Casanova Mati Gaya

Casanova Mati Gaya
64. Magang


__ADS_3

Yuniar sudah selesai membantu Aiden membersihkan diri. Gadis itu terpaksa mandi lagi karena ulah suaminya tadi. Ulah suaminya yang hampir saja membobol gawangnya.


"Hubby, menurut ilmu pijat refleksi yang aku pelajari, dengan kondisi kaki hubby yang seperti saat ini, seharusnya hubby sudah bisa berjalan,"ujar Yuniar yang merasa aneh dengan keadaan kaki Aiden.


"Aku hanya bisa menggerakkannya sedikit baby. Tidak bisa berjalan,"kilah Aiden yang belum ingin mengaku jika kakinya sudah sembuh.


"Aneh sekali. Kenapa tidak sesuai dengan ilmu pijat refleksi yang aku pelajari, ya? Aku akan mempelajari ilmu pijat refleksi lebih giat lagi,"gumam Yuniar yang masih bisa di dengar Aiden.


"Ada orang yang ingin meracuni aku, memberikan obat untuk melemahkan otot-otot ku agar aku tidak bisa berjalan,"ujar Aiden yang memang benar adanya.


"Apa?! Siapa orang yang tega berbuat seperti itu, By?"tanya Yuniar terlihat terkejut.


"Kamu tidak mengenalnya, baby. Tapi, aku sudah tahu siapa orang itu dan memprediksi maksud serta tujuan mereka meracuni aku. Aku hanya ingin memastikan apa benar tujuan mereka seperti yang aku prediksikan. Aku ingin tahu lebih lanjut apa saja yang mereka inginkan dariku. Aku ingin mereka merasa menang terlebih dulu. Setelah itu, aku akan membalikkan keadaan,"ujar Aiden dengan wajah serius.


"Apa itu tidak berbahaya, By?"tanya Yuniar nampak khawatir.


"Tenang saja baby! Semuanya akan baik-baik saja,"ujar Aiden tersenyum tipis seraya mengelus kepala Yuniar.


*


Setelah selesai makan malam, Yuniar nampak sibuk dengan laptopnya. Sudah dua jam gadis itu fokus dengan layar laptopnya.


"Baby, apa kamu sedang mengerjakan tugas kuliah?"tanya Aiden yang baru saja menutup laptopnya.


Aiden mengernyitkan keningnya karena tidak mendapatkan jawaban dari Yuniar. Pria itu meletakkan laptopnya di atas meja, lalu mendekati istrinya yang ternyata memakai earphone.


"Pantas saja tidak mendengar pertanyaan ku,"gumam Aiden menggelengkan kepalanya pelan.


Melihat Aiden mendekati dirinya, Yuniar pun melepaskan earpone yang dipakainya.


"Apa hubby membutuhkan sesuatu?"tanya Yuniar seraya menutup laptopnya.


"Apa kamu sedang mengerjakan tugas kuliah?"tanya Aiden mengulangi pertanyaannya tadi tanpa menjawab pertanyaan Yuniar.


"Aku sedang mencari informasi tentang tempat untuk magang, By,"sahut Yuniar tersenyum tipis.


"Mencari tempat untuk magang? Kamu jurusan ekonomi dan bisnis, kan?"


"Hum,"


"Bagaimana jika magang di perusahaan ku saja? Kamu bisa membantu sekretaris ku,"tawar Aiden tersenyum tipis,"Jika Yuniar magang di kantor ku, aku akan lebih mudah untuk mengawasi Yuniar. Sekaligus, menjauhkan Yuniar dari pemuda yang bernama Dikra itu,"gumam Aiden dalam hati.


"Bolehkah?"tanya Yuniar agak terkejut dengan tawaran Aiden.

__ADS_1


Yuniar tahu, jika dirinya bisa meminta Aiden untuk menerimanya magang di perusahaannya, tapi Yuniar enggan untuk memintanya. Tidak ingin di bilang memanfaatkan suaminya. Karena itu, Yuniar lebih memilih mencari tempat magang lain.


