
Aiden menghela napas panjang mendengar Saminten mengadu padanya. Tidak menyangka jika istrinya ternyata galak juga. Seperti macan betina yang daerah teritorial nya, alias wilayah kekuasaannya di masuki musuh. Yuniar langsung memukul tangan Saminten saat Saminten ingin menyentuh tubuhnya.
"Cih, baru di pukul seperti itu saja sudah mengadu, seolah menjadi orang yang paling teraniaya di dunia. Apa kamu tidak ingat, jika kamu memukuli aku dengan penyapu saat pertama kali aku datang ke sini? Kamu membuat tanganku memar membiru, bahkan mendorong aku hingga dahiku terbentur dan luka di dahiku berdarah. Tapi aku tidak pernah mengadukan kamu tentang hal itu,"ujar Yuniar menatap Saminten penuh dendam.
Yuniar ingat betul bagaimana Saminten memukuli dirinya dengan brutal menggunakan gagang penyapu waktu itu. Yuniar merasa semakin kesal saat melihat Saminten memasang wajah memelas di depan suaminya.
"Apa? Jadi yang membuat tangan Yuniar memar kebiruan dan dahinya kembali berdarah waktu itu adalah Saminten? Berani sekali gadis ini menyiksa istri ku,"gumam Aiden dalam hati menahan geram.
Aiden merasa bersalah karena ternyata di hari pertama Yuniar datang ke rumahnya, gadis itu telah di aniaya orang pelayan di rumah nya. Sebagai seorang suami, tentu saja Aiden merasa gagal melindungi istrinya di rumahnya sendiri.
"Itu tidak benar, Tuan. Saya dan nona Yuniar tidak saling mengenal sebelumnya. Mana mungkin saya menyerang nona Yuniar tanpa alasan?"sahut Saminten membela diri masih dengan wajah yang memelas.
Saminten beruntung karena sudah lama menyiapkan jawaban jika Yuniar mengungkit masalah itu. Hingga hari ini Saminten tidak kebingungan ketika Yuniar menyinggung tentang masalah pemukulan itu.
Yuniar semakin geram mendengar pembelaan diri Saminten yang jelas-jelas berbohong itu. Apalagi melihat wajah Saminten yang dibuat memelas seperti orang yang teraniaya dan tidak berdaya itu.
"Aku merasa jika Saminten ini hanya berpura-pura. Sepertinya gadis ini sangat pintar berakting dan bersilat lidah,"gumam Aiden dalam hati memicingkan sebelah matanya menatap Saminten.
"Ternyata kamu pandai sekali bersilat lidah, bermain kata, membalikkan fakta. Padahal waktu itu kamu tidak mengizinkan aku masuk saat aku mengatakan bahwa aku adalah orang yang merawat Tuan Aiden. Kamu memukuli aku, saat aku tidak mau pergi. Bahkan kamu mengusir aku dan mengancam akan menyiram aku dengan air panas jika aku tidak mau pergi juga,"ujar Yuniar dengan suara berat menahan amarah.
"Nona, saya memang hanya pelayan di rumah ini. Berbeda dengan nona yang bertugas merawat Tuan Aiden dan di berikan hak istimewa oleh Tuan Aiden di rumah ini. Tapi, bukan berarti nona bisa menganggap saya rendah dan bisa memfitnah saya semau nona. Hiks.. Hiks.. "Saminten pura-pura menangis agar aktingnya terlihat semakin sempurna.
"Ohh.. Memfitnah kamu? Apa buktinya kalau aku memfitnah kamu? Apa perlu kita periksa cctv di rumah ini untuk melihat siapa yang di fitnah dan siapa yang memfitnah?"tantang Yuniar yang benar-benar merasa geram pada Saminten,"Tuan, ada cctv, 'kan, di depan pintu utama rumah ini?"tanya Yuniar menatap suaminya yang masih pada posisinya semula, yaitu duduk di kursi roda didepan Yuniar. Suaminya itu sedari tadi hanya diam mendengarkan perdebatan mereka berdua.
"Ada,"sahut Aiden menatap Saminten yang pura-pura menangis.
"Kalau begitu, bolehkah kita memeriksanya untuk membuktikan siapa yang berbohong diantara saya dan Saminten?"tanya Yuniar berharap Aiden menyetujui keinginannya.
"Tentu saja. Kita cek cctv-nya agar lebih jelas duduk permasalahannya,"sahut Aiden menyetujui.
__ADS_1
"Terimakasih, Tuan,"sahut Yuniar merasa lega karena Aiden setuju dengan permintaannya.
"Tuan, jangan membuang waktu untuk melihat rekaman cctv itu! Tuan tidak akan menemukan bukti apapun dari rekaman cctv itu. Karena apa yang dikatakan oleh nona Yuniar itu tidak pernah ada,"ujar Saminten masih dengan airmata buayanya.
"Kenapa? Kamu takut jika kata-kata ku tadi terbukti benar?"tanya Yuniar tersenyum miring.
"Saya tidak takut. Karena saya tidak melakukan seperti apa yang nona katakan,"sahut Saminten penuh keyakinan.
"Kalau begitu, kenapa kamu seperti ingin mencegah Tuan Aiden melihat rekaman cctv itu?"tanya Yuniar memojokkan Saminten.
"Saya tidak bermaksud menghalangi. Saya hanya tidak ingin waktu Tuan Aiden yang berharga terbuang sia-sia hanya untuk mencari bukti yang sebenarnya tidak pernah ada,"balas Saminten tidak mau kalah.
