Cinta Anak Santri

Cinta Anak Santri
episode 44.


__ADS_3

Mayra sedang bersiap untuk pergi ke pesta ulang tahun temannya malam ini, Mayra kembali memakai pakaian terbuka dengan hells yang cukup tinggi.


"Kau mau kemana?" tanya Musa saat Mayra menuruni anak tangga.


"Ulang tahun teman" jawab Mayra.


"Dengar Mayra, aku sudah memperingatkan mu puluhan kali, ubahlah penampilanmu itu!" ucap Musa pelan.


"Kenapa sih mas, ini kan fashion, mas saja yang kolot, sudahlah aku mau pergi" ucap Mayra sambil melangkah keluar.


Di luar teman-temannya sudah datang menjemput, Mayra masuk ke mobil itu yang berisi 3 perempuan dan 2 laki-laki.


Musa hendak menyusul Mayra, tapi dia baru ingat kalau Ilyas sendirian di rumah, orang tuanya belum kembali dari palembang, sementara bi Tuti pulang kampung.


"Bagaimana ini?" Musa mondar mandir.


Tiba-tiba.


Tokk.. tokk..


"Assalamualaikum"


"Adam, waalaikumsalam" Musa segera membuka pintu dan benar saja itu adalah Adam.


"Kebetulan sekali kau datang Dam, bisakah kau bantu aku?"


"Bantu apa Mas?" Adam masuk ke dalam rumah Musa.


"Tolong susul Mayra, dia pergi bersama teman-temannya!"


Adam sedikit berfikir dengan permintaan Musa.


"Mas, aku tidak enak jika harus menyusul Mayra kesana, sebaiknya kau saja yang menyusulnya, biar aku menjaga Ilyas" jawab Adam.


Adam terpaksa menolak permintaan Musa, dia teringat kejadian beberapa hari yang lalu dengan Mayra.


"Ahh, Ya Allah, Maafkan aku Dam, baiklah aku akan menyusul Mayra, kau tolong jaga Ilyas!"


"Iya mas"


Musa mengemudikan mobilnya dan pergi menyusul Mayra.


Tapi sayang, Musa sudah kehilangan jejak Mayra, karena dia terlambat untuk menyusulnya.


Musa menepikan mobilnya, tiba-tiba segerombolan pemuda mengendarai motor lewat di samping mobilnya, mereka seperti hendak pergi ke sebuah acara, Musa mengikuti mereka.


Dan benar saja, pemuda itu masuk ke sebuah club malam yang berada di tengah kota.


Musa masuk ke dalam club itu, semua mata tertuju padanya, karena penampilannya yang aneh untuk datang ke club.


Musa tidak meghiraukan mereka, Musa terus mencari Mayra, hingga akhirnya tampaklah Mayra yang sedang berada di pelukan seorang lelaki.


"Mayra...!!!" Musa berteriak.


Seketika club itu menjadi sunyi, Dj yang memainkan musik pun ikut terkejut dan menghentikan musiknya.


Mayra menoleh dan Musa menghampirinya.


"Ayo pulang!" Musa menarik tangan Mayra yang dalam kondisi mabuk.

__ADS_1


"Mas apa-apaan sih, lepaskan!" Mayra mencoba melepas genggaman Musa yang sangat kuat hingga membuat bekas luka di tangannya.


"Ikut aku!!"


Musa menarik tangan Mayra dan membawanya masuk ke dalam mobil, Musa melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, membuat jantung Mayra hampir copot.


Karena kecepatan yang tinggi, mereka sampai di rumah dengan cepat, Musa membuka pintu mobil dan menyeret Mayra keluar, Musa menghempaskan tubuh Mayra hingga terjatuh di lantai.


Mayra yang hanya setengah sadar, melihat sosok Adam yang berdiri tidak jauh dari mereka, Mayra mendekatinya dan memeluknya.


"Apa-apaan kamu May?" Adam melepaskan pelukan Mayra.


Tapi pelukan itu sangat kuat hingga sulit melepaskannya.


Musa semakin marah, dan ...


Plakkkk...!!


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Mayra, Mayra melepaskan pelukannya dan mengelus pipinya yang terasa sakit.


"Masuk ke kamarmu!!" teriak Musa.


Mayra tidak memperdulikan ucapan Musa dan malah semakin menjadi-jadi.


"Hei pak Ustadz, kau tidak harus berteriak kepadaku, aku tidak tuli, kau dengar!" ucap Mayra dalam keadaan mabuk.


"Aku bilang masuk!" Musa berkata pelan.


