Casanova Mati Gaya

Casanova Mati Gaya
75. Jika


__ADS_3

Setelah Aiden pulang kerja, Brisa sudah menunggu Aiden di lobby gedung tempat Aiden bekerja.


"Den, aku ikut mobil kamu, ya?"pinta Brisa agar bisa dekat dengan Aiden.


"Tidak bisa,"jawab Aiden cepat.


Aiden tidak mau parfum Brisa menempel di tubuhnya. Istrinya sudah mengatakan tidak mau tidur dengan dirinya apalagi dipeluk dan di cium, jika sampai ada parfum wanita yang menempel di tubuh atau pakaian nya. Satu malam tidak tidur memeluk istrinya atau satu hari saja tidak mencium istrinya, Aden bisa menggambarkannya dalam satu kata, yaitu "RUGI".


"Den, jika kita menggunakan satu mobil ke tempat tujuan yang sama, maka akan mengurangi kemacetan lalulintas di ibukota, loh,"bujuk Brisa beralasan.


"Kalau jadi berangkat naik mobil masing-masing. Jika tidak mau, ya, sudah. Aku mau pulang,"ujar Aiden datar.


Roni mengulum senyum mendengar perkataan Aiden,"Palingan, Tuan sudah tidak sabar bertemu dengan nyonya. Makanya pengen buru-buru pulang,"gumam Roni dalam hati yang bertugas mendorong kursi roda Aiden.


"Baiklah. Kita memakai mobil kita masing-masing,"Brisa menghela napas kasar memilih mengalah karena Aiden tetap kukuh dengan pendiriannya tidak mau satu mobil dengan dirinya,"Nggak apa-apa nggak satu mobil, yang penting dia mau pergi bersama ku,"gumam Brisa dalam hati.


Setelah menempuh perjalanan sekitar setengah jam, akhirnya mobil Brisa berhenti di sebuah rumah yang lumayan bagus. Setelah security yang berjaga di depan rumah itu memberitahu ke datangan mereka pada si empunya rumah, akhirnya Brisa, Aiden dan Roni pun di izinkan masuk. Setelah berbincang sebentar dengan praktisi pijat refleksi yang direkomendasikan Brisa itu, Aiden di bawa masuk ke sebuah ruangan untuk di pijat.


Aiden menatap Roni, dan Roni yang mengerti arti tatapan Aiden pun langsung mengangguk tanda mengerti.


"Tenang saja, Tuan. Saya pasti akan mengerjakan tugas saya dengan baik. Saya tidak akan mengecewakan anda,"gumam Roni dalam hati, kemudian melirik Brisa.


Praktisi pijat refleksi itu adalah seorang pria yang mungkin berumur sekitar lima puluh tahun. Pria itu mengernyitkan keningnya saat menekan titik-titik spesifik pada tubuh Aiden. Pria itu merasa tidak ada masalah apapun pada tubuh Aiden.


"Apa anda merasakan sentuhan di kaki anda?"tanya pria itu pada Aiden.


"Tidak. Tapi jangan coba-coba terlalu keras memijat tubuh saya untuk mengetes respon di kaki saya. Walaupun saya tidak bisa merasakannya, tapi kulit saya akan membiru jika di pijat terlalu kuat. Jika sampai kulit saya membiru karena pijatan anda, saya tidak segan meratakan rumah ini,"ucap Aiden dengan suara dingin dan tatapan tajam penuh intimidasi.


Praktisi pijat refleksi yang tadinya ingin memijat agak keras tubuh Aiden pun mengurungkan niatnya setelah mendengar ancaman dan melihat tatapan mata Aiden. Pria itu menelan kasar salivanya karena merasa terintimidasi.


"Jika tubuhnya sampai membiru karena pijatan ku, dia akan meratakan rumah ku? Dasar orang kaya! Selalu saja berlebihan. Tapi, auranya menakutkan sekali,"gumam praktisi pijat refleksi itu dalam hati.


"Aku tidak ingin dia memijat tubuh ku terlalu kuat. Karena kakiku sudah sembuh dan aku bisa merasakan sakit jika di pijat terlalu kuat. Aku akan reflek berteriak kesakitan jika di pijat terlalu kuat. Rencana ku akan hancur jika sampai hal itu terjadi,"gumam Aiden dalam hati.

__ADS_1


"Den, kamu jangan menakuti bapak ini,"ujar Brisa.


"Aku tidak menakuti dia. Aku bicara serius,"sahut Aiden dengan suara datar.


"Saya akan memberikan obat herbal untuk anda, agar kaki anda segera sembuh,"ucap pria paruh baya itu, kemudian mengambil obat yang sebenarnya di siapkan oleh Brisa.


Setelah selesai di pijat dan di beri obat, Aiden pun pamit pulang. Pria itu tidak ingin pulang terlalu malam.


"Den, kamu pulang saja duluan. Aku ingin di pijat juga,"ujar Brisa beralasan.


"Hmm,"sahut Aiden dengan ekspresi datar.


Setelah Aiden dan Roni pergi, Brisa pun segera menarik tangan pria yang memijat Aiden tadi.


Aiden nampak sedang melakukan panggilan. Sedangkan Roni mendorong kursi roda Aiden menuju mobil Aiden. Nampak earphone terpasang di telinga kanan Aiden dan telinga kiri Roni.


