
Julian duduk di sebuah Kafe di temani secangkir Coffe Americano. Sembari menunggu Dave dan juliia Fitying baju ia mengeluarkan laptop untuk mengecek pekerjaanya.
Meskipun ia tidak berada di kantor, pekerjaan itu tetap saja menjadi kewajibannya.
Siapa lagi yang akan menghandle pekerjaan Dave kalau bukan dirinya? apalagi disaat saat mendekati hari pernikahan Dave dan keysa banyak sekali pekerjaan yang dibiarkan Dave begitu saja.
" Bukankah itu pak julian?" gumam Fanya yang ternyata berada di Kafe yang sama.
" Ngapain dia disini? kenapa gak ke kantor?" tanyanya pada diri sendiri.
Fanya berjalan menghampiri Julian yang terlihat sangat fokus dengan laptopnya.
" Mas Julian." panggil Fanya seketika membuat Julian mendongakan kepalanya.
" Fanya? kok kamu disini?" ucap Julian saat mendapati Fanya berdiri di sampingnya.
" Boleh duduk?"
" Hm."
" Aku disini habis nganterin mama ke rumah sakit." ucap Fanya. ia melambaikan tangannya memanggil pelayan.
" Jus strawberrynya satu." ucap Fanya.
" Baik kak, mohon ditunggu sebentar."
" Mama kamu sakit?" tanya Julian sambil menutup laptopnya.
" Sedikit kurang enak badan." jawab Fanya.
" Kenapa mas gak ke kantor?"
" Kamu sendiri juga tidak ke kantor." ucap Julian membalikkan ucapan Fanya.
" Permisi silahkan."
" Terimakasih mbak." ucap Fanya setelah pelayan meletakkan minumanya diatas meja.
" Kan aku ada keperluan buat nganter mama ke rumah sakit, lagian kalau bukan aku siapa lagi?" jawab Fanya.
" Kalau mas ngapain disini? sendirian lagi." lanjutnya setengah meledek.
" Aku sedang mengantar Dave dan Keysa fitting baju di boutique sana." ucap Julian sambil menunjuk sebuah bangunan besar di seberang jalan.
" Mereka baru fitting baju?" tanya Fanya sedikit heran karena pasalnya Hari pernikahan mereka kurang dari satu bulan tapi mereka baru fitting baju.
" Emang Kenapa?" tanya Julian sambil menyesap kopi di depannya.
" Gapapa sih, kan pernikahan mereka tinggal sebentar lagi." jawab Fanya.
__ADS_1
Belum sempat Julian membalas ucapan Fanya, dering ponselnya berbunyi.
Ia melihat keluar kaca yang ternyata Dave sudah menunggunya di depan mobil.
" Tunggu sebentar aku segera kembali." ucap Julian yang ternyata panggilan itu dari Dave.
" Pak Dave ya?" tebak Fanya diangguki julian.
" Aku harus pergi, Dave sudah menungguku." ucap Julian sambil memasukkan laptopnya kedalam tas.
" Ah iya, silahkan. Hati hati dijalan." ucap Fanya yang ikut berdiri dan sedikit membungkukkan badannya.
" Kamu juga hari hati kalau pulang." balas julian sambil mengacak lembut rambut Fanya.
" I-iya." jawab Fanya dengan gugup setelah itu Julian pergi meninggalkan Fanya yang sedang mematung.
Fanya memegangi dadanya yang berdegup dengan kecang. Hanya sedikit sentuhan di kepala mampu membuat jantungnya seakan ingin lompat dari tempatnya.
" Apa pantas aku memiliki rasa padamu?" Gumam Fanya sambil menatap kepergian Julian.
***
" Kenapa lama sekali?" ucap Dave saat julian mendudukkan bokongnya di kursi kemudi.
" Baru 5 menit sejak kau menelponku." jawab Julian sambil memasang seatbeltnya.
" Aku berpamitan dulu dengans eseorang yang menemaniku di Kafe tadi." jawab Julian yang sudah melajukan mobilnya menuju gedung.
" Fanya." jawab Julian membuat kedua alis keysa bertaut.
" Fanya temen aku?" sahut Keysa diangguki Julian.
" Ngapain dia kesini? kok gak ke kantor?"
