
Rumah laksmi.
Hari sudah menunjukkan pukul 14.00, laksmi yang sudah siap menunggu kedatangan adam dan musa beserta keluarganya di teras rumah.
Musa serta ayah dan ibunya sudah datang lebih dulu, sementara adam belum juga datang.
"bi, semoga pilihanku ini benar" ucap laksmi kepada bibinya sambil membuat minuman didapur.
"insya allah" jawab bibinya dengan senyuman.
Beberapa menit kemudian, keluarga adam sampai dirumah laksmi, tapi adam tidak ikut bersama mereka.
"paman, bibi, apa mas adam tidak ikut?" tanya laksmi kepada orang tua adam.
"tidak laksmi, adam masih punya pekerjaan penting katanya" jawab ibu adam.
"baiklah, tidak apa-apa"
Suasana masih hening, untuk memecah suasana paman adi mencoba bicara pada intinya.
"begini bapak, ibu, saya mewakili laksmi ingin mengatakan tentang apa yang sudah terjadi beberapa hari ini, ini adalah keputusan laksmi sendiri yang siang dan malam selalu berdoa meminta jalan yang terbaik kepada Allah. Tanpa berniat menyakiti hati siapapun Laksmi sudah menyetujui lamaran orang tua nak musa untuk menjadi ibu sekaligus istri untuk ilyas dan nak musa"
Mendengar pernyataan Adi, semua keluarga tampak bahagia, termasuk keluarga adam, karena memang adam sudah membicarakan ini kepada ayah dan ibunya.
__ADS_1
Keluarga adampun sudah membicarakan hal ini dengan keluarga musa.
Musa hanya terdiam mendengar jawaban laksmi yang diwakili pamannya itu, musa hanya berharap semoga keputusan yang sudah diambil tidak menyakiti hati siapapun.
"tolong sampaikan hal ini kepada mas adam" ucap laksmi.
Setelah pembicaraan yang panjang, mereka ingin segera menentukan kapan pernikahan akan dilangsungkan, tapi musa menolak.
"jangan terburu-buru ayah, ibu, biarlah laksmi lulus kuliah dulu, aku juga tidak ingin secepat itu untuk menikah lagi" ucap musa.
Semua menghargai permintaan musa, mungkin ini terlalu cepat untuknya, bahkan makam farida pun belum kering tanahnya.
Setelah semua itu, mereka berpamitan untuk pulang.
"waalaikumsalam"
"bagaimana ayah, ibu, apa laksmi sudah menentukan keputusannya?" tanya adam.
"iya nak" jawab ibunya.
"lalu apa keputusan laksmi, apa dia menerima lamaran mas musa?"
"iya adam, laksmi menerimanya, apakah kau benar-benar ikhlas dengan melepaskan laksmi untuk musa?" tanya ibunya.
__ADS_1
"insya allah aku ikhlas bu, mungkin laksmi bukan jodohku, mungkin Allah akan memberikan yang lain untukku"
Mendengar jawaban adam, ibunya merasa terharu sekaligus bersedih mengingat dulu adam sangat ingin segera melamar laksmi.
Sudah beberapa hari Adam dan Laksmi tidak saling berkomunikasi, Adam sedang berusaha melupakan Laksmi, sementara Laksmi sedang berusaha untuk menjauh dari Adam.
Sudah 40 hari kepergian Farida, malam ini akan diadakan tahlilan untuk mendoakan mendiang Farida, Laksmi datang untuk membantu segala persiapan yang diperlukan.
"Assalamualaikum" terdengar suara Adam dari luar pintu. Laksmi yang berada didapur bersama Bi Tuti mendengar suara yang tidak asing untuknya.
Adam datang bersama ayah dan ibunya, Adam memeluk Musa, begitupun Musa memeluk Adam dengan erat.
"Maafkan aku Dam" ucap Musa yang masih berada dipelukan Adam.
"Maaf? maaf untuk apa mas?"
"Seharusnya aku tidak menyetujui lamaran itu"
"Sudahlah mas, aku tidak apa-apa, kau lihatkan, aku baik-baik saja"
Adam melepas pelukan dan menunjukkan bahwa dia baik-baik saja, padahal hatinya masih belum bisa melupakan Laksmi.
Laksmi keluar dari dapur membawa teh untuk semua orang yang hadir. Laksmi melihat Adam yang sedang duduk bersama Musa.
__ADS_1
"Bi, tolong suguhkan teh ini untuk mas Musa dan mas Adam" Laksmi menyerahkan nampan itu kepada bi Tuti yang kebetulan lewat.