Casanova Mati Gaya

Casanova Mati Gaya
47. By


__ADS_3

Setelah selesai mengeluarkan isi koper Aiden dan menyusun semuanya pakaian dan aksesoris Aiden sesuai tempatnya, Yuniar pun keluar dari walk in closet. Gadis itu menghampiri suaminya yang masih bertelanjang dada duduk bersandar di headboard ranjang dengan handphone di tangannya.


"Tuan, sebaiknya sekarang Tuan mandi,"ujar Yuniar yang tetap saja tergiur menatap bentuk tubuh suaminya.


"Kemari lah!"ucap Aiden seraya meletakkan handphonenya di atas nakas, kemudian menarik tangan Yuniar lembut dan membawanya ke pangkuannya. Entah mengapa pria itu senang sekali memangku istrinya itu.


"Kita adalah suami-istri. Bisakah kamu tidak memanggil ku Tuan saat kita hanya berdua saja?"tanya Aiden dengan tangan kanan memeluk pinggang Yuniar dan tangan kiri menyelipkan anak rambut Yuniar di telinga Yuniar.


Benar-benar seorang Casanova sejati yang ahli membuat hati wanita berbunga-bunga. Cukup dengan perlakuan dan perhatian kecil yang sebenarnya tidak terlalu sulit untuk di lakukan, tapi terlihat manis dan romantis di mata wanita.


Namun, sayangnya para suami enggan, bahkan gengsi melakukan dan memberikan perhatian-perhatian kecil yang terlihat remeh dan sepele. Padahal dengan perhatian-perhatian kecil yang di anggap remeh dan sepele itu sudah bisa membuat hati seorang isteri bahagia dan merasa di cintai.


"Lalu.. Saya harus memanggil Tuan apa?"tanya Yuniar menatap Aiden.


Sebenarnya Yuniar juga merasa panggilan Tuan terasa membatasi hubungan mereka. Panggilan Tuan membuat mereka bukan seperti sepasang suami-isteri, tapi lebih seperti atasan dan bawahan.


Aiden nampak berpikir sejenak. Aiden ingin panggilan sayang dan romantis, tapi tidak lebay.


"Bagaimana kalau 'By'? By diambil dari kata Baby. Hanya saja disingkat menjadi By yang berarti sayang,"cetus Aiden.


"Terserah Tuan saja,"ucap Yuniar tersenyum lembut.


"Kalau begitu, panggil aku dengan panggilan itu,"pinta Aiden seraya melingkarkan kedua tangannya di pinggang Yuniar dengan mata yang menatap Yuniar.


"By.."ucap Yuniar seraya memalingkan wajahnya yang bersemu merah. Masih terasa canggung dan malu rasanya memanggil suaminya seperti itu.


"Kamu menggemaskan sekali,"ucap Aiden terkekeh kecil melihat wajah istrinya bersemu merah. Aiden pun tidak tahan untuk tidak mengecup pipi Yuniar yang semakin memerah itu.


"Dia sangat liar dan agresif jika aku pasif. Tapi, giliran aku agresif, dia malah pasif dan malu-malu kucing. Namun, baik pasif maupun agresif, dia tetap saja membuat aku mati gaya,"gumam Aiden dalam hati seraya mendekap tubuh Yuniar gemas.


Pria itu sudah lupa akan kegalauan hatinya karena istrinya tidak menjawab pertanyaannya tadi. Entah mengapa sang Casanova itu menjadi labil seperti ABG jika bersama istrinya.

__ADS_1


Sedangkan Yuniar menyembunyikan wajahnya yang memerah di dada bidang suaminya yang masih bertelanjang dada itu. Gadis polos yang benar-benar tidak mengerti dengan perasaan bahagia dan nyaman saat berada di dekat suaminya. Gadis yang seumur hidupnya belum pernah menyukai seseorang dan belum pernah menjalin cinta.


"Oh, iya. Kamu tidak perlu meminta izin untuk masuk ke dalam kamar ini,"ujar Aiden masih mendekap tubuh Yuniar.


"Hum,"sahut Yuniar yang merasa nyaman dalam dekapan suaminya.


Yuniar membantu Aiden membersihkan diri. Setelah selesai, gadis itu kembali ke kamarnya dengan membawa semua hadiah yang di berikan oleh suaminya.


Saminten yang semenjak Aiden pulang selalu kepo dan memantau kamar majikannya dengan berpura-pura bersih-bersih di sekitar kamar Aiden pun mengernyitkan keningnya saat melihat Yuniar membawa banyak paper bag dari kamar Aiden.


"Apa isi paper bag itu? Banyak sekali? Apa Tuan Aiden memberikan semua paper bag itu pada gadis murahan itu? Berjam-jam berada di kamar Tuan Aiden dan hanya keluar sebentar, lalu masuk lagi. Apa yang dilakukan gadis itu di kamar Tuan Aiden? Dia pasti merayu Tuan Aiden, hingga Tuan Aiden memberikan dia begitu banyak paper bag."gumam Saminten dalam hati penuh dengan rasa ingin tahu iri dan curiga pada Yuniar.


Setelah masuk kedalam kamarnya, Yuniar meletakkan paper bag itu di atas ranjangnya.


