Cinta Anak Santri

Cinta Anak Santri
episode 39


__ADS_3

Telepon berdering, bi Tuti mengangkat telepon itu, dan terdengar suara seorang perempuan, dia adalah Mayra, adik kandung Musa yang sudah lama berada di Amerika.


"Siapa bi?" tanya ibu Musa.


"Non Mayra bu, katanya dia akan pulang beberapa hari lagi" jawab bi Tuti.


"Untuk apa dia pulang, bukankah dia sudah memutuskan sendiri untuk pergi dari rumah ini" ucap ibu Musa kesal.


"Jangan begitu bu, biar bagaimana pun dia tetap anak kita" ucap ustadz Fadlan.


"Benar mba, setelah lama Mayra tinggal di negeri orang, mungkin sikapnya akan berubah" sahut ibu Musa.


Setelah makan siang, mereka kembali duduk bersantai di ruang tamu.


Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore, Adam dan kedua orang tuanya berpamitan untuk pulang.


Malam tiba, Musa kembali memandang kotak kecil yang ada di tangannya itu, ternyata itu adalah hadiah untuk Laksmi yang sudah dia siapkan, matanya mulai berat, hingga akhirnya terpejam dan tidur.


Tiga hari kemudian, Mayra kembali ke Indonesia, dia langsung menuju rumah orang tuanya tanpa memberi kabar terlebih dahulu.


Tokk.. tokk.. tokk...


Terdengar suara pintu di ketuk, bi Tuti segera membuka pintu itu dan terkejut melihat kedatangan Mayra.


"Masya Allah..!!" bi Tuti sedikit berteriak.


"Kenapa bi?" ibu Musa datang menghampiri.


"Astagfirullahal adzim, Mayra?!" ibu Musa terkejut.


Mayra yang masih berdiri di depan pintu segera masuk kedalam rumah, dia datang dengan memakai rok mini dan pakaian yang tidak sopan hingga membuat belahan dadanya terlihat.


"Kamu sudah tidak waras? Kamu datang dan pergi seenaknya dengan tampilan seperti ini?!" ibu Musa membentak.


"Kenapa sih bu, ini kan modis, semua perempuan di Amerika sana juga banyak memakai pakaian seperti ini" Mayra duduk di sofa ruang tamu.


Mendengar keributan itu, Musa dan Fadlan datang terburu-buru, Musa menggendong Ilyas yang baru saja bangun tidur.


"Ya Allah Mayra, ayah tidak menyangka ternyata kamu belum berubah" ucap ustadz Fadlan.


Musa yang melihat hal itu segera membawa Ilyas kembali ke kamarnya, karena itu bisa berpengaruh buruk pada Ilyas.


"Bi, tolong temani Ilyas ya, mandikan dia" ucap Musa kepada bi Tuti.


"Iya Den" jawab bi Tuti.

__ADS_1


Musa kembali ke ruang tamu dan langsung mendaratkan tangannya ke wajah Mayra, hingga wajah Mayra yang tadinya terlihat putih kita terlihat sebuah cap tangan Musa.


"Mas, apa-apaan sih?" ucap Mayra dengan memegang pipinya yang merah.


"Kau tidak tahu malu, apa kau tidak berfikir sebelum datang seperti ini, kau adalah anak seorang ustadz" ucap Musa geram.


"Ustadz? Terus kalau ayah adalah ustadz, apa anak-anaknya juga harus jadi ustadz? seperti mas ini?" ucap Mayra ketus.


"Kau..!!" Musa semakin geram dan kembali mengangkat tangannya.


"Jangan Musa, jangan lakukan itu" ibu nya menghentikan Musa.


Musa mengepal tangannya dan pergi meninggalkan semua orang.


"Dasar payah" gumam Mayra dan langsung pergi ke kamarnya.


Melihat kelakuan anak perempuannya itu, ustadz Fadlan dan istrinya hanya bisa mengelus dada, mencoba menenagkan hatinya untuk bersabar.


Seminggu sudah Mayra tinggal bersama Musa dan kedua orang tuanya, kelakuannya semakin menjadi-jadi, dia sering keluar malam bahkan pulang dalam keadaan mabuk, Musa semakin kesal melihat tingkah adiknya itu.


Hari ini Adam berkunjung ke rumah Musa, Musa menyambutnya dengan senang dan langsung mengajaknya masuk ke dalam ruang kerja.


