Casanova Mati Gaya

Casanova Mati Gaya
63. Lain Kali


__ADS_3

Yuniar tersenyum lembut mendengar pertanyaan Aiden.


"Ada,"sahut Yuniar masih dengan senyuman lembut di bibirnya.


"Deg"


Aiden seperti merasa ada yang memukul jantungnya saat mendengar jawaban Yuniar itu. Walaupun tadi dirinya telah melihat Yuniar berciuman dengan pria lain, namun entah mengapa tetap sakit rasanya mendengar jawaban jujur Yuniar itu. Pria itu tersenyum kecut, seketika menurunkan tangannya yang tadi mengusap bibir Yuniar.


"Siapa?"tanya Aiden menatap Yuniar dengan ekspresi kecewa. Masih saja bertanya, walaupun kemungkinan hatinya akan merasa sakit saat mendengar jawaban istrinya itu


Yuniar menghela napas panjang melepaskan pegangan tangannya di leher dan rahang suaminya. Gadis itu menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya dan memeluk tubuh pria itu dengan hangat.


"Almarhum ayahku. Selain hubby, hanya almarhum ayahku pria yang pernah mencium ku. Pria yang pertama kali mencintai dan menyayangi aku setulus hati dengan segenap jiwa dan raganya. Pria pertama yang aku kenal dalam hidup ini,"sahut Yuniar tersenyum dengan bibir yang bergetar.


Wajah gadis itu tertunduk dengan ekspresi sedih mengenang almarhum ayahnya yang lebih dulu di panggil-Nya. Hingga ibu dan kakaknya harus bekerja keras membanting tulang untuk menghidupi keluarga mereka.


"Lalu, tadi di kampus itu apa?"gumam Aiden dalam hati.


Aiden bingung dengan perasaannya sendiri. Tidak percaya dengan jawaban Yuniar karena apa yang dilihatnya tadi di kampus. Belum lagi setelah membaca hasil penyelidikan yang diberikan oleh Roni tadi. Tapi anehnya, baik jujur ataupun berbohong, jawaban yang di berikan Yuniar, tetap saja membuat hati Aiden terasa sakit.


Namun, entah mengapa, secara refleks Aiden mendekap tubuh gadis dalam pangkuannya itu. Ingin tetap memiliki gadis dalam dekapannya itu, walaupun terluka. Karena melepaskannya pun pada akhirnya juga akan tetap terluka. Dilema. Itulah yang di rasakan Aiden.


"Kamu yakin, tidak ada yang mencium mu selain aku?"tanya Aiden masih ingin Yuniar memberikan jawaban jujur.


"Hubby tidak percaya padaku?"tanya Yuniar mendongakkan kepalanya menatap Aiden tanpa melepaskan pelukannya.


"Apa kamu bisa aku percaya?"Aiden menatap Yuniar lekat. Pria itu balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan Yuniar.


Yuniar tersenyum lembut, kemudian kembali menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya, memejamkan matanya.


"Aku tidak bisa memaksa hubby untuk percaya padaku. Hubby bisa menilai bagaimana aku, lalu memutuskan untuk percaya atau tidak padaku,"ujar Yuniar yang entah mengapa selalu merasa nyaman saat berada dalam dekapan suaminya itu.


"Apa kamu menjaga hatimu untuk ku? Aku tidak suka kamu dekat dengan pria lain. Aku cemburu,"ujar Aiden jujur adanya seraya merapikan anak rambut Yuniar ke belakang telinga dengan lembut.


"Aku hanya berteman dengan para mahasiswa sebatas membahas pengetahuan, hubby. Tidak ada yang lain,"jawab Yuniar jujur.


"Kamu tidak jujur padaku. Tapi, aku tidak sanggup melepaskan kamu untuk bersanding dengan pria lain. Aku ingin memiliki mu selamanya. Apa aku salah jika aku egois?"gumam Aiden dalam hati, memaksakan diri untuk tersenyum.


Aiden tidak percaya pada Yuniar setelah melihat kejadian tadi siang dan membaca hasil penyelidikan Roni tadi. Namun, Aiden juga tidak sanggup untuk melepaskan Yuniar.