"Aku akan membereskannya nanti. Aku ingin mandi dulu,"gumam Yuniar yang merasa badannya lengket setelah memijat suaminya tadi.


Selesai membersihkan diri, Yuniar memasukkan semua pakaian yang di berikan Aiden tadi ke dalam lemarinya. Kebahagiaan terlihat jelas di wajah gadis polos itu saat melihat deretan pakaian pemberian Aiden yang sudah di susunnya di dalam lemari itu.


Memangku dan memeluk pinggangnya saat membuka kotak kalung itu. Lalu memakaikan kalung itu di leher dan memuji dirinya cantik.


"Aaahhh.. Tuan Aiden so sweet banget, sih?!"gumam Yuniar seraya memegang kedua pipinya yang memerah dengan senyuman yang menghiasi bibirnya. Tidak menyadari beberapa kiss mark menghiasi lehernya yang putih karena tertutup rambutnya yang di gerainya ke depan.


Yuniar keluar dari kamarnya dan membantu Bik Sari menyiapkan makan malam. Saminten pun ada di dalam dapur itu.


"Eh, non Yuniar. Sudah lama sekali rasanya tidak bertemu,"sapa Bik Sari saat melihat Yuniar.


"Bibi kangen, ya, sama aku?"canda Yuniar terkekeh kecil. Sedangkan Saminten terlihat tidak suka.


"Iya, nih. Rasanya sepi kalau nggak ada non Yuniar. Sebulan nggak ketemu, non Yuniar tambah cantik aja,"puji Bik Sari jujur adanya.


"Aduh! Aku nggak punya uang receh, nih, Bik,"canda Yuniar kembali terkekeh.

__ADS_1


"Non Yuniar bisa aja,"sahut Bik Sari ikut terkekeh.


"Cih! Satunya sok kecantikan, dan satunya penjilat,"cibir Saminten lirih. Tidak berani lagi bicara sembarangan mengingat cctv di rumah itu sekarang sudah bisa merekam suara.


"Kamu bilang apa?"tanya Yuniar yang tidak terlalu jelas mendengar Saminten bergumam. Bik Sari pun ikut menatap Saminten.


Saminten tersenyum sinis, kemudian berjalan mendekati Yuniar. Gadis itu, lalu berbisik,"Wanita jalangg! Kamu berlama-lama di kamar Tuan Aiden. Kamu membuka pahamu di depan Tuan Aiden, 'kan? Hingga Tuan Aiden memberimu banyak hadiah. Dasar jalangg! Wanita murahan!"bisik Saminten penuh sarkasme. Kebencian Saminten semakin menjadi-jadi saat tanpa sengaja melihat kiss mark di leher Yuniar.


Yuniar tersenyum miring mendengar perkataan Saminten, lalu gadis itu balik berbisik,"Memangnya kenapa jika aku membuka paha ku di depan Tuan Aiden? Kamu iri, ya? Karena kamu tidak bisa menarik perhatian Tuan Aiden sedikit pun. Aku yakin, walaupun kamu membuka paha mu di depan Tuan Aiden, Tuan Aiden juga tidak akan tertarik padamu. Wajahmu seperti tahu dilumuri tepung. Tidak bisa dibandingkan dengan wajahku yang cantik dari lahir. Body kamu jauh kalah seksi dari aku. Dada mu juga tidak sebesar dadaku. Sirik tanda tak mampu,"ucap Yuniar tak kalah sarkas.


"Dasar wanita sialan!"umpat Saminten dengan wajah penuh amarah mengangkat tangannya hendak menyerang Yuniar.


"Hentikan, Sam!"


Suara Pak Wanto membuat Saminten yang hendak menyerang Yuniar itu mengurungkan niatnya. Wajah gadis itu nampak merah padam menahan amarah.


"Ikut kakek!"ucap Pak Wanto seraya memegang tangan Saminten,"Kami permisi nona,"pamit Pak Wanto menunduk hormat pada Yuniar kemudian menarik Saminten meninggalkan ruangan itu.


Yuniar membuang napas kasar melihat Pak Wanto membawa pergi Saminten. Begitu pula dengan Bik Sari. Bik Sari tidak bisa mendengar apa yang di bicarakan Yuniar dan Saminten. Tapi, yang jelas, Saminten lah yang selalu mencari gara-gara dengan Yuniar.


Pak Wanto membawa Saminten ke kamarnya. Pria tua itu memaksa Saminten duduk di tepi ranjang, lalu menutup pintu kamarnya. Pria tua itu menatap Saminten yang terlihat masih emosi itu dengan wajah kesal.


"Bukankah sudah kakek katakan? Jangan berbuat ulah lagi, apalagi menyinggung Nona Yuniar. Kenapa kamu malah ingin menyerang Nona Yuniar?"tanya Pak Wanto menatap cucunya tajam.


"Kek, dia itu perempuan jalangg. Wanita murahan. Seharusnya dia di usir keluar dari rumah ini,"ucap Saminten berapi-api.


"Apa kamu punya buktinya?"tanya Pak Wanto menatap Saminten dengan tatapan datar.


...🌸❤️🌸...


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2