Casanova Mati Gaya

Casanova Mati Gaya
40. Mengagumi Tanpa Memiliki


__ADS_3

Waktu terus berputar dan hari pun terus berganti. Yuniar belajar materi kuliahnya dengan tekun dan terus memperdalam ilmu pijat refleksi dari Dikra. Yuniar juga giat berolahraga untuk memperindah bentuk tubuhnya dan memakai skincare yang diberikan oleh Aiden secara teratur.


Yuniar semakin rajin merawat diri untuk menyenangkan hati suaminya. Kata-kata Aiden yang mengatakan Aiden tidak tertarik melihat dadanya yang kurang besar membuat Yuniar bertekad untuk memperbesar ukuran dadanya, bahkan memperindah bentuk tubuhnya.


Yuniar menghampiri Dikra yang sedang duduk di kursi taman sendirian seraya membaca buku. Dikra tersenyum lembut saat melihat Yuniar akan duduk di sebelahnya.


"Hai, Dik!"sapa Yuniar dengan wajah cerianya.


"Hai, Yun! Tambah cantik aja,"puji Dikra yang memang tulus dari dalam hati.


Semakin hari Yuniar memang semakin cantik. Walaupun tidak pernah memakai make-up seperti mahasiswi lainnya. Hanya skincare yang di tutupi bedak tipis dan olesan lips balm di bibirnya. Alis gadis itu pun hanya dirapikan saja. Namun wajah gadis itu benar-benar memancarkan aura cantik yang terlihat alami dan membuat semua mata yang menatapnya iri.


Yuniar semakin hari memang terlihat semakin cantik karena rutin berolahraga, makan makanan sehat dan memakai skincare yang diberikan Aiden secara rutin hingga membuat kulit gadis itu semakin segar dan glowing saja.


"Ih, gombal kok, sama teman sendiri. Sama cewek lain, sana! Aku lihat banyak yang curi-curi pandang sama kamu, tuh,"ujar Yuniar yang memang benar adanya.


"Bagaimana mereka berani mendekati aku, kalau kamu nya aja nempel terus sama aku,"sahut Dikra dengan ekspresi wajah tidak berdaya.


"Ih, siapa juga yang suka nempel sama situ? GR, ya?"sahut Yuniar kemudian terkekeh.


"GR dikit nggak apa-apa,'kan?"sahut Dikra dengan senyuman.


Sebenarnya memang banyak mahasiswa yang tertarik pada Yuniar dan mahasiswi yang tertarik pada Dikra. Tapi karena akhir-akhir ini Yuniar dan Dikra terlihat akrab dan sering bersama, para mahasiswa dan mahasiswi di kampus itu menyangka kedua orang itu memiliki hubungan spesial sebagai pasangan kekasih. Hingga para mahasiswa dan mahasiswi itu jadi enggan untuk mendekati Dikra dan Yuniar.


"Dik, mau nanya lagi, dong,"ujar Yuniar seraya membuka sebuah buku tentang pijat refleksi.


"Boleh,"sahut Dikra yang selalu tersenyum lembut pada Yuniar.


Yuniar menunjuk ke arah gambar yang ada di buku itu. Kedua orang itu membicarakan tentang titik-titik pijat refleksi. Dikra menjelaskan tentang beberapa hal yang tidak dimengerti oleh Yuniar dalam buku itu.

__ADS_1


"Kamu cerdas sekali. Kamu bisa mempelajari ilmu pijat refleksi dengan waktu yang sangat cepat. Kalau seperti ini, kamu bisa menjadi orang yang ahli dalam pijat refleksi yang lebih handal dari aku,"puji Dikra yang merasa kagum dengan Yuniar yang tergolong sangat cepat dalam belajar ilmu pijat refleksi.


'Ini semua karena buku panduan yang kamu pinjamkan padaku dan kamu juga mau mengajari serta melatih aku dengan telaten. Kamu mengajarkan semuanya secara detail, hingga aku mudah mengerti,"sahut Yuniar.


"Tidak. Kamu benar-benar pintar, kok. Kamu bisa mengerti hanya dengan membaca buku panduan yang aku pinjamkan. Kamu hanya bertanya sedikit-sedikit padaku,"ujar Dikra yang memang benar adanya.


"Ah, kamu terlalu memuji ku. Aku takut nanti jadi besar kepala,"sahut Yuniar tersenyum tipis.


"Aku nggak memuji kamu. Aku hanya mengatakan kebenarannya saja,"tampik Dikra yang memang benar adanya.


"Bisa aja kamu. Oh, ya, Dik, buku yang kamu pinjamkan itu detail sekali. Aku jadi mudah mengerti saat mempelajari nya. Ngomong-ngomong, buku itu di tulis dengan tulisan tangan. Apa buku itu buku catatan pribadi milik keluarga kamu? Aku pernah iseng-iseng mencari buku pijat refleksi, tapi tidak ada yang sedetail buku yang kamu pinjamkan padaku,"ujar Yuniar mengalihkan pembicaraan.


Dikra tersenyum lembut mendengar pertanyaan Yuniar.


"Kamu ingin tahu sejarah tentang buku itu?"tanya Dikra dengan senyuman lembutnya yang khas.


"Hum,"sahut Yuniar terlihat antusias.


