
Tanpa terasa waktu terus berlalu. Sudah satu bulan Aiden pergi meninggalkan Yuniar. Sesekali gadis itu menginap di rumah suaminya saat sedang merindukan pria itu.
Aiden pun selalu menyempatkan waktu untuk menghubungi istrinya itu. Baik via video call, panggilan suara, maupun hanya sekedar chatting. Walaupun berjauhan, tapi tidak membuat hubungan mereka menjadi renggang. Aiden yang seorang mantan Casanova, tentu saja tahu bagaimana cara menjerat hati seorang wanita. Apalagi wanita polos dan masih tergolong lugu seperti Yuniar.
Kata-kata manis, pujian, dan rayuan pun selalu menghiasi bibir sang mantan Casanova yang di buat mati gaya oleh pesona gadis desa yang keras kepala itu. Namun, kali ini semua yang terlontar dari mulut Aiden adalah tulus dari dalam hatinya. Karena Aiden memang benar-benar mencintai Yuniar setulus hati.
Setelah satu bulan berobat, akhirnya kaki Aiden pun sembuh total. Pria itu sudah dapat berjalan dengan normal. Hari ini Aiden pulang dengan rasa rindu yang begitu besar dan menggebu pada istrinya. Pria itu sudah tidak sabar untuk bertemu dengan istrinya yang masih muda dan menggemaskan di matanya itu.
"Kita langsung ke kampus istri ku,"titah Aiden pada supir pribadinya yang menjemputnya di bandara.
"Baik, Tuan,"sahut sang supir.
Pria itu bergegas masuk ke dalam mobil. Sudah tidak sabar rasanya untuk bertemu dengan istrinya yang selalu membuat dirinya merasakan perasaan cinta yang sebelumnya tidak pernah di milikinya itu. Aiden tahu bahwa hari ini Yuniar ada jadwal kuliah. Menurut perkiraan Aiden, jika sekarang dirinya langsung ke kampus Yuniar, maka Aiden akan sampai di kampus itu sekitar lima atau sepuluh menit sebelum Yuniar keluar dari kelasnya.
Di sisi lain, Yuniar mengikuti mata kuliahnya dengan serius dan mengerjakan tugas kuliah tanpa ada yang terlewatkan satu pun.
Tepat seperti dugaan Aiden, lima menit sebelum Yuniar keluar dari kelasnya, Aiden sudah sampai di depan kampus tempat Yuniar menimba ilmu.
"Aku akan membuat kejutan untuk kamu, baby,"gumam Aiden penuh senyuman.
Aiden memakai kacamata hitam dan juga masker untuk menutupi wajahnya. Meraih buket bunga mawar yang di belinya dalam perjalanan tadi dengan penuh senyuman. Membayangkan senyuman istrinya yang merekah saat menerima buket bunga itu.
Selain karena tidak ingin istrinya melihat dirinya lebih dulu, alasan Aiden memakai masker dan kaca mata hitam adalah karena tidak ingin para mahasiswi di kampus itu histeris karena melihat dirinya. Sebab, dua hal itu sudah pasti akan menyebabkan kejutan yang sudah di buatnya untuk istrinya gagal. Aiden turun dari mobil dan langsung mencari keberadaan istrinya tercinta.
Yuniar, gadis cantik dan pintar yang sulit di dekati. Tidak ada yang percaya saat Yuniar mengaku dirinya sudah bersuami. Hanya Dikra lah satu-satunya orang yang percaya bahwa Yuniar sudah bersuami.
Setelah mata kuliah selesai, Yuniar berniat menemui Dikra di tempat biasa mereka bertemu. Yaitu di taman yang rindang dan memiliki tempat duduk melingkar yang di buat dari semen. Dikra nampak duduk sendirian di tempat itu.
"Auwh!"pekik Yuniar.
"Awas!"pekik Dikra.
__ADS_1
Yuniar memekik saat tiba-tiba dirinya kehilangan keseimbangan karena high heels yang dipakainya tidak sengaja tergelincir dari susunan beton yang di pakai untuk jalan setapak berbentuk bulat itu. High heels yang di pakai Yuniar masuk ke dalam tanah karena kondisi tanah yang lembut usai hujan semalam.
Dikra langsung menangkap tubuh Yuniar yang pasti kepalanya akan membentur tempat duduk dari semen itu jika Dikra yang sedang duduk di sana tidak segera bangun dan menangkap tubuh Yuniar.
"Auwh!"pekik Yuniar saat ingin menjauh dari Dikra karena merasa tidak nyaman dengan Dikra yang saat ini sedang memeluknya.
Rambut Yuniar yang tergerai itu menyangkut di kancing kemeja Dikra, hingga Yuniar tidak bisa menjauhkan diri dari Dikra.
"Ah, rambut kamu tersangkut di kancing baju aku. Lepaskan dulu rambut kamu dari kancing kemeja aku. Jika aku melepaskan peganganku padamu, aku takut kamu akan terjatuh karena high heels kamu masih menancap di tanah,"ujar Dikra yang saat ini sedang memegang pinggang dan lengan Yuniar.
Dikra menunduk menatap high heels Yuniar yang masih menancap di tanah. Sedangkan Yuniar sulit bergerak karena rambutnya yang tersangkut di kemeja Dikra.
"I.. Iya,"sahut Yuniar yang benar-benar merasa tidak nyaman di sentuh pria lain selain suaminya. Karena baru kali ini Yuniar berdekatan dan bersentuhan dengan seorang pria selain suaminya.
