Casanova Mati Gaya

Casanova Mati Gaya
49. Modus


__ADS_3

Mendengar pertanyaan Aiden, Yuniar pun menjadi kelabakan.


"Bu.. Bukan. Saya..."


"CK. Kenapa masih memanggil 'Tuan' lagi dan memakai bahasa formal 'saya'?"keluh Aiden yang sedari tadi mendengar Yuniar memanggil dirinya kadang 'Tuan', kadang 'By'. Masih belum konsisten memanggil 'By''.


"Saya.. Eh, aku belum terbiasa. Aku canggung memanggil dengan panggilan 'baby'. Apa boleh aku panggil hubby saja?"tanya Yuniar ragu.


"Boleh,"sahut Aiden cepat. Sekarang, kemarin lah! Kita tidur! Apa kamu benar-benar tidak ingin tidur dengan suamimu?"tanya Aiden kembali ke topik pembicaraan.


"Saya, eh, aku hanya belum pernah tidur dengan.. dengan seorang pria. Dan tidur ku sedikit brutal. Aku takut Tuan, eh hubby jatuh dari ranjang karena saya.. eh.. aku,"jawab Yuniar gugup karena harus mencari alasan yang sekiranya tidak menyinggung perasaan Aiden.


Yuniar tidak ingin mengatakan alasan yang sebenarnya karena takut Aiden berpikir dirinya ingin di akui sebagai istri Aiden di rumah itu. Sedangkan di dalam surat perjanjian pra nikah mereka, jelas-jelas di cantumkan bahwa Aiden tidak mau ada yang tahu tentang pernikahan mereka, dan Yuniar menyetujuinya.


Aiden tersenyum mendengar jawaban Yuniar,"Aku akan mendekap mu, agar kamu tidak bisa membuatku jatuh dari ranjang,"ujar Aiden kemudian merebahkan tubuhnya,"Kemari lah!"pinta Aiden seraya menepuk lengannya sendiri, memberi isyarat agar Yuniar berbaring dengan lengan Aiden sebagai bantal.


Yuniar tidak punya alasan lagi untuk menolak keinginan suaminya. Mau tak mau, Yuniar pun akhirnya naik ke atas ranjang. Merebahkan tubuhnya di samping Aiden dengan lengan Aiden sebagai bantalnya.


Aiden mendekap tubuh Yuniar dengan perasaan bahagia. Sedangkan Yuniar juga terlihat nyaman tidur dalam dekapan Aiden.


"Seperti inikah rasanya tidur dengan suami? Rasanya nyaman sekali,"gumam Yuniar dalam hati.


Seumur hidupnya, baru kali inilah Yuniar tidur dengan seorang pria. Pipi gadis itu menempel di dada bidang suaminya yang bertelanjang dada itu.


"Aku selalu menyukai aroma parfum yang di pakainya,"gumam Yuniar dalam hati seraya mengendus aroma tubuh suaminya.


Aiden mengernyitkan keningnya saat tangannya mengusap punggung Yuniar. Aiden merasakan tali braa di punggung istrinya itu.


"Baby, kamu tidur memakai braa?"tanya Aiden seraya melonggarkan dekapannya. Pria itu menatap wajah istrinya.


"Iya,"sahut Yuniar yang merasa aneh dengan pertanyaan suaminya itu.


"Aku dengar, tidur memakai braa itu nggak bagus baby,"


"Tidur mengenakan braa memang bisa mengganggu kualitas tidur, By. Pasalnya, kekangan tali braa bisa menurunkan kadar melatonin sehingga mengganggu siklus “tidur dan bangun” seorang wanita. Selain itu, braa yang ketat juga bisa menyebabkan iritasi pada kulit bila dipakai dalam jangka waktu yang panjang,"


"Penggunaan braa saat tidur dapat menghambat sirkulasi kelenjar getah bening dan mengganggu pembuangan zat-zat yang tidak dibutuhkan tubuh. Hal ini diduga bisa meningkatkan risiko terjadinya kanker. Tapi, itu jika braa yang di pakai ketat. Selama braa yang di dikenakan longgar dan nyaman di pakai untuk tidur, pakai braa saat tidur sah-sah saja dan boleh dilakukan asalkan tidak mengganggu kualitas tidur,"

__ADS_1


"Memakai braa saat tidur juga tidak memicu kanker payuu daraa. Faktanya, para ahli belum bisa menemukan bukti ilmiah yang mendukung anggapan tersebut. Bahkan, pemakaian braa berkawat yang sering di kambing hitamkan sebagai penyebab kanker, juga tidak terbukti dapat meningkatkan risiko kanker payuu daraa,"jelas Yuniar sesuai pengetahuannya.


"Oh, begitu, ya? Jadi, intinya akan lebih baik jika tidak memakainya saat tidur, 'kan?"tanya Aiden membuat Yuniar mengernyitkan keningnya menatap Aiden.


"Kenapa aku merasa suamiku ini ingin sekali aku melepaskan braa ku?"gumam Yuniar dalam hati.


"Hei, kenapa kamu melihat ku seperti itu?"tanya Aiden yang melihat istrinya terdiam menatap dirinya.


"Nggak apa-apa,"sahut Yuniar kemudian menunduk.


"Kalau begitu, lepaskan lah braa kamu! Aku tidak ingin tidur mu tidak nyaman karena memakainya,"pinta Aiden.


"Tidak perlu, By. Aku merasa nyaman, kok, memakainya,"tolak Yuniar secara halus.


"Tapi, aku lebih suka kalau kamu tidak memakainya. Atau.. Mungkin perlu aku bantu untuk melepaskannya?"tanya Aiden tersenyum miring dengan tangan yang mulai bergerak menyingkap baju piyama yang di pakai Yuniar.