"Biarlah aku menjadi pria dan suami yang egois. Aku tidak peduli hatimu untuk siapa, tapi yang pasti, kamu adalah milikku. Tuhan yang menjadi saksinya. Jika aku harus berpura-pura cacat untuk mendapatkan hatimu, maka akan aku lakukan,"gumam Aiden dalam hati.


"Maukah kamu berjanji untuk setia padaku? Selamanya?"tanya Aiden dengan tatapan kosong ke depan.

__ADS_1


"Aku berjanji akan setia pada hubby,"sahut Yuniar seraya mengeratkan pelukannya. Masih rindu rasanya setelah satu bulan berpisah dengan Aiden.


"Apa aku bisa memegang janjimu?"tanya Aiden masih dengan tatapan kosong.


"Hum,"sahut Yuniar tersenyum tipis menikmati kebersamaannya dengan suaminya setelah satu bulan berpisah.


"Aku ternyata benar-benar jatuh cinta pada hubby. Aku merasa ingin selalu ada di dekatnya. Merasa rindu, jika jauh darinya, sangat bahagia bila bersamanya dan merasa nyaman saat berada dalam dekapan nya,"gumam Yuniar dalam hati. Tidak lagi memikirkan keanehan sikap suaminya saat dirinya sudah berada dalam dekapan pria itu.


Setelah beberapa saat diam saling mendekap, akhirnya Yuniar turun dari pangkuan Aiden.


"Sudah sore. Sebentar lagi aku akan membantu hubby untuk mandi. Sebelum itu, aku akan memijat hubby agar tubuh hubby lebih rileks. Sebaiknya hubby naik ke atas ranjang agar lebih nyaman saat di pijat,"ujar Yuniar seraya mendorong kursi roda Aiden agar lebih dekat dengan ranjang. Aiden hanya menuruti keinginan istrinya itu.


Yuniar melepas kancing kemeja suaminya satu persatu. Hingga akhirnya dada bidang berobat itu kembali terlihat setelah satu bulan ini tidak bisa di lihat Yuniar.


"Kenapa bentuk tubuh hubby bertambah seksi aja?"gumam Yuniar yang merasa senang bisa melihat tubuh suaminya yang berotot itu lagi.


Yuniar dengan telaten memijat Aiden seperti biasa. Setelah selesai memijat Aiden, Yuniar membantu Aiden yang ingin duduk bersandar di headboard ranjang.


"Baby.."panggil Aiden yang sejak pulang tadi baru sekarang memanggil Yuniar dengan panggilan sayang itu


"Hemm?"sahut Yuniar menatap Aiden.


Aiden menarik Yuniar dan mendudukkan gadis itu di atas pangkuannya. Yuniar hanya menuruti keinginan suaminya saja.


Aiden merapikan anak rambut Yuniar, kemudian membelai lembut dan pelan wajah Yuniar dengan punggung jemari tangannya. Yuniar memejamkan matanya merasakan sentuhan jemari tangan suaminya itu. Entah mengapa dada Yuniar tiba-tiba berdetak tidak menentu.


Detak jantung Yuniar semakin berdetak kencang tidak terkendali saat napas Aiden terasa hangat menyapu wajahnya. Semakin lama semakin dekat, hingga Yuniar merasakan pagutan lembut di bibirnya.


Yuniar membuka mulutnya membalas pagutan Aiden yang sudah lama tidak dirasakannya. Sepasang suami-isteri istri yang saling merindukan itu saling memagut, menyesap, mengulumm, bahkan saling berbelit lidah bertukar Saliva. Suhu tubuh sepasang suami-istri itupun berangsur naik.


Sebelah tangan Aiden memeluk pinggang Yuniar, sedangkan tangan satunya memegang tengkuk Yuniar agar leluasa memperdalam ciumannya.


Yuniar memeluk Aiden, bahkan mencengkram punggung pria itu dengan napas yang semakin memburu.


Aiden melepaskan pagutannya saat napas Yuniar terasa hampir habis akibat detak jantung yang kencang dan tidak beraturan serta ciuman panjang yang baru saja mereka akhiri.


