Casanova Mati Gaya

Casanova Mati Gaya
25. Dibalikkan


__ADS_3

Aiden berada di dalam mobilnya yang melaju menuju rumahnya. Mantan Casanova itu menatap obat yang baru saja diberikan oleh dokter.


"Kenapa obat-obatan ini tidak ada bungkusnya sama seperti kemarin? Dan kenapa setiap kali memberi obat nggak ngasih resep untuk di tebus di apotek, tapi malah dokter itu sendiri yang memberikannya secara langsung? Aku tidak tahu, obat apa saja yang diberikan oleh dokter itu padaku. Ular kobra ku bisa berdiri lagi karena obat yang dia berikan? Bahkan semenjak pertama kali dia memberikan obat itu, aku tidak meminumnya,"gumam Aiden dalam hati.


Sejak berada di rumah sakit sampai keluar dari rumah sakit, Aiden sama sekali tidak meminum obat yang diberikan dokter itu. Aiden merasa mual setiap kali mencium bau obat-obatan yang diberikan oleh dokter. Karena itu Aiden membuang obat yang seharusnya diminumnya.


"Ron, besok, tolong kamu cek di laboratorium, apa saja fungsi obat-obatan yang diberikan oleh dokter tadi. Tapi, lakukan di rumah sakit lain. Jangan sampai ada yang tahu jika aku mencari tahu tentang obat-obatan itu,"pinta Aiden yang entah mengapa merasa penasaran dengan fungsi obat yang diberikan oleh dokter tadi.


Selain karena obat yang diberikan oleh dokter itu tidak ada bungkusnya, sehingga Aiden tidak bisa mencari tahu di internet tentang obat yang diberikan oleh dokter tadi. Aiden juga merasa curiga karena biasanya dokter memberikan resep untuk di tebus di apotek.


"Ba.. Ba.. Baik. Tu.. Tuan,"sahut Roni.


"Kenapa Tuan ingin memeriksa obat-obatan yang diberikan oleh dokter itu? Dan kenapa tadi Tuan mendadak minta di antar ke rumah sakit? Apa yang sebenarnya terjadi pada Tuan? Kenapa kali ini aku merasa Tuan seperti menyembunyikan sesuatu dariku? Biasanya Tuan tidak pernah menyembunyikan apapun dariku. Bahkan tadi saat berkonsultasi, Tuan tidak mau aku temani,"gumam Roni dalam hati merasa penasaran.


Sesekali Roni yang duduk di kursi penumpang di sebelah kursi kemudi itu melirik majikannya yang duduk di kursi bagian penumpang di belakang kursi kemudi. Roni tidak bisa melihat wajah majikannya dari kaca dasbor mobil, karena lampu di dalam mobil dimatikan.


Beberapa menit kemudian, Aiden sudah sampai di rumahnya. Roni mendorong kursi roda majikannya ke arah kamar majikannya.


Saat akan masuk ke dalam kamarnya, pria itu melirik ke arah pintu kamar istrinya. Bayangan istrinya yang membuka baju pun kembali berputar di memori otaknya. Aiden membuang napas kasar mengingat itu semua.


Setelah Roni keluar dari kamarnya, Aiden duduk bersandar di headboard ranjang. Berkali-kali pria itu menghela napas.


"Sial! Sudah banyak wanita yang aku tiduri. Tidak pernah sekalipun aku terbayang dengan tubuh mereka. Tapi, tubuh Yuniar.. Aku sama sekali tidak bisa melupakan setiap lekuk dari tubuhnya,"gumam Aiden dengan ekspresi frustasi mengacak-acak rambutnya sendiri.


Malam itu, sepasang suami-isteri pengantin baru yang pisah ranjang dan kamar itu sama-sama tidak bisa tidur. Tapi dengan alasan yang berbeda.


Yuniar tidak bisa tidur karena memikirkan bagaimana caranya memperindah seluruh tubuhnya dan bagaimana caranya menggoda suaminya. Sedangkan Aiden tidak bisa tidur karena selalu terbayang-bayang tubuh istrinya yang membuat ular kobra nya menjadi rewel.


