Casanova Mati Gaya

Casanova Mati Gaya
67. Latihan Ganda


__ADS_3

Yuniar duduk di sebelah Melda mengerjakan tugas yang di berikan oleh Melda dengan serius dan teliti.


Melda sedikit melirik Yuniar yang nampak fokus pada pekerjaannya.


"Ada hubungan apa Pak Roni dengan gadis ini? Selama bekerja dengan Pak Roni, belum pernah dia memasukkan orang ke perusahaan ini melalui koneksinya. Memang, sih! Gadis ini cantik. Bahkan cantik alami. Membuat orang yang melihat nya tidak merasa bosan. Di poles make-up sedikit saja, pasti akan bertambah cantik. Gadis ini juga terlihat penuh semangat dan ramah. Semoga saja pekerjaan nya juga tidak mengecewakan,"gumam Melda dalam hati.


Beberapa menit kemudian, Yuniar sudah selesai mengerjakan pekerjaan yang di berikan oleh Melda.


"Ini, Bu. Semuanya sudah saya selesaikan. Tolong ibu periksa lagi. Jika ada kesalahan, akan segera saya perbaiki,"ucap Yuniar sambil menyerahkan tugas yang diberikan oleh Melda tadi di atas meja kerja Melda.


"Cepat sekali. Saya senang jika kamu bisa mengerjakan pekerjaan yang saya berikan dengan cepat. Tapi, saya tidak suka jika kamu melakukan kesalahan, apalagi kalau banyak,"ujar Melda yang merasa Yuniar mengerjakan tugas yang di berikannya tadi terlalu cepat dari prediksinya.


"Saya sudah memeriksanya kembali, Bu. Dan saya rasa, saya sudah mengerjakannya dengan benar,"sahut Yuniar jujur adanya.


Melda memeriksa kembali apa yang sudah dikerjakan oleh Yuniar. Kedua sudut bibir wanita paruh baya itu pun terangkat ke atas setelah memeriksa pekerjaan Yuniar.


"Bagus sekali. Saya tidak menyangka kamu bisa mengerjakan tugas yang saya berikan dengan cepat dan tanpa kesalahan sedikit pun. Saya salut sama kamu, Yun. Bahkan kecepatan kamu dalam mengerjakan tugas ini hampir sama dengan saya yang sudah berpengalaman di bidang ini selama bertahun-tahun,"puji Melda yang puas dengan hasil pekerjaan Yuniar.


"Ah, mana bisa saya di bandingkan dengan ibu yang sudah memiliki jam terbang tinggi di bidang ini. Ibu terlalu merendah dan terlalu memuji saya,"sahut Yuniar tersenyum tipis.


"Saya bicara apa adanya. Pantas saja Pak Roni spesial memasukkan kamu di perusahaan ini. By the way, kamu ada hubungan apa dengan Pak Roni?"tanya Melda penasaran.


"Hanya kenal saja, kok, Bu,"sahut Yuniar menjawab sekenanya saja.


Yuniar tidak bisa mengatakan pada Melda, jika Roni adalah asisten suaminya. Karena Aiden mengakui dirinya sebagai istri hanya di rumah saja.


"Hanya kenal? Tapi kamu sampai di masukkan ke perusahaan ini menggunakan koneksi Pak Roni. Kamu pacaran sama Pak Roni, ya?"selidik Melda memicingkan matanya. Melda merasa tidak mungkin Roni sampai memasukkan orang untuk bekerja di perusahaan itu hanya karena kenal biasa saja.


"Ah, itu tidak mungkin, Bu. Saya sudah memiliki suami,"sahut Yuniar apa adanya.


"Ah, yang benar? Kamu masih muda seperti ini sudah bersuami?"tanya Melda tidak percaya.


"Benar, Bu. Saya sudah bersuami,"jawab Yuniar jujur.