Dikra masih memegang pinggang dan lengan Yuniar, pemuda itu memiringkan wajahnya menatap Yuniar yang sedang melepaskan rambutnya dari kancing kemeja Dikra. Posisi mereka saat ini terlihat seperti orang yang sedang berciuman jika di lihat oleh orang lain dari sudut tertentu. Dan sayangnya, orang yang melihat Yuniar dan Dikra dalam posisi itu saat ini adalah Aiden.
Aiden mengepalkan tangan kirinya dengan ekspresi wajah penuh amarah dan rasa cemburu. Sedangkan tangan kanannya meremas tangkai buket bunga yang di bawanya. Aiden melihat gadis yang sudah satu bulan di tinggalkannya dan dirindukannya itu terlihat sedang berciuman jika di lihat dari tempatnya berdiri saat ini.
Sedangkan Dikra merasa jantungnya tidak aman karena berdiri sedekat ini dengan posisi yang memungkinkan Dikra bisa menghirup aroma wangi nan segar dari rambut dan tubuh Yuniar.
"Sudah,"ucap Yuniar setelah berhasil melepas rambutnya yang tersangkut di kancing kemeja Dikra. Yuniar benar-benar merasa tidak nyaman dalam posisi seperti saat ini.
"Orang yang sedang rindu berat memang suka tidak fokus, ya?"ucap Dikra terkekeh kecil mencairkan suasana karena melihat Yuniar yang nampak canggung.
Dikra melepaskan tangannya dari tubuh Yuniar saat merasa Yuniar sudah berdiri dengan stabil.
"Apaan, sih! Jangan meledek!"keluh Yuniar dengan wajah yang memerah.
Yuniar memang sudah sangat merindukan suaminya. Rindu di pangku dan di dekap suaminya. Rindu menatap dan menyentuh tubuh indah suaminya. Rindu dengan perasaan nyaman saat berada di dalam dekapan suaminya.
"Cieee.. Ciee.. Yang lagi kangen berat sama ayang beb!"Dikra semakin senang meledek Yuniar yang pipinya memerah.
"Dikra!"pekik Yuniar berusaha memukul Dikra tapi Dikra berhasil menghindar.
__ADS_1
"Kalau kangen sama ayang beb jangan di pukul, ya! Di peluk dan di cium aja biar kangen nya ilang. Di uyel-uyel kalau perlu,"Dikra masih saja meledek Yuniar sambil tertawa, hingga membuat Yuniar semakin keki pada Dikra dan mengejar Dikra yang terus menghindar.
Interaksi kedua insan yang terlihat akrab dan bahagia itu malah membuat seorang suami yang sedang rindu berat pada istrinya mengeluarkan aura yang terlihat suram di balik masker dan kaca mata hitamnya.
"Apa kamu begitu bahagia bersama pria lain yang lebih muda dari ku? Kamu bahkan tidak pernah seperti itu saat bersamaku. Lebih banyak mencari alasan untuk menghindar dari ku. Kamu menempel padaku setelah aku merasa kesal padamu. Sepertinya kamu menempel padaku hanya untuk meredakan kekesalanku saja,"
"Apa kamu memang tidak memiliki sedikit pun rasa cinta di hati mu untuk ku? Apakah hati mu sudah kamu berikan kepada dia? Kamu selalu mengatakan, selama kakiku belum sembuh, kamu akan tetap berada di sisiku. Apa kamu akan meninggalkan aku jika tahu kakiku sudah sembuh?"gumam Aiden dalam hati.
Pria itu menjatuhkan buket bunga yang di bawanya. Pria itu membalikkan tubuhnya, lalu melangkah pergi meninggalkan tempat itu dengan wajah kecewa.
Dada Aiden terasa sesak melihat manisnya kebersamaan Yuniar dan Dikra. Aiden dapat mendengar suara senda gurau kedua insan itu, walaupun tidak terlalu jelas, tapi interaksi keduanya benar-benar membuat hati Aiden hancur.
Perbedaan usia di antara dirinya dan Yuniar yang terlalu jauh, alasan Yuniar menikahi dirinya, dan sikap Yuniar yang sering beralasan untuk menghindari dirinya kembali berputar bagaikan film dalam ingatannya.
Aiden ingin membuat kejutan untuk Yuniar dengan pulang tanpa memberi kabar pada Yuniar. Memperlihatkan kakinya yang sudah sembuh. Namun nyatanya, malah Aiden lah yang terkejut karena melihat kebersamaan Yuniar bersama pria lain yang terlihat berciuman jika di lihat dari tempatnya berdiri tadi. Yuniar terlihat bahagia dengan pria yang jauh lebih muda darinya. Pria yang mungkin lebih tua sedikit dari Yuniar.
"Kenapa?"tanya Dikra saat melihat Yuniar tidak lagi mengejarnya. Dikra melihat Yuniar menoleh ke kanan dan ke kiri seperti mencari seseorang,"Siapa yang kamu cari?"tanya Dikra penasaran.
...πππ...
...Mentari, bulan, sang fajar dan sang senja datang silih berganti. Menunjukkan pesonanya sendiri-sendiri....
...Kebahagiaan dan kesedihan tidak ada yang abadi. Semua datang silih berganti, tanpa bisa di tunda, apalagi di pinta untuk pergi....
...Cahaya dan kegelapan muncul secara bergantian. Seperti kesedihan dan kebahagiaan yang tidak pernah terpisahkan....
...Cinta sejati tidak berarti harus memiliki. Terkadang cinta sejati itu terpisah, namun di dalam hati tak ada yang berubah....
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
.
__ADS_1
To be continued