
Rumah musa.
Hari ini adalah hari libur ini kesempatan buat musa untuk mengajak istrinya berlibur karena semenjak awal pernikahan beberapa bulan yang lalu musa belum pernah mengajak istrinya keluar menghabiskan waktu bersama selain karena hatinya masih bimbang juga karena kesibukannya di sekolah.
Farida sangat senang akhirnya suaminya bisa menerimanya seutuhnya farida juga tetap menyembunyikan pertemuannya waktu itu dengan laksmi dia tidak ingin membuat hati musa kecewa kepadanya karena tidak percaya cintanya.
Saat dalam perjalanan tiba-tiba farida merasa pusing dan mual padahal dia tidak pernah mabuk kendaraan apalagi mobil karena farida sudah terbiasa dengan mobil sebab dia juga berasal dari keluarga berada.
Musa pun menghentikan laju mobilnya di tepi jalan besar karena mereka ingin berlibur ke tempat yang lumayan jauh di kota. Musa khawatir dengan keadaan farida yang tiba-tiba merasa tidak enak badan. Musa pun mengurungkan niatnya untuk pergi berlibur dengan farida dengan perlahan musa menjalankan mobilnya kembali menuju rumah sakit terdekat.
Sesampainya di rumah sakit musa langsung mengambil nomor antrian pemeriksaan musa mendapat nomor 21 sementara yang masuk ruang pemeriksaan baru sepuluh pasien dengan begitu masih ada sepuluh pasien lagi sebelum gilirannya.
"antrian masih panjang kita duduk disini dulu saja ya sambil menunggu giliran" ucap musa sambil membantu farida duduk. Farida menggangguk tanda setuju.
Karena antrian masih cukup lama farida menyandarkan kepalanya yang pusing di bahu musa dan memejamkan matanya. Musa menggenggam tangan farida dengan erat dan tangan satunya mengelus wajah farida.
__ADS_1
Saat gilirannya di panggil musa segera membangunkan farida, merekan pun masuk ke ruang pemeriksaan.
"silahkan" sapa dokter yang akan memeriksa farida menyuruhnya duduk.
"ada keluhan apa nyonya" tanya dokter rita.
"beberapa hari ini saya merasa mual dan pusing dok" jawab farida.
"emm baiklah, mari naik ke tempat tidur biar saya memeriksanya" ucap dokter menyuru farida berbaring.
"selamat ya pak, istri anda hamil kandungannya baru menginjak sepuluh minggu, tapi.." ucapan dokter berhenti
"tapi apa dok?" tanya musa penasaran.
"kandungan istri bapak sangat lemah sehingga tidak memungkinkan untuk melanjutkannya" lanjut dokter rita.
__ADS_1
"maksud dokter apa? tolong di perjelas lagi dok?" pinta farida.
"ada kanker di rahim nyonya farida sehingga membuat janin sulit berkembang jikalau pun berkembang itu akan sangat beresiko pada diri nyonya dan bayi nyonya saat waktu nya melahirkan nanti" jawab doktet rita.
"astagfirullahal adzim" farida tidak bisa menahan kesedihannya dan menangis di pelukan musa.
"apakah ada jalan keluarnya dok?" tanya musa
"jalan satu-satunya adalah dengan menggugurkan kandungan nyonya farida" jawab dokter.
Mendengar perkataan dokter rita farida menghentikan tangisannya dan menatap musa dengan harapan musa menolak saran dokter rita karena farida tidak ingin melenyapkan bayi yang bahkan belum bernyawa di dalam rahimnya.
Musa kembali menatap farida yang penuh kesedihan. Musa tidak bisa mengambil keputusan seorang diri dia harus diskusikan semuanya dengan kedua keluarga.
Setelah percakapan itu musa dan farida segera pulang kerumah. Sesampainya di rumah farida masih tetap tidak percaya dengan semua yang menimpanya dan bayinya.
__ADS_1
Musa menelpon keluarganya dan juga keluarga farida memberitahukan tentang keadaan farida kedua keluarga sangat terkejut dan segera datang ke rumah musa.