Casanova Mati Gaya

Casanova Mati Gaya
78. Saran


__ADS_3

Yuniar membuang napas kasar karena Austin yang tidak percaya bahwa dirinya sudah bersuami, bahkan mengatakan ingin menjadikan Yuniar sebagai wanitanya.


"Maaf, saya tidak ingin menjadi wanita anda. Karena saya sudah ada yang memiliki,"sahut Yuniar terdengar datar.


"Tapi... Sayangnya saya tetap ingin menjadikan nona sebagai wanita saya,"ujar Austin tidak mau merubah pendiriannya.


Yuniar tidak lagi menanggapi perkataan Austin, karena mereka sudah tiba di tempat yang mereka tuju.


Yuniar menemani Austin makan siang dengan perasaan dongkol. Austin masih saja berusaha merayu Yuniar. Tapi sayangnya Yuniar tidak tergoda sama sekali dengan rayuan Austin. Jangankan tergoda, gadis itu malah merasa sangat kesal pada Austin.


"Ternyata, kuliner negeri ini banyak macamnya, ya?"ujar Austin setelah mereka selesai makan.


"Anda sudah selesai makan, jadi tugas saya sudah selesai. Kalau begitu, saya permisi,"ucap Yuniar hendak beranjak dari duduknya.


"Tunggu! Jika nona memang benar-benar sudah menikah, ceraikan suami nona! Jadilah wanita saya! Saya akan memberikan apapun yang nona mau, asal nona mau menjadi wanita saya,"ucap Austin dengan wajah serius.


Yuniar tersenyum dingin mendengar perkataan Austin.


"Apa anda pikir sebuah pernikahan itu adalah permainan? Saya menikah dengan suami saya menjalin ikatan suci yang tidak bisa di putuskan begitu saja. Kami telah bersumpah kepada Tuhan untuk tetap saling mencintai dalam suka dan duka sampai maut memisahkan kami. Saya tidak akan menceraikan suami saya dan berpaling pada anda ataupun laki-laki lain. Anda tergolong tampan dan kaya. Tapi, sayangnya, anda bukan tipe saya. Lebih baik anda mencari wanita lain yang masih singel. Jangan merendahkan harga diri anda dengan menjadi perebutan istri orang. Menjauh lah dari saya!"ujar Yuniar dengan wajah dingin dan menekan setiap kata-katanya.


Austin malah tersenyum mendengar perkataan dan melihat ekspresi Yuniar.


"Saya semakin suka pada nona. Nona seperti magnet yang terus menarik saya. Bagaimana caranya agar saya bisa menjauh dari nona?"tanya Austin penuh senyuman,"Jika nona menjadi wanita saya, nona tidak perlu bekerja seperti sekarang. Saya akan memberikan apapun yang nona minta. Nona bisa shopping dan pergi kemanapun nona suka. Tugas nona hanya melayani saya saja,"ujar Austin yang seolah tidak peduli dengan apa yang dikatakan oleh Yuniar barusan.


Yuniar membuang napas kasar menghadapi Austin yang seperti tidak mengindahkan perkataannya. Yuniar benar-benar kesal menghadapi pria bule di depannya itu.


"Saya bukan tipikal wanita yang suka shopping dan ongkang-ongkang kaki. Saya suka bekerja dan menjadi wanita mandiri. Saya tidak mau bergantung pada laki-laki sepenuhnya. Jadi, saya bukan tipe idaman anda,"sahut Yuniar.


"Okey, jika nona ingin menjadi wanita karir, saya juga akan mendukung nona. Sudah saya katakan, apapun keinginan nona pasti saya turuti, asalkan nona mau menjadi wanita saya,"ujar Austin yang tetap tidak mau menyerah pada Yuniar.

__ADS_1


"Apapun yang terjadi, saya tidak akan pernah berpaling dari suami saya. Apalagi meninggalkan suami saya untuk menjadi wanita Tuan,"ucap Yuniar berusaha menahan emosi menghadapi pria di depannya itu.


"Bagaimana jika suami nona yang meninggalkan nona? Akan saya buat suami nona meninggalkan nona sehingga nona tidak memiliki pilihan selain datang ke pelukan saya,"ujar Austin tersenyum miring.


"Saya tidak akan pernah membiarkan suami saya meninggalkan saya sampai kapanpun. Kecuali saya tidak lagi bernapas dan nyawa saya tidak lagi berada di raga saya. Kalau pun suami saya lebih dulu di panggil-Nya, saya juga tidak akan menikah dengan pria seperti anda. Saya harus kembali bekerja. Saya permisi!"ucap Yuniar langsung bangkit dari duduknya. Tidak ingin lagi meladeni Austin yang semakin membuat dirinya kesal dan emosi.


"Saya akan mengantarkan nona,"ucap Austin ikut beranjak dari duduknya.


"Tidak perlu. Saya bisa kembali ke kantor sendiri,"tolak Yuniar dengan nada yang agak tinggi karena sudah merasa jengah dengan Austin. Dan tentu saja suara Yuniar yang agak tinggi dengan ekspresi suram itu mengundang perhatian orang-orang di sekitar mereka.


"Terimakasih sudah menemani saya makan siang. Saya sangat berharap bisa mendapatkan kesempatan untuk makan bersama nona lagi,"ujar Austin penuh senyuman.


