Casanova Mati Gaya

Casanova Mati Gaya
54. Was-was dan Bimbang


__ADS_3

Yuniar memakaikan kemeja Aiden dan mengancingkan kemeja itu satu persatu. Memasangkan dasi Aiden dengan rapi, kemudian jasnya.


"Baby, kenapa kamu sudah keluar dari kamar sebelum aku bangun,"tanya Aiden seraya memegang tangan Yuniar yang baru saja selesai memakaikan jas nya.


"Tidak apa, By. Aku hanya ingin membersihkan diri sebelum membantu hubby mempersiapkan diri untuk pergi ke kantor,"sahut Yuniar tersenyum lembut. Dalam hati berkata,"Aku hanya tidak ingin hubby memiliki keinginan lain, karena saat hubby bangun melihat aku,"gumam Yuniar dalam hati.


"Apa kita perlu ke dokter untuk mengobati bibir mu?"tanya Aiden seraya menatap bibir Yuniar.


"Tidak perlu pergi ke dokter, By. Nanti juga sembuh sendiri,"sahut Yuniar yang seolah tidak terlalu mempermasalahkan bibirnya yang terluka.


"Tapi, proses sembuhnya akan lama jika di biarkan sembuh sendiri, baby,"ujar Aiden yang ingin bibir Yuniar segera sembuh dan bisa dinikmati nya lagi.


"Nggak akan, By. Paling juga cuma dua atau tiga hari sudah sembuh,"sahut Yuniar enteng.


Aiden menghela napas dalam mendengar jawaban Yuniar. Dalam hati berkata,"Dua atau tiga hari itu terlalu lama. Aku jadi tidak bisa mencium dia karena bibirnya bengkak. Kenapa juga dia harus menggigit bibirnya untuk menahan diri agar tidak mengeluarkan suara?"gerutu Aiden dalam hati.


Dengan keadaan bibir Yuniar yang seperti saat ini, Aiden terpaksa harus menahan keinginannya untuk menikmati bibir istrinya itu. Aiden tidak tega, jika harus mencium bibir istrinya yang lumayan bengkak itu.


Yuniar mendorong kursi roda Aiden ke ruangan makan. Saminten yang melihat Yuniar bersama dengan Aiden pun hanya bisa menggerutu dalam hati.


"Dasar jalangg! Dua malam ini bahkan dia tidur di kamar Tuan Aiden. Dasar wanita murahan! Tidak tahu malu! Ingin sekali aku menjambak dan menarik rambutnya, lalu menyeretnya keluar dari rumah ini. Kalau saja rumah ini di perkampungan penduduk, sudah aku panggilkan orang kampung untuk menggerebek mereka yang tidur sekamar tanpa ikatan,"


"Dasar tidak tahu malu! Menggoda dan memanfaatkan pria lumpuh dengan kecantikannya. Menjijikan sekali! Rela membuka paha hanya demi hadiah dari Tuan Aiden,"gerutu Saminten yang sudah dua malam memperhatikan Yuniar tidak kunjung keluar dari kamar Aiden. Saminten menduga jika Yuniar tidur di kamar Aiden. Apalagi tadi pagi Saminten melihat Yuniar pagi-pagi sekali sudah keluar dari kamar Aiden.


Walaupun semua pelayan di rumah itu mencurigai kedekatan antara Yuniar dan Aiden, namun tidak ada seorang pun yang berani membicarakan mereka berdua secara terang-terangan. Bahkan sebagian pelayan terlihat enggan untuk mengurusi kehidupan pribadi majikan mereka. Apalagi setelah Aiden memberikan hukuman pada Saminten yang sempat berseteru dengan Yuniar.


***


Waktu terus berputar dan hari terus berganti. Menunggu waktu selama tiga hari, bukanlah waktu yang sebentar bagi Aiden. Seperti biasanya, setelah selesai membantu suaminya itu membersihkan diri, Yuniar membantu Aiden memakai pakaiannya.


