi seperti suara seorang wanita,"gumam Aiden di dalam hati bertanya-tanya. Siapa yang berani masuk ke dalam ruangan pribadinya tanpa seizin darinya.


Aiden mengarahkan kursi rodanya menuju pintu ruangan pribadinya dengan perasaan yang diliputi oleh rasa penasaran.


"Baby! Kamu di sini?"tanya Aiden dengan ekspresi terkejut saat melihat Yuniar keluar dari ruangan pribadinya.


"Hubby.. Maaf, By! Aku tadi numpang ke toilet di ruangan hubby tanpa izin dari hubby,"ucap Yuniar dengan wajah yang tertunduk.


Awalnya Yuniar berpikir bahwa tidak akan jadi masalah jika dirinya numpang di toilet pribadi suaminya. Namun melihat ekspresi terkejut di wajah Aiden, Yuniar jadi merasa tidak enak hati karena telah lancang masuk ke ruangan pribadi suaminya itu tanpa izin dari suaminya. Padahal baru hari ini Yuniar bekerja di perusahaan suaminya. Itupun atas koneksi dari suaminya.


Sebenarnya tanpa bantuan suaminya, Yuniar pasti juga tidak akan kesulitan mencari tempat untuk magang. Mengingat Yuniar adalah mahasiswi yang cerdas dan selalu mendapatkan nilai bagus di setiap mata kuliahnya. Namun Yuniar tidak bisa menolak tawaran suaminya karena takut suaminya tersinggung. Selain itu, Yuniar juga merasa senang jika bisa lebih sering bersama suaminya. Karena itulah Yuniar tidak menolak tawaran Aiden untuk magang di perusahaan Aiden.


Aiden menghela napas panjang mendengar kata-kata Yuniar. Apalagi saat melihat ekspresi wajah Yuniar yang terlihat tidak enak hati itu.


"Tunggu di sini! Jangan kemana-mana! Aku akan pergi ke toilet dulu,"ujar Aiden yang ingin buang air kecil.


"Biar aku antar,"ucap Yuniar bergegas mendorong kursi roda Aiden ke toilet yang ada di dalam ruangan pribadi Aiden itu.


Aiden membuang napas kasar setelah masuk ke dalam toilet,"Yuniar pasti mendengar apa saja yang sudah aku bicarakan dengan Brisa. Apa sikapnya padaku akan berubah setelah mendengar pembicaraan ku dengan Brisa tadi?"gumam Aiden yang lagi-lagi hanya bisa membuang napas kasar.


Tak lama kemudian, Aiden pun keluar dari toilet dan Yuniar kembali mendorong kursi roda Aiden ke ruangan kerja Aiden.


"Kemari lah!"pinta Aiden seraya memegang tangan Yuniar dan mengarahkan Yuniar untuk duduk di pangkuannya. Tanpa membantah, Yuniar pun duduk di atas pangkuan suaminya.


"Maaf, By! Aku tidak akan masuk ke ruangan pribadi hubby lagi tanpa izin dari hubby. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi,"ujar Yuniar tertunduk penuh sesal.


"Aku tidak marah padamu hanya karena hal kecil seperti itu, baby. Kamu boleh masuk ke ruangan pribadi ku kapanpun kamu mau. Bukankah kamu juga tidak pernah meminta izin padaku saat kamu masuk ke dalam hati ku?"tanya Aiden penuh gombalan.


"Ishh.. Hubby malah bercanda,"sahut Yuniar mengulum senyum.


"Sekarang katakan padaku! Apa kamu mendengar pembicara ku dengan gadis tadi?"tanya Aiden seraya mengelus pipi Yuniar. Berharap sikap Yuniar tidak akan berubah karena mendengar pembicaraan nya dengan Brisa tadi.


"Hum,"sahut Yuniar mengangguk kecil, masih menundukkan kepalanya. Ekspresi gadis itu berubah menjadi sendu.


"Baby, sebelum menikah dengan aku, kamu pasti sudah tahu, 'kan, siapa aku?"tanya Aiden menatap lekat wajah Yuniar.


