
Malam sudah tiba, Adam sudah kembali ke dalam kamarnya, Musa dan Laksmi juga sedang di kamar untuk menidurkan Ilyas, didalam kamarnya Adam masih sedikit bingung apa yang sebenarnya terjadi dengannya satu tahun yang lalu hingga membuatnya koma selama itu.
Karena otaknya yang berfikir keras, akhirnya Adam menutup matanya dan tertidur karena kelelahan. Sementara di lantai utama, seseorang mengetuk pintu rumah, Laksmi segera membukanya, ternyata ayah dan ibu mertuanya yang baru saja kembali.
Mereka duduk di sofa di ruang tamu, Musa yang sudah ikut bergabung bersama mereka mulai menceritakan bahwa Adam sudah siuman bahkan mereka sudah berbincang sore tadi.
"Benarkah Musa? Alhamdulillah ya Allah" bu Fatma merasa sangat bersyukur. Begitu juga dengan ustadz Fadlan.
Setelah membersihkan diri, ustadz Fadlan dan bu Fatma tidak sabar untuk menemui Adam, mereka segera masuk ke dalam kamar Adam, mereka tampak bahagia melihat Adam yang tidak perlu lagi menggunakan alat medis.
Adam masih belum terlalu lelap dari tidurnya, merasakan ada yang menyentuh kepalanya dengan lembut, Adam sedikit membuka matanya, dan dilihatnya sudah duduk bu Fatma yang berada disampingnya, Adam tersenyum melihat bibinya itu, yang belum dia ketahui kalau bu Fatma adalah ibu kandungnya.
"Bi, kalian sudah kembali?" Adam kini dalam posisi duduk, dia melihat paman dan bibinya itu menangis.
"Kalian kenapa? seharusnya kalian senang kan melihatku?" Adam sedikit heran.
Tanpa memberi jawaban, mereka segera memeluk Adam, Adam yang terharu membalas peluka mereka, "tidak seperti biasanya mereka memelukku seperti ini? apakah mereka sangat merindukanku?" gumam Adam didalam hatinya.
Ustadz Fadlan dan bu Fatma melepaskan pelukannya, mereka tidak ingin kalau Adam sampai merasa tidak nyaman.
"Maafkan kami nak" ucap ustadz Fadlan tiba-tiba.
Adam mengeryitkan dahinya, dia nampak terlihat sangat bingung dengan tingkah paman dan bibinya itu.
"Ada apa dengan kalian?" ucap Adam.
Dengan sedikit keraguan, mereka mulai menceritakan kejadian sebenarnya, bahwa Adam adalah anak kandung mereka, tentu saja Adam sangat terkejut mendengar hal itu, dia terlihat tidak percaya dengan semua yang mereka katakan.
Saat dalam kebingungan itu, tiba-tiba Musa dan Laksmi datang membawa sebuah foto yang ditemukan Mayra setahun yang lalu. Musa mencoba memberi pengertian kepada Adam, Adam hanya mendengarkan setiap kata yang di ucapkan Musa.
"Aku ingin istirahat, kalian pergilah!" ucap Adam secara tiba-tiba.
Bu Fatma menatap Musa, Musa mengedipkan matanya seolah memberi isyarat untuk menuruti permintaan Adam, akhirnya mereka semua keluar dari kamar Adam.
Sementara itu, Adam masih memandang foto masa kecilnya itu, dia benar-benar tidak percaya, kalau orang tua kandungnya malah memberikannya kepada paman dan bibinya sendiri, Adam terlihat sangat kesal, dia menggenggam erat foto itu hingga membuatnya rusak dan melemparnya ke sembarang tempat.
*****
Jam 06.30 pagi.
__ADS_1
Seluruh anggota keluarga sudah duduk di ruang makan, mereka menunggu Adam keluar dari kamarnya.
Tik.. tik.. tik..
Lima belas menit sudah berlalu, tapi Adam belum juga datang, bu Fatma sangat khawatir dan meminta Mayra untuk memanggilnya.
Mayra segera menuju ke kamar Adam, dia mengetuk pintu kamar Adam berkali-kali tapi tak kunjung ada jawaban, Mayra mencoba membuka pintu, tapi pintunya terkunci.
Mayra kembali turun ke lantai utama.
"Ayah, ibu, mas Musa, mas Adam tidak mau membuka pintu, aku sudah mengetuk bahkan menggedor pintu kamarnya tapi tidak ada jawaban" nada suara Mayra sangat cemas.