"Tentu saja. Untuk apa kamu sibuk mencari tempat untuk magang, jika suami kamu memiliki perusahaan?"


"Terimakasih, hubby!"ucap Yuniar dengan wajah cerah.


"Tapi, kamu harus magang dengan normal. Walaupun kamu adalah istri ku, kamu harus menunjukkan bakat, kecerdasan dan skill kamu dalam melakukan tugas. Jangan membuat suamimu malu karena memasukkan orang tanpa skill,"ujar Aiden memperingati.


"Tentu saja. Aku pasti akan melakukan tugas-tugas yang di berikan padaku sebaik mungkin,"sahut Yuniar antusias.


"Bagus,"Aiden tersenyum tipis melihat Yuniar yang terlihat senang,"Aku harap, semakin sering kita bersama, sedikit demi sedikit aku bisa meluluhkan hatimu,"gumam Aiden dalam hati.


Aiden tidak mengetahui jika Yuniar sudah mencintai dirinya. Semua itu karena niat awal Yuniar menikah dengan dirinya karena rasa tanggung jawab dan rasa bersalah. Ditambah lagi dengan Aiden yang melihat Yuniar di kampus tadi. Aiden menyangka Yuniar berciuman dengan pria lain.


"Sudah larut malam. Sebaiknya kita tidur,"ucap Aiden yang memang ingin segera beristirahat.


"Hum,"sahut Yuniar bergegas meletakkan laptopnya.


Sebelum Aiden protes tentang braa nya, Yuniar pun melepaskannya lebih dulu. Tak lama kemudian, keduanya sudah berbaring di atas ranjang. Yuniar meletakkan kepalanya di dada Aiden yang bertelanjang dada dengan tangan yang melingkar di tubuh Aiden.


"Bisakah kamu tidak dekat dengan pria lain?"tanya Aiden membuat Yuniar yang hampir memejamkan mata itu mendongak menatap Aiden.


"By, aku hanya berteman dengan para mahasiswa itu. Tidak ada yang spesial antara aku dan para mahasiswa itu. Kami hanya teman biasa. Jika bersama, kami hanya membicarakan soal ilmu yang bermanfaat, membahas soal kuliah ataupun pengalaman pribadi yang bisa memotivasi kami. Tidak ada yang melibatkan perasaan. Kami murni hanya berteman. Jika aku menjauhi mereka, aku akan dianggap sombong dan tentunya aku akan menjadi kuper, alias kurang pergaulan, By,"ujar Yuniar yang merasa Aiden mulai bersikap posesif.


Yuniar menghela napas panjang, kembali meletakkan kepalanya di dada Aiden,"Aku takut, hubby menjadi pria yang posesif,"gumam Yuniar dalam hati.


"Aku baru akan memberitahu soal kesembuhan kakiku pada Yuniar, setelah aku yakin, jika Yuniar mencintai aku,"gumam Aiden dalam hati.


***


Hari itu adalah hari pertama Yuniar magang di perusahaan suaminya. Yuniar memilih mengendarai motor maticnya dari pada harus satu mobil dengan Aiden. Sebab, Yuniar sudah pasti akan menjadi pusat perhatian semua orang jika berada dalam satu mobil bersama Aiden.


Sekretaris Aiden nampak datang ke bagian HRD sesuai perintah Roni. Hari itu memang ada beberapa pemagang yang baru masuk ke perusahaan itu termasuk Yuniar yang melalui koneksi suaminya.


"Saya ingin melihat data para pemagang ini,"ucap sekretaris Aiden pada bagian HRD, lalu menatap wajah para pemagang itu satu per satu.


"Oh, tentu saja, Bu,"sahut bagian HRD itu menyerahkan semua data yang ada padanya pada wanita paruh baya yang memakai kacamata itu.


Wanita itu melihat data para pemagang satu per satu, mencari nama yang harus di bawa bersamanya sesuai perintah Roni.


"Yang bernama Yuniar, tolong ikut bersama saya,"ucap perempuan paruh baya itu.


"Baik, Bu,"sahut Yuniar.