"Hum. Aku tahu,"sahut Yuniar yang tahu ke mana arah pembicaraan suaminya.

__ADS_1


Aiden menghela napas panjang. Rasa kesepian karena kedua orang tuanya yang telah tiada dan hampir putus asa mencari keberadaan adiknya, membuat Aiden mencari pelarian. Bersenang-senang dengan para wanita yang mengagumi dirinya hanya untuk membuang rasa sepi, sekaligus untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Melakukan hubungan intim layaknya pasangan suami-isteri tanpa di landasi rasa cinta. Tidak pernah berniat menjalin hubungan serius dengan wanita manapun sebelum menemukan adiknya.


Karena sebelum bertemu dengan Yuniar, semua gadis yang di temui Aiden adalah gadis-gadis yang hanya mengagumi fisik dan kekayaannya saja. Aiden tidak merasakan ketulusan cinta dari hati gadis-gadis itu. Dan belum ada satu gadis pun yang bisa menarik hatinya.


Namun, setelah bertemu dengan Yuniar, semuanya menjadi berbeda. Aiden yang sebelumnya belum pernah jatuh cinta pada seorang wanita, merasa sangat tertarik pada Yuniar yang berbeda dari para gadis yang sebelumnya sudah banyak di temuinya.


Yuniar terlihat tidak tertarik pada wajah tampan dan kekayaan yang di milikinya. Yuniar selalu menghindari dirinya, bahkan menolak dirinya secara halus.


Jika gadis lain, pasti tidak akan menolak dirinya, bahkan akan mencari kesempatan untuk mendekati dirinya. Bertolak belakang dengan Yuniar yang malah menghindar dari dirinya. Gadis cantik alami yang bersahaja. Memiliki sikap keras kepala, tapi berhati lembut dan tidak sombong. Dan hal itu malah membuat Aiden tertarik pada Yuniar.


Bahkan semenjak bertemu dengan Yuniar, Aiden berniat menjalin hubungan serius dengan gadis itu. Apalagi setelah Aiden menemukan adiknya. Keinginan Aiden untuk mempersunting Yuniar semakin kuat. Ingin membina rumah tangga bersama gadis yang terlihat polos luar dalam itu.


Polos dari dalam yang artinya sangat sederhana dalam sikap, tingkah laku dan sebagainya. Dan juga polos tanpa memakai make-up yang berlebihan hingga menunjukkan wajah cantik alaminya.


"Aku harap, kamu bisa menerima aku dan masa laluku, baby. Karena aku tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi di masa laluku,"ujar Aiden menghela napas panjang. Menyesali apa yang sudah terjadi pun tiada arti.


"Hubby jangan khawatir! Sebelum menikah dengan hubby, aku sudah tahu siapa hubby. Aku berjanji tidak akan mempermasalahkan tentang masa lalu hubby. Masa lalu hanyalah kisah lampau yang tak perlu diungkit-ungkit, apalagi disesali,"sahut Yuniar mengangkat wajahnya menatap Aiden dengan tatapan dan senyuman lembut.


"Terimakasih, baby!"ucap Aiden merasa lega, kemudian mengecup kening Yuniar lembut untuk beberapa saat.


Aiden memegang pipi Yuniar dengan tatapan yang mengarah pada bibir Yuniar. Perlahan pria itu memiringkan kepalanya dan mendekatkan bibirnya ke arah bibir Yuniar.


"By, jangan! Ini di kantor,"ujar Yuniar seraya mendorong dada Aiden pelan. Yuniar bisa menebak apa yang akan dilakukan suaminya itu.


Yuniar menghela napas panjang menatap wajah suaminya yang memelas itu. Rasanya terlalu pelit jika suaminya hanya menginginkan sebuah ciuman saja, tapi dirinya tidak mau memberikan.


"Biar aku saja yang mencium hubby,"ucap Yuniar agar masalah ciuman itu cepat selesai.


"Cup"


"Emp.."


