
"Deg"
Yuniar terkejut mendengar kata-kata Aiden. Dirinya rela di cumbuu dan rela melepaskan pakaiannya di depan Aiden. Berusaha mati-matian memperbesar dadanya dan memperindah bentuk tubuhnya hanya untuk menyenangkan hati Aiden. Bahkan merasa sangat kesal jika Saminten mencari perhatian suaminya, apalagi menyentuh suaminya.
Apa benar semua itu di lakukan nya hanya karena merasa harus menjadi istri yang baik untuk Aiden? Apa benar perasaan itu hanya sebatas merasa memiliki karena Aiden adalah suaminya? Miliknya?
Pertanyaan itu sekarang membuat hati Yuniar resah dan gelisah tidak menentu. Tidak menyadari bahwa perlahan tapi pasti, dirinya telah jatuh cinta pada suaminya sendiri.
"Jika hanya sebatas rasa tanggung jawab, sebaiknya kamu pergi! Kamu tidak perlu bertanggung jawab atas kecelakaan yang membuat kakiku lumpuh,"ujar Aiden datar membuat Yuniar membulatkan matanya.
"Brugh"
Mendengar dirinya di usir oleh suaminya sendiri, Yuniar pun langsung bersimpuh di depan Aiden.
"By, jangan usir aku dari sisi hubby. Izinkan aku tetap berada di sisi hubby,"pinta Yuniar tanpa terasa menitikkan air mata seraya memegangi kaki Aiden, menatap Aiden dengan wajah memelas.
Ada perasaan tidak rela pergi dari sisi pria di depannya itu. Sudah terbiasa bersama dan merasa nyaman. Itulah yang di rasakan oleh Yuniar saat ini.
"Aku.. Aku mungkin tidak secantik, seseksi dan sepintar wanita-wanita di luar sana yang sering hubby temui. Tapi, izinkanlah aku tetap tinggal di sisi hubby. Aku.. Aku akan melakukannya, jika hubby menginginkannya. Apapun yang hubby inginkan akan aku lakukan. Jangan usir aku, By!"pinta Yuniar menangis terisak. Benar-benar tidak ingin meninggalkan Aiden.
Yuniar kembali membuka kancing piyamanya dengan air mata yang terus menetes di pipinya. Jika memang membuka pakaiannya bisa membantu Aiden tidak marah lagi padanya, maka dirinya akan melakukannya. Itulah yang ada dalam pikiran Yuniar. Belum juga sadar dan mengerti bahwa dirinya telah jatuh hati pada suaminya sendiri.
"Hentikan!"cegah Aiden seraya memegang tangan Yuniar yang sedang melepaskan kancing piyamanya,"Aku tidak mau kamu melakukannya dengan ekspresi terpaksa seperti itu,"sahut Aiden membuang napas kasar.
Aiden menarik tangan Yuniar yang masih bersimpuh dan meneteskan air mata di depannya. Membimbing gadis itu untuk duduk di pangkuannya. Dengan lembut pria itu mengusap air mata Yuniar dengan kedua ibu jarinya.
"Berhentilah menangis! Aku tidak suka melihatnya,"ucap Aiden kemudian merapikan anak rambut Yuniar.
"Hubby tidak akan menyuruh aku pergi, 'kan?"tanya Yuniar menatap Aiden dengan tatapan yang sulit untuk di artikan.
__ADS_1
"Tidak akan,"jawab Aiden, lalu mendekap tubuh gadis di pangkuannya itu erat. Seolah mengatakan bahwa dirinya tidak akan melepaskan Yuniar.
Ada perasaan sakit di hati Aiden saat melihat Yuniar menangis. Baru kali ini Aiden melihat gadis yang sangat keras kepala itu menangis. Dan itu semua karena dirinya. Aiden merasa sangat menyesal karena sudah membuat Yuniar menangis.
Sedangkan Yuniar, gadis itu merasa sedikit lega setelah mendengar jawaban suaminya. Yuniar menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya dan memeluknya erat.
Setelah Yuniar berhenti menangis, dan terlihat tenang, Aiden melepaskan dekapannya. Aiden mengancingkan kembali piyama yang dipakai Yuniar. Piyama yang kancingnya sudah terbuka separuh. Bahkan Aiden bisa melihat dua buah gundukan besar yang tertutup kain berwarna hitam. Dua buah benda yang membuat Aiden menelan salivanya kasar. Masih jelas terlihat lukisan yang di buatnya di dua buah benda yang benar-benar menggoda di matanya itu.
"Pergilah ke dapur dan buatkan aku jus buah,"pinta Aiden setelah selesai mengancingkan piyama Yuniar. Aiden memaksakan diri untuk tersenyum seraya membelai lembut rambut panjang Yuniar.
"Iya,"sahut Yuniar dengan suara pelan, kemudian turun dari pangkuan suaminya.
Walaupun Aiden sudah kembali bersikap lembut pada dirinya, namun Yuniar masih merasa ada yang mengganjal di hatinya. Suaminya menuduh dirinya berakting menjadi istri yang baik. Padahal selama ini dirinya benar-benar berusaha menjadi istri yang baik dan berusaha menyenangkan hati Aiden. Dengan setulus hati. Sama sekali bukan akting. Bukan pula pura-pura.
