CEO Dingin Kesayangan

CEO Dingin Kesayangan
41.


__ADS_3

" Kamu sudah tenang?" tanya julian.


Fanya melepas pelukannya dan mengangguk kecil.


" Minumlah dulu." ucap Julian memberikan segelas air putih untuk Fanya.


Fanya meminum air itu hingga tandas, dirinya sudah mulai sedikit tenang, namun ia juga merasa malu telah lancang memeluk julian yang mana julian adalah atasannya sendiri, terlebih lagi ada dave tadi yang melihatnya.


ingin rasanya fanya menghilang dari hadapan julian saat ini juga.


Tapi mau bagaimana lagi, kejadian tadi benar benar membuat dirinya shock, karena baru kali ini dia di lecehkan orang yang tidak dikenal, terlebih lagi mereka adalah seorang preman.


" I-ini dompet kamu " ucap Fanya mengeluarkan dompet julian dari dalam tasnya.


" Harusnya kamu kasihkan saja besok saat di kantor, atau kamu bisa menitipkannya pada keysa." ucap julian.


Bukannya tidak tau terimakasih, dia hanya khawatir pada fanya.


" A-aku hanya khawatir kamu mencarinya mas, sedangkan aku tidak mempunyai nomor ponselmu untuk aku hubungi." ucap Fanya.


" Baiklah terimakasih sudah mengantarkannya kemari." ucap julian lalu menaruh dompetnya diatas meja.


" Kemarikan ponselmu." sambung julian mengulurkan tangannya meminta ponsel milik fanya.


" Untuk apa?" tanya Fanya bingung namun tetap memberikan ponselnya pada julian.


Julian tidak menjawab, dia memasukkan nomor ponselnya untuk disimpan diponsel fanya.


" Nih... aku udah memasukkan nomorku di ponselmu, kalau ada apa ap hubungi saja aku." ucap julian mengembalikan ponsel fanya.


Fanya sedikit tertegun, ia tidak menyangka jika julian dengan mudah memeberikan nomor ponselnya pada dirinya.


" Ahh.. iyaa makasih." ucap fanya lalu memasukkan ponselnya kedalam tas.


" Aku pulang dulu kalau begitu." sambung Fanya yang sudah berdiri.


" Dengan keadaan seperti itu?" tanya julian.


" Lalu aku harus bagaimana? aku tidak membawa jaket tadi." ucap fanya, ia tahu jika baju bagian belakangnya sedikit robek.


tapi ia juga tidak tau harus bagaimana.


" Tunggu sebentar." ucap Julian lalu ia berjalan menuju kamarnya.


Ia mengambil jaket dan kunci mobil lalu keluar menghampiri fanya.


" Pakai ini, dan biar aku antar pulang." ucap julian menyodorkan jaket yang berukuran besar pada fanya.


Fanya mengerjapkan matanya dua kali, akan jadi seperti apa jika dirinya memakai jaket julian.


" Pakailah." seru julian.

__ADS_1


Fanya langsung memakai jaket julian yang sangat besar di tubuhnya.


Julian tersenyum saat melihat Fanya memakai jaketnya.


Sungguh tubuh fanya tenggelam oleh jaket milik julian.


" Aku seperti orang orangan sawah." ucap Fanya saat melihat tubuhnya yang memakai jaket julian.


Julian menahan tawanya karena memang benar apa yang dikatakan oleh fanya.


" Sudahlah, tidak akan ada yang melihat selain aku.


Sekarang biar aku antar pulang." ucap Julian diangguki fanya.


Fanya dan julian berjalan beriringan menuju tempat parkir dimana mobil julian berada.


beberapa tetangga apartemen julian banyak yang mengira jika fanya adalah kekasih julian.


Karena memang baru pertama kali ini mereka melihat julian membawa seorang wanita ke apartemennya.


Julian nampak acuh saat tetangga yang berpapasan dengannya sesang berbisik tentangnya dan fanya, namun tidak untuk fanya, dia menunduk malu.


" Maafkan aku, aku tau kamu risih tadi." ucap Fanya saat sudah memasuki mobil julian.


" Biarkan saja, toh itu mulut mereka, aku tidak perduli dengan apa kata mereka, selama perkataan mereka masih bisa ditoleransi aku akan membiarkannya." ucap Julian, ia menghidupkan mesin mobilnya lalu melaju keluar dari area apartemen.