Roni membantu Aiden yang masih berpura-pura cacat itu masuk ke dalam mobil. Kemudian pemuda itu ikut masuk ke dalam mobil.


"Bagaimana keadaan kaki Aiden, Pak?"suara itu terdengar di earphone yang di pakai oleh Roni dan Aiden.


Ya. Saat berada dalam rumah tadi, Roni mengambil kesempatan untuk menyelipkan alat penyadap suara ke dalam tas yang di pakai Brisa sesuai rencananya bersama Aiden.


Sangat mudah menggunakan alat penyadap itu. Tinggal telepon saja ke nomor telepon yang ada di alat sadap. Alat sadapnya sendiri tidak akan mengeluarkan suara, ketika ditelepon ke nomor yang ada di alat sadap. Setelah di telepon, otomatis dari kejauhan Aiden bisa mendengar setiap percakapan di ruangan yang diletakkan alat sadap itu.


"Menurut pengetahuan saya, keadaan Tuan tadi normal, nona. Tidak ada masalah apapun. Sangat sehat dan fit. Peredaran darahnya lancar. Seharusnya dia tidak mengalami gangguan kesehatan apapun, apalagi kelumpuhan,"ujar praktisi pijat refleksi yang tadi memijat Aiden.


"Benarkah? Kamu yakin?"tanya Brisa yang agak ragu dengan apa yang dikatakan oleh pria di depannya itu.


"Yakin, nona,"sahut pria itu tanpa keraguan.


"Apa dia tidak mengkonsumsi Botulinum toxin yang di berikan oleh dokter itu? Dokter itu memberi dosis secara cermat agar otot Aiden sedikit lumpuh. Tapi kenapa kondisi tubuh Aiden baik-baik saja? Padahal kata dokter, dari hasil pemeriksaan pada Aiden secara rutin menunjukkan bahwa otot Aiden agak melemah,"gumam Brisa mengernyitkan keningnya.


Brisa tidak tahu jika hasil pemeriksaan pada Aiden selalu di ganti oleh Fina agar dokter neurologi itu tidak curiga dengan kesembuhan Aiden.

__ADS_1


"Tapi, menurut saya, tidak ada masalah apapun pada tubuh pria tadi, nona,"sahut praktisi pijat refleksi itu merasa sangat yakin jika Aiden sehat dan baik-baik saja.


"Kalau begitu, aku pulang dulu. Akan aku tanyakan pada papa tentang hal ini. Bapak jangan memijat Aiden tanpa persetujuan dari ku! Karena seharusnya kaki Aiden akan membaik jika dia meminum obat tadi. Kemungkinan dia akan kembali ke sini, jika merasa kakinya membaik,"ujar Brisa bergegas meninggal tempat itu tanpa menunggu jawaban dari pria itu.


Aiden menghela napas kasar mendengar percakapan Brisa dan praktisi pijat refleksi itu.


"Ron, kamu selidiki kandungan obat yang di berikan oleh orang tadi ke laboratorium. Rahasiakan seperti sebelumnya. Mereka masih mengawasi kita, 'kan? Jangan sampai mereka curiga!"ujar Aiden membuang napas kasar.


"Ba.. Ba.. Baik, Tuan,"sahut Roni.


Setelah beberapa menit menempuh perjalanan, akhirnya Aiden pun sampai di rumahnya. Pria itu tidak menemukan istrinya menyambut dirinya datang seperti biasanya. Saat masuk kedalam kamarnya, Aiden melihat Yuniar yang baru saja muncul dari balik pintu kamar mandi. Kedua sudut bibir Aiden pun tertarik ke atas.


"Hubby baru pulang?"tanya Yuniar seraya berjalan mendekati Aiden.


"Hum,"sahut Aiden.


"Hubby tidak menempel pada wanita lain, 'kan?"tanya Yuniar menisik penampilan suaminya.


"Kamu bisa mengeceknya sendiri,"sahut Aiden seraya menarik pinggang Yuniar dan mendudukkan gadis itu di atas pangkuannya.


"Hubby bau minyak. Hubby dari ngapain?"tanya Yuniar yang mengendus tubuh suaminya, menatap Aiden curiga.


"Aku hanya mengikuti permainan Brisa. Dia mengatakan memiliki kenalan yang ahli ilmu pijat refleksi. Katanya orang itu bisa menyembuhkan orang yang lumpuh. Aku mau ikut dengan dia karena ingin tahu, apakah dia akan memberikan penawar racun yang sudah di berikan ayahnya padaku melalui dokter neurologi itu atau tidak,"jawab Aiden jujur. Pria itu mencium rambut Yuniar yang harum.


"Apa sebenarnya tujuan mereka meracuni hubby?"


"Menurut prediksi ku, mereka ingin dianggap sebagai pahlawan jika bisa menyembuhkan kakiku. Dan sebagai balas budi ku pada mereka, mereka ingin Brisa menikah dengan ku. Karena jika aku menikah dengan Brisa, maka perusahaan mereka juga akan semakin maju,"jelas Aiden jujur adanya.


"Jika.. Jika hubby benar-benar sembuh oleh mereka. Apakah hubby ingin menikah dengan dia?"tanya Yuniar dengan wajah tersenyum, tapi dengan tangan yang meremas celana piyama yang di pakainya.


...🌸❤️🌸...


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2