
"Nona, ini saladnya, tapi ini bukan dariku, tapi dari kekasih nona" ucap Tania sambil memberikan salad itu dan tersenyum.
"Kekasih? aku tidak punya kekasih" Rayya membuka bungkus salad itu dan memankannya.
"Ah nona jangan bohong, tadi aku bertemu dengannya, namanya Adam, dia bilang besok akan kesini"
Uhukk.. uhukk..
"Nona kau tidak apa-apa, ini minumlah!" Tania memberikan segelas air.
Rayya langsung meminumnya, dia sangat terkejut mendengar Tania bertemu Adam, terlebih lagi dia mengatakan Adam adalah kekasihnya.
"Nona, apa aku salah bicara? maaf" ucap Tania lirih.
"Ah tidak apa-apa, tapi yang pasti Adam hanya temanku bukan kekasihku" Rayya tersenyum dan kembali menikmati saladnya, sementara Tania hanya mengangguk mencoba mengerti.
Sudah tengah malam, akhirnya Rayya dan Tania tidur di tempat masing-masing, mereka sangat mengantuk karena mengobrol semalaman.
*****
Pagi hari.
Adam sedang bersiap-siap untuk menemui Rayya, dia memesan ojek online untuk sampai ke rumah sakit.
Lima belas menit kemudian, Adam sudah sampai dirumah sakit dan langsung masuk kedalam ruangan Rayya, Rayya sangat terkejut dengan kedatangan Adam sepagi ini.
Adam membawakan sarapan yang dia beli saat dalam perjalanan.
"Ini, kau sarapan dulu, setelah itu kau minum obat" Adam menyerahkan bungkusan makanan itu.
__ADS_1
Tania yang berada disana senyum-senyum sendiri melihat Adam yang begitu perhatian kepada Rayya, Tania tidak mau mengganggu mereka, dia keluar dari ruangan.
"Aku ke toilet sebentar ya?" ucap Adam, Rayya mengangguk dan kembali menikmati sarapannya.
Lima menit kemudian, Tania masuk kedalam ruangan bersama beberapa orang yang tidak lain adalah Musa dan keluarganya.
"Mayra, siapa mereka?" tanya Rayya.
"Kenalkan Ray, ini ayah dan ibuku, dan ini mas Musa dan mba Laksmi, dan yang imut itu ponakanku, namanya Ilyas" Mayra memperkenalkan mereka satu persatu.
Rayya sedikit berfikir, sepertinya mereka pernah bertemu sebelumnya, tapi dimana?
"Bukankah kamu gadis yang dulu selalu menemani Adam di rumah sakit waktu di Kairo?" tanya Laksmi tiba-tiba.
Akhirnya Rayya ingat, kalau memang mereka pernah bertemu sebelumnya.
"Oh iya, aku ingat" jawab Rayya.
Semua mata tertuju kepada Adam, mereka tidak mengira akan bertemu Adam disana, bu Fatma segera menghampiri Adam dan memeluknya.
"Ya Allah Adam, kemana saja kamu Nak?" bu Fatma sedikit menangis.
Adam hanya terdiam tanpa membalas pelukan ibunya.
"Adam?" Musa ikut menghampiri Adam dan memeluknya.
Rayya yang melihat pertemuan mereka tersenyum bahagia, dia tidak menyangka, sebelum dia membujuk Adam untuk bertemu keluarganya, Allah sudah lebih dulu mempertemukan mereka.
"Adam, pulanglah kerumah nak?" ucap ustadz Fadlan.
__ADS_1
Semua orang mengangguk, menyetujui perkataan ustadz Fadlan.
"Hm, aku tidak tahu bi, aku masih belum bisa menerima kenyataan" jawab Adam lirih.
"Kenapa Dam, apa kamu tidak bisa memaafkan ibu dan ayah?" tanya bu Fatma.
"Entahlah bu"
Semua orang diam seketika mendengar jawaban Adam, mereka sangat berharap Adam akan mau pulang bersama mereka.
"Pulanglah Dam, apa kau tidak mau melihat ponakan kedua mu?" tanya Laksmi sambil tersenyum.
"Maksudmu apa?"
"Ilyas akan punya adik Dam, kau akan menjadi Om dari dua orang ponakan" Musa tersenyum.
Adam ikut bahagia mendengar kabar itu, suasana sudah tidak canggung lagi, mereka berbincang seperti biasa.
"Dam, ikutlah bersama mereka, kasian keluargamu" ucap Rayya tiba-tiba, membuat Adam kembali terdiam.
"Pulanglah Dam, tidak baik kalau kau seperti ini terus" lanjut Rayya.
Adam termenung sejenak, keluarga berharap Adam akan berkata 'iya'.
"Baiklah, aku akan pulang" ucap Adam.
Semua orang merasa senang mendengarnya.
"Tapi, aku minta kita tinggal bersama ibu dan ayahku, bu Anita, yang kenyataannya adalah bibiku" ucap Adam.
__ADS_1
Semua orang tersenyum bahagia, dan menyetujui permintaan Adam, rumah besar mereka akan sangat ramai dan menyenangkan jika tinggal bersama keluarga besar.