Bulan telah kembali ke peraduannya. Sang fajar pun mulai menunjukkan dirinya. Langit yang tadinya gelap, berangsur-angsur menjadi terang.


Yuniar sudah selesai membersihkan dirinya dan bergegas menuju kamar suaminya. Wanita yang sudah bersuami, tapi masih perawan ting-ting itu masuk ke dalam kamar suaminya setelah mengetuk pintu dan mendengar suaminya mempersilahkan masuk.


Aiden yang sedang mengecek handphonenya itu melihat siapa yang masuk ke dalam kamarnya. Seorang suami yang semalaman sulit memejamkan matanya, karena lebih mementingkan egonya yang tinggi dan memutuskan menahan diri untuk tidak memenuhi kebutuhan biologisnya itu membuang napas kasar saat melihat gadis yang sudah membuat ular cobra nya bangun dan sulit ditidurkan itu masuk ke dalam kamarnya dengan senyuman tipis di bibirnya.


"Aku pikir pagi ini dia tidak akan menemui aku karena marah setelah mendengar kata-kata tajam ku semalam. Tapi, pagi ini dia malah tersenyum menebarkan pesona,"gumam Aiden dalam hati seraya membuang napas kasar.

__ADS_1


"Selamat pagi, Tuan. Saya akan membantu Tuan mandi,"ucap Yuniar tersenyum lembut seraya mendekati Aiden.


Aiden tidak mengatakan apapun. Pria itu meletakkan handphonenya di atas nakas dan membiarkan Yuniar membantunya untuk duduk di atas kursi roda.


Yuniar mendorong kursi roda Aiden ke kamar mandi. Gadis itu melepaskan pakaian Aiden dan hanya menyisakan celana boxer Aiden saja.


Berbeda dari sebelumnya, kali ini Yuniar membantu Aiden membersihkan diri tanpa rasa canggung sama sekali. Bahkan wajah gadis itu tidak merona merah seperti sebelumnya.


Namun, apa Yuniar benar-benar tidak merasa malu atau canggung lagi pada Aiden?


Seperti mie instan yang bahkan tidak benar-benar instan, karena harus direbus dan dicampur dengan bumbu dulu baru bisa dinikmati, begitu pula dengan Yuniar. Gadis itu tidak henti-hentinya membaca mantra di dalam hatinya.


"Sakit suami ku, berarti adalah sakit ku. Tubuh suamiku, berarti adalah tubuh ku. Jadi aku tidak perlu merasa canggung apalagi malu menyentuh tubuh suamiku. Tubuh suamiku adalah milikku,"gumam Yuniar dalam hati, tidak berhenti men sugesti dirinya sendiri.


Gadis itu menggosok tubuh suaminya dengan kekuatan yang pas. Tidak terlalu lembut dan juga tidak terlalu kasar, hingga Aiden merasa nyaman.


Walaupun merasa Yuniar berbeda dari sebelumnya, Aiden tidak berani berkata apapun. Bahkan pria itu nampak enggan menatap Yuniar. Tidak ingin ular kobranya bagun lagi dan menyiksa dirinya seperti semalam. Walaupun sesekali matanya melirik ke arah istrinya tanpa bisa dikontrolnya. Namun, nyatanya sikap Aiden itu malah diartikan lain oleh Yuniar.


"Aku lupa jika suamiku adalah seorang Casanova petualang cinta. Tidak tahu sudah berapa banyak tubuh wanita yang sudah dilihat dan dinikmatinya. Dan para wanita itu, pasti adalah wanita yang cantik dan seksi. Tapi, apa tubuhku benar-benar tidak menarik sama sekali di mata suami ku sendiri? Hingga setelah melihat tubuh ku semalam, sekarang dia terlihat sangat enggan untuk menatapku. Aku harus bisa merubah penampilanku. Membuat tubuhku menggoda, dan menggairahkan di matanya. Tampil secantik mungkin tanpa harus menghilangkan jati diri ku sendiri,"gumam Yuniar dalam hati penuh tekad.