"Kalau sudah bersuami, kenapa tidak memakai cincin kawin?"tanya Melda yang tidak melihat cincin kawin di jari Yuniar,"Saat saya memeriksa biodata kamu, kamu juga masih singel,"


"Ah, saya baru menikah, Bu. Bahkan KTP saya belum di rubah. Dalam KTP, saya masih berstatus singel,"sahut Yuniar yang agak tersentil dengan pertanyaan Melda. Pasalnya, sudah beberapa bulan Yuniar menikah dengan Aiden, tapi sampai saat ini mereka belum memiliki cincin kawin. Bahkan harus merahasiakan hubungan mereka.


"Oh, begitu, ya. Suami kamu bekerja di mana?"tanya Melda semakin kepo.


"Suami saya berwirausaha, Bu,"sahut Yuniar yang jadi risih dengan ke kepoan Melda yang tingkat tinggi.

__ADS_1


"Wirausaha apa?"tanya Melda yang semakin penasaran.


"Ah, Bu. Saya izin ke toilet dulu, ya,"pamit Yuniar yang tidak ingin ditanyai lebih banyak lagi oleh Melda


"Oh, iya. Silahkan!"ucap Melda yang sebenarnya masih penasaran dengan Yuniar.


"Huff.. Bu Melda kepo banget, sih? Sudah seperti tim investigasi saja. Aku, 'kan, jadi bingung harus menjawab apa?"gerutu Yuniar dalam hati hanya bisa menghela napas panjang sambil berjalan ke arah toilet.


Beberapa saat kemudian, Yuniar pun sudah kembali ke meja kerjanya yang berada di sebelah Melda.


"Yun, kamu kerjakan yang ini, ya!"pinta Melda seraya meletakkan beberapa berkas di meja Yuniar.


"Iya, Bu,"sahut Yuniar seraya menyibak rambutnya yang panjang ke belakang dan menyelipkan rambutnya itu di telinganya.


"Astagaa.. Yun!"ucap Melda dengan mata yang membulat, lalu menutup mulutnya sendiri. Wanita paruh baya itu melihat ke arah leher dan dada Yuniar.


"A.. Ada apa, Bu?"tanya Yuniar yang jadi bingung melihat ekspresi Melda.


"Yun, apa tadi pagi kamu dari latihan ganda dengan suamimu?"tanya Melda dengan suara kecil.


Yuniar mengernyitkan keningnya karena tidak mengerti dengan apa yang di maksud Melda.


"Ya, Tuhan.. Kamu, kok, polos banget, sih, Yun? Latihan ganda, Yun. Ngadon. Kamu sama suami kamu olahraga panas di atas ranjang, berusaha membuat bayi yang mungil dan lucu. Lihat, tuh, leher kamu ada stempelnya. Dada kamu kelihatan nya juga banyak stempelnya,"ujar Melda melihat leher Yuniar dan juga dada Yuniar yang kancing kemeja ketiga dari atas terlepas.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Melda, dan melihat arah tatapan Melda, Yuniar pun segera mengancingkan kemejanya dan menutup dadanya dengan menggerai rambutnya ke depan. Wajah Yuniar jadi memerah karena malu.


"Suami kamu ganas, ya, Yun. Dia pasti senang jadi bayi besar yang suka menyusu. Dada kamu besar, sih. Suami kamu pasti gemas,"ujar Melda yang semakin membuat wajah yuniar semakin memerah. Apalagi jika Yuniar mengingat kejadian di ruangan suaminya tadi.


Beberapa jam yang lalu...


"Hubby, jangan!"cegah Yuniar saat tiba-tiba Aiden mengeluarkan salah satu benda kenyal miliknya.


"Biarkan aku menikmatinya sebentar, baby,"ucap Aiden seraya melepaskan pegangan tangan Yuniar di tangannya.


"Tapi, By.."Yuniar tidak bisa melanjutkan kata-katanya saat Aiden langsung meraup bibir Yuniar dengan bibirnya. Yuniar tidak bisa lagi menolak. Gadis itu hanya bisa menikmati sentuhan bibir suaminya yang terasa memabukkan itu.