"Apa? kemana dia?" Musa segera berlari menuju kamar Adam.
Dukk.. dukk..
"Adam, apa kau didalam?" panggil Musa.
Semua orang menunggu jawaban Adam dengan sangat khawatir.
"Adam? kau di dalam nak? apa kau masih tidur?" panggil bu Fatma.
Setelah satu menit menunggu, mereka semakin khawatir, mereka saling beradu pandang hingga membuat sebuah keputusan.
Musa dan ustadz Fadlan mendobrak pintu kamar Adam, mereka terkejut karena Adam tidak ada di kamar itu.
Semua orang mencari ke seluruh isi kamar Adam, sampai akhirnya Laksmi melihat seprei yang di satukan berada menjuntai kebawah keluar jendela.
"Mas, lihat!" Laksmi menunjuk ke arah jendela.
Mereka segera menuju jendela itu, dan terlihat Adam yang sedikit berlari mendekati sebuah taksi dan masuk ke dalam taksi itu.
"Ayo Musa, kita ikuti Adam" ucap ustadz Fadlan.
Musa dan ustadz Fadlan turun ke lantai utama dan segera memasuki mobil berencana mengikuti Adam.
*****
Dalam perjalanan.
__ADS_1
"Maafkan aku, aku terpaksa pergi. aku ingin menenangkan diriku sebentar". gumam Adam didalam hatinya.
Musa yang mengemudi mobil itu kalah cepat dengan taksi yang di tumpangi Adam, membuatnya kehilangan jejak, hingga harus berputar-putar menyusuri jalanan panjang itu.
"Kita berhenti disini dulu Musa, kau terlihat sangat lelah" ucap ustadz Fadlan.
Musa menepikan mobilnya dan duduk bersandar di kursi kemudi, sementara ustadz Fadlan keluar dari mobil dan terlihat sedang menelepon seseorang.
"Ayah? ayah menelepon siapa?" tanya Musa yang tiba-tiba sudah berdiri di samping ayahnya.
Ustadz Fadlan sangat terkejut dan hampir menjatuhkan ponselnya, tapi Musa segera menangkapnya.
"Ini ayah" Musa menyerahkan ponsel itu, "Ayah terlihat sangat terkejut ketika mendengar suaraku, ada apa ayah?"
"Tidak Musa, ayah hanya terkejut saja melihatmu tiba-tiba" ustadz Fadlan tersenyum.
"Benarkah?" tanya Musa.
Ustadz Fadlan hanya tersenyum mendengar pertanyaan Musa.
Setelah lima menit beristirahat, Musa dan ustadz Fadlan kembali mencari keberadaan Adam, tapi hasilnya nihil, membuat mereka harus menghentikan pencarian dan kembali ke rumah.
"Bagaimana yah, apa sudah ketemu?" tanya bu Fatma saat mereka sudah kembali.
"Belum bu, kami sudah mencarinya, tapi kami kehilangan jejak" jawab ustadz Fadlan.
"Lalu bagaimana yah, ibu sangat khawatir, dia bahkan belum pulih benar" bu Fatma semakin cemas.
"Tenang bu, ayo duduk dulu" Laksmi menuntun mertuanya duduk di sofa.
"Mas, kita lapor polisi saja" ucap Mayra.
"Kau tidak waras May, mana mungkin polisi mau memproses kasus yang baru saja terjadi, lagipula Adam pergi atas kemauannya sendiri, bahkan kita juga melihatnya pergi" jawab Musa sedikit kesal.
"Lalu kita harus bagaimana?" bu Fatma semakin cemas bahkan menangis.
"Tenang bu, kita tunggu saja sampai dia kembali, kalau sampai besok malam dia belum juga kembali, kita akan lapor polisi" ucap ustadz Fadlan.
Kini semua orang hanya duduk terdiam mencoba mencari solusi untuk hilangnya Adam, Musa juga sudah memberitahu bi Anita dan suaminya, mereka sama cemasnya dengan bu Fatma dan ustadz Fadlan.
__ADS_1
Musa masih menggeser-geser layar ponselnya tidak jelas, seperti sedang mencari sesuatu, tapi nyatanya dia mencoba untuk menghilangkan rasa khawatirnya, sudah berkali-kali Musa menghubungi ponsel Adam tapi percuma, karena Adam meninggalkannya di rumah.
"Sebaiknya kalian istirahat, kalau kalian terus berfikir dan cemas, kalian juga akan sakit, bagaimana kita bisa mencari Adam?" Laksmi mencoba menenangkan mereka.