Sungguh gadis yang sangat teramat keras kepala dan memiliki keteguhan hati yang tidak bisa diragukan, apalagi dianggap remeh.


"Greb"


"Biar aku yang melanjutkannya. Siapkan saja pakaian ku! Aku akan pergi ke kantor,"ujar Aiden, kemudian melepaskan tangan Yuniar.


"Baik,"sahut Yuniar, tersenyum lembut, kemudian keluar dari kamar mandi itu dan bergegas menyiapkan pakaian suaminya.


Aiden membuang napas kasar setelah Yuniar keluar dari kamar mandi itu. Melanjutkan membersihkan diri, terutama di bagian inti tubuhnya.


"Apa dia jadi mati rasa padaku karena semua kata-kata ku semalam, hingga pagi ini dia tidak terlihat canggung, apalagi malu sama sekali? Dia malah tersenyum lembut padaku,"gumam Aiden dalam hati.


Tak berapa lama kemudian, Aiden pun keluar dari kamar mandi menunju walk in closet. Yuniar sudah selesai menyiapkan pakaian Aiden lengkap beserta semua aksesorisnya. Tidak ada yang kurang sama sekali.


Masih dengan senyuman lembut di bibirnya, Yuniar mendekati Aiden. Yuniar membungkuk dan tanpa ragu sedikitpun, tangan gadis itu terulur ke arah tali bathrobe yang dipakai Aiden.

__ADS_1


"Greb"


Aiden memegang tangan Yuniar yang sudah memegang tali bathrobe yang dipakainya.


"Apa gadis ini benar-benar akan membuka bathrobe yang aku pakai?"gumam Aiden dalam hati dengan mata yang menatap manik mata Yuniar yang juga menatapnya.


"Kenapa Tuan menahan saya? Saya ingin membantu Tuan memakai pakaian Tuan. Bukankah itu adalah tugas saya sebagai istri Tuan?"tanya Yuniar membalikkan kata-kata Aiden waktu itu, saat Yuniar enggan membantu Aiden memakai bajunya.


"Kamu serius?"tanya Aiden tersenyum meremehkan.


Namun sesaat setelah mengatakan kata-kata itu, Aiden menyesalinya. Sekarang dalam hati Aiden menjadi ketar ketir, takut Yuniar benar-benar akan melakukannya. Mengingat betapa keras kepalanya istrinya itu.


"Bukankah saya menikah dengan Tuan karena saya ingin merawat Tuan sepenuhnya? Lalu kenapa saya tidak yakin untuk membantu anda untuk memakai pakaian anda? Saya tidak ingin anda mengeluh tentang saya yang tidak melayani anda sepenuhnya,"ujar Yuniar kembali membalikkan kata-kata Aiden.


"Gadis ini benar-benar keras kepala dan membuat aku mati gaya,"gumam Aiden dalam hati.


"Keluar lah! Aku bisa memakai pakaianku sendiri tanpa bantuan kamu,"ujar Aiden dengan suara datar.


"Walaupun anda menolak, saya akan tetap membantu anda memakai pakaian anda. Toh, anda juga hanya bisa mengusir saya dengan kata-kata anda saja, 'kan?"cibir Yuniar membuat Aiden kehabisan kata-kata.


"Dasar gadis keras kepala!"geram Aiden yang benar-benar merasa di buat mati gaya oleh istrinya itu.


"Akhh.."


...🌟🌟🌟...


..."Tidak semua orang menjadi kerdil imajinasi karena tekanan, tidak semua orang jatuh karena hujatan. Ada beberapa orang yang menjadi semakin kuat saat di dihujat dan semakin bangkit saat di tekan."...


..."Dalam rumus fisika, tekanan itu berbanding lurus dengan gaya. Kalau kamu merasa banyak tekanan, bisa jadi itu karena kamu terlalu banyak gaya.”...


..."Di balik bakwan ada udang yang enak di makan. Tapi, dibalikkan kata-kata itu menyakitkan."...


...🌸❀️🌸...


Like n komen, dong, biar semangat. Masa yang baca empat ribu lebih, yang like cuma empat ratusan.πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2