__ADS_1


Yuniar mengikuti langkah kaki wanita paruh baya itu hingga mereka tiba di meja kerja wanita paruh baya itu yang berada di depan ruangan yang merupakan ruangan CEO, yaitu ruangan Aiden.


"Nama saya adalah Melda. Kamu akan membantu saya mulai hari ini,"ucap wanita paruh baya yang ternyata bernama Melda itu.


"Siap, Bu Melda. Saya akan berusaha bekerja sebaik mungkin. Mohon bimbingan ibu,"ucap Yuniar sedikit menundukkan kepalanya penuh semangat.


"Ah, saya sangat suka dengan semangat kamu. Semoga kinerja kami juga bagus,"ucap Melda tersenyum senang.


"Saya akan berusaha, Bu,"sahut Yuniar antusias.


"Untuk saat ini, saya akan memberikan kamu pekerjaan merapikan ruangan Tuan Aiden. Susun berkas yang harus di tandatangani dan berkas yang harus di simpan. Jangan melakukan kesalahan sekecil apapun! Karena kesalahan kecil bisa mengakibatkan hal yang fatal,"ujar Melda memperingati Yuniar.


"Baik, Bu. Saya mengerti,"sahut Yuniar.


"Sekarang, kita masuk ke ruangan Tuan Aiden. Beliau masih berada di salah satu divisi. Saya akan menunjukkan pada kamu semua berkas-berkasnya,"ucap Melda seraya berjalan ke ruangan Aiden di ikuti Yuniar.


Roni memang berpesan pada Melda agar menyuruh Yuniar membereskan berkas-berkas di meja Aiden.


"Ternyata di sini tempat hubby bekerja setiap hari,"gumam Yuniar dalam hati setelah masuk ke ruangan Aiden seraya memperhatikan ruangan itu.


Melda menunjukkan berkas-berkas yang harus di susun Yuniar dan di mana Yuniar harus menyimpan berkas-berkas yang perlu di simpan. Setelah menunjukkan semuanya, Melda pun keluar dari ruangan itu meninggalkan Yuniar sendiri.


"Siapa gadis yang bernama Yuniar ini? Sepertinya dia orang yang sangat istimewa. Sebelumnya Pak Roni tidak pernah secara khusus memperhatikan seorang pun di perusahaan ini,"gumam Melda dalam hati.


Yuniar melihat foto masa kecil Aiden bersama Aurora di atas meja kerja Aiden. Ada juga foto Aiden bersama Aurora dan kedua orang tua Aiden.


"Apakah suatu hari hubby akan memasang foto kami berdua di atas meja kerjanya? Ah, bahkan kami tidak memiliki foto berdua. Huff.. kenapa aku jadi memikirkan hal itu? Ini adalah hari pertama ku bekerja. Aku harus melakukannya dengan cepat dan baik,"gumam Yuniar kemudian segera melakukan tugas yang di berikan oleh Melda.


Satu jam kemudian, Yuniar pun selesai melakukan tugas yang di berikan Melda. Bahkan gadis itu sudah selesai merapihkan ruangan Aiden yang di rasa belum rapi.


"Akhirnya selesai juga. Ish.. Aku ingin ke toilet. Saat datang bulan seperti ini, aku benar-benar merasa tidak nyaman. Di ruangan hubby ini pasti ada toiletnya, 'kan? Hubby tidak akan marah, 'kan, kalau aku memakai toiletnya?"gumam Yuniar, kemudian mencari toilet di ruangan itu.


Setelah mencari, ternyata toiletnya ada di dalam ruangan pribadi Aiden. Ruangan yang di dalamnya ada ranjang dan juga lemari pakaian. Yuniar pun bergegas masuk ke dalam toilet.


Di sisi lain, Roni mendorong kursi roda Aiden menuju ruangan Aiden saat Melda baru saja meninggalkan meja kerjanya.


"Aiden!"suara itu membuat Roni menghentikan langkah kakinya dan Aiden reflek menoleh ke arah sumber suara.


...🌸❀️🌸...


Maaf telat update. Soalnya baru sempat nulis. πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2