Yuniar berniat mencium Aiden sekilas, namun nyatanya suaminya itu sudah tahu niatnya itu. Saat bibir mereka bertemu, Aiden langsung memeluk tubuh Yuniar dan memegang tengkuk Yuniar untuk memperdalam ciuman mereka. Tidak terima jika istrinya hanya memberikan ciuman sekilas saja. Aiden memeluk erat tubuh Yuniar, mengunci pergerakan Yuniar agar tidak bisa melepaskan ciuman mereka.


Aiden memagut dan menyesap bibir istrinya itu dengan lembut. Yuniar yang merasa percuma jika menolak suaminya itu pun akhirnya malah membalas ciuman suaminya itu. Saling memagut dan menyesap, bahkan saling membelit lidah. Mata Yuniar terpejam menikmati sensasi setiap sentuhan bibir dan lidah suaminya yang membuat tubuhnya terasa meremang.


Yuniar terhenyak saat tangan suaminya itu menyentuh salah satu bukit kembar miliknya. Entah kapan suaminya itu membuka kancing kemejanya. Yuniar tidak menyadarinya sama sekali.


"Hubby, cukup!"ucap Yuniar setelah mendorong dada Aiden hingga ciuman mereka terlepas. Memegang tangan suaminya yang menyusup di balik braa miliknya.

__ADS_1


"Baby, sebentar saja!"mohon Aiden dengan wajah memelas.


"Hubby, nanti di rumah saja. Aku sudah lama ada di sini. Bu Melda pasti akan mencari ku. Lagipula, aku di sini untuk magang mencari pengalaman, By,"ujar Yuniar yang tidak ingin kegiatan magangnya sia-sia.


"Lima menit saja, baby. Please!"pinta Aiden dengan wajah memelas.


Yuniar menghela napas panjang,"Tidak baik jika aku menolak suamiku sendiri. Jika sampai hubby mencari kepuasan di luar sana, aku lah yang rugi dan berdosa,"gumam Yuniar dalam hati.


"Baiklah,"ucap Yuniar dengan ekspresi tidak berdaya.


Mendengar jawaban Yuniar, Aiden pun tidak menyia-nyiakan kesempatan. Aiden langsung mencium bibir Yuniar sedikit agresif dari sebelumnya. Setelah beberapa saat menikmati bibir Yuniar, Aiden mencium leher Yuniar.


"Hubby.. Jangan membuat tanda di leherku,"ucap Yuniar saat merasakan sesapan bibir Aiden di lehernya.


"Maaf, sudah telanjur baby,"ucap Aiden seraya menatap tanda merah keunguan yang baru saja di buatnya. Mata pria itu beralih melirik ke arena dada istrinya itu.


"Hubby, jangan!"cegah Yuniar saat tiba-tiba Aiden mengeluarkan salah satu benda kenyal miliknya.


...🌟🌟🌟...


...Jangan salahkan masa lalu. Karena masa lalu mengajarkan arti untuk memahami dan mengikhlaskan....


...Masa lalu membuat kita memahami apa yang harus di hindari. Memberikan kenangan dan mengenalkan pada kita akan makna dan arti kehidupan....


...Namun, jangan biarkan masa lalu mengusik mu, apalagi menghancurkan masa depan mu....


...Jangan hidup dalam penyesalan. Kesalahan adalah pelajaran. Jadikanlah kenangan sebagai hal yang pantas untuk diceritakan....


...Kemarin adalah kenangan, esok adalah apa yang akan kita capai, hari ini adalah kenyataan yang harus kita dijalani....


... Jalani hidup dengan sebaik mungkin dan sepenuh hati. Jangan sampai jadi sesalan di kemudian hari....


...Tidak ada pilihan yang sepenuhnya tanpa penyesalan. Di balik sebuah pilihan, akan ada kesedihan dan kebahagiaan yang terkadang tidak dapat kita prediksikan....


...Lupakan penyesalan, atau bahagia mu akan terlewatkan....


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❀️🌸...

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2