"Cukup! Tidak perlu berdebat lagi! Kita lihat saja rekaman cctv-nya. Agar semuanya menjadi jelas,"ucap Aiden melerai perdebatan dua orang kaum hawa itu. Tidak ingin perdebatan itu semakin memanas dan tidak berkesudahan.
"Sepertinya aku memang harus melihat rekaman cctv untuk membuktikan siapa yang salah dan siapa yang benar. Jujur, aku lebih percaya pada Yuniar dari pada Saminten. Walaupun aku belum terlalu mengenal Yuniar, tapi aku yakin Yuniar tidak suka berbohong. Gadis ini gadis yang sangat berprinsip. Tidak mungkin mengarang cerita bohong hanya karena merasa tidak suka pada Saminten,"
"Syukurlah, Tuan Aiden setuju untuk melihat rekaman cctv. Sebenarnya aku tidak ingin mengungkit masalah ini. Tapi Saminten benar-benar membuat aku merasa kesal. Dia tidak pernah menyerah ingin mendekati Tuan Aiden. Bahkan berakting seolah-olah aku ini orang jahat dan dirinya lah orang yang teraniaya. Aku benci orang licik dan munafik seperti gadis ini. Kita lihat saja bagaimana kamu bersilat lidah setelah melihat rekaman cctv itu,"gumam Yuniar dalam hati.
Sedangkan Saminten tampak menunduk menyembunyikan senyuman licik di bibirnya,"Kamu pikir aku ini gadis bodoh apa? Aku tidak akan membiarkan kamu mendapatkan bukti apapun atas kejahatan ku. Aku akan membuat namamu menjadi buruk di depan Tuan Aiden,"gumam Saminten dalam hati.
Akhirnya Aiden, Yuniar dan Saminten pun pergi ke ruang kontrol cctv. Tidak lupa Aiden menyuruh seorang pelayan untuk memanggil Roni dan meminta Roni segera menyusul ke ruangan kontrol cctv.
"Tuan, apa ada masalah?"tanya Pak Wanto yang mendengar Aiden ingin ke ruang kontrol cctv.
"Ada rekaman cctv yang ingin aku lihat. Bapak boleh ikut,"sahut Aiden.
"Baik,"ucap Pak Wanto.
Sekilas pria tua itu melirik ke arah cucunya yang ekspresi wajahnya terlihat seperti merasa penuh percaya diri.
__ADS_1
"Kenapa perasaan ku jadi tidak enak melihat ekspresi wajah Saminten? Aku harap gadis pembangkang ini tidak membuat ulah lagi,"gumam Pak Wanto dalam hati.
Setelah melihat ekspresi cucunya, entah mengapa tiba-tiba Pak Wanto merasa hatinya menjadi tidak tenang.
Setelah Roni datang, Aiden meminta orang yang ditugaskan untuk mengawasi ruang cctv menunjukkan rekaman hari pertama Yuniar datang ke rumah itu.
Rekaman itu di putar dari Yuniar masuk ke rumah itu hingga Yuniar berangkat kuliah. Tapi tidak ada rekaman cctv saat Yuniar di pukuli Saminten. Bahkan tidak ada rekaman saat Aiden pulang hari itu.
"Ada yang tidak beres dengan rekaman ini,"gumam Roni dalam hati setelah ikut mengamati rekaman cctv yang di putar itu.
"Tuan lihat sendiri, 'kan? Tidak ada rekaman seperti yang dikatakan oleh nona Yuniar? Saya tidak tahu kenapa nona Yuniar seperti membenci saya dan seperti mencari gara-gara dengan saya. Memfitnah saya melakukan apa yang tidak pernah saya lakukan. Padahal saya tidak melakukan apapun pada nona Yuniar,"ujar Saminten dengan wajah sedih, namun dalam hatinya tertawa bahagia.
"Pelayan ini benar-benar licik. Dia memutar balikkan fakta hingga seolah-olah dirinya yang teraniaya dan aku adalah penjahatnya,"gumam Yuniar dalam hati semakin merasa geram dan benci pada Saminten.
"Tuan, rekaman ini tidak lengkap. Saya yakin ada sebagian rekaman yang sudah di hapus. Seharusnya pada pukul tiga sore ada rekaman saya pulang dari kuliah. Saat saya akan masuk ke dalam rumah, Saminten menghadang dan mengusir saya. Saya berusaha mengetuk pintu dan menekan bel. Tapi saat Saminten keluar, dia malah memukuli saya dengan gagang penyapu dengan membabii-buta. Bahkan saat Tuan pulang dari bekerja sore itu juga tidak ada di dalam rekaman ini,"ujar Yuniar menyangkal perkataan Saminten.
"Roni, periksa dengan benar rekaman cctv itu!"titah Aiden yang di dalam hatinya berharap jika apa yang dikatakan oleh Yuniar adalah benar.
"Ba.. ba.. Baik, Tu.. Tu..Tuan,"sahut Roni langsung memberi isyarat pada penjaga ruang kontrol cctv untuk bangun dari tempat duduknya. Setelah itu, Roni pun segera mengambil alih tempat duduk pria itu.
...π"Mendapatkan kepercayaan itu tidak mudah, tapi menjaga kepercayaan itu lebih susah."π...
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
.
To be continued
__ADS_1