Mayra yang melihat ketampanan Adam merasa terpukau, dan mencoba mendekatinya.


"Iya tuan," bi Tuti membuat minuman untuk Adam dan Musa.


Melihat bi Tuti sedang membuat minuman, Mayra menghampirinya.


"Bi, biar aku saja yang bawa" ucap Mayra.


"Tapi Non, ini sudah tugas bibi"


"Sudah, bibi istirahat saja, oh iya siapa lelaki yang bersama mas Musa itu?"


"Dia kan tuan Adam, sepupu Non Mayra juga"


"Apa?! Adam? yang dulu selalu menangis saat mainannya aku ambil?"


"Iya Non,"


"Hm.. dia tampan juga"


Mayra membawa nampan berisi minuman dingin dan beberapa makanan kecil itu menuju ke ruangan Musa, pakaiannya yang selalu memperlihatkan lekuk tubuhnya itu sengaja dia turunkan untuk memperlihatkan bagian dadanya.


Mayra berjalan berlenggak-lenggok dengan rok mini yang semakin mini, dia masuk dan meletakkan nampan itu di atas meja, dia menundukkan sedikit tubuhnya di hadapan Adam.

__ADS_1


"Astagfirullahal adzim" Adam menutup matanya saat tidak sengaja melihat pemandangan yang menggoda imannya itu.


Mayra hanya tersenyum, sementara Musa yang sedang berada di kamar mandi tidak melihat hal itu, Mayra masih tetap mencoba menggoda Adam, sepupunya sendiri.


"Adam, kamu sombong sekali, kamu lupa sama aku?" Mayra menyentuh bahu Adam.


"Aku ingat, tapi bisakah kau tidak bersikap seperti ini kepadaku?" jawab Adam sambil menyingkirkan tangan Mayra dari bahunya.


"Kenapa? Kau tidak suka?" Mayra semakin menggoda Adam.


Dia mendekatkan wajahnya ke wajah Adam seperti hendak mencium.


Adam bangun dari duduknya dan hendak keluar dari ruangan itu, tapi Mayra menarik tangannya.


Plakk...


Sebuah tamparan mendarat di wajah Mayra, wajah Mayra yang cantik kini berubah merah.


"Dasar kamu, tidak tahu malu..!!" Musa membentak Mayra.


Mayra memegang pipinya yang merah karena tamparan dari Musa, wajahnya terlihat semakin kesal.


"Pergi kamu!! jangan berani lagi masuk ke dalam ruanganku, dan ingat, Adam adalah saudaramu!!" Musa semakin membentak.


"Sudah Mas, jangan begitu, sabar mas" ucap Adam menenangkan.


Mayra keluar dengan masih memegang pipinya yang terasa sakit, dan kembali ke kamarnya, bi Tuti yang menyaksikan hal itu tidak menyangka kalau Musa yang di kenal alim bisa semarah itu.


"Dasar adik tidak tahu diri, dulu saat di jodohkan dengan cucu dari ustadz Ahmad dia menolak dan malah melarikan diri ke Amerika, sekarang dia malah menggodamu" Musa masih geram.


"Sudah Mas, dia masih muda, fikirannya masih labil" Adam memberikan minuman dingin kepada Musa yang sudah duduk di kursinya.


"Astagfirullah" Musa mengelus dadanya.


"Oh iya Mas, siapa ustadz Ahmad itu? dan siapa cucunya?" tanya Adam yang juga kembali duduk di kursinya.


"Dia sahabat dari pak Kiayi Munawir, namanya Rizal, Rizal juga lulusan pesantren disana" jawab Musa yang sudah kembali tenang.


"Lalu, mereka tinggal dimana? kenapa aku tidak mengetahui tentang mereka?"


"Mereka tinggal di jakarta, kau memang tidak kenal dia, karena kau serta paman dan bibi memutuskan pindah ke desa sebelah, jadi kalian belum saling mengenal" Musa menjelaskan.


Ternyata Rizal adalah orang yang pernah hendak di jodohkan dengan Mayra, dulu Mayra masih ingin bebas karena masih sangat muda, hingga dia memutuskan pergi ke Amerika tanpa bertemu lebih dulu dengan Rizal, Rizal sempat kecewa denga Mayra dan memutuskan untuk tidak mau berhubungan dengan keluarga Musa lagi.


Sampai akhirnya keluarga Rizal pindah ke luar kota dan hingga saat ini mereka tidak pernah bertemu.

__ADS_1


__ADS_2