Casanova Mati Gaya

Casanova Mati Gaya
41. Menilai


__ADS_3

Yuniar tersenyum lembut mendengar pertanyaan Dikra.


"Tentu saja aku serius. Kamu telah memberikan sesuatu yang sangat berharga padaku. Bahkan kamu tidak pernah meminta imbalan apapun dariku dan menolak untuk aku beri apapun. Jika aku bisa membalas kebaikan mu, maka akan aku lakukan,"sahut Yuniar tersenyum tulus.


Dikra mengangguk-anggukkan kepalanya pelan dengan senyuman di bibirnya. Beberapa saat kemudian pemuda itu memasang ekspresi serius dan menatap Yuniar lekat.


"Okey, jika kamu benar-benar ingin membalas kebaikan ku,"ucap Dikra terdiam sebentar tapi masih dengan ekspresi wajah dan tatapan yang terlihat serius pada Yuniar,"Aku ingin menjadi ayah dari anak-anak mu. Bagaimana jika aku ingin kamu membalas budimu dengan cara meninggalkan suamimu, lalu menikah dengan aku?"tanya Dikra menatap Yuniar tanpa berkedip dan terlihat benar-benar serius.


"Deg"


"Glek"


Yuniar membulatkan matanya mendengar setiap kata yang diucapkan Dikra. Jantung Yuniar serasa berhenti berdetak mendengar pertanyaan yang lebih mirip dengan permintaan itu. Yuniar menelan salivanya yang terasa membantu dengan kasar. Namun sesaat kemudian Yuniar menghela napas dan tersenyum lembut.


"Sebuah pernikahan adalah ikatan suci lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri. Janji suci sepasang anak manusia di depan Tuhan. Jadi, maaf! Aku tidak mungkin membalas budimu dengan cara meninggalkan suamiku lalu menikah dengan mu. Aku akan membalas budimu dengan cara yang tidak melanggar norma, agama dan prinsip hidupku,"ujar Yuniar lembut, tapi terkesan tegas.


Walaupun dirinya menikah dengan Aiden karena terpaksa demi membalas budi dan bertanggung jawab atas kaki Aiden yang lumpuh karena dirinya, tapi Yuniar telah bertekad untuk menjadi istri yang baik untuk Aiden. Jadi, tidak mungkin Yuniar meninggalkan Aiden untuk membalas budi pada Dikra yang menurut Yuniar tidak sebanding dengan budi baik yang telah diberikan Aiden pada dirinya.


Dikira tiba-tiba tertawa mendengar jawaban Yuniar. Tawa renyah yang sebenarnya hambar. Sangat hambar. Namun Yuniar tidak menyadarinya. Pemuda itu akhirnya menghentikan tawanya beberapa saat kemudian. Sedangkan Yuniar menatap Dikra dengan ekspresi wajah yang sulit untuk dideskripsikan.


Dikra tersenyum lembut. Senyuman lembut khasnya yang membuat wajahnya semakin tampan. Senyuman menenangkan yang selalu di lihat Yuniar menghiasi wajah pemuda itu saat bersama dirinya.


"Dalam hidupku, aku tidak berminat untuk menjadi pebinor, alias orang ke tiga perusak hubungan apalagi rumah tangga orang lain. Dari pada jadi pebinor, lebih baik aku jadi jomblo tapi terhormat,"ucap Dikra masih dengan senyuman lembut di bibirnya.


Mendengar perkataan Dikra itu, Yuniar pun akhirnya bisa bernapas dengan lega. Dari perkataan Dikra barusan, artinya pertanyaan dan permintaan Dikra sebelumnya hanyalah sebuah gurauan.

__ADS_1


"Apapun cerita sebenarnya, bagaimana pun kondisi, situasi maupun perasaanku, akan ada banyak kecaman daripada kebahagiaan saat aku menjadi orang ke tiga dalam hubungan orang lain. Aku ingin menjalin cinta yang indah tanpa membuat hati orang lain patah. Kalaupun aku tidak bisa memiliki orang yang aku cintai, aku akan mencintainya di dalam hati. Tanpa merusak kebahagiaan nya, apalagi melukai hatinya,"ujar Dikra masih dengan senyuman lembut di bibirnya.


Dikra sadar se-sadar sadarnya. Yuniar sudah ada yang memiliki. Terikat dalam ikatan suci sebuah pernikahan. Dan Dikra tidak ingin melanggar batas norma serta agama dengan merebut Yuniar dari suaminya. Asalkan masih tetap bisa bertemu dan melihat Yuniar bahagia, itu sudah cukup bagi Dikra. Lagi pula, Dikra tahu benar, dirinya tidak akan bisa bahagia jika hidup dengan orang yang tidak mencintai dirinya.


Dari antusiasme Yuniar dalam belajar ilmu pijat refleksi untuk menyembuhkan kaki suaminya yang lumpuh, Dikra bisa melihat betapa besar cinta Yuniar pada suaminya. Jadi, Dikra memilih menjadi teman ataupun sahabat agar tetap bisa bersama Yuniar. Memilih memendam dan menyembunyikan rasa cintanya agar Yuniar tidak menjauhi dirinya.