"Ternyata sudah lama sekali. Huruf Hanzi? Tulisan cina, ya?"


"Iya. Hanzi adalah huruf Mandarin atau disebut juga aksara Han atau aksara Tionghoa. Hanzi merupakan salah satu sistem penulisan tertua di dunia yang digunakan secara terus-menerus. Aksara Han atau Aksara Tionghoa adalah aksara morfemis yang digunakan dalam penulisan bahasa Tionghoa dan beberapa bahasa di Asia. Dalam Bahasa Tionghoa dinamakan Hanzi,"jelas Dikra.


"Ohh.. Begitu. Lalu, bagaimana ceritanya hingga buku itu bisa di tulis dalam bahasa Indonesia?"tanya Yuniar penasaran.


"Dulu waktu masih gadis, ibuku sangat tertarik pada ilmu pijat refleksi seperti kamu. Ayahku menaruh hati pada ibuku. Untuk mendapatkan hati ibuku, ayahku menulis ulang buku peninggalan leluhur ku itu menggunakan bahasa Indonesia agar ibuku bisa mempelajari ilmu pijat refleksi dengan mudah,"


"Ayahku meminjamkan buku itu pada ibuku dan mengajari ibuku tentang ilmu pijat refleksi. Hal itu membuat mereka sering bertemu dan semakin dekat. Dan perjuangan ayahku ternyata tidak sia-sia. Ibuku akhirnya jatuh cinta pada ayahku karena inten nya mereka bertemu dan berinteraksi,"jelas Dikra dengan senyuman lembut nya yang khas.


"So sweet banget. Ayahmu rela menulis buku setebal itu demi mendapatkan hati ibumu,"ujar Yuniar merasa kagum pada ayah Dikra.

__ADS_1


"Iya. Akhirnya ayahku bisa mendapatkan ibuku melalui buku itu. Tapi, nasibku berbeda dengan ayahku, aku tidak bisa mendapatkan hati kamu dengan buku itu. Karena aku kalah cepat, kamu sudah keburu ada yang memiliki. Aku hanya bisa mengagumi tanpa bisa memiliki. Mungkin aku harus menunggu jandamu agar aku bisa memiliki mu,"ujar Dikra tertawa hambar.


"Kamu bisa aja bercandanya,"sahut Yuniar ikut tertawa.


Yuniar menganggap bahwa Dikra hanya sekedar bercanda. Karena dari awal Yuniar sudah mengatakan pada Dikra bahwa dirinya sudah bersuami. Jadi, Yuniar merasa tidak mungkin Dikra menyukai dirinya.


Sedangkan Dikra, jujur sejak pertama kali mengenal Yuniar, Dikra sudah langsung suka pada Yuniar. Namun sayangnya perasaan suka yang baru saja muncul itu harus langsung di buang jauh-jauh karena Yuniar mengaku sudah ada yang punya.


Namun seiring berjalannya waktu dan seringnya bertemu, Dikra semakin mengagumi Yuniar karena Yuniar yang supel, pintar dan juga rendah hati. Apalagi semakin hari, wajah Yuniar terlihat semakin cantik saja di mata Dikra. Dikra juga yakin, Yuniar menyembunyikan bentuk tubuhnya yang indah di balik pakaiannya yang selalu longgar itu. Hingga terkadang ada pemikiran jahat di hati Dikra ingin Yuniar berpisah dengan suaminya agar dirinya bisa mendekati Yuniar dan suatu hari bisa memiliki Yuniar.


Apa Dikra salah jika menaruh hati pada Yuniar? Dikra tidak salah, cinta memang terkadang datang di waktu yang kurang tepat. Atau dengan kata lain pada orang yang tidak tepat. Karena kita tidak bisa men-setting hati kita harus kapan, di mana, bagaimana dan pada siapa harus jatuh cinta.


Sebagai manusia normal, naksir atau mencintai lawan jenis itu adalah hal yang lumrah. Namun, terkadang kita memang harus menerima fakta yang ada di depan mata. Fakta apa? Fakta bahwa kita sebagai insan yang memiliki budi pekerti luhur dan mengerti adab, norma dan agama tidak boleh merebut apa yang sudah dimiliki oleh orang lain.


Karena predikat sebagai pelakor ( perebut laki orang) atau pebinor ( perebut bini orang) bukanlah suatu hal yang bisa di banggakan. Menjadi pelakor atau pebinor hanya akan merendahkan martabak, eh merendahkan martabat dan harga diri sebagai seorang pria atau wanita. Seolah tidak laku hingga tidak mampu mencari yang singel dan harus merebut milik orang lain.


"Thanks, ya. Kamu sudah mengizinkan aku mengcopy buku itu. Padahal, buku itu sangat berharga bagi keluarga kamu,"ucap Yuniar tulus,"Bagaimana caranya agar aku bisa membalas kebaikan kamu ini?"tanya Yuniar serius.


"Serius kamu ingin membalas kebaikanku?"tanya Dikra tersenyum penuh arti.


...🌟🌟🌟...


..."Egoisnya aku, saat aku mendoakan kesedihan datang padamu agar aku bisa membawakan kebahagiaan untuk mu."...


..."Cinta itu luar biasa, bisa melukai tanpa terlihat oleh mata."...


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❀️🌸...

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2