" Katanya habis dari rumah sakit nganterin mamanya yang kurang enak badan." jawab Julian.
" Oohh.."
Tak terasa mobil yang mereka tumpangi sampai di sebuah gedung yang akan digunakan untuk melangsungkan pernikahan Dave dan Keysa.
Ketiganya turun lalu masuk kedalam gedung.
Mata keysa berbinar saat melihat betapa indah dekorasi pernikahan yang akan ia dan Dave gunakan nanti. Mulut yang menganga mengekspresikan betapa kagumnya akan dekorasi yang sangat mewah ini.
Tidak heran jika ini membutuhkan waktu yang lumayan lama, karena dekorasi gedung ini benar benar mewah.
Julian memang mencari WO terbaik di indonesia atas permintaan kedua orang tua Dave. Tak heran jika pengerjaan ini membutuhkan biaya yang tak kalah fantastis.
" kamu suka? ini belum sepenuhnya selesei." ucap Dave menarik pinggang Keysa agar le ih dekat dengannya.
__ADS_1
" Suka banget mas, ini bener bener mewah banget.." jawab Keysa tanpa mengalihkan pandangannya.
" Biayanya pasti mahal." ucap Keysa menatap Dave dengan tatapan polosnya.
Dave terkekeh kecil mendengar kalimat polos yang keluar dari bibir calon istrinya.
Ia mengacak rambut Keysa karena calon istrinya ini sungguh sangat menggemaskan.
" Gak usah di pikirin, uangku tidak akan habis hanya untuk pesta pernikahan kita yang sederhana ini." ucap Dave membuat kedua mata gadis itu melotot sempurna.
Sederhana? Apa Dave baru saja merendah?.
Kalau seperti ini dikatakan sederhana lantas yang mewah seperti apa?
Keysa gelemg geleng kepala menatap Dave yang masih terkekeh.
" Kamu kenapa?" ucap Dave saat melihat ekspresi wajah Keysa yang sulit ditebak.
" Gila." ucap Keysa lalu pergi melihat lihat yang lain.
Dave mengerutkan dahinya kemudian tertawa keras, ia tau apa yang ada dipikiran calon istrinya itu.
Ia lalu berjalan menyusul keysa yang sedang melihat seisi gedung.
" Setelah kita menikah apa boleh aku tetep bekerja?" tanya Keysa menatap Dave yang berdiri disampingnya.
" Aku tidak akan melarang kamu apapun. Kalau menurutku lebih baik kamu dirumah saja, biarkan suamimu ini yang bekerja. Kamu hanya duduk manis di rumah sambil menunggu kepulanganku." ucap Dave sambil mencium pucuk kepala keysa.
" Aku akan bosan kalau di rumah terus." ucap Keysa mengerucutkan bibirnya.
" Kalau gitu kamu boleh ikut bekerja, tapi jika suatu saat kamu sudah hamil. aku dengan tegas melarang kamu untuk ikut bekerja." jawab Dave.
" Iya ma.. makasih ya." ucap Keysa memeluk tubuh Dave.
Dave sudah memikirkan segala sesuatunya, ia memang tidak melarang keysa dalam hal apapun. membiarkan Keysa melakukan hal yang menurutnya nyaman dan aman. Selagi benih cinta itu belum tumbuh di dalam perut keysa, dave tidak akan melarang apa ya g akan dilakukan oleh keysa nantinya.
Namun jika suatu saat benih cinta itu mulai tumbuh di dalam perut Keysa, ia akan dengan tegas melarang keysa melakukan hal yang menurutnya akan membahayakan keysa dan calon babynya kelak.
Dave memang mulai belajar bagaimana cara menjadi suami yang baik, menjadi pemimpin rumah tangga yang baik, dan membuat istri agar selalu bahagia.
Mempelajari bagaimana cara meminimalisir sebuah masalah dalam rumah tangga. Sekecil apapun hal itu ia pelajari sampai ia benar benar mengerti agar nantinya ia mudah untuk menerapkannya.
Setelah puas melihat sekeliling, Dave mengajak Keysa pulang karena hari sudah beranjak siang dan waktunya mereka untuk makan siang.
.
.
.
__ADS_1
.
TBC