Bahkan saat Aiden kembali menyesap lehernya, Yuniar juga tidak menyadari nya karena terlena dengan kenikmatan yang diberikan oleh suaminya.


"By, Jagan.. "cegah Yuniar saat Aiden mengeluarkan dua benda kenyal di dadanya dari balik pakaian dalamnya.


"By.."

__ADS_1


Aiden langsung melahap benda lembut nan kenyal milik istrinya itu. Tidak ingin mendengar penolakan istrinya lagi. Aiden benar-benar ingin menikmati dua benda kembar itu.


"H.. Hubby..."Yuniar meremas rambut Aiden saat pria itu menyusu padanya layaknya seorang bayi yang sedang kehausan. Sesekali pria itu menjilat dan menyesap kulit putih di area dada Yuniar, lalu kembali menyusu dengan tangan yang meremas lembut benda kenyal itu. Menikmati dua benda kembar itu bergantian.


Yuniar menggigit bibirnya sendiri agar tidak mengeluarkan suara. Meremas rambut suaminya menahan rasa nikmat, dan geli yang bercampur menjadi satu. Posisi Yuniar yang berada di atas pangkuan Aiden membuat Aiden leluasa menyentuh tubuh Yuniar.


"Hubby.. Ahh.."desahh Yuniar tidak bisa di kendalikannya lagi.


"Tok! Tok! Tok!"


Suara ketukan pintu itu membuat Yuniar reflek mendorong kepala Aiden yang sedang asyik menyusu itu. Yuniar bergegas turun dari pangkuan Aiden untuk merapikan pakaian nya. Aiden berdecak kesal menatap ke arah pintu.


"Baby, rapikan pakaian dan rambut kamu di ruangan pribadi ku!"titah Aiden.


"Iya,"sahut Yuniar bergegas masuk ke ruangan Aiden.


Aiden merapikan penampilannya, lalu mempersilahkan orang yang kembali mengetuk pintu itu masuk.


"Maaf, Tuan. Tadi saya menyuruh seorang pemagang untuk merapikan berkas-berkas di meja Tuan. Apa Tuan melihat pemagang itu?"tanya Melda yang tidak melihat Yuniar sejak terakhir kali mengantar Yuniar ke ruangan Aiden. Melda nampak menelisik menatap seluruh ruangan itu mencari keberadaan Yuniar.


"Nah, 'kan? Bu Melda benar-benar mencari ku. Hubby, sih! Di kantor juga masih sempat-sempatnya mau begituan,"gerutu Yuniar seraya membenahi rambut dan pakaiannya.


"Oh, gadis itu. Aku menyuruh dia membersihkan toilet di ruangan pribadi ku,"jawab Aiden asal.


"Membersihkan toilet? Kenapa tidak memanggil cleaning service saja, Tuan?"tanya Melda yang merasa aneh karena Aiden menyuruh pemagang untuk membersihkan toilet.


"Aku tadi tidak sengaja menumpahkan sabun cair. Saat aku ingin memanggil cleaning service, dia berinisiatif untuk membersihkannya. Ya, sudah, aku biarkan saja,"sahut Aiden yang menyadari alasannya tadi tidak masuk akal.


"Oh, ternyata begitu,"sahut Melda.


"Nanti setelah dia menyelesaikan pekerjaannya, aku akan menyuruh dia menemui kamu. Jika tidak ada lagi yang ingin kamu tanyakan, kembalilah ke tempat mu! Aku masih banyak pekerjaan,"titah Aiden yang tidak ingin Melda bertanya lagi. Aiden tahu benar jika Melda adalah orang yang kemaks, alias kepo maksimal.


"Ah, iya, Tuan. Maaf menganggu. Kalau begitu saya pamit,"ucap Melda kemudian keluar dari ruangan itu.


Aiden hanya bisa membuang napas kasar melihat Melda yang menghilang di balik pintu.


...🌸❤️🌸...


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2