"Ti.. Tidak perlu! A.. Aku akan melepasnya sendiri,"ucap Yuniar bergegas turun dari ranjang, lalu berjalan menuju kamar mandi.


Aiden menahan tawa melihat istrinya melarikan diri ke kamar mandi.


"Dasar gadis polos! Aku sangat penasaran dengan dadanya. Apa benar-benar bertambah besar, ataukah besar karena busa braa nya tebal?"gumam Aiden yang sangat penasaran dengan dada istrinya.


Yuniar melepaskan kain berwarna hitam yang membungkus ke dua bukit kembarnya yang membuat suaminya penasaran itu.


Tak lama kemudian, Yuniar pun keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju ranjang. Namun Aiden terlihat kecewa saat melihat Yuniar menggerai rambutnya ke depan hingga menutupi dadanya.


"Aishh.. Dia malah menutupi dadanya dengan rambutnya. Aku jadi tambah penasaran ingin melihat dadanya,"gumam Aiden dalam hati.


Yuniar kembali naik ke atas ranjang dan berbaring seperti sebelumnya. Aiden pun kembali merengkuh Yuniar dalam dekapannya.


"Tidur lah!"ucap Aiden seraya membelai rambut Yuniar dengan lembut.


Beberapa menit kemudian, suara napas Yuniar pun terdengar teratur. Menandakan gadis itu sudah terlelap. Sedangkan Aiden masih setia membelai rambut istrinya itu.


"Baby!"panggil Aiden pelan untuk memastikan istrinya sudah tidur nyenyak atau belum.


Karena tidak ada sahutan, tidak ada pergerakan dan napas istrinya juga tetap terdengar teratur, Aiden pun merenggangkan dekapannya pada tubuh Yuniar. Pria itu menatap dada istrinya dengan tangan yang mengarah ke dada istrinya.

__ADS_1


Aiden menelan salivanya susah payah saat tangannya menyentuh gundukan daging yang terasa besar itu. Bahkan tangan Aiden tidak muat untuk memegang gundukan lembut nan kenyal itu.


"Emhh.. "desahh Yuniar sedikit menggeliat saat Aiden meremas lembut salah satu gundukan yang membuatnya sangat penasaran sedari tadi itu.


"Shitt! Suaranya bisa membuat kobra ku bangun. Yuniar benar-benar masih perawan. Dadanya masih terasa padat dan kencang. Dan sekarang malah bertambah besar. Aku ingin segera sembuh agar bisa segera menerkam dan mencabik-cabik nya sampai tak bersisa. Gadis ini benar-benar membuat aku menjadi gila sekaligus mati gaya,"gumam Aiden dalam hati merasa frustasi karena harus menahan diri untuk menerkam istrinya yang semakin membuatnya tergila-gila itu.


Pria itu membuang napas kasar, kemudian mendekap erat tubuh Yuniar. Menahan hasratnya yang mudah sekali tersulut jika bersama istrinya itu. Namun Aiden juga enggan menjauh dari wanita itu. Karena Yuniar seperti magnet yang terus menarik dirinya untuk mendekat. Aiden berusaha memejamkan matanya menyusul istrinya ke alam mimpi.


Pagi menjelang, Yuniar yang terbiasa bangun pagi pun terbangun. Gadis itu menggeliat dengan mata yang masih terpejam. Memeluk gulingnya yang terasa hangat. Namun, sesaat kemudian Yuniar menyadari sesuatu.


"Kenapa rasanya guling ku terasa lebih besar dan hangat, ya?"gumam Yuniar dalam hati.


Perlahan Yuniar membuka matanya. Gadis itu sempat terkejut saat menyadari dirinya sedang berpelukan dengan seseorang. Namun gadis itu langsung menghela napas lega saat mengingat dirinya semalam tidur bersama dengan suaminya.


Yuniar mendongakkan kepalanya menatap Aiden yang masih terlelap memeluk dirinya. Tanpa sadar tangan Yuniar terangkat untuk menyentuh rahang kokoh suaminya. Mengagumi ciptaan Tuhan yang begitu indah di depan matanya.


Aiden yang merasakan pergerakan Yuniar dan merasakan sentuhan lembut jemari tangan Yuniar pun membuka matanya. Hal itu pun sukses membuat Yuniar terkejut dan menarik tangannya dari wajah suaminya.


"Kenapa? Kamu boleh menyentuh tubuh ku di bagian manapun,"ujar Aiden dengan suara serak khas bangun tidurnya seraya memegang tangan Yuniar.


"Sa.. Saya..."


"Baby!"potong Aiden menatap Yuniar saat mendengar Yuniar kembali lupa dan menggunakan bahasa formal.


Mendapatkan reaksi seperti itu dari Aiden, Yuniar pun segera menyadari kesalahannya.


"Aku akan kembali ke kamarku, By,"pamit Yuniar bermaksud turun dari ranjang.


"Sebentar lagi. Ah, tidak. Kamu bantu aku membersihkan diri terlebih dahulu baru kembali ke kamar mu. Sekarang, berikan aku morning kiss,"pinta Aiden mengeratkan pelukannya pada Yuniar hingga dua gundukan daging kenyal milik Yuniar itu menempel sempurna di dada Aiden.


"Aku tidak mau. Aku belum gosok gigi. Mulut ku pasti bau, By,"tolak Yuniar yang tidak percaya diri jika harus mencium Aiden dalam keadaan baru saja bangun seperti itu.


"I don't care. Give me a morning kiss! (Aku tidak peduli. Berikan aku ciuman pagi)"pinta Aiden bersikeras,"Aku akan terus memeluk mu seperti ini jika kamu tidak memberiku morning kiss,"


...🌸❤️🌸...


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2