CEO Dingin Kesayangan

CEO Dingin Kesayangan
47.


__ADS_3

Keysa dan dave melangkahkan kakinya menuju ruang kerja, namun keysa cukup terkejut saat melihat meja dan peralatan kerjanya tidak ada di tempat alias kosong.


" Kok kosong?" gumam keysa, ia melihat tidak ada satupun kertas di atas meja kerjanya.


ia menoleh ke arah dave yang seperti biasa menampilkan wajah datarnya.


" kamu yang pindahin?" tanya keysa dibalas gelengan oleh dave.


" Kemarin aku sama kamu terus mana sempat aku yang mindahin, lagian kurang kerjaan sekali aku mindahin tempat kerja kamu." jawab Dave.


Keysa memutar bola matanya malas, padahal bukan itu maksud dia.


" Mungkin OB." sambungnya kemudia tertawa kecil melihat ekspresi keysa.


" cckk.. kamu iihh..


terus tempat kerjaku dimana?" tanya keysa.


" Situ." tunjuk dave pada ruangannya.


" Maksud kamu?"


Tanpa menjelaskan, dave menarik tangan keysa masuk kedalam ruangannya.


Disana sudah ada meja khusus untuk keysa lengkap dengan komputer dan berkas berkasnya.


" Satu ruangan dengan kamu?" tanya keysa diangguki dave.


" Biar aku ada temennya kalau lagi suntuk." jawab Dave.


Keysa mendengus sebal, ia mendudukkan bokongnya di kursi lalu mulai menyalakan layar komputernya.


" Kenapa lagi? sana duduk di tempatmu." ucap Keysa saat dave masih berdiri di sampingnya.


" Yang boss kan aku, kenapa kamu yang ngatur?"


" Terserah kamu." jawab keysa memutar bola matanya malas.


Dave terkekeh melihat raut kesal keysa, ia berjalan menuju meja kerjanya lalu memulai pekerjaannya.


Ditengah fokusnya mereka bekerja, seseorang membuka paksa pintu kerja dave.


Tau siapa orangnya, dave dan keysa mendengus kesal.


" Bisa ngetuk pintu dulu gak sih?" ucap Dave dengan datarnya.


" Lupa, si cantik kemana?" tanya orang itu adalah justin.


" Eheemm.." Deheman keysa sukses membuat justin memutar badanya.


" Eehh... udah pindah kesini ternyata." ucap Justin menghampiri keysa.


" Apa kabar cantik?" tanya justin sambil duduk di meja keysa.


" Turun atau gue tendang lu dari sini." ancam Dave memberikan tatapan tajam pada justin.


" Yaelah gitu doang marah." ucap Justin lalu berjalan menuju sofa.


" Ada apa?" tanya Dave namun matanya fokus pada layar laptop.


" Main doang, emang nggak boleh?" jawab justin.


" ini kantor tempat bekerja, bukan tempat bermain." sahut keysa.


" Cantikku galak sekali sih." ucap Justin menatap Keysa.


" Katakan." sahut Dave.


" Cuma mau ngasih ini doang." jawab Justin mengeluarkan sebuah undangan dari saku jaketnya.

__ADS_1


" Apa itu?" tanya keysa.


" Undangan pernikahan gue sama clara." jawab Justin.


" Kalian mau menikah?" ucap keysa dengan mata membulat.


" Gak .. mau daftar jadi TKI." jawab Justin malas.


" yeee.. di tanya baik baik juga." kesal keysa.


" Kapan? dan dimana?" sahut Dave.


" Gunanya gue ngasih lu undangan apa kalau bukan lu baca bambang." kesal Justin.


" Tidak penting, katakan saja." ucap Dave.


" Minggu depan, di gedung xxx." jawab Justin pasrah.


memang begitulah jika berhadapan dengan Dave, harus memiliki kesabaran yang ekstra.


" Lu berharap gue dateng?" tanya Dave yang kini sudah duduk di depan justin sambil memegang kertas undangan itu lalu membacanya.


" Gak ada gunanya gue kasih tau lu, jika ujung ujungnya lu baca sendiri." ucap justin lumayan kesal


" Dateng gak dateng terserah elu, bodoh amat dah." sambungnya yang merasa jengah.


" Jangan gitu lah mas, sebentar lagi kita juga mau nikah nanti kak justin gak mau dateng loh." sahut keysa.


" Dia bukan tamu penting, jadi gak ngaruh ke pesta pernikahan kita kalau dia gak dateng, lagian aku belum tentu mau mengundangnya." jawab Dave dengan pedasnya.