" Alamat rumahmu masih sama kan?" tanya julian yang matanya tetap fokus melihat ke arah depan.


emang aku punya berapa rumah? dipikir aku orang kaya apa yang punya banyak rumah. batin fanya mencebikkan bibirnya.


" Aku hanya memastikan barang kali kamu pindah rumah." ucap julian yang seakan mengerti isi pikiran fanya.


" Maaf." ucap fanya menunduk malu.


Julian menoleh kearah fanya, tangannya terulur mengusap lembut rambut fanya.


Fanya mendongakkan kepalanya menoleh ke arah julian, namun laki laki itu tmpak biasa saja seperti tidk terjadi apa apa, sedangkan jantung fanya seakan mau lompat dari sarangnya.


Tak butuh waktu lama akhirnya mobil julian sampai di depan rumah fanya.


Fanya membuka seatbeltnya dan hendak turun.


" Terimakasih sudah mengantarkanku pulang." ucap Fanya sedikit menundukkan kepalanya.


" Aku juga terimakasih kamu sudah mengantarkan dompetku sampai kamu mengalami kejadian hal yang seperti tadi." ucap julian.


" Tidak apa apa, kalau begitu aku turun dulu, kamu hati hati dijalan." ucap Fanya diangguki julian.


Fanya turun dari mobil dan melambaikan tangannya saat mobil julian pergi dari depan rumahnya.


_______

__ADS_1


Sementara itu seorang Gadis tengah menikmati angin malam di balkon kamarnya, pikirannya selalu terngiang ngiang dengan perkataan seorang pemuda yang mengatakan perasaannya tadi pagi.


Apakah pemuda itu benar benar menyukainya atau tidak, dia belum bisa memastikannya.


Gadis itu adalah Vita, ia sendiri masih bimbang dengan perasaan yang ia rasa saat bersama dengan kenan, apakah dirinya juga menyukai kenan atau sekedar rasa biasa yang seperti pertemanan pada umumnya.


Namun disisi lain dia merasa nyaman jika berada disamping kenan.


Dia sendiri sulit untuk mengartikan rasanya pada kenan.


" Aarrgghhhh.. kenapa gue jadi bingung begini sih?" teriak Vita mengacak rambutnya.


ddrrtttt .... drrrttt...


Ponsel milik Vita bergetar, tertera nama keysa yng sesang menghubunginya.


" Hallo key ada apa? tumben malem malem gini lu telpon gue?" tanya Vita.


" Gapapa, gue pengen ngobrol aja sama lu soal kenan." jawab keysa.


" Soal kenan? emang kenan kenapa?" tanya Vita sedikit panik.


" Kenan gak kenapa napa, cuma gue lihat ad raut kekecewaan pada wajahnya setelah dia ngungkapin perasaanya sama lu." jawab Keysa.


" iya key, tadi pagi kenan bilang kalau dia sayang sama gue, gue sedikit shock waktu kenan bilang gitu sama gue." Ucap Vita.


" Terus perasaan lu gimana sama adek gue? tolong jangan beri dia harapan kalau lu emang gak ada rasa sama dia, kasih dia kejelasan kalau memang lu gk ada perasaan apapun sama dia.


Karena gue gak mau adek gue kecewa, dan asal lu tau ini pertama kalinya dia suka sama cewek, dan cewek itu elu." ucap keysa panjang lebar.


" M-maksud lo? gue cewek pertama yang dia suka gitu?" tanya vita yang tidak percaya.


" Iyaa... lu cewek pertama yang bisa masuk kedalam hatinya, gue terpaksa kasih tau lu soal kenan, karena gue berharap lu gak bikin adek gue kecewa." Ucap keysa.


" Tapi key..."


" Gue berharap lu secepetnya bilang sama kenan jika lu gak ada perasaan sama dia, jangan gantungin dia, biar dia bisa cari cewek lain yang bisa ngobatin rasa sakit hatinya." ucap keysa lalu mematikan sambungan telponnya.


" Gue harus gimana?" ucap Vita menatap layar ponselnya.


.


.


.


.


.


Sedih banget gak ada yang komen 😢😢

__ADS_1


Tapi gapapa, author udah biasa kok 😁😁


__ADS_2