Melihat tatapan mata orang-orang yang ada di sekitar mereka, Austin tidak lagi berani memaksa Yuniar.


Yuniar tidak menghiraukan perkataan Austin. Gadis itu berjalan cepat meninggalkan tempat itu.


Austin tersenyum melihat Yuniar yang langsung masuk ke dalam taksi yang kebetulan baru saja menurunkan penumpang.


Yuniar membuang napas kasar setelah duduk di dalam taksi. Gadis itu memijit pelipisnya sendiri.


"Astagaa.. Kenapa bisa ada orang yang sangat menyebalkan seperti itu. Tekanan darah ku bisa naik jika terlalu lama bersama pria bule itu,"gerutu Yuniar di dalam hati.


Tidak jauh dari tempat Yuniar menaiki taksi, seorang pria yang merupakan anak buah Roni pun langsung menghubungi Roni.


"Tuan, nyonya sudah pergi. Nyonya menaiki taksi. Sepertinya nyonya sangat kesal dan marah. Saya akan mengikutinya dari jauh,"ujar pria yang duduk di motornya itu, kemudian menutup teleponnya dan bergegas menyusul Yuniar.


*


Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, akhirnya Yuniar tiba juga di kantor suaminya. Yuniar merasa lega bisa kembali lagi ke kantor itu.

__ADS_1


"Eh, Yun. Kamu baru kembali?"sapa Melda saat berpapasan dengan Yuniar di lobby.


"Ah, iya, Bu,"sahut Yuniar tersenyum tipis.


"Bagaimana makan siangnya? Kok, muka kamu kelihatan kusut begitu? Apa ada sesuatu yang membuat kamu kesal?"tanya Melda yang selalu kepo.


"Bule itu menyebalkan sekali, Bu. Sudah saya bilang, jika saya ini sudah menikah. Tapi, bule itu malah terang-terangan ingin mendekati saya. Dia tidak percaya kalau saya sudah menikah. Bule itu malah mengatakan, jika saya benar-benar sudah menikah, dia meminta saya untuk menceraikan suami saya. Dia bahkan mengancam saya akan membuat suami saya meninggalkan saya,"jelas Yuniar yang malah curhat kepada Melda untuk mengeluarkan kekesalannya karena Austin tadi.


Yuniar tidak takut jika Melda menggosipkan dirinya. Karena walaupun Melda suka kepo, Melda tidak akan menjadikan informasi yang di dapatkan nya dari kekepoan nya itu sebagai gosip. Melda tahu mana yang perlu diberitahukan pada orang lain dan mana yang harus di simpannya sendiri. Karena itulah, tidak ada orang yang merasa benci pada Melda di kantor itu. Walaupun mereka agak terganggu dengan jiwa kepo Melda yang tingkat tinggi, stadium akhir itu.


"Haishh.. Benar-benar, ya, si bule itu! Pengen saya geprek juga itu bule. Zaman sekarang pelakor dan pebinor memang nggak punya malu dan nekat-nekat. Seperti tidak ada orang singgel lagi aja di dunia ini. Lebih suka istri atau suami orang. Mereka berpikir, istri atau suami orang itu lebih menantang untuk di kejar. Huhh.. Sekarang ini benar-benar zaman edan,"


"Sabar, ya, Yun! Ini adalah ujian bagi kamu dan suami kamu. Maaf, jika saya lancang. Saran saya, lebih baik kamu dan suamimu jangan menyembunyikan pernikahan kalian lagi. Apalagi dari keluarga kalian sendiri. Biar pernikahan kalian tentram dan di jauhkan dari gangguan orang ke tiga. Baik terhadap kamu maupun suami kamu,"


"Apalagi, kamu bilang suami kamu juga tampan. Bukan tidak mungkin banyak wanita yang tertarik pada suami kamu dan berniat mengejar suami kamu. Jika kalian mengumumkan status pernikahan kalian ke publik, maka akan memperkecil kemungkinan hadirnya orang ke tiga yang datang untuk menggoda kamu ataupun suami kamu. Maaf, jika saya lancang. Sebagai rekan kerja dan sesama wanita, saya hanya ingin kehidupan rumah tangga kamu bahagia,Yun,"ucap Melda tulus karena merasa prihatin pada Yuniar.


"Iya, Bu. Tidak apa-apa. Saya tahu, jika ibu bermaksud baik,"sahut Yuniar yang hanya bisa menghela napas panjang.


"Ya sudah. Saya ada urusan sebentar. Kamu pergi ke ruangan Tuan Aiden dulu. Kamu susun dokumen yang ada di atas meja kerja saya ke dalam lemari di ruangan Tuan Aiden. Tuan Aiden masih berada di luar kantor. Menurut jadwal, Tuan Aiden akan kembali satu jam lagi. Jadi, kamu langsung masuk saja ke ruangan Tuan Aiden. Setelah selesai menyusun dokumen, kamu masukkan data-data dari berkas-berkas yang sudah saya letakkan di atas meja kamu kedalam file yang kemarin,"ujar Melda setelah melirik arloji di pergelangan tangannya.


"Baik, Bu,"sahut Yuniar yang sedikit merasa lega setelah bicara dengan Melda.


"Okey, kalau begitu, saya pergi dulu. Jangan lupa pesan saya tadi, ya!"ujar Melda mengingatkan.


"Iya, Bu,"sahut Yuniar.


...🌸❤️🌸...


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2