Aiden beralih mengecup, menyesap dan menggigit kecil leher Yuniar memberi tanda kepemilikannya di sana. Menyangga tubuh Yuniar yang terasa lemas.


Yuniar menggigit bibirnya sendiri merasakan sensasi geli dan nikmat yang diciptakan Aiden dengan sentuhan bibir dan lidahnya.


Aiden menenggelamkan wajahnya di belahan dadanya yang montok. Entah sejak kapan pria itu melepaskan kancing baju Yuniar. Bibir Aiden masih sibuk melukis di dada Yuniar, tangan kanannya masih memeluk Yuniar, sedang tangan kirinya mulai mengeluarkan salah satu benda lembut nan kenyal itu dari balik kain berwarna maroon.


"Ahh.. Hubby.."Yuniar tanpa sadar mendesahh saat Aiden mengecup, menjilat puncak benda kenyal itu dan meremas lembut. Yuniar meremas rambut tebal suaminya dengan kepala yang menengadah dan mata yang terpejam.

__ADS_1


Sejak mereka menikah, Aiden menyentuh tubuhnya secara bertahap, hingga Yuniar yang belum pernah di sentuh pria selain suaminya itu bisa menikmatinya setiap sentuhan yang di berikan oleh Aiden.


Dari mencium kening, bibir, leher, dada, hingga saat ini untuk pertama kalinya Aiden mengeluarkan dan melihat salah satu benda kenyal itu. Menjilatnya bagaikan es krim dan menyesapnya seperti seorang bayi yang kehausan, menikmati nya dengan perlahan.


"H.. hubby.. Ssst.. Ahh.."


Suara seksi Yuniar yang kembali terdengar itu semakin membakar hasraat pria yang sudah lama tidak memenuhi kebutuhan biologisnya itu. Perlahan merebahkan tubuh Yuniar di atas ranjang tanpa melepaskan benda kenyal yang sedang di sesap nya itu.


"H.. Hubby.. Ja.. Jangan!"ucap Yuniar dengan suara terputus-putus karena napasnya yang tidak teratur seraya memegang tangan Aiden.


Saat Aiden ingin melepaskan baju yang di pakainya, Yuniar menyadari jika Aiden menginginkan hak nya sebagai seorang suami.


"Dia menolak ku lagi,"gumam Aiden dalam hati dengan raut wajah yang terlihat kecewa.


"A.. Aku sedang datang bulan,"ucap Yuniar yang melihat raut kecewa di wajah suaminya,"Maaf! lanjut Yuniar tidak enak hati.


"Kamu tidak membohongi aku, 'kan?"tanya Aiden yang terpaksa menahan diri untuk menerkam istrinya itu.


Yuniar menggeleng cepat karena memang hari ini dirinya sedang datang bulan.


Aiden membantu Yuniar duduk. Wajah Yuniar memerah saat menyadari salah satu bukit kembarnya telah keluar dari tempatnya. Bahkan penuh dengan tanda merah keunguan yang baru saja di buat oleh suaminya.


"Hubby.. Aku.. Aku akan mencoba melayani hubby dengan cara lain,"ucap Yuniar tertunduk dengan wajah yang memerah.


"Sudahlah. Kita akan melakukannya lain kali,"ucap Aiden, kemudian memeluk tubuh Yuniar.


...πŸ’”πŸ₯€πŸ’”...


...Aku memaafkan mu, karena aku mencintaimu. Aku tetap mencintaimu walau dengan atau tanpa sengaja kamu telah melukai hati ku....


...Sungguh menakjubkan, kamu bisa menghancurkan hati ku, tanpa menyentuh ku. Dan bodohnya aku, karena tetap mencintaimu....


...Ada waktu untuk berharap, dan berhenti. Ada masa untuk memperjuangkan dan mengikhlaskan....


...Namun aku memilih untuk tetap bertahan. Mengukir senyuman dalam kesedihan....


...Bukannya hati ini tak sakit, bukannya tak hancur, bukan pula hati ini tak perih....


...Namun, rasa cinta ku membuat ku tak rela untuk melepaskan mu. Lebih memilih mempertahankan mu, walaupun nantinya melukai hati ku....


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❀️🌸...

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2