Setelah Yuniar keluar dari kamar, Aiden menghela napas yang terasa berat.
Selama membuat jus buah yang di inginkan Aiden, Yuniar pun berpikir mencari alasan untuk meyakinkan Aiden. Meyakinkan suaminya bahwa dirinya tidak enggan untuk tidur bersama Aiden. Benar-benar tulus melayani Aiden sebagai seorang istri. Mencari alasan yang sekiranya tidak menyinggung perasaan suaminya itu.
"Haruskah.. Haruskah aku memakai alasan itu untuk meyakinkan hubby?"gumam Yuniar dalam hati nampak berpikir keras.
Tak lama kemudian, Yuniar pun kembali ke kamar Aiden dan membawa jus buah yang di minta Aiden.
"Hubby, ini jus buah yang hubby minta,"ucap Yuniar lembut seraya meletakkan jus buah itu di atas nakas dekat Aiden yang duduk di kursi rodanya seraya memangku laptopnya.
"Hum,"sahut Aiden tanpa menatap Yuniar. Tatapan mata pria itu fokus pada layar laptop di pangkuannya.
Yuniar duduk di tepi ranjang di dekat Aiden dan terlihat ragu untuk memulai pembicaraan.
"By, aku.. Aku tahu, jika sepantasnya seorang istri tidur bersama suaminya. Tidak baik jika sepasang suami-isteri tidur terpisah. Aku.. Aku bukan tidak mau tidur bersama hubby. Aku.. Aku hanya merasa tidak enak di lihat pelayan di rumah ini. Mereka tidak tahu jika kita adalah suami-istri. Jika aku tidur di kamar hubby setiap hari, mereka akan berpikiran sama seperti Saminten. Mereka akan menganggap aku wanita murahan yang ingin naik ke atas ranjang majikan demi uang,"ucap Yuniar pelan dengan wajah tertunduk dan jemari tangan yang saling memilin.
__ADS_1
Yuniar lebih memilih alibi bahwa dirinya merasa takut jika di cap sebagai wanita murahan karena di anggap tidur dengan pria yang bukan suaminya. Karena hanya Roni, supir pribadi Aiden dan beberapa orang bodyguard Aiden saja yang tahu, jika Yuniar adalah istri Aiden.
Yuniar tidak berani memilih alibi bahwa dirinya tidak ingin terlalu intim saat bersama Aiden karena tidak ingin Aiden berhasraat, hingga akhirnya harus memuaskan kebutuhan biologisnya sendiri di kamar mandi. Yuniar takut hal itu akan menyinggung perasaan Aiden.
"Deg"
Jantung Aiden rasanya berhenti berdetak mendengar apa yang dikatakan oleh Yuniar. Hatinya terasa di tampar dengan sangat keras. Bahkan jemari tangannya yang tadi bergerak lincah di atas keyboard laptopnya pun seketika berhenti saat mendengar kalimat terakhir yang di ucapkan Yuniar.
"Astagaa! Jadi, karena alasan ini dia enggan untuk tidur bersama ku? Bodohnya aku! Kenapa aku bisa menjadi pria yang tidak peka seperti ini? Aku meminta dia tidur bersama ku dengan dalih bahwa dia adalah istri ku. Tapi aku tidak memikirkan lingkungan di sekitar ku. Tidak memikirkan perasaannya ataupun tanggapan orang-orang di rumah ini terhadap Yuniar. Benar kata Yuniar, jika para pelayan di rumah ini melihat Yuniar tidur di kamar ku, mereka akan menganggap Yuniar sebagai wanita murahan yang ingin naik ke atas ranjang ku,"
"Kenapa aku tidak memikirkan semua ini? Kenapa aku bisa menjadi seorang pria dan seorang suami yang sangat egois seperti ini? Aku hanya memikirkan diri ku sendiri tanpa memikirkan perasaan istri ku, gadis yang sangat aku cintai,"gumam Aiden dalam hati menatap nanar wajah istrinya yang tertunduk. Aiden merasa sangat bersalah pada istrinya itu.
"Aku.. Aku ingat dengan perjanjian pra nikah kita. Aku tidak akan meminta, apalagi menuntut hubby untuk mengakui aku sebagai istri hubby di depan publik. Aku tidak akan menuntut hubby untuk menikahi aku secara hukum. Aku.. Hanya.."
"Aku akan mengumumkan pada seisi rumah ini bahwa kamu adalah istriku. Mulai malam ini, tidurlah bersama ku!"ucap Aiden memotong kata-kata Yuniar, membuat Yuniar terkejut dan reflek mengangkat wajahnya menatap Aiden dengan tatapan tidak percaya.
...πππ...
..."Egois adalah sifat yang kita benci pada orang lain, tanpa menyadari, seringkali kita membenarkan keegoisan kita sendiri."...
..."Menginginkan orang lain menjadi seperti apa yang kita inginkan adalah suatu keegoisan."...
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
.
To be continued
__ADS_1