" mati aja sono lu dave." geram Justin.


Keysa dan Dave tertawa keras melihat ekpresi kesal si justin.


" iya..iyaa gue sama keysa akan dateng nanti." ucap dave.


" Siapin hadiah buat gue ya." pinta justin dengan tersenyum jahil.


" Rumah, apartemen atau apa kek, orang kaya seperti lu masa mo ngasih hadiah s3mvak." jawab Justin.


" Dihh.. baru kali ini minta hadiah tapi milih." sahut keysa.


" Calon suami kamu ini kalau gak di kode gak bakalan peka." jawab justin.


" Bener kata kak justin, aku ngode aja dia gak peka sama sekali." ucap Keysa membuat dave mengernyitkan dahinya.


" emang kamu ngode minta apa sayang?" tanya dave.


" Seblak." jawab keysa asal.


" Aku serius."


" Aku juga serius, waktu aku datang bulan aku ingin sekali makan seblak, kamu aku kodein malah gak peka sama sekali." jawab keysa mengerucutkan bibirnya.


ia teringat waktu dia datang bulan, ia ingin sekali makan seblak namun dave tidak menanggapinya.


" Aku gak tau, makanan seblak aja aku baru denger sekarang." ucal dave, keysa dan justin sama sama menepuk jidatnya masing masing.


" Dasar Udik." gumam keysa pelan nmun masih bisa di dengar dave.


" Bilang apa kamh barusan?" tanya Dave menatap datar keysa.


" Enggak.. emang aku bilang apa?"


" Awas kamu nanti." ucap dave dengan seringai liciknya.


" Stoopp.. gue ada disini kalau kalian lupa." sahut justin yang merasa di kacangi.


" Udah selesei kan? pulang sana." usir dave, ia berdiri lalu kembali ke tempat kerjanya.

__ADS_1


" Bahkan gue belum di suguhi minuman, lu main usir aja. Dasar temen kampret." ucap Justin.


ia berdiri lalu berjalan menuju meja keysa.


" Ngapain lu?" ucap Dave.


" Pamitan dulu sama cantikku." jawab Justin.


" Cantik, aku pulang dulu ya, kamu kerja yang bener." ucap Justin pada keysa.


" Justin.." geram Dave menatapnya tajam.


" iya iya gue balik dulu, bye cantik.." ucap Justin menoel dagu keysa lalu berlari keluar.


" JUSTIIN." teriak Dave membuat keysa tertawa.


Dave berjalan menuju meja keysa lalu mengusap dagu keysa dengan tisu.


" Mas, kamu berlebihan ihh." ucap keysa menyingkirkan tangan dave.


" Aku gak mau ada seorang pun yang menyentuh kamu." jawab Dave.


Keysa memutar bola matanya malas, sungguh sangat posesif calon suaminya ini.


" Iya.. iyaa.. yaudah sana kamu lanjut kerja." ucap keysa, dave cemberut namun menurut.


__


Disisi lain Fanya tengah membuat kopi karna dirinya sungguh sangat mengantuk, kebiasaanya menonton drakor membuatnya lupa waktu hingga tidur larut malam.


" Biar saya buatkan mbak." ucap OB namun di tolak oleh Fanya.


" tidak usah, saya bisa sendiri kok." jawab Fanya.


Entah suatu kebetulan Julian baru saja tiba di tempat pantry, ternyata dirinya juga membutuhkan sesuatu untuk menyegarkan matanya.


" Buatkan saya kopi pahit." ucap Julian pada OB.


" baik pak."


" Pak julian." sapa Fanya sedikit menunduk.


" Boleh buat saya?" ucap julian menunjuk kopi yang baru saja di aduk oleh fanya.


" Haa? oh kopi ini? silahkan." ucap Fanya menyerahkan kopinya pada Julian.


" Sedikit terlalu manis, jangan biasakan minum yang manis karena tidak baik untuk kesehatanmu." ucap Julian lalu pergi sambil membawa kopi itu.


" K-kopi gue." gumam fanya pelan.


" Ini ko---.


" Loh pak julian kemana mbak?" tanya OB sambil membawa secangkir kopi.


" Udah pergi, sini itu buat saya aja." ucap Fanya mengambil secangkir kopi dari tangan si OB.


" Wleekkk.. pahit." ucap Fanya saat mencicipi kopi pesanan Julian.


" Sesuai request pak julian mbak, kopi pahit." jawab Si OB.


" Nih kamu minum sendiri." ucap fanya menyerahkan kopi itu lalu pergi.


.


.


.


.

__ADS_1


🌼🌼


__ADS_2