"Baby, apa bibir kamu sudah sembuh?"tanya Aiden yang sudah tidak tahan ingin menikmati bibir ranum istrinya yang membuatnya kecanduan itu.


"Sudah lebih baik, By,"sahut Yuniar dengan perasaan curiga,"Apa hubby ingin mencium ku lagi? Hampir setiap hari hubby selalu menanyakan soal bibir ku,"gumam Yuniar dalam hati.


"Kemari lah!"pinta Aiden seraya menepuk pahanya sendiri, memberi isyarat agar Yuniar duduk di pangkuannya.

__ADS_1


"Tidak mau. Saraf kaki hubby semakin cepat membaik karena beberapa hari ini aku tidak duduk di pangkuan hubby. Aku tidak ingin kesembuhan hubby terhambat karena aku duduk di pangkuan hubby,"tolak Yuniar beralasan.


"Kali ini saja, baby. Please! Besok aku akan pergi keluar negeri. Belum tentu berapa lama aku akan kembali,"ujar Aiden yang memang ingin kembali berobat ke luar negeri.


Aiden merasakan kakinya semakin membaik dan dokter menyarankan dirinya untuk kembali menjalani pengobatan dan fisioterapis untuk mempercepat proses penyembuhan kakinya.


"Hubby akan ke luar negeri lagi?"tanya Yuniar yang terkejut karena Aiden sudah akan kembali pergi dan kali ini belum tentu berapa lama,"Padahal kaki hubby sudah jauh lebih baik. Aku tidak akan bisa memijit hubby, jika hubby pergi jauh dan lama,"ujar Yuniar merasa tidak rela.


"Kemari lah! Aku ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama mu sebelum aku pergi,"ujar Aiden menarik pinggang Yuniar dan mendudukkan gadis itu di pangkuannya.


Yuniar tanpa sadar menurut karena masih memikirkan Aiden yang akan pergi lagi. Pikiran gadis itu jadi tidak fokus.


Aiden mengusap bibir Yuniar yang masih terdiam. Melihat Yuniar tidak kesakitan saat dirinya menekan bibirnya, Aiden pun tersenyum cerah. Sedangkan Yuniar masih bergelut dengan pikirannya sendiri hingga tidak memperhatikan apa yang dilakukan suaminya.


"Sepertinya bibir kamu sudah sembuh, baby,"ucap Aiden seraya mengusap lembut pipi Yuniar.


"Hah?! Hubby bilang ap.. "


Yuniar yang terhenyak dari lamunannya karena sentuhan dan pertanyaan Aiden pun tidak bisa melanjutkan kata-katanya lagi saat tiba-tiba Aiden sudah melahap bibirnya.


Merasakan Yuniar yang tidak merespon ciumannya, Aiden pun melepaskan pagutannya.


"Ada apa?"tanya Aiden nampak heran melihat Yuniar yang seperti tidak fokus saat di ciumnya.


"Ti.. Tidak apa-apa. Aku.. Aku hanya kebelet pipis, By,"sahut Yuniar bergegas turun dari pangkuan Aiden, lalu berlari kecil menuju kamar mandi.


Aiden menghela napas panjang menatap punggung Yuniar yang semakin menjauh.


Sedangkan Yuniar,"Huff.. Untung saja aku mendapatkan alasan yang bagus dan masuk akal,"gumam Yuniar yang sudah berada di dalam kamar mandi merasa lega.


Setelah beberapa saat berdiam diri di kamar mandi, Yuniar pun kembali menghampiri Aiden.


"Baby, malam ini, tidurlah di kamar ku!"pinta Aiden yang benar-benar ingin menghabiskan waktu bersama Yuniar sebelum pergi.


"Em.. A.. Aku sedang datang bulan, By. Aku merasa tidak nyaman jika tidur bersama hubby,"sahut Yuniar menemukan alasan yang menurutnya tepat.