"Aku sependapat dengan kamu. Cinta itu tidak bisa di paksakan. Tidak perlu berusaha keras untuk mendapatkan cinta, karena percuma berusaha jika orang yang kita cinta tidak memiliki perasaan yang sama. Cinta yang baik itu saling memiliki perasaan, bukan hanya salah satunya saja yang berusaha dan berjuang untuk mendapatkan. Harus sama-sama mencintai, baru bisa mendapatkan kebahagiaan,"sahut Yuniar dengan senyuman di bibirnya.


Entah mengapa kata-kata itu mengalir begitu saja dari bibir gadis itu. Mengucapkan nya tanpa beban. Hanya mengatakan apa yang ada di pikirannya. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan kehidupan yang sedang dijalaninya saat ini


Sedangkan Dikra malah menganggap bahwa apa yang dikatakan Yuniar barusan adalah ungkapan hati Yuniar. Dari kalimat terakhir yang di ucapkan Yuniar dan dari raut wajah Yuniar yang tanpa beban serta penuh senyuman, Dikra berpikir jika kehidupan rumah tangga Yuniar sangatlah bahagia.


Dikra juga berpikir jika Yuniar dan suaminya saling mencintai. Karena Yuniar terlihat sedih saat mengingat suaminya yang lumpuh karena dirinya. Tapi di sisi lain Yuniar sangat antusias untuk belajar ilmu pijat refleksi hanya demi menyembuhkan kaki suaminya yang lumpuh. Dari situlah Dikra menilai kalau Yuniar sangat mencintai suaminya.


Yuniar tidak meninggalkan suaminya walaupun suaminya saat ini sedang lumpuh. Dan hal itu membuat Dikra semakin kagum dan suka pada Yuniar.


"Oh, ya, jadi, bagaimana aku harus membalas budimu?"tanya Yuniar kembali pada topik pembicaraan awal.


Dikra kembali tersenyum lembut mendengar pertanyaan Yuniar.


"Tidak usah memikirkan hal itu. Kamu mau menjadi temanku saja aku sudah sangat senang. Menyenangkan rasanya memiliki teman yang memiliki keahlian yang sama,"ujar Dikra masih dengan senyuman lembut khasnya.


"Kamu baik sekali. Gadis yang menjadi pasangan kamu kelak pasti bahagia memiliki pasangan seperti kamu,"ujar Yuniar dengan senyuman lembut,"Apa kamu menyukai seseorang?"tanya Yuniar iseng.


"Ada. Tapi sayangnya dia tidak mencintai aku. Dia mencintai orang lain,"sahut Dikra tersenyum kecut.

__ADS_1


"Eh, orang baik, tampan, kaya dan pintar seperti kamu masih kalah saing dengan orang lain?"tanya Yuniar dengan ekspresi tidak percaya.


"Seseorang itu mencintai bukan karena kebaikan, fisik ataupun kekayaan. Orang yang benar-benar tulus mencintai itu tidak memiliki alasan. Sekarang aku tanya. Apa kamu tahu alasanmu kenapa kamu mencintai suamimu?"tanya Dikra membuat Yuniar terkejut. Gadis itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal seperti orang bodoh.


"Aku menikah dengan Tuan Aiden bukan karena rasa cinta. Tapi karena rasa balas budi, tanggung jawab, dan rasa bersalah karena telah membuat Tuan Aiden lumpuh,"gumam Yuniar dalam hati.


Pertanyaan nya sekarang, apa benar saat ini Yuniar tidak mencintai Aiden? Ataukah cinta itu sudah mulai tumbuh dan bersemi, tapi Yuniar tidak menyadarinya? Benarkah sampai saat ini Yuniar tetap berada di sisi Aiden dan selalu berusaha menyenangkan hati Aiden hanya karena ingin membalas budi? Karena merasa bersalah dan merasa harus bertanggung jawab atas lumpuhnya kaki Aiden? Hanya pemilik hati lah yang tahu.


Dikra yang melihat tingkah dan ekspresi bodoh Yuniar pun lagi-lagi tersenyum.


"Tidak bisa menjawabnya, bukan? Itu karena mencintai itu tidak memiliki alasan,"sahut Dikra yang semakin yakin bahwa Yuniar benar-benar mencintai suaminya.


Belum sempat Yuniar menanggapi perkataan Dikra, suara dering handphone mengalihkan atensi dua orang mahasiswa itu.


Yuniar mengambil handphonenya dari dalam tasnya. Karena merasa handphonenya lah yang sedang berbunyi, menandakan ada panggilan masuk di handphonenya. Gadis itu tersenyum cerah saat mendengar nada dering itu adalah nada dering yang dipakainya khusus untuk nada dering nomor telepon suaminya. Jadi, tanpa melihat siapa yang menghubungi dirinya pun Yuniar sudah tahu, jika yang sedang menghubungi dirinya saat ini adalah suaminya.


"Tuan Aiden menghubungi aku? Selama satu bulan dia pergi, baru kali ini dia menghubungi aku. Apa dia akan pulang hari ini? Jika dia pulang hari ini, aku sudah siap memberikan Tuan Aiden surprise,"gumam Yuniar dalam hati, terlihat tidak sabar mengambil handphonenya.


...🌟"Jalin lah cinta yang indah, tanpa membuat hati yang lain patah....


... Berhentilah mengharap dan menanti sesuatu yang sudah jelas tidak mungkin dimiliki"🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❀️🌸...

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2