"Hah, rumah ini bagai neraka bagiku, semua orang tidak menyukaiku, kenapa? apa karena penampilanku?" Mayra mendekati Musa.


Musa kembali kesal dan kembali mengangkat tangannya, tapi Adam menghentikannya.


"Jangan mas, percuma kau melakukan ini, dia tidak akan mengerti, kau lihat keadaannya, dia setengah sadar, biarkanlah dia istirahat, besok kita akan menyelesaikannya"


Sementara Mayra sudah tergeletak di atas sofa dengan keadaan yang berantakan.


Musa mengangkat tubuh Mayra masuk ke dalam kamarnya dan membaringkannya di atas ranjang.


Musa keluar dan duduk sambil terus berfikir, bagaimana dia akan mengubah sifat Mayra yang semakin kacau.


"Minumlah mas!" Adam memberi segelas air.


Musa meminumnya dan meletakkan gelas kosong di atas meja.


"Istirahat lah Mas, besok kita akan cari solusinya" ucap Adam.


Esoknya.


"Auw.. kepalaku pusing sekali" Mayra memegang kepalanya.


"Kau sudah bangun"


Mayra melihat ke asal suara itu, ternyata Laksmi sudah berdiri di hadapannya dengan membawa segelas air lemon.


"Minumlah ini, kau akan merasa lebih baik" Laksmi menyerahkan gelas itu.


Mayra menerimanya dan meminumnya.


"Terima kasih" ucap Mayra.

__ADS_1


"Tidak kah kau merasa kasihan kepada kakakmu dan orang tuamu?"


Mayra mengeryitkan dahinya.


"Kenapa?" jawabnya.


"Tidak sadarkah kalau kau selalu mempermalukan mereka?"


"Apa maksud mu?"


"Aku sudah tahu semua tentangmu, mulai dari kau meninggalkan perjodohan, hingga kejadian semalam"


"Semalam? apa yang aku lakukan?"


Laksmi menceritakan semua kejadian semalam yang dia ketahui dari Musa. Mayra hanya terdiam mendengarkan cerita Laksmi, Mayra tidak bicara apa-apa, entah apa yang ada di fikirannya. Hanya dia yang tahu.


"Aku harap, kau akan berubah Mayra, Maaf bukannya aku meng-gurui mu, tapi cobalah berfikir tentang keluargamu, walaupun aku bukan siapa-siapa, tapi aku harap kau mau mendengarkan ku" Laksmi tersenyum dan keluar dari kamar Mayra.


Mayra turun dari tempat duduknya dan memandang cermin, dia menatap wajahnya sendiri yang masih berantakan.


"Kenapa aku jadi seperti ini, hanya karena kejadian beberapa tahun yang lalu, aku menjadi buta dan malah membuat keluargaku malu" Mayra menangis seorang diri.


Sementara di ruang makan.


Musa, Adam dan Ilyas sedang menikmati sarapannya, Laksmi mendekati mereka dan duduk di kursi di sebelah Ilyas.


"Bagaimana? apa dia sudah bangun?" tanya Musa tanpa menoleh.


"Iya" jawab Laksmi.


"Apa dia mau mendengarkanmu?"


"Iya, dia mendengarkanku, tapi aku tidak tahu dia mau menerima nasehatku atau tidak"


"Biarlah, jika dia masih seperti itu, aku akan mengirimnya ke Surabaya"


"Sabar mas" ucap Adam.


Musa berangkat ke sekolah untuk mengajar sementara Adam berangkat ke kantornya.


Sedangkan Laksmi tetap berada di rumah Musa untuk menjaga Ilyas, Ilyas yang sedang libur sekolah hanya belajar di rumah.


"Mba" terdengar suara Mayra.


Laksmi terkejut mendengar panggilan itu, dia tidak menyangka Mayra akan berkata lembut kepadanya.


"Apakah mas Musa dan Adam sudah berangkat?"


"Sudah, kamu sarapanlah dulu, aku sudah menyiapkan makanan di atas meja"


Mayra mengangguk dan mulai menikmati sarapan yang di hidangkan Laksmi.


"Kau tidak kuliah?" tanya Laksmi membuka pembicaraan.


"Tidak" jawab Mayra.


"Kenapa? apa kepalamu masih sakit?"


"Sudah lebih baik, aku hanya sedang tidak ingin"

__ADS_1


"Baiklah, lanjutkan sarapanmu"


Laksmi kembali duduk bersama Ilyas, dan mengajarinya membaca, Ilyas anak yang cerdas, sehingga tidak sulit untuknya menerima pelajaran.


__ADS_2