__ADS_1


Aiden tersenyum kecut mendengar jawaban Yuniar.


"Kenapa akhir-akhir ini kamu sering menolak ku? Aku merasa kamu selalu mencari alasan jika ingin aku pangku dan aku cium. Bahkan seperti enggan, jika aku pinta untuk tidur bersama ku,"ujar Aiden yang merasa kecewa karena akhir-akhir ini Yuniar seperti enggan untuk berdekatan dengan dirinya.


Aiden merasa Yuniar seperti menjaga jarak dari dirinya. Bahkan selalu membuat alasan jika Aiden memintanya untuk tidur bersamanya.


"I.. Itu hanya perasaan hubby saja,"sahut Yuniar gugup.


"Tapi itu yang terlihat dari kamu. Aku curiga, kamu sengaja menggigit bibir mu sendiri karena kamu tidak ingin aku cium,"tuduh Aiden yang benar adanya.


"Ma.. Mana ada yang seperti itu. Hubby jangan berpikir yang tidak-tidak. Aku selalu berusaha melakukan yang hubby inginkan,"sahut Yuniar gugup.


"Benarkah? Kalau begitu, lepaskan pakaian kamu dan duduklah di pangkuan ku!"titah Aiden menatap Yuniar dengan tatapan serius.


Yuniar membulatkan matanya mendengar perintah suaminya itu.


"Membuka pakaian ku dan duduk di pangkuannya? Itu akan menaikkan libido hubby. Bagaimana jika hubby tidak bisa menahan diri? Jika hubby yang memimpin permainan, aku tidak masalah. Tapi, jika aku yang harus memimpin permainan, aku belum siap. Lagi pula, aku sedang datang bulan. Bagaimana mungkin kami melakukannya dalam keadaan ku yang seperti sekarang?"gumam Yuniar dalam hati memilin jemari tangannya sendiri dengan raut wajah gelisah.


Aiden membuang napas kasar melihat ekspresi wajah Yuniar.


"Kembalilah ke kamar mu!"ucap Aiden terlihat kecewa pada Yuniar.


"Hubby.. Hubby marah padaku?"tanya Yuniar dengan ekspresi sedih,"Aku akan melakukan apa yang hubby inginkan,"ucap Yuniar seraya mulai membuka kancing piyamanya. Dalam hati gadis itu berkata,"Aku tidak peduli apa yang akan terjadi jika aku membuka pakaian ku. Aku tidak ingin membuat hubby marah dan kecewa,"gumam Yuniar dalam hati.


"Hentikan! Aku jadi tidak mood melihat tubuhmu,"ucap Aiden membuat Yuniar berhenti membuka kancing baju piyamanya,"Ekspresi wajah mu itu tidak enak di lihat. Apa kamu bertahan di sisiku hanya karena rasa tanggung jawab dan merasa bersalah, sebab tanpa sengaja telah menyebabkan kakiku lumpuh?"tuduh Aiden menatap tajam Yuniar.


Sungguh, Aiden jadi tidak bersemangat melihat tubuh Yuniar karena ekspresi terpaksa di wajah Yuniar.


"By, aku.. Aku..,"Yuniar tergagap mendengar tuduhan Aiden.


"Hanya perasaan itukah yang ada di dalam hati mu? Apa tidak ada sedikitpun rasa cinta di hati mu untuk ku? Jika tidak ada perasaan cinta sedikitpun di hatimu, kenapa kamu rela aku cumbuu setiap hari dan rela melepaskan pakaian mu di depan ku? Apakah hanya karena rasa tanggung jawab? Kamu melakukan hal sejauh itu hanya demi rasa tanggung jawab? Jika iya, aku benar-benar salut padamu. Aktingmu sebagai seorang istri sungguh mumpuni,"ujar Aiden tersenyum sinis